Hayu biasanya cemburu kalau saya pegang hape terlampau lama. Saya paham dan menghindari hal itu terjadi. Masalah dimulai ketika saya sedang kesal atas tingkah laku Hayu seperti tidak memperhatikan atau mengulur-ulur hal yang seharusnya dilakukan segera. Untuk menghibur diri, biasanya saya mengambil dan melihat-lihat hape. Lalu Hayu menjadi marah, clingy, kekesalan saya bertambah, semakin tidak ingin memerhatikan Hayu lalu Hayu semakin cari perhatian, berteriak dan intensitas masing-masing kami pun semakin negatif dan semakin parah. Berputar seperti lingkaran setan.
Maka di situ saya belajar untuk berhenti. Belajar untuk menutup mulut, menghela nafas, duduk dan memeluk Hayu. Belajar bahwa saya-lah yang sudah sempurna perkembangan otak dan jiwanya, sehingga saya berkewajiban untuk memutus rantai siklus yang tidak benar ini. Belajar bahwa saya sudah mampu menalar dan punya kerangka logika, maka saya wajib meredakan dulu kejadian ini, lalu mengajarinya lagi dan lagi, hingga ia mengerti. Belajar untuk mengendalikan ego, dan menanamkan pada benak saya sendiri "bukan yang paling keras, atau suara siapa yang terakhir berucap-lah yang benar; karena kebenaran tak ada sangkut pautnya dengan lantang-ngotot-tidaknya suara atau urutan bicara".
Akhir minggu ini menyenangkan & berkesan bagi saya. “baiti
jannati” & love makes a house as a home jadi tema khusus dua hari ini,
meski tanpa harus disepakati sebelumnya.
Sabtu pagi dimulai dengan ritual yang terlambat karena
bangun kesiangan. Hayu telah terbangun pada dini hari sebelum shubuh, membuat
jam biologis pun turut bergeser. Dulu, sebelum ada Hayu, kesiangan di weekend
berarti lanjut bersantai-santai. Asal tidak ada tanggungan agenda, brunch pun
sah-sah saja dan tidak masalah. Lain halnya sekarang, ada rasa bersalah jika
tidak bersegera memulai aktivitas sehari-hari. Ditambah pula rasa takut, takut
hal ini yang diingat & diteladani ia di kemudian hari.
Suami mengungkapkan keinginannya untuk memulai hobi baru,
aquascape. Ide itu berawal dari air mancur kolam yang pompanya berkali-kali
ngadat. Sudah beli beberapa kali, ujung-ujungnya rusak lagi. Untuk
menyelamatkan ikan penghuni kolam, suami membeli aquarium kecil untuk
menampung. Apa daya, ternyata ikan mas ini tidak cocok hidup dalam aquarium.
Airnya akan selalu keruh, meskipun sudah diberi filter, karena memang bukan
habitat untuk ikan mas. Rencananya, ikan mas akan dikembalikan ke kolam, diberi
filter saja (bukan pompa air mancur seperti selama ini) dan aquarium akan
dimanfaatkan untuk aquascape. Saya
kemudian menyetujui ide tersebut, dengan syarat harus mencoba memerbaiki kolam
terlebih dahulu. Sayang sekali jika kolam tersebut tidak dimaksimalkan dengan
air mancur, harus dirunut bersama-sama dari awal apa betul masalahnya di pompa.
Bisa saja saklar, stop kontak, atau yang lain.
Suami pun setuju dan langsung memulai mengutak-utik saklar
kolam. Hayu pun tak mau ketinggalan turut andil. Ia ngotot untuk berada di
dekat bapak. Ujung-ujungnya malah asyik bermain tanah sampai serupa penyamaran
tentara perang Vietnam. =D
![]() |
| Asyik ndeprok |
Setelah membeli alat dan bahan, sepulang dari kondangan
suami pun melanjutkan aktivitas reparasi. Dugaan kami benar, pangkal permasalahan
ada di saklar. Alhamdulillah. Rencana belanja untuk aquascape pun disusun.
Eits, tapi bukan kami bertiga yang akan berbelanja. Tetapi Suami & Hayu
saja. Ya, ini kencan pertama mereka, keluar rumah tanpa saya untuk pertama
kali. Suami sudah sering dan terbiasa untuk bersama Hayu saja di rumah, tapi
untuk keluar rumah lain cerita.
Sebenarnya agenda kencan mereka ini disesuaikan dengan
agenda belajar jahit saya. Sejak Hayu lahir, saya ingin sekali mengikuti kelas
menjahit. Sayangnya, jadwal kelas sulit sekali untuk disesuaikan dengan agenda
kami. Sehingga ketika minggu kemarin saya meminta suami untuk meluangkan waktu
2 jam di akhir pekan untuk meng-handle Hayu, dan saya akan belajar otodidak. Suami
setuju dan begitulah awal mula kencan mereka tercipta.
Alhamdulillah, semua berjalan lancar. Meski kikuk karena
harus menggendong Hayu dan mengemudikan motor (Hayu masih takut duduk di car
seat, hiks), suami sukses shopping & nge-date. Saya pun ber-progress dari
memotong kaos tak terpakai untuk baju Hayu, hingga menjahit sebagian pola
tersebut. Dan, berkat kerja keras suami, aquascape-nya sudah berhasil tersusun…
Yeayy!
Saya senang karena kami bisa memberi ruang belajar &
bertumbuh untuk diri kami masing-masing. Saya juga senang karena Hayu terlibat
dalam setiap aktivitas, dan ia juga sangat antusias untuk “melibatkan diri”.
Semoga jika Hayu melihat & merasakan kedua orang tuanya selalu bersemangat
belajar, ia pun begitu.
=)
Beberapa hari terakhir, Hayu tidur lebih malam dibanding biasanya. Tidur siang juga cenderung freestyle, sulit diprediksi. Tantangan terbesarnya adalah ketika memasuki masa-masa Hayu menolak ngantuk. Dimana ia sebenarnya sudah mengantuk tetapi menolak untuk diletakkan di tempat tidur, enggan untuk berdiam diri.
Hal ini saya sampaikan ke suami dan memantik percakapan yang menarik.
Suami (S): Sebenarnya kenapa sih anak kecil selalu rewel saat ngantuk atau sebelum tidur?
Vinka (V) : Ya karena ia belum bisa mengungkapkan dan memahami bahwa tubuh atau fisiknya sudah capek dan butuh istirahat, padahal ia masih ingin bermain, atau mengejar bola, atau berlari. Pertentangan ini belum bisa diungkapkan oleh mereka.
S: Atau jangan-jangan itu hanya ilusi orangtua saja untuk menentukan penyebab anak kecil "rewel". Oke lah kalau untuk anak seumur Hayu (13 bulan). Tapi banyak sekali anak yang lebih besar juga dengan mudah disebut "kamu itu ngantuk" ketika mereka rewel. Apa itu cuma orangtua yang menyederhanakan (perkara rewel=ngantuk)?
V: Mmm, mungkin itu sederhana bagi orangtua, tapi tidur kan bukan perkara sederhana bagi anak. Ia harus sadar & menguasai betul atas apa yang terjadi di tubuhnya dan memilih apa yang dia lakukan. Apa ya? Menguasai ego. Dia kan harus menekan keinginan untuk bermain, untuk berlari-lari untuk akhirnya memilih untuk tidur karena paham bahwa tubuhnya sudah capek. Seperti di Song Triplets (cara kami menyebut program The Return of Superman), anak tertua dari kembar tiga itu, itu satu-satunya yang bisa (memilih) tidur sendiri. Itu dianggap sebagai tindakan yang dewasa sekali ngelihat umurnya yang segitu.
Pembicaraan pun berlanjut dengan topik perkembangan Hayu. Tapi perkara "ngantuk" ini masih nyantol di kepala saya. Menjadi dewasa dalam konteks umur anak-anak, remaja atau orang tua pun sebenarnya tidak bergeser banyak dari apa yang terjadi saat balita. Hanya objek & subjek yang lebih luas. Apa kita bisa memahami situasi, tubuh, pertanda, petanda yang terjadi di hidup kita & menyikapi dengan benar. Ketika sudah mencapai akil baligh, ada konsekuensi yang ditambahkan dalam wacana hidup kita. Ia juga membawa serta sobat karibnya; tanggung jawab. Mari jumlahkan faktor-faktor tersebut dan kedewasaan pun lebih mudah dipahami.
Maka menjadi dewasa adalah memahami bahwa saya ngantuk, maka saya butuh tidur, dan itu berarti saya akan sholat-cuci muka-berdoa-memejamkan mata, bukan menatapi & menggeser layar smartphone lalu memantengi media sosial terus-terusan. Bukan pula stalking postingan blog mantannya si pacar atau cek Whatsapp gebetan sedang online nggak.
Iya, postingan ini selesai juga karena saya sudah ngantuk.
;D
Iya, postingan ini selesai juga karena saya sudah ngantuk.
;D

