life

QoTD: As Human Can Be

20:37:00

Kita (atau saya) bisa apa sih, 
kecuali Bismillah doang. 
=)

Atau seperti salah satu kertas yang terselip di kantong Rabbi Simcha Bunem of Pershyscha: V’anokhi afar v’efer”—“I am but dust and ashes.”*


*: dibaca dalam Choose the Life You Want, oleh Tal Ben Shahar

life

QoTD: Oh, well...

23:46:00

"But if you paid close attention to what he was saying or what he had written, 
you knew that his words lacked consistency. 
They reflected no single worldview based on profound conviction. 
His was a world that he had fabricated by combining 
several one-dimensional systems of thought. 
He could rearrange the combination in an instant, as needed. 
These were ingenious - even artistic - intellectual permutations and combinations. 
But to me they amounted to nothing more than a game."
~ Murakami, The Wind - Up Bird Chronicle.

family

Gubuk Perjuangan

10:26:00

Setelah hari kesekian dari lebaran: pulang kembali ke rumah sendiri, cucian menggunung & debu merengek minta disapu. Momentum Idul Fitri kali ini menampakkan ironi. Sebesar-besarnya rindu yang menumpuk pada kampung halaman ternyata ada rasa rindu yang mendesak perlahan, rindu pada gubuk perjuangan. Betapa "rumah" itu bergeser: dari rumah orang tua tempat bertumbuh ke sarang sendiri yang menjadi tempat bergulat & bermesra dengan dunia.

Memahami tempat kita selayaknya "pulang" itu penting, menurutku. 
Karena dengannya ada tujuan, dan ada tempat kembali. 
Memahami mengapa sesuatu itu wajib diperjuangkan, dan tahu kapan harus berhenti. Memahami bahwa ada rindu yang pantas dikerat kuat-kuat, dan kapan harus digenggam erat lagi.

Selamat Idul Fitri, kawan.

birthday

Yaminah

11:47:00

*ditulis Maret, 2015

Dalam beberapa variety show dan serial Korea yang saya tonton, ada tradisi unik saat seseorang berulang tahun. Bukan hanya ia yang berhak mendapatkan kado atau hadiah atas pergantian umur itu, tetapi juga ibunya. Sang ibu dianggap berhak mendapatkan hadiah, karena berkat ibu ia dapat tumbuh menjadi sosok yang sekarang ini.

Saya kurang tahu, apakah jabaran singkat di atas betul-betul sebuah tradisi atau hanya pemanis dalam acara televisi saja. Yang pasti, bulan ini ibu saya berulang tahun, dan saya ingin berterima kasih pada ibu beliau: nenekku.

Nenekku bernama Yaminah, wanita berperawakan mungil yang selalu saya ingat sebagai koki ulung, pemilik pipi yang selalu wangi dengan bedak Fanbo. Kadang berganti Viva Face Powder yang berkemasan zac. Saya selalu rindu mencium pipi itu, sampai sekarang tentunya.

Sehari-hari beliau selalu memakai kebaya dan kain jarik yang serasi. Keduanya ditata dengan rapi di lemari. Kain yang diberi oleh anak-anaknya hampir di tiap hari raya selalu digolong-golongkan dengan tingkat keapikannya. Yang sudah sedikit amoh dipakai sehari-hari, yang masih bagus dipakai di momen spesial. Kedatangan cucunya termasuk yang terakhir. Tidakkah saya selalu tersanjung atas hal ini?

Dibesarkan oleh ibu tiri, Yaminah dan kakak perempuannya seperti hidup dalam dongeng. Ibu tiri yang tidak memberi cukup makan, dan hal-hal menyedihkan ala Upik Abu dalam versi nyata. Sang kakak sedih bukan kepalang, mengajak Yaminah untuk bertekad membalas ibu tiri di kemudian hari. Kakak ingin menjadi kaya raya dan berganti menindas ibu tiri, biar tahu rasa. Yaminah menolak, ia memilih untuk berbuat baik sebaik-baiknya, agar di suatu hari nanti si ibu malah malu bukan kepalang karena telah berbuat buruk kepadanya. Kira-kira seperti ucapan Diana Rikasari puluhan tahun kemudian: If people hate you, Love them back. Malang tak dapat ditolak, perbincangan saudara kala kecil itu pun menjadi kenyataan. Sang kakak betul-betul menjadi kaya raya, dan Yaminah mendapat rasa malu dan hormat ibu tirinya.

Yaminah muda adalah perempuan yang terampil. Di jaman pendudukan Jepang, pemerintahnya secara terorganisir memberikan pelatihan sampai ke desa-desa untuk keterampilan dasar dan produksi untuk wanita, seperti memasak, merajut, menjahit, menyulam. Yaminah salah satu yang mengenyam pelatihan ini. Beliau dapat mengolah kapas dan memintalnya jadi benang, sampai merajutnya. Tepian-tepian taplak meja di rumah Yaminah selalu dihiasi sulaman bunga-bunga yang cantik dan rapi. Jika hari raya atau hari besar akan datang, ibu-ibu sekitar akan berduyun-duyun datang membawa telur, terigu, kelapa, serta bahan dasar lainnya untuk membuat kue-kue. Mereka akan membuat bersama di dapur Yaminah, karena ialah yang dikenal paling enak dan paham betul takaran, proses memasak kue-kue itu.

Perihal lain tentang Yaminah adalah kepandaiannya mengatur ekonomi keluarga. Ia memiliki sepetak tanah di belakang rumah. Dengan rapi dan penuh perhitungan ia bagi untuk berbagai macam sayur dan tumbuhan yang dapat memenuhi kebutuhan sayur mayur sehari-hari untuk ia, suami dan keenam anak-anaknya. Ia juga memelihara ayam dan itik yang ia ambil telur-telurnya. Telur ini tidak untuk dikonsumsi, tetapi “dijual” bersama kelapa yang tumbuh di halaman rumah, pada tengkulak yang berkeliling mencari hasil bumi di desa-desa. Telur dan kelapa ini dijual dengan cara barter, ditukar dengan bumbu dapur: bawang putih, bawang merah yang ia simpan hati-hati, digantung di langit-langit dapur. Perihal telur ini istimewa, karena dahulu telur adalah barang yang tinggi nilainya. Dalam keseharian, telur didadar dengan tambahan tepung dan air agar secara kuantitas menjadi banyak. Barulah jika ada anak yang sakit, diceplokkan satu butir telur untuk anak itu. Yang ajaib, sang anak pun percaya akan kekuatan telur. Setelah makan telur ceplok, langsung sembuh!

Yaminah dan suami juga sempat berjualan di rumah. Anak-anak mendapat giliran untuk menjaga dan melayani pembeli. Uang receh ia sisihkan di tepi, uang kertas untuk kembalian diletakkan dalam kotak. Pada anak-anak ia berujar, “Ini uang recehnya. Kalau pengen njajan es janggelan (cincau), boleh diambil, asal bilang dulu.” Pendidikan kepercayaan dan kejujuran yang diselipkan dalam hal perekonomian keluarga. Ah, Yaminah.

Jika ibu saya mendapat pujian, penghargaan atas berbagai keahliannya, saya yakin, sebagian besar harus diberikan kepada nenek saya. Beliau lah yang mendidik ibu sedemikian rupa.

Mbah Uti, maturnuwun sampun muruki ibuk kathah-kathah, 
ibuk sampun dados ibuk ingkang nyayangi kulo, mbak Maya lan mbak Ratih.
Mbah Uti, Vinka sakniki sampun kagungan Hayu, 
Mbah mesti seneng menawi mirsani, Hayu lucu mbah.

Mbah Uti, Vinka kangen. 

family

Tengkurap

20:46:00

Hari ini, sehari sebelum engkau genap 3 bulan. 
Kau bisa membalikkan badan hingga tengkurap nak. 
Pertama kali disaksikan budhe Maya & Bapak. 
Lalu juga kau ulangi di depan Ibuk.

Sesaat ada yang mengaduk-aduk perasaan. 

Ibuk, terharu.

Sentimentil dan berlebihan di saat yang bersamaan memang. 
Tapi apalah daya, aku pun nikmat dalam perasaan yang janggal & jarang terjadi ini.

Terima kasih banyak Hayu. Selalu sehat & tumbuh optimal ya nak.
Ibu & Bapak selalu cinta.

cheri

Maret 2011

10:53:00


Tanpa aplikasi Timehop, tangan ini ndilalah nemu foto ini. Foto yang diambil di bulan yang sama,  4 tahun yang lalu. Foto yang diambil di tempat kami biasa jajan eskrim (dan tak lupa beli sousnya), di Mon Cheri – Plaza Surabaya. Tempat yang namanya juga jadi sebutan kesayangan untukmu, suamiku.

Waktu memang tidak bisa dijadikan lawan, karena kita akan selalu kalah terhadapnya. Ia selalu melaju, terus tanpa menoleh ke belakang. Tapi waktu pulalah yang melahirkan kenangan, yang dapat dijadikan pijak & pelajaran untuk sekarang dan yang akan datang.

Kesedihan akan masa depan akan merusak kebahagian di masa kini, ujar Basudewa. 
Besok engkau mungkin harus berangkat lebih pagi dari hari ini, tetapi tak perlu kau kesalkan itu sekarang sayangku. Hari yang paling melelahkan pun, kelak dapat menjadi kenangan yang kita lihat dengan senyum.

Terima kasih telah berkembang dan belajar bersama, 
termasuk membuat cinta ini selalu tumbuh & berbuah rindu di sepanjang waktu.
Semua terasa menyenangkan, karenamu.

Kekasih & istrimu,

VM

cooking

[Resep] Acar Ikan Kembung

08:30:00

Setelah ada Hayu, urusan masak memasak jadi sedikit tricky. Harus pintar-pintar membagi dan mempersingkat waktu. Setelah beberapa lama hanya berkisar di tumis-sop-sayur asem-bening dan lauk goreng-cemplung, akhirnya saya mulai bosan juga. Mau browse resep-resep kekinian di grup masak rasanya terlampau lama. Sumber valid lain jika sudah mentok begini adalah bincang ibu-ibu, baik di tukang sayur ataupun pasar. Percayalah, saran-sarannya mantap!*meski kadang ajaib juga*

Di tukang sayur sedang bawa ikan kembung, saya tertarik mencoba. Banyak yang semangat menyarankan bumbu acar, gulai, bali, etc. Karena tetangga sebelah pohon belimbing wuluh terlihat sedang lebat (pas mau belanja, kelihatan menggoda), saya jadi kepengen yang asam-asam. Jadi deh pilih bumbu acar, lengkap dengan belimbing wuluh hasil minta tetangga. Hehe. 

Resep berikut saya dapat dari Sajiansedap.com. Dengan beberapa penyesuaian sedikit, hasilnya maknyus! Selamat mencoba..


Resep asli dari Sajian Sedap
Bahan:
5 ekor ikan kembung, dikerat-kerat
1 siung bawang putih, dihaluskan
1 sendok teh air jeruk nipis
1/2 sendok teh garam
minyak goreng untuk menggoreng

Bahan Acar:
5 butir bawang merah, dipotong 4 bagian
2 buah cabai merah besar, diiris serong
10 butir cabai rawit merah utuh (saya cuma masukkan 5)
1 cm jahe, dimemarkan
2 lembar daun jeruk, dibuang tulang daunnya, disobek-sobek
1/2 sendok teh garam
3/4 sendok teh gula pasir
1 sendok teh air jeruk nipis (saya ganti belimbing wuluh 3 buah ukuran sedang)
1 batang daun bawang, dipotong 1/2 cm
250 ml air
2 sendok makan minyak goreng untuk menumis

Bumbu Halus:
2 siung bawang putih
2 butir bawang merah
1/4 sendok teh merica bubuk
1 butir kemiri, disangrai
1 cm kunyit, dibakar

Cara membuat:
Lumuri ikan dengan bawang putih, air jeruk nipis, dan garam. Diamkan 10 menit.
Goreng dalam minyak yang sudah dipanaskan di atas api sedang sampai matang.
Acar: panaskan minyak. Tumis bumbu halus, bawang merah, cabai merah, cabai rawit merah, jahe, dan daun jeruk sampai harum.
Tambahkan air, garam, dan gula pasir. Masak sampai mendidih.
Masukkan ikan, air jeruk nipis, dan daun bawang. Aduk rata. Angkat.


fave

April, Winter is Coming!

13:40:00

Thanks to Hayu, time really flies faster than the speed of light. I never really think that Game of Thrones (GoT) season 5 just ready to air next month!Aaaaaaaarggggghhhhhhh! Really can't wait!

Dornish people, how Lord Varys & Tyrion's adventure, then Arya, don't forget how Jon Snow and Stannis entwined together, and Dany! It will be a tough time for Daeny, how Meereen statue will collapse just like how it shown at the trailer.

Anyway, I watched this >> Game of Thrones Season 5: A Day in the Life (HBO): http://youtu.be/p9Mi17nLflY, yesterday. And I truly honor *clap my hand* to the team behind GoT. I love how the producer choose for not being stressful by the "bigness" of GoT, but doing the best as he planned. I'd like to quote:

"Don't be exaggerated by the bigness of the production, just do and prepare as everything has planned. It's just like parachuting. 
Don't be afraid about the height, how high you'll fly. 
Just make sure that the parachute works."

NICE!

family

Hayu

06:11:00

16.01.2015 9.35pm

Apalah yang bisa kuceritakan
Dari tatap mata bulatmu
Aku hanya ingin tenggelam di dalamnya
Seperti gerimis yang lesap perlahan
di sela tanah, sore tadi.


Apalah yang bisa kubanggakan
Di depan senyum bibir mungilmu
Aku hanya bisa takluk karenanya
Seperti Amer pada Agra
atau Jalal pada Jodha.


Engkaulah guru, karib, yang selalu jadi bagianku.
Engkaulah doa, harapan, cinta yang utuh tanpa catu.
Engkau adalah kami, tapi juga dirimu sendiri.
Engkau, ya, engkau Hayu.