friends

I Let You Go

22:53:00

Now I'm reading Henry Manampiring's book Alpha Girl Guide. While several ideas mentioned is not really applicable to me, there is a topic that I hope I really know before I reach adulthood: to let people go.

Parents taught us to befriend with any people, no matter about the economic status, race, color et cetera. They only forbid to befriend with "naughty" kids or evil people. But as I grow, there's so much grey area. I don't think there is much pure evil human. Many people choose to do misdemeanor on the daily life, just because. This is not the excuse, though, since I believe every deed we did is the result of consciousness and the will. But still, it's not easy to judge people is cruel and stay away from them. So how and who are the people we need to build the fence and stay away?

Om Piring, the writer's nickname, told us to let go people who toxic. They are manipulating in relationship, befriending with them force us to wear a mask and pretend to be somebody else. Later in life, I found that somehow we just not suit each other. It's not that the particular person is ill-minded or having malicious intention. We're just not meant to be for pleasing every people, vice versa. And it's okay. 

If there are relationships that I lingered too long, there was two. First, to a close relative that taught me how to set plan for brighter future in my teen age, how he always spare time in the middle of his work when in town, how to hold tight into religion anytime, yet at the end he turned to believe God in different religion he taught me. Second, to a senior in my high school who became close because I want to play cupid for him and my sister, where it lead to a close relationship with his family. I came to his weddings, his firstborn son, his parents came to my wedding, et cetera. But after a definite time he changed, choosing the different way to love our God. Bopo died and I'm waiting the condolence words, at least. Yet it never came, even after I reached out in many ways I could. I'm brokenhearted for a long time, but now I really accepted that spiritual journey is personal & the basic human right. I value their choice. Back to Om Piring's word again, relationship comes and go.

I believe some people also let me go from their life, in any reason or situation. Perhaps our path will emerge again someday, or not. To people which path differed from my life, I let you go. I hope your life will be merrier and lead to kindness. I won't hold you back and asking the reason why because I respect all of your wisdom to choose. I never wish anything but luck to anyone who consciously decide and take full responsibility of their determination. Semoga Allah merahmati.  


friends

Bapak Ibu Peri

21:51:00

Selama delapan tahun merantau, jauh dari orang tua dalam keseharian membuat saya kesepian dan sedih di saat-saat tertentu. Terutama saat sakit. Beruntung, dalam kurun waktu tersebut saya dipertemukan dengan kawan-kawan yang baik, ditambah orangtua mereka yang sangat baik hati. Saya menyebut orangtua spesial itu dengan Bapak Ibu Peri.

Bapak Ibu Peri ini punya kesamaan: pemurah & penyayang. Pertanyaan yang paling sering mereka tanyakan: Vinka sudah makan? Hari ini sudah makan apa? Dan saya tahu mereka tidak sedang berbasa-basi ketika bertanya seperti itu, karena seringkali setelahnya saya sudah duduk bersama, bersantap & berbincang dengan mereka. Sebagai remaja yang hobi wira-wiri berkegiatan ini itu, perut saya ini bottomless, enggak ada kenyangnya. Tawaran makan siang atau lauk untuk dibawa pulang tentu bagai kejutan surgawi, dikirim oleh peri. Nikmat tiada tara untuk anak kosan.

Tak hanya murah hati, Bapak-Ibu Peri kesemuanya adalah pendengar yang baik. Mereka menghargai cerita saya bahkan sering pula meminta pendapat, masukan dari saya. They're all ears. Saya yang jauh dari ibu-bopo ini haus akan tempat untuk bercerita. Jatah pulsa yang terbatas sering jadi batasan untuk bercerita ini itu, cerita remeh yang penting ditumpahkan saat itu juga dan tak bisa menunggu saat pulang di akhir pekan. Bapak-Ibu Peri pun mengisi ruang kosong ini. Ruang yang di kemudian hari saya pahami betul, betapa pentingnya untuk diisi. Mereka ini yang membuat saya yakin bahwa tanah rantau tak sekejam dari yang terlihat. Masih banyak kebaikan & kehangatan yang tidak dibuat-buat. 

Awal bulan ini, saya patah hati. Satu ibu peri saya dipanggil olehNya. Tante Eva namanya. Ia adalah Ibu Peri yang paling sering mendadak menelepon saya. Sekedar tanya sudah makan, atau tanya bagaimana kuliah. Hal yang beberapa kali beliau ungkapkan dulu adalah ingin sekali bikin syukuran untuk merayakan hari lahir saya & anaknya, Sheila, yang kebetulan lahir di hari yang sama. Meski tak pernah terwujud, hati saya sudah terasa hangat karena ada sosok ibu yang peduli untuk merayakan hari ulang tahun saya. Dimana hal tersebut bukan tradisi yang akrab bagi saya. 

Saya teramat kecewa & sedih karena kurang keras, mengharuskan diri saya sendiri untuk menjenguk tante Eva saat beliau sakit. Apalagi sebenarnya beliau di Sidoarjo, tempat saya tinggal sekarang. Penyesalan yang sangat besar, hingga saya memikirkan apa yang bisa saya lakukan untuk menebusnya. 

Satu hal yang saya pelajari dari Tante Eva, kehangatan & perhatiannya sungguh berkesan bagi saya. Saya adalah seorang ibu sekarang, dan saya harus belajar bagaimana memeluk teman-teman anak saya nantinya, menerima & menghargai bagaimana seutuhnya mereka. Agar tak perlu mereka mencari perhatian di tempat yang tak pantas atau tidak tepat. Agar dunia ini hangat & penuh kasih. 

Selamat jalan, Ibu Peri. Engkau tak pernah pergi, hanya pulang ke rumah terindah di surgaNya. 

friends

#baladamanten : To Cook or Not To Cook

22:14:00


"Mbak Pink, setelah nikah tu harus gitu ya, bangun pagi - masakin suami? Aduh, ga bisa bayangin deh. " 
"Nggak, siapa bilang? Sejak kapan masak itu wajib? Emang pacarmu udah minta kamu masakin sejak sekarang?"
"Iya."


Busettt.. Kawin aja belon, udah request segala.. Emang sudah sesempurna apa ini lelaki? Spontan saja, itu yang terlintas di pikiran saya kala percakapan di atas terjadi. Memasak. Perkara yang penting-ga penting dalam rumah tangga. Tapi sebelum membahas lebih jauh, mari garis bawahi satu poin dulu: 
WANITA TIDAK WAJIB MEMASAK DALAM PERNIKAHAN.

Dari agama yang saya anut, tidak ada ayat suci yang menjelaskan kewajiban seorang wanita untuk memasak bagi keluarga. JIKA seorang istri MAU menyiapkan makanan untuk suami & anaknya, ia akan mendapatkan pahala. Nah, kalau kalimat terakhir ini baru betul.

Lelaki boleh-boleh saja bermimpi untuk memiliki istri yang jago masak, cantik jelita, taat beribadah, pandai mengasuh anak, karir moncer, trengginas dalam urusan ranjang, boleehhh banget. Asal sang lelaki sudah bangun dari tidurnya dan bekerja keras untuk merealisasikan semua hal itu di dalam dirinya. Jodoh kan pasti sekufu: kamu leha-leha yaa, pasanganmu nanti akan belajar cara leha-leha yang baik & benar darimu.

Kembali lagi ke percakapan tentang masak-memasak
“Kalau kamu kan enak mbak Pink, bisa masak. Kalau aku gimana nih?”

Okay, terang-terangan saja, saya juga baru belajar ketika setelah menikah. Dulu, ketika masih di rumah ortu, dari 3 bersaudara, saya tugasnya belanja-bukan masak! Iya, saya belanja ke tukang sayur, membersihkan & menyiangi belanjaan, mbak Ratih bagian bersih-bersih rumah, mbak Maya yang bertugas memasak bersama Ibuk. Kalaupun memasak yang rutin saya lakukan adalah ketika ngambek (iya, saya kalau ngambek bikin sambel dan goreng tempe/telor) dan saat Lebaran, masak/bikin kue kering.

Setelah menikah saya diboyong suami tinggal di Jogja, ia sedang menempuh pendidikan lanjut. Kami berdua bersemangat sekali untuk belajar memasak bersama dikarenakan inilah cara paling ampuh untuk IRIT. =,D Gaji yang hanya sedikit di atas UMR DI Yogyakarta, atau yang berarti jauh di bawah UMR Kota Surabaya, membuat kami jadi lebih dan lebih semangat untuk belajar masak. Tontonan favorit kami adalah Urban Cook, yang salah satu resep pancake andalannya masih kami minati sampai sekarang. Blog NCC, Just Try and Taste jadi jujugan saat tidak ada ide mau masak apa. Di jaman internet jaringan yang sudah LTE begini, belajar memasak bukan perkara yang rumit.

Mau tahu, apa yang rumit? Mengatur ekspektasi & berempati.
Hanya karena judul resepnya “Martabak Manis Anti Gagal” bukan berarti kamu tidak mungkin gagal. Masih mungkin bangettsss! Taruhlah ekspektasi kalian (baik suami atau istri) serendah-rendahnya. Kalau akhirnya berhasil, pasti rasanya memuaskan sekali. Tapi kalau gagal, ya santai saja, it happens.

Hanya karena istri sudah jungkir balik dengan meyakinkan di dapur, lalu ternyata rasanya ga karuan, suami tidak punya hak untuk protes. Just shut your mouth and smile, let her taste them first. Don’t say a word, and she’ll definitely say sorry to you. Kalau istri sudah bilang, “haduh, kok rasanya gini ya. Aku udah masukin semua yang ada di resep loh. Maaf ya yang…” *sambil ngaduk-aduk masakan & mengernyitkan dahi dan bibir sedikit maju* Hal terbaik yang dilakukan suami adalah ambil kunci motor/mobil, ajak jalan & jajan di luar, atau turut nonton serial kesukaannya. Percayalah rumah tangga kalian akan baik-baik saja karena kalian bisa berempati satu sama lain.

Catatan lain tentang memasak: jika istri/suami memasak, don’t take them for granted, DO THE DISHES! Cuci piring itu sungguh krusial ya bro n sis. Kalau menggunung nggak habis-habis cuciannya, cicil. Kecuali kamu turunan raja minyak atau milyuner yang pembantu rumah tangganya ada 5, tolong ya cuci piring. 

Kalau setelah baca tulisan ini masih ngotot nyuruh atau ngewajibin istri masak (padahal dia keberatan), coba ikut les masak deh. Coba dihayati itu bebannya. Beban biaya & capeknya masak. Masak itu skill masbroo.. And skill is definitely pricey. While your wife and marriage are priceless, they are not defined by money. So, think again!

friends

Kelahiran, Kematian & Ujian.

22:14:00

Siang ini baru membaca di lini masa media sosial, bahwa seorang kakak senior saat SMA kehilangan putranya di hari ia dilahirkan. Saya belum tahu apakah ada sebab yang spesifik, dan tentu tak tega untuk bertanya. Mengingat bagaimana saya mengalami momen tersengat dalam hati tiap kali ada yang bertanya "kok bisa keguguran? Penyebabnya apa?", tentu sengat itu akan lebih mendalam bagi ia dan istrinya.

Perihal bayi yang meninggal saat lahir, saya teringat pada ceramah Emha Ainun Nadjib kala mengunjungi SMA kami dalam rangka peringatan hari besar Islam yang saya lupa tepatnya apa. Beliau saat itu bertutur bagaimana reaksinya saat bayi yang dilahirkan oleh Mbak Via (Novia Kolopaking) meninggal di hari kelahiran. Beliau tertawa, bersujud syukur gembira dan meminta tiap dokter & perawat di rumah sakit untuk memberi cak Nun ucapan selamat. Beliau melarang Mbak Via untuk menangis. Beberapa orang sampai khawatir, apakah cak Nun terlampau depresi karena putranya meninggal hingga bertingkah laku seperti itu. Tapi cak Nun membantah keras:

"Kalian harus memberiku selamat. Karena anak ini (yang beliau peluk), ia sudah membuat Allah mengampuni dosa-dosa orangtuanya. Dia sudah mengundang kami, aku & Mbak Via, untuk masuk di surgaNya!"

Masya Allah..
Tiap kelahiran dan kematian sungguh adalah ujian dari Sang Pencipta. Sungguh pula saya sering terselip, menganggap yang dititipkan adalah kepemilikan.

Saya percaya, hanya orang-orang terpilih yang mendapatkan ujian seberat itu, sebagaimana cak Nun, pun juga kakak kelas & istri. Semoga mas Rangga & Mbak Olivia dilimpahi kekuatan & keikhlasan serta kesadaran, rasa syukur atas keistimewaan yang mereka dapatkan. Amin.

doa

Selamat Jalan, mas Iqbal Rais..

08:35:00

Tidak sampai 2 minggu dari saya menulis post ini, kemarin malam beliau kembali di sisiNya. 
Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un. 
Hanya kepada Engkau seluruh kepunyaanMu kembali ya Rabb..  


Setelah perpisahan ini, semoga kami yang ditinggalkan kuat melanjutkan perjalanan. 
Amin. 

friends

My Hair, My Shares

08:42:00

Last Sunday been a long way in journey to me & hubby. We travelled 90kms in total, went from Sidoarjo - Gresik - Surabaya - Sidoarjo. Attended the happy moment of Tabitha's wedding in Gresik, unfortunately had to leave immediately because my shoes are broken. =(

Try to keep survived because we have next destination in Surabaya: Shave for Hope! Yeaaayyy... It has been a waiting for me to join the event since the first time I knew about the concept. For everyone who hasn't informed about Shave for Hope, I'll quote a bit explanation from their official website:
Shave for Hope is the first and biggest charity event done through hair-shaving act in Indonesia. Everyone who participated has one exact purpose, to help and support childhood cancer. It is hoped that this event will raise both people’s awareness as well as highly valued funds.



It's not a big number, a hundred thousand rupiahs/person, for a cancer treatment, but how the event could bring more than just money. It brings awareness, empathy, and a particular happy feeling of giving to another. I, personally, start having a concern to cancer since my senior in extracurricular organization, Sinematografi Airlangga, got leukimia and need apheresis donor. Apheresis donor is a special blood donation because our blood will be separated in a particular machine and only the special part of the blood taken. I have the same blood type and for several time when he needed I can't give it because my period, out of town, etc. I feel regretted and sad somehow, for not having the opportunity to help further. 

My senior who got leukimia is Iqbal Rais, the director of Tarix Jabrix, Si Jago Merah, Senggol Bacok, Radio Galau FM, and many more. Yes, he is. Probably you have already watched his movie in theatre and doesn't know his struggle stories behind it. He is one of a legend in Sinematografi UA, because he took a very brave step into a movie industries. As a junior, he ever taught me on movie things. And I still remembered, when his first movie had a promo tour, I came. The member of Changcuter band did free giveaway for several viewers, they gave a pin from metal with a logo of Tarix Jabrix in it. I was late for few seconds and all of them already taken. Perhaps I look so pitiful, therefore mas Iqbal took a pin from his cap and gave it to me. For years, I always use the pin. Now I just thought, when you want to give back to people who nice to you, it doesn't only take a goodwill, but an opportunity too. How hard you try, when the time and space do not allowed you then it won't happen. 

Do everything that you have to, you want to, and what will make you regret for not doing so, NOW. Don't let any part of universe hold you back. 

me and Iqbal Rais, Tarix Jabrix promo tour, 2008

Notes: Yesterday, September 22nd, 2013, God took all of his suffering & pain. May he rest in peace, dear respectful senior. T_T

cooking

Paket Pertama Kukila

11:40:00

Dua hari lalu jadi hari yang cukup bersejarah di bulan Ramadhan ini. Saya akhirnya mengirimkan 1 paket pesanan kue kering Kukila untuk pertama kalinya. Yeayy!

Mengerjakan paket untuk sahabat saya, Poet ini bikin sport jantung. Karena untuk 1 varian di dalamnya, Greentea Cookies, saya sempat gagal di waktu yang ditargetkan. Memasak memang sedikit banyak seperti orang berkenalan. Saya harus tahu sifatnya, kesukaan, yang tidak disukai, dan seterusnya. Nah, si Greentea Cookies ini ternyata minta perhatian lebih dibanding kawan-kawannya. Nggak mau didiamkan atau ditinggal sebentar. Untuk membentuknya butuh kehati-hatian. Ia tidak rapuh, tapi tidak suka terburu-buru. Greentea Cookies juga punya kelebihan dibanding yang lain: ia luar biasa menarik, bahkan sebelum ditemui. Artinya, meskipun banyak yang belum dapat tester kue kering yang satu ini, tapi yang pesan sudah banyak. Hihi. 

Lebaran sudah dekat, begitu pula tenggat waktu untuk bersenang-senang dengan kue-kue imut nan enak ini. Jadi... let's have fun!

daily

Knit Stories #2: Behind The Knit Gift

22:40:00


Finally! I finished my 2nd knitting in 3 weeks. A quite long duration for a simple scarfl, but I'm still proud of it. I made it specially for Poet, my best friend who had her birthday at April 28th. I know it's late, but it's better late than never, 'aight? =P

I, somehow, feel grateful for doing this project because it accompanied me on many journey and occasions. From the station to the train, to the hospital when I passed my time with my mother, to the boring silence and so on. I found that knitting soon to be my 2nd loyal-silence-friend. The first is books, anyway. You could check the process in photos below. 

After the scarf's done, it left some yarns so I made 2 ribbons and sew them to hairpins. I really thought they are beautiful. *self-proclaiming. Haha* The process took my patience, time but increased my technique in knitting too. I learnt purl stitch and stockinette stitch here.

And yes, here is the link for the pattern. Try 'em! =)

 
At Lempuyangan station, it's still so short!
Already at home (Jogja), and the skein still looks so full...

Sitting in Sancaka train, went to Mojokerto to see my mom. 
The scarf's done, look at the skein! And the hairpin's there too. Happy! =D

daily

Aspirin

12:49:00

Kemarin pagi, di kala kepala agak berdenyut & pusing, seorang sahabat meninggalkan Jogja. Karena kata dialog di Life of Pi, bahwa perpisahan yang  paling menyedihkan adalah tiadanya kesempatan mengucap salam, maka saya pun ingin mengucap salam lewat pesan singkat. 


Saya: 
"Hati2 di perjalanan pak Boss! Semoga angan & mimpinya segera dilekatkan pada kenyataan. =)"

Ia: 
"Ouch..., bagaimana jika ternyata kenyataan itu tidak sperti sebuah konsepsi kenyataan yg (tidak) kita inginkan?"

Waduh, balasannya kok jadi balik tanya. Bisa panjang ini. Runyam. Baiklah, mari dibalas sekenanya. 

Saya: 
"Syahdan, manusia diciptakan dengan akal pikiran & perasaan bukan tanpa alasan. Dari keduanya manusia jadi punya kemampuan untuk interaksi, bermimpi, pejal & tak mudah patah. Aku percaya, bahwa berdamai dengan kenyataan & memanfaatkan keadaan adalah salah dua dari setumpuk kemampuan manusia. 

Dijalani dulu pak boss... Kalo jatuh, toh bisa bangun lagi. =)"

Nah, kalo balasannya panjang gini, seharusnya diskusinya tidak dilanjutkan. Haha. 

Ia: 
"Wuiiiidiiihhh... berat banget tuh comment'nya :)"

Karena ditanggapi seperti itu, saya pun membaca ulang pesan saya. Asem. Memang berat kata-kata saya. Celaka kalau saya sendiri tidak mampu menjalani. 

Berusaha mengalihkan perhatian pada konten pesan, saya pun memilih menyisir rambut yang awut-awutan sambil bercermin. Mendadak, terjadi perlambatan sepersekian detik dan muncul suara bergema di telinga. 

"Vinka, kalau sudah berani menasehati seperti itu, berarti kamu tidak boleh mengeluh, tidak boleh rewel, tidak boleh manja saat mendapat ujian, tidak boleh ini tidak boleh itu.. Kamu harus.. Kamu..."

Saya menggelengkan kepala cepat, berharap suara-suara itu rontok dan jatuh ke lantai. Kenapa sms-an saja jadi dramatis begini? Ah, pasti ini gara-gara Aspirin! 

friends

Flypost, Et Cetera, Yada Yada

18:56:00


photo taken by Risang Yuwono
I've told you before that now is the beginning of busy time in my workplace. It is, and I wanna show you one of that I'm doing: flypost! You might be see these papers sticked in the street at Jogja in next few days. Hope it will attract more people to participate in our program.

And I thought it was just yesterday I post about friends visit, but today I've got another surprise visit from c2o library/ayorek fellas, and surprisingly my professor at the college: Dede Oetomo. Really really happy! I miss them so much before. Even tomorrow they could visit Tobong and see Ketoprak as well as seeing what I'm working now. Double happiness! I love when my lovely friends and families around me. Nothing compare. 
For sure. 

*smile ear to ear*

fave

Visit Time!

13:37:00

Last week I feel so delighted because many friends visit me & Rendy in Jogja. First, Ryan & Asikin were here, then a bunch of Sinematografi UA fellas came to JAFF (Jogja Asia-Netpac Film Festival). They healed my missing feelings to Surabaya and daily conversation. Short, but meaningful. And now I'm on the beginning of busy time of the Tobong Project. Don't forget to follow our development in Facebook page or in Twitter. We'll show you our progress! 

Me, Ryan, Asikin & Rendy: at Lempuyangan Train Station.
Teetha, me & Rendy: in front of TBY, coincidently Red. =D
Rido, Ayu, Sofi, Nene,  Fatan, Rico, Arif 'Ohini', Abu and several friends from Solo. Happy!
And yes, you could check out my instagram too, ini @vinkamaharani or you could click here if you don't have an account. Enjoy! 

friends

Senpai's Wedding!

00:11:00

Hari Minggu kemaren (9/9), pertama kalinya saya menghadiri pernikahan alias kondangan, setelah pernikahan saya sendiri. mas Agyl --yang kakak kelas di kelas Akselerasi dan adik bungsu dari sahabat dekat saya, pak Ardhy-- menggenapkan separuh diennya dengan mbak Isti. Beruntung, karena rumah mbak Isti di Semanu, Gunung Kidul, saya jadi bisa menghadiri momen indah ini. 

Berbekalkan peta undangan, arahan Google Maps serta sebotol air minum, pukul setengah sepuluh saya dan Rendy bersemangat menempuh perjalanan. Tiga puluh empat kilo sekian meter. Itu yang tertulis di layar laptop untuk memperkirakan jarak Banguntapan-Semanu. Santai lah, itung-itung jalan-jalan... Tak disangka ternyata rute yang mendaki dan belokan tajam berulang kali muncul dan bikin deg-degan. Apalagi setelah botol air minum kami jatuh karena cantolannya putus. Hampir satu jam perjalanan hingga kami menemukan alun-alun Wonosari, yang berarti tujuan sudah dekat. Sempat nyasar sebentar, tapi akhirnya sampai dengan selamat.
 
Sejak dulu setiap lihat berita di televisi, daerah Gunung Kidul selalu ditampilkan dengan kekeringan, gersang. Kali ini saya menyaksikan sendiri, ternyata memang kering, tanahnya gradasi dari putih, abu hingga coklat muda karena didominasi oleh kapur. Tetapi entah, kawasan karst ini menurut saya eksotis. Andai saya punya kamera yang ciamik, rasanya sepanjang jalan ingin berhenti berkali-kali mengabadikan pemandangan yang seksi. Dan herannya, angin yang berhembus terasa sejuk, padahal mentari sedang terik-teriknya. 

Tanah Gunung Kidul
Saya sempat #salahfokus ketika tiba di lokasi. Mata ini langsung berbinar melihat bagaimana dekor, katering,   sudut hiburan ditata sedemikian rupa. Maklum, melankolis, yang diperhatikan malah detil-detil seupil. Pesta atau jamuan pernikahan di tiap daerah selalu menarik untuk diamati (dan dinikmati). Tetapi, saya kemudian benar-benar #salahfokus ketika melihat bagaimana acara ini didokumentasikan. Sebagai alumni UKM kebanggaan: Sinematografi UA, saya tertegun beberapa saat melihat body pod dipadu camera (dolly) track slider untuk merekam "sine-manten". Mantab!

#salahfokus
The video-grapher (Jm Tod) troops (photo: his courtesy)
Ketika pulang, saya meminta kepada Rendy untuk rehat sejenak di Bukit Bintang. Selain meregangkan otot-otot yang lumayan kaku, penasaran juga mengapa daerah ini jadi tempat jujugan muda-mudi berwisata. Ternyata letak Bukit Bintang memang pas untuk melihat lalu lintas perkotaan yang bagaikan miniatur jika dipandang dari sini. Udara bersih, minuman segar, juga tangan kekasih(ku) di genggaman. 
#asyeeekk =D

Negeri Tanpa Tepi
Oh iya, tulisan tentang pernikahan tanpa foto pengantin rasanya tidak tepat. Ini dia kedua mempelai. Sekali lagi, barakallah mas Agyl & mbak Isti! 

(photo by Emha Bayu Miftahullatif)

friends

Bersyukur

16:10:00

Kata Quraish Shihab 2 hari yang lalu, bersyukur itu tidak hanya berterima kasih. Bersyukur: selalu menganggap pemberian yang sedikit itu sudah terlampau banyak dan selalu merasa baru memberi sedikit meski secara jumlah sudah cukup banyak. 

Akhirnya sore kemarin saya berhasil menyampaikan salam seorang teman kepada Ibu dan keluarga. Alhamdulillah, saya tidak sampai menangis. Teman ini sudah cukup dekat dengan keluarga, sehingga ketika mendengar kabar keberhasilannya melewati skripsi, sidang dan revisi, Ibu mengucap syukur berkali-kali. Berarti ia akan lulus, wisuda, kembali ke tanah kelahirannya. Dan saya akan kehilangan kehadiran teman terbaik saya.

Kanti, namanya. Pertama kali mengenal karena ia mengikuti proses pendadaran unit kegiatan mahasiswa Sinematografi tahun 2007. Saya yang merancang dan menjalankan program itu, dan jadi orang tergalak buat peserta saat itu. Tepat setahun kemudian, Kanti menjalankan peran yang sama. Lebih galak tapi, dibanding saya. Hehe. Mimpi (ter)buruk bagi peserta (dan panitia) pendadaran mungkin untuk tahun kemarin. Saya dan Kanti sama-sama hadir, dan jadi duet maut senior cewek tergalak mungkin sepanjang sejarah. Maaf ya. =D

ki-ka: Saya dan Kanti ngecek tingkat kekuningan lidah. Wek!
Banyak yang bilang sifat saya dan Kanti mirip: keras kepala, keras, ekspresif. Iya sih, memang. Tetapi bukan sifat-sifat itu yang membuat pertemanan ini menjadi rapat. Terus terang dan logis. Itu. Mau kami tengkar sehebat apa pun (iya, kami juga bertengkar), akan mudah mereda ketika penjelasan-penjelasannya berterima dengan akal. Mau sesakit apa kata-kata atau nasehat yang terlontar satu sama lain, akan diakui karena kenyataan yang terjadi sama pahitnya. 

Kadang saya sempat kesal juga pada Tuhan, kenapa Ia mempertemukan saya dengan orang-orang yang tidak bisa saya temui lagi, tidak diberi kesempatan untuk membalas kebaikan mereka. Kanti misalnya, sejak awal kenal, ketika saya tanya tentang rencana hidupnya, dengan mantap dijawab akan kembali dan berkarya di Pekanbaru. Tinggal, menetap, berkeluarga dan berumah tangga di sana. Sejak saat itu pula saya sadar bahwa pertemanan pun sepertinya punya masa tayang. Terbatas.

Namun saya sepertinya lupa diri. Jika diingat-ingat, saya juga meninggalkan teman-teman saya di Tulangan, di Mojosari, bahkan juga yang di Surabaya, karena sekarang saya tinggal di Yogyakarta. Mungkin juga ada teman saya yang dulu juga kecewa, ketika saya seharusnya bisa membantu, menghibur atau sekedar berbagi tawa, tapi saya tidak ada di situ. Maaf. 

Pertemuan - perpisahan, asing kemudian saling kenal, sekarang saya sadar betul kewajaran peristiwa ini dalam alur hidup. Dan harusnya saya mulai belajar bersyukur. Berterima kasih karena 5 tahun berselang, dengan berbagai momentum [saya lulus, kerja, gaji pertama, lamaran, menikah, Kanti pacaran, putus, digebet banyak cowok, ga ada satupun yang jadi, ups!] hingga hal-hal wajar sehari-hari [nyulik Kanti buat brunch di cak Sandi, mendadak nonton di Lenmarc yang jauh minta ampun, nonton gigs, nggosip, berlama-lama di toko buku atau toko grosir, blablabla. Maturnuwun sanget Gusti. 

Dan sekarang harus belajar untuk merasa bahwa saya masih belum memberikan apa-apa sebagai rasa syukur itu sendiri. Belajar menggunakan berbagai upaya agar pertemanan ini terjalin. Belajar berusaha, untuk membuat teman-teman saya tidak kehilangan dan tetap menganggap saya sebagai temannya. Bismillah. 
Kembaran ciput. =D
PS: Saya dan Rendy sedang mudik ke Surabaya. Pulang. Happy Eid! =*

friends

A Punctual Gift (Hadiah yang Tepat Waktu)

14:09:00

A day before yesterday, I met Kat and Andriew (close fellow from c2o) in Jogja. Ha! Somehow it feels different, have a meeting with friends from hometown, right at your new neighborhood, in new place you've never met. And I just realized, how I really miss the moments with them. Moments with old & casual friends, talking from nothing to something, babble about dreams and ordinary life. You'll know how precious a usual event when you find it become unusual. =)

Kat asked me and Rendy to meet in Lir, comfortable corner with mind-catching tagline [Books | Resto | Curiosities]. Got introduced with the owner, Dito and also Antariksa, chingu from Kunci. Silaturahmi always bring joy and at this time, those bliss really on my side. Kat gave me books and map (yay!) because she read on my previous post in this blog that I have difficulties for having them in nowadays. I really surprised, especially for the map. It will be my guidance and early target for my promenade here. Just need a second to take a look and the passion to this city was sizzling to the bone. Haha. Hope I have a time to bear and share it all to you. Thanks a lot Kat! 
=*

family

Mirrored Glasses

08:03:00

Found several photos which using glasses as mirror trick.
Yugo, with me, mas Miko and Avis in his glasses
at Taman Dayu Waterpark
In the front of Batu Secret Zoo. The ice cream is tremendous, fresh milk detected! =9
 But still, my best choice goes to my brother-in-law's. 
The picture told you, that only her in his eyes. =')
Sweet, isn't it?

friends

Pregnancies

09:49:00

No, no, don't worry, I'm not pregnant. Haha. I just want to share my thought about this baby-will-be-boom around me.Today, I just heard the hottest news in office that my SPV, mbak Fidya is expecting. Yep, the same person that I’ve told you here, in her wedding.

After my own sister (you could read her proposal and wedding stories), Mbak Na, now mbak Fidya is pregnant. I feel happy and exciting at the same time. But suddenly I remember about my warm conversation with mbak Jatu, my senior in campus and the owner of Galeri Bebi Lucu, about a choice about pregnancy. Mbak Jatu has committed with her husband for having 2 years without kid(s) after their marriage. After 1,5 years, the feeling came. Mbak Jatu herself want to have the baby, and that's how it goes. It is smooth at the beginning but because of the lack of preparation and planning, made the second baby came only in 14 months after the first baby. Yes, 14 months. And IT IS a heavy task to handle.

I always reflect to myself after seeing some phenomena around me. Several questions popped out, uncontrollable.
When will I feel the same feeling as mbak Jatu's? 
Is it soon after the marriage, or later? 
How if blablabla, and blablabla. 

Me & Rendy already talked about pregnancy things several months ago, about the planning after marriage, our ages, our mental age, etc. The most "speechless" moment in pregnancy case was when I told him my target for having a movie festival, held by my own studio. Suddenly, he smiled and laughed with a lovely sight. I asked him why and he answered, "I don't know why, but I imagined you will lead a meeting with your festival committee with a big bump in your stomach. Yes, pregnant." He can't stop smiled, and I left frozen with question marks in my head. He said that it looks cool on his opinion. There's a side of motherhood, femininity but also a strong of leadership at once glance. Ah, my loony lover. =D


Basic thing, when the baby is "well-planned", from most of couples that I knew, the baby will be welcomed happily by all of the family and friends. If it isn't, off course they still happy, but I could see the happiness is less. In my own opinion, every single baby have a right for the warmness of family, the full joy and love. So, it is our responsibility (yes, me too, in next couple years, hehe) for thinking wisely and plan neatly, for a bright future of us.

Didn't I sound too serious this time? Ah, forgive me fellas. ;)
Me & "BuMil" (pregnant mom). Me, Mbak Na & mbak Fidya

family

Thank You. Yes, All of You.

00:16:00

Tonight, I looked at a girl whose lonely, lost of her direction, sick, confused. She might be at a transition phase, to face a new world unimagined before. But unfortunately, she thought, breaking up with the past is the best way to adapt. With her true nature.

Facing the scenes, I realized how I should be more grateful for families, friends, colleagues, lover for being there and love me, care about and take me as I am. How they sometimes play hard to me, because I've been away from my own path, my own character. They did it because they concern about me.

I never saw a loneliness like this. I never felt it. I felt I always have a friend to talk to, several warm group-hugs, bunches of expert in any problem, and of course, families for coming back home.

This moment, I thank all of you, for being around me. Taught me important things, save me from uncontrolled situation, for being my strength. Thanks Dieu, for my ears, my eyes, and all of my senses to keep my precious people with me. Merci beaucoup Dieu.

=*
I know, Astria covered by Dinda's hair, but this picture told us about: Joy, Honesty & Blessed. *click for its detail*
Picture: Yanuar Satria for IOP

friends

Mbak Fidya's Wedding

00:30:00

Just recognized that I haven't post my trip last week to Gresik, for attending my office-mate's wedding: Fidya Safitri Aulani & Mohammad Nadjib.
Here is the happy bride and groom!
I slept-over in Arlia's aunt house with several other office-mates. We agreed wearing pink as our dress-code. All in kebaya! =)
Arlia & Poet
Me and Astria
I also met my best-friends from high school after a long time missing them. Ah, this is the feeling of being older: even best-friends had their own dreams. I should learn how to let them go to catch theirs and support them however it is. Less time together, but it's okay. That is maturation. I hope I could aged gracefully, with all of this love shower from friends, family and lover. =) 
left: me & koko PJ, right: Rikza & me. Suddenly missed my high school time with 'em!
At the wedding, there was a band entertained the audience with religious song (it's a request from mbak Fidya's mother in law. hehe). Then Ganes, internship-er of my office which was a university choir member, asked me to accompany him in the stage. Haha. Just look at my face below. =D
*pasrah*
Anyway, because of this event, I'd like to have experiments in make-up things. Astria asked me to do her eyes make-up. Not bad, I thought. For my own make-up, I used my newest eye-shadow set: Merak Kasmaran by Sari Ayu. I love the turqoise effect on my eyes. Then, when I went home, my kost-mate asked me to do her graduation make-up, next month. Wow. It's a big deal instead. Hmm, I feel challenged! 
How do I look? ;;)

buku

Book's Day Out (23-24 April 2011) in c2o Library

07:15:00

It's quite late for telling stories about Book's Day Out, but after read the reportage here (with my photo & Kanti as the first photo. bwahahaha), I want to tell it based on my view. =D


The Book's Day Out (BDO) in c2o Library were actually a peak event of c2o's agenda in April. At the day, every postcard from the "Postcards from Bookworms" were exhibited. 
Postcards from Bookworms publication
But not only postcards, BDO brought us into Book Swap, t-shirt sablonage, and delicious cookies!
My favorite one, peanut butter cookies!
I came with my books to be swapped, but actually I didn't really wanna swap it, just give it to c2o library. Why? Because it was my college books. =P Kat, the c2o owner, said that they also need a basic social studies book. So I think my books will fit in the criteria. =)

I & Kanti, went there and forced to make a postcard. I didn't have any idea at first, but after look Kanti grab some asturo bright color origami paper, I suddenly remember about my favorite book: L.S.D.L.F. by Syahmedi Dean. L.S.D.L.F. is Lontong Sayur dalam Lembaran Fashion, the first of tetralogy Dean's novel. It is the first book which made my eyes wide opened into fashion things. It is lovely, for sure. The cover of L.S.D.L.F. dominate by black, and accentuated by green, mustard and white. That's why I made my postcard like this:
Me & My Postcard. =)
In the process of making postcard
Me & Kanti seeing the postcards
At the afternoon, there was a presentation of postcard maker. I didn't attend, because I've already had another meeting. =( But overall, the event was great. I think it's a new way to support and enhance passion in reading a book. All those beautiful photo above were taken by Erlin Goentoro. (Thank you, Erlin!)You could see another picture taken by her in her flickr account. Anyway, don't forget to visit http://c2o-library.net for knowing much more about the event and everything about c2o library. Keep reading books, fellas! 
=*