Hayu

Belajar Untuk Berhenti

21:05:00

Hayu biasanya cemburu kalau saya pegang hape terlampau lama. Saya paham dan menghindari hal itu terjadi. Masalah dimulai ketika saya sedang kesal atas tingkah laku Hayu seperti tidak memperhatikan atau mengulur-ulur hal yang seharusnya dilakukan segera. Untuk menghibur diri, biasanya saya mengambil dan melihat-lihat hape. Lalu Hayu menjadi marah, clingy, kekesalan saya bertambah, semakin tidak ingin memerhatikan Hayu lalu Hayu semakin cari perhatian, berteriak dan intensitas masing-masing kami pun semakin negatif dan semakin parah. Berputar seperti lingkaran setan. 

Maka di situ saya belajar untuk berhenti. Belajar untuk menutup mulut, menghela nafas, duduk dan memeluk Hayu. Belajar bahwa saya-lah yang sudah sempurna perkembangan otak dan jiwanya, sehingga saya berkewajiban untuk memutus rantai siklus yang tidak benar ini. Belajar bahwa saya sudah mampu menalar dan punya kerangka logika, maka saya wajib meredakan dulu kejadian ini, lalu mengajarinya lagi dan lagi, hingga ia mengerti. Belajar untuk mengendalikan ego, dan menanamkan pada benak saya sendiri "bukan yang paling keras, atau suara siapa yang terakhir berucap-lah yang benar; karena kebenaran tak ada sangkut pautnya dengan lantang-ngotot-tidaknya suara atau urutan bicara". 

daily

Happy Weekend

22:01:00

Akhir minggu ini menyenangkan & berkesan bagi saya. “baiti jannati” & love makes a house as a home jadi tema khusus dua hari ini, meski tanpa harus disepakati sebelumnya.

Sabtu pagi dimulai dengan ritual yang terlambat karena bangun kesiangan. Hayu telah terbangun pada dini hari sebelum shubuh, membuat jam biologis pun turut bergeser. Dulu, sebelum ada Hayu, kesiangan di weekend berarti lanjut bersantai-santai. Asal tidak ada tanggungan agenda, brunch pun sah-sah saja dan tidak masalah. Lain halnya sekarang, ada rasa bersalah jika tidak bersegera memulai aktivitas sehari-hari. Ditambah pula rasa takut, takut hal ini yang diingat & diteladani ia di kemudian hari.

Suami mengungkapkan keinginannya untuk memulai hobi baru, aquascape. Ide itu berawal dari air mancur kolam yang pompanya berkali-kali ngadat. Sudah beli beberapa kali, ujung-ujungnya rusak lagi. Untuk menyelamatkan ikan penghuni kolam, suami membeli aquarium kecil untuk menampung. Apa daya, ternyata ikan mas ini tidak cocok hidup dalam aquarium. Airnya akan selalu keruh, meskipun sudah diberi filter, karena memang bukan habitat untuk ikan mas. Rencananya, ikan mas akan dikembalikan ke kolam, diberi filter saja (bukan pompa air mancur seperti selama ini) dan aquarium akan dimanfaatkan untuk aquascape.  Saya kemudian menyetujui ide tersebut, dengan syarat harus mencoba memerbaiki kolam terlebih dahulu. Sayang sekali jika kolam tersebut tidak dimaksimalkan dengan air mancur, harus dirunut bersama-sama dari awal apa betul masalahnya di pompa. Bisa saja saklar, stop kontak, atau yang lain.

Suami pun setuju dan langsung memulai mengutak-utik saklar kolam. Hayu pun tak mau ketinggalan turut andil. Ia ngotot untuk berada di dekat bapak. Ujung-ujungnya malah asyik bermain tanah sampai serupa penyamaran tentara perang Vietnam. =D

Asyik ndeprok
Entah mengapa, saya tidak merasa marah sama sekali dan malah senang ketika Hayu bermain & berkotor-kotor ria. Bisa jadi saya tenang karena ini weekend & bapaknya ada di rumah, sehingga tidak khawatir apabila butuh bantuan. Bisa jadi juga karena saya senang melihat bagaimana Hayu berani dan nyaman sekali dengan alam.

Setelah membeli alat dan bahan, sepulang dari kondangan suami pun melanjutkan aktivitas reparasi. Dugaan kami benar, pangkal permasalahan ada di saklar. Alhamdulillah. Rencana belanja untuk aquascape pun disusun. Eits, tapi bukan kami bertiga yang akan berbelanja. Tetapi Suami & Hayu saja. Ya, ini kencan pertama mereka, keluar rumah tanpa saya untuk pertama kali. Suami sudah sering dan terbiasa untuk bersama Hayu saja di rumah, tapi untuk keluar rumah lain cerita.

Sebenarnya agenda kencan mereka ini disesuaikan dengan agenda belajar jahit saya. Sejak Hayu lahir, saya ingin sekali mengikuti kelas menjahit. Sayangnya, jadwal kelas sulit sekali untuk disesuaikan dengan agenda kami. Sehingga ketika minggu kemarin saya meminta suami untuk meluangkan waktu 2 jam di akhir pekan untuk meng-handle Hayu, dan saya akan belajar otodidak. Suami setuju dan begitulah awal mula kencan mereka tercipta.

Alhamdulillah, semua berjalan lancar. Meski kikuk karena harus menggendong Hayu dan mengemudikan motor (Hayu masih takut duduk di car seat, hiks), suami sukses shopping & nge-date. Saya pun ber-progress dari memotong kaos tak terpakai untuk baju Hayu, hingga menjahit sebagian pola tersebut. Dan, berkat kerja keras suami, aquascape-nya sudah berhasil tersusun… Yeayy!


Saya senang karena kami bisa memberi ruang belajar & bertumbuh untuk diri kami masing-masing. Saya juga senang karena Hayu terlibat dalam setiap aktivitas, dan ia juga sangat antusias untuk “melibatkan diri”. Semoga jika Hayu melihat & merasakan kedua orang tuanya selalu bersemangat belajar, ia pun begitu. 

=)

daily

Kamu Ngantuk Ya?

01:59:00

Beberapa hari terakhir, Hayu tidur lebih malam dibanding biasanya. Tidur siang juga cenderung freestyle, sulit diprediksi. Tantangan terbesarnya adalah ketika memasuki masa-masa Hayu menolak ngantuk. Dimana ia sebenarnya sudah mengantuk tetapi menolak untuk diletakkan di tempat tidur, enggan untuk berdiam diri.
Hal ini saya sampaikan ke suami dan memantik percakapan yang menarik.

Suami (S): Sebenarnya kenapa sih anak kecil selalu rewel saat ngantuk atau sebelum tidur?
Vinka (V) : Ya karena ia belum bisa mengungkapkan dan memahami bahwa tubuh atau fisiknya sudah capek dan butuh istirahat, padahal ia masih ingin bermain, atau mengejar bola, atau berlari. Pertentangan ini belum bisa diungkapkan oleh mereka.
S: Atau jangan-jangan itu hanya ilusi orangtua saja untuk menentukan penyebab anak kecil "rewel". Oke lah kalau untuk anak seumur Hayu (13 bulan). Tapi banyak sekali anak yang lebih besar juga dengan mudah disebut "kamu itu ngantuk" ketika mereka rewel. Apa itu cuma orangtua yang menyederhanakan (perkara rewel=ngantuk)?
V: Mmm, mungkin itu sederhana bagi orangtua, tapi tidur kan bukan perkara sederhana bagi anak. Ia harus sadar & menguasai betul atas apa yang terjadi di tubuhnya dan memilih apa yang dia lakukan. Apa ya? Menguasai ego. Dia kan harus menekan keinginan untuk bermain, untuk berlari-lari untuk akhirnya memilih untuk tidur karena paham bahwa tubuhnya sudah capek. Seperti di Song Triplets (cara kami menyebut program The Return of Superman), anak tertua dari kembar tiga itu, itu satu-satunya yang bisa (memilih) tidur sendiri. Itu dianggap sebagai tindakan yang dewasa sekali ngelihat umurnya yang segitu.

Pembicaraan pun berlanjut dengan topik perkembangan Hayu. Tapi perkara "ngantuk" ini masih nyantol di kepala saya. Menjadi dewasa dalam konteks umur anak-anak, remaja atau orang tua pun sebenarnya tidak bergeser banyak dari apa yang terjadi saat balita. Hanya objek & subjek yang lebih luas. Apa kita bisa memahami situasi, tubuh, pertanda, petanda yang terjadi di hidup kita & menyikapi dengan benar. Ketika sudah mencapai akil baligh, ada konsekuensi yang ditambahkan dalam wacana hidup kita. Ia juga membawa serta sobat karibnya; tanggung jawab. Mari jumlahkan faktor-faktor tersebut dan kedewasaan pun lebih mudah dipahami. 

Maka menjadi dewasa adalah memahami bahwa saya ngantuk, maka saya butuh tidur, dan itu berarti saya akan sholat-cuci muka-berdoa-memejamkan mata, bukan menatapi & menggeser layar smartphone lalu memantengi media sosial terus-terusan. Bukan pula stalking postingan blog mantannya si pacar atau cek Whatsapp gebetan sedang online nggak. 


Iya, postingan ini selesai juga karena saya sudah ngantuk.
;D