podcast

VIP Talks on Apple Podcast!

17:20:00

Kadang kalau dipikir-pikir agak mustahil untuk saya bikin podcast. Karena kemampuan editing saya ya gitu-gitu aja, ditambah ketidak-konsistenan saya. Istilah orang Jawa: ndeng-ndeng ser. Tapi saya tidak menarget banyak, yang penting jalan, yang penting bikin, yang penting berkarya biar pengetahuan saya yang sedikit ini bisa bermanfaat. Alhamdulillah sekarang sudah di episode 5+1 episode spesial. Sudah dengar belum? Di episode spesial saya dan mbak Iphip diskusi tentang film Marriage Story dan Kim Ji-young Born 1982. Yang belum dengar boleh langsung cus ke anchor.fm/viptalks ya. Di bawah ini cuplikan favorit saya yang selalu bikin tersenyum kalau dengar. 

Dan kabar terakhir yang juga menyenangkan adalah, akhirnya VIP Talks ada di Apple Podcast jugaaa. Kayaknya emang paling terakhir ya bisa di kanal Apple. Monggo yang Sheeple atau Apple fanboys bisa merapat mendengarkan VIP Talks di kala senggangmu. Klik langsung di sini!

budaya

Tempat Yang Aman & Nyaman Bagi Geminian: Yorkshire

01:50:00

Berpindah ke negeri orang, tentu ada rasa takut dan was-was. Bagaimana jika lingkungannya tak ramah? Bagaimana jika saya tidak bisa beradaptasi? Bagaimana dengan Hayu? Alhamdulillah, kami pindah di tempat yg tepat. Kami pindah di mana senyum & sapaan adalah hal yg mudah ditemui, bahkan seperti timpang jika mempertimbangkan betapa individualisnya kehidupan di sini. Saya bisa berargumen bahwa Yorkshire adalah tempat yang "aman & nyaman" bagi para Geminian (dan siapapun) untuk tinggal.⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀

Panggilan yang lazim digunakan untuk menyapa orang lain (asing maupun yg sudah kenal) adalah Love, Darling, Sweetheart, Mate & Lad. Hal ini sangat umum, dipakai oleh siapa pun kepada umur berapa saja. Datanglah ke pasar, tempat-tempat umum yang dikelola oleh native, maka kalian akan mendapat sapaan hangat ini. Malah tidak jarang ditambah dengan kedipan mata. Dan iya, ini mayoritas semua orang ya gini, nggak orang jual di pasar, pak-ibu tukang pos, tukang ledeng, security, siapa saja. Kalau di Indonesia menyapa seperti ini bisa-bisa sudah dicap genit, jablay, dll.

Apa hubungannya dengan Gemini? Yah, karena beberapa kali baca bahasan zodiak misal di akun Alexander Thian @amrazing tentang Gemini yang di-bangsat-brengsek-in karena "baik & ramah sama semua orang". I know (perhaps) it's just for fun to judge people instantly by the zodiac, tapi setelah tinggal di sini selama 6 bulan, perspektif saya berubah. Bisa jadi yang salah bukan orangnya, tempat & standarnya saja yg belum pas. Para kawan dengan zodiak Gemini, menabung yang banyak terus pindah sini deh, you won't be misjudge prematurely. Haha.

Tapi, penasaran aja sih, kalau premisnya "baik sama semua orang" = bangsat; berarti yg ga bangsat = "jahat sama semua orang"? Isn't it even more twisted logic?

I don't need the answer anyway, because I will still be kind to everyone. Cheers, Love!⠀⠀⠀

lesson

Saya & Vitiligo

00:32:00



"Comfortable in your own skin" adalah kalimat yg realisasinya butuh perjalanan panjang bagi saya. Tumbuh dengan vitiligo sejak SD membuat saya selalu merasa "ada yg salah" & "ada yg kurang" dari diri ini. Meski bisa disebut "beruntung" karena vitiligo saya berada di kaki & bukan di area yg banyak terekspos tapi ya tetap saja "Vinka panu-an" & olok-olok sejenis mampir di telinga. I camouflaged my insecurities with arrogancy (Panuan ngene tapi ga bodo koyok awakmu 😀).
⠀⠀⠀⠀⠀⠀

Secara genetik, kulit saya persis seperti keluarga dari Ibu, mudah muncul flek hitam, tahi lalat dan semakin menua spot hitam itu semakin melebar, beberapa akan menjadi seperti tompel. Saat SMA, mungkin karena hormon dan belum tahu bagaimana merawat kulit, flek, milia, tahi lalat berlebih pun panen. Yg konyol adalah pengalaman "di-ospek" karena dinilai "aneh" pakai gambar tahi lalat dibentuk pola seperti bindi-nya orang India. Info ini saya dapat dari senior yg keceplosan "Lho Vin itu tahi lalat beneran? Padahal dulu kamu masuk list PENA karena dikira dandan pake bikin gambar tahi lalat itu." #eaaa⁣⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀

⁣⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Kalau ada yg bisa diambil pelajaran dari urusan kulit yg rumit & tak henti-henti ini adalah konsistensi & kegigihan selalu terbayar lunas. Tahun kemarin saya kena penyakit autoimun lagi yg membuat kulit di beberapa bagian sangat kering, gatal & patchy. It takes months to be solved, but it's done. Pengobatan vitiligo berlangsung selama kelas 3 sampai akhir SD. My parents are the truly champion, mengantarkan ke dokter sampe larut malam, nunggu obat diracik, dilakukan bertahun-tahun & tak lupa menyuntikkan rasa percaya diri kepada saya. Kadang saya pun sempat lupa mengoleskan salep & minum obat. But I won't blame myself just for a day or two skipping the medicine/skincare for now. Slow & steady wins the race.⁣⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
⁣⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Shout out of love to all family who lives with vitiligo or other skin related disease. Cheer up!⁣

life

(Menjadi) Ibu Rumah Tangga

21:55:00

Draft telah ditulis sejak 2013, tetapi masih relevan saat ini. 

"Wah, udah tinggal di sini lagi ya.. Sekarang Vinka sibuk apa?"
"Alhamdulillah, sibuk jadi ibu rumah tangga."

Lanjutan alternatif 1:
"Senangnya jadi ibu rumah tangga. Enak ya, nggak mikirin kerjaan atau kantor. Nggak lembur, nggak bingung report bulanan. Bisa ngapa-ngapain aja terserah ngatur sendiri. Haduh, kalo kayak aku rapat udah bla bla bla......."

Lanjutan alternatif 2:
"Oh iya.. Lagian kalo udah nikah kan ya emang mending ngurus rumah tangga aja. Apalagi cewek, kan ga harus ngejar karir. Di rumah aja gakpapa.."

Lanjutan alternatif 3:
"Di rumah aja ya? Iya sih, sekarang cari kerjaan susah... Lagian ntar kalo udah punya anak pasti udah ribet sendiri kan. Emang di rumah aja itu gakpapa..."

Saya tidak tahu, apakah pertanyaan & pernyataan ini sering dialami oleh teman-teman yang baru menikah dan memilih menjadi ibu rumah tangga atau tidak. Tapi untuk saya: sering sekali.

Kombinasi alternatif lanjutannya terkadang dikombinasikan satu sama lain. Tapi ketika digaris bawahi ya tiga poin di atas itu yang paling mengemuka. Agak jengah juga lama-lama. Itu sebabnya saya jadi ingin menuliskan tema ini.

Jika kamu capek dengan pekerjaanmu, tidak mau direpotkan lembur atau report bulanan, ya jangan kerja, atau jangan mau lembur. Report bulanan itu bagian dari pekerjaan, kalau tidak mau ya tinggalkan saja. Lho, terus kalo mau makan dari mana Vin duitnya? Ya kerja yang lain, yang ga usah lembur & report bulanan, bikin usaha sendiri, ojek online. Haduh, sekarang cari kerja sulit Vin. Kamu ga tahu sih betapa susahnya.. Nah, sudah bilang sendiri kalau cari kerja sulit, sekarang sudah punya kerjaan masih ngeluh terus.

Untuk lanjutan perbincangan dengan alternatif kedua, yang perlu digaris bawahi adalah perihal pilihan. Sebagaimana manusia itu sendiri, tanpa mengenal gender, kita punya hak untuk memilih: mau menjadi stay at home father or mother, berdedikasi pada karir formal, untuk terjun di dunia politik, atau apapun. Relasinya bukan lagi harus atau tidaknya seseorang dengan jenis kelamin tertentu untuk berada di rumah, menjadi caretaker atau breadwinner tetapi bagaimana sebuah opsi dipilih dengan sadar dan paham akan segala konsekuensinya.

Senada juga dengan lanjutan alternatif 3, it's not about okay or not okay, dudes. Ini juga bukan tentang sulit atau tidaknya mencari pekerjaan. Ini tentang pilihan hidup, yang pantas dihadapi dengan gagah berani dan dinikmati sepenuh hati di semua naik & turunnya.

Entah mengapa, saat ini rasanya dunia sangat mendukung pribadi "pelari". Eskapis, lari dari "yang susah-susah". Kalau sudah terasa susah, berarti halal untuk mengeluh/kompensasi lainnya. Capek mengantre, mengutuk sana-sini di sosial media. Lembur kerja, ganjarannya harus nyalon, spa, travelling, makan enak dan bentuk "pelarian" lain. Di Better than Before, Gretchen Rubin menyatakan pola perilaku ini disebut moral licensing. Gampangnya, moral licensing itu motto "Work hard, play hard(er)". Coba pikir lagi, apa kalimat ini betul? Apa betul ketika kita bekerja keras, kompensasi yang tepat adalah bermain/bersenang-senang/have fun? Parahnya, ketika pola pikir ini telah menjadi habit/kebiasaan, maka otak tidak lagi berperan mengambil keputusan. Diri ini akan menerima perilaku ini sebagai kebenaran dan melakukannya terus-menerus tanpa berpikir lagi. The worst result motto tersebut sampai pada pemikiran "Saya kerja keras, boleh dong foya-foya". 

Mari meluruskan pikir. If you work hard, then you'll get a good salary, good return whether financially or quality of yourself. Then you could choose, what will you do with those credits. Play/having fun is an option, not the only one.  You have the power for choosing what you'll do for yourself, your present & your future. And after took your decision, let's be brave & mature to conquer all the consequences. Don't worry, you could ask help, but please, don't nag. 

Sama seperti pilihan lainnya yang patut dihormati, menjadi ibu rumah tangga juga layak ditempatkan sebagai pilihan yang diambil secara dewasa oleh pelakunya. Jika kalian ingin berkomentar atau menyampaikan pendapat atas pilihan orang tersebut, ada baiknya bertanya atau mendengarkan lebih banyak alasan di balik keputusannya. Janganlah melompat dan malah judgmental. It sucks. 

cheri

Why Not?

11:03:00

"Ayo dong mbak, kasih tau po'o.."
"Aku udah kasih tahu yang kamu perlu tahu, sisanya nanti kamu tahu jawabannya sendiri kok di dalam prosesnya."
"Ayo tala mbak... Berarti kamu tahu kan apa yang bakal aku dapet nantinya, kasih tahu sekarang aja lho.. Ayo dong mbak.."
"Gini lho ya, kamu nanya ke aku, aku ga jawab karena aku tahu nanti jawabannya bisa beda kejadiannya di tiap orang. Tapi meskipun aku tahu seperti apa, kalo emang aku benar-benar ga mau jawab, terus kamu mau ngapain? Toh kamu juga ga bisa maksain. Dunia ga selalu sesuai pengharapanmu, nak. Itu yang namanya dunia nyata. Get real."


Percakapan di atas saya ingat betul terjadi sekitar 5 tahun yang lalu di unit kegiatan, antara saya dan adik angkatan. Percakapan itu kemudian menurunkan tensi kedekatan kami berdua. Saya tahu resikonya, dan saya memilih untuk mengambil resiko tersebut, demi kemaslahatan organisasi (waktu itu). Peran saya memang mengharuskan saya menjadi "bad cop", biar mereka lari ke "good cop" dan lebih mudah menerima masukan yang sebetulnya sudah kami (senior) pikirkan bersama sebelumnya. 

Di akhir cerita, organisasi dan kegiatannya berjalan lancar. Sukses seperti rencana. 
Tetapi, hubungan saya dan "nak" yang satu ini tidak pernah kembali layaknya semula. 

Apa dia tahu? Entahlah. Saya tidak berharap ia berpikir sejauh itu. Tapi, sejujurnya, saya juga tidak pernah menduga bahwa efeknya akan betul-betul memisahkan kami sejauh ini. 

Saya tahu, dan saya tidak ingin berandai-andai putar balik, menata kembali atau bicara tentang sejuta "jika" yang terdengar putus asa. Saya sudah memilih, maka saya berani menanggung apa yang sudah seharusnya jadi akibat. 

Dalam film, peran seperti saya ini biasanya bukan peran utama, tapi penting untuk jalannya cerita. Peran yang memberi "pilinan" pada film, memberi konflik untuk tokoh utama. Rasa-rasanya, dulu, saya tanpa henti bertanya sekaligus protes kepada Yang bikin skenario hidup ini: kenapa saya harus yang berada dalam posisi "bad cop", "bad guy", "bad girl"? When will I got the protagonist? Why always me? 


Itulah sebabnya, saya selalu jatuh cinta kepada tokoh-tokoh luar biasa yang "tidak-akan-pernah-mendapatkan-(cinta) peran-utama". Hati saya selalu bersama James Howlett a.k.a Logan a.k.a Wolverine, Damon Salvatore, Jacobs dan tokoh sampingan dengan cinta bertepuk sebelah tangan lainnya. Mereka lah pilinan yang membuat cerita menarik, tapi perasaan yang harus mereka alami tidak membuat orang tertarik untuk menjalani. Tokoh-tokoh ini pula yang membuat saya berkata pada diri sendiri, persis seperti #doapagi mbak Ayu Utami pagi ini:

Baiklah, saya berhenti ingin (menjadi protagonis), sebab tampaknya saya baru mendapat setelah tak lagi ingin.

Mengutip mbak Ayu lagi, saya memang belum tahu apa yang saya dapat justru setelah tidak ingin. Apa "nak" tadi tahu perasaan yang saya alami dan apa yang harus saya lalui? Belum tentu. Tapi saya tetap menjadi yang tersenyum di paling akhir, karena saya yang tahu seluruh peristiwa sampai ke bingkainya. Saya kemudian paham, bahwa saya menjadi atau adalah "orang yang jahat" karena saya bisa membuat ia, mereka atau anda berpikir demikian. Bukan sebaliknya. You really don't know until I said so

Sejak momen tersebut saya juga semakin tahu, meskipun saya "real bad-ass and super jackass", saya mendapat keluarga, sahabat, saudara, teman, tetangga yang hebat, saya mendapatkan kesempatan-kesempatan yang tidak ternilai. I completed three-quarter of my life bucket-list, in my nowadays age (Believe me, it's a long and super pretentious list). And I even got the boy: my precious partner in crime

Saya tahu apa yang saya dapat, setelah tidak ingin. Sejak saat itu saya tidak ingin menjadi protagonis dan antagonis. Saya tidak ingin jadi apa-apa, agar saya tahu semua yang saya dapat. 

Dan momentum yang telah berlalu itu membuat saya berhenti bertanya pada Tuhan. Bukan karena tingkat ketakwaan, kedewasaan, penerimaan takdir, ketakutan pada kematian atau remeh-temeh apa lah, tetapi karena saya pasti kesal jika pertanyaan saya dijawab dua kata saja olehNya: why not?

family

Letter to My Beloved Kids

11:46:00

Jogja, 14 April 2013

Dear kids,


How are you? I'm sure you'll be great as always. I'm sure that you've grown up as a wonderful sun this morning: bright, but not burning; healthy and not overwhelming. How's your Dad? I'm sure he's as handsome as the day he became my groom. Not too skinny, not too chubby. Just fit, as he always is to me. I miss him anyway, today he left me. No, he's not angry, he's just find a place with a roof for us. Yes, a warmer place to ensure that all of us safe and sound. I hope he's lucky enough for not bothering uncle Asikin too long. I feel too sorry for him. Don't forget to give him a respectful greeting whenever you meet, kiddo. He's helped your parents a lot. Okay?


How's life anyway? Have you still being picky to the food? Or is there any lesson which weighed you down? Don't imitate your father for being picky, and don't followed for being too worried too much in everything, just like me. Life never cushion your blow voluntarily, you choose and made it yourself. Be brave and start wander a bit, you'll find many great things ahead. Just a bit, and remember to come home regularly. Don't ask why, silly kid. For sure, it's me waiting for you. To hug you and listening your dream. To share you how grateful I am, because you dare to step in a dignified way. 


Just thinking about all of you already made me happy. I'm not sure is it your charming aura or just the melancholy mist around me. I'm really sorry anyway, I intend to write this letter because I have a glimpse in my head of leaving you before your Dad. I'm sorry, really sorry. You can ask him why do I have a thought like that, I don't want ruin this letter by explaining. At least, I try to grasp my gut on my fingers, typing a letter to you. The worst farewell is the one without saying goodbye, isn't it? 


I believe, when you reading this, it's a little bit sad in a way. Just don't. 

I trust you by my entire life. I put all my gold on the table, after you my dearest babies. I could mention hundreds reason for that, but I choose for not to. It's just me, simply your mother. No other reason needed. 

Sometimes people say parents' love is exaggerated, a blind love. Well, Uti & Akung grew me up not like that, tho. They quite sincerely logical in loving me. Somehow, it helps me a lot in facing the world. I can't conclude yet, how is my way. In any way, I will love as much as I can. I would love you, as the best way as I could. I love you, as always. 


Live well, my dearest kids. 


Thousand kisses, 

your Mom

P.S.: Uti always ask me nowadays, when will you arrive in her hug. Don't worry dear, I know you've already prepared a perfect timing. Not too late, not too soon. Right? =* 



blog

Goodwill (Always) Matters

18:00:00

A full month without any post. Pfiuh. Everything happened for reason, of course. It is not a simply procrastinating me, I assure you. I've been thinking over and over, until this point when I conclude and trying to wrap it all, try to write an explanation to myself. And you, dearest fellas. 

Last month, several things happened. I met great people, learned many things new, got a new project, attended interesting events, tasted odd foods, portrayed beautiful pictures, been on every occasion who I could tell you here in a long and happily post. But I didn't. 

Why?
I read an article in Gogirl! Magazine, March edition. The big theme of the edition was Save Our Society. The magazine thought there are phenomena where the youngsters could take a part for the merrier future. Within the articles, one is "The Grey Area". They discuss several things which will be taboo if we used religion perspective, but the fact shows that it happened a lot in our daily life. It's a part of the article entitled "materialistic". This part mentioned how nowadays technology could make us easily shifted into a subtle "materialistic" person because of our habitual sharing activities in social media. We take it easily to capture our newest dazzling pair of shoes, glamour restaurant we visited, envious long holiday, how far the distance we traveled from one airport to others, until our trendiest gadget is tagged in every sharing. This article somehow stabbed me right to the heart. 

I did it all, I admitted. I have many account of social media where I could share everything I mentioned above. I blogged, I uploaded, I tagged, I checked in, I twitted, I pinned, I did all of it. It's sad in a way, when I think and re-think about it. And in the middle of thinking process, I read my friends status about how the social media could put a stamp on your face as: "Showing off people a.k.a Ostentatious". I usually being cynic to people who do "humble-brag" or do "covered-boast". I can't imagine how if another people thought me so. Because of these, I have a thought about not writing anymore in blog, related to any experience who could be wronged as "intended show-off". My belief taught me, when you could not decided it is right or no, just don't do that. So then, I choose to keep many experiences just for myself. I just could tell it to friends or people in a direct meet up, so they could judge easily how I sincerely share the story. 

Well, the situation didn't stop here, anyway. Choosing for not writing just plugged my entire brain-process. It's not helping. I don't feel happy too for holding my thought into another form of contemplating: writing in diary, for example. Now I try to pull myself together, try to ask myself, what's my intention in doing all of these. 

I believe there is a different between show & share. Share is the intention, show is the way. Showing could be the way for other goals too: boasting/flaunting/show-off. Yes, it's difficult to differentiate, because intention is related to willingness. 
Does s/he has a good will or no? Hard to prove
Do people who see it realize and perceive as the one who show? Hard to know, it's inside every people own mind. 

Here I am, sitting on the floor of my living room, writing my own explanation while the dusk comes. I'm trying  to not weigh myself too much by bothered into my "show-off-judged" fear. I just promised to myself for double checking by trying respect another people opinion of my posting/uploading/pin/twit. Innamal a'malu bin niat. Verily, each of deeds depend on its intention. 

"Finally, I can see you crystal clear, dear trouble.."

daily

Gagal #MembeliKebahagiaan

10:39:00

Pagi ini pak Bukik memulai kicauan berseri dengan tema #MembeliKebahagiaan. Beliau memberikan ulasan tentang presentasi Michael Norton di forum TED, yang translasinya dapat anda baca di sini. Membaca kedua hal tersebut membuat saya sedih, karena kemarin saya baru saja mengalami momen gagal #MembeliKebahagiaan. Menurut analogi trader, saya kurang teliti membaca screening sehingga tak bisa menaruh bid. Gagal beli, gagal jual dan akhirnya gagal cuan. =(

Kemarin, saya baru saja membaca kicauan adik angkatan di UKM Sinematografi. Ia mengungkapkan kekecewaannya karena tidak bisa berangkat ke Jakarta. Premis yang ia kirimkan dipilih oleh tim dari XXI Short Film Festival untuk mengikuti workshop bersama Indonesian Film Directors Club. Seharusnya ia berangkat kemarin, dan tiba di Jakarta pagi ini lalu menyimak penjelasan Joko Anwar dan kawan kawan. Tapi, di malam hari, saya mendapati adik ini tidak jadi berangkat. Permasalahan: transportasi. Angkutan yang tersedia hanya di kelas yang ia tidak mampu jangkau harga tiketnya. 

Hati saya mencelos. Mengapa tak saya tanyai langsung ketika ia berkeluh "bingung" di perbincangan grup Facebook UKM kami? Mengapa saya harus tahu ketika waktu terlampau singkat? Mengapa begini dan begitu. Rasanya tanya & sesal itu tak berhenti terngiang jika anda dalam posisi yang memungkinkan membantu seseorang menggapai mimpi, tetapi terlambat selompatan galah. 


Dulu, ketika saya masih menjadi pembaca tetap majalah anak-anak Bobo, Widya Suwarna pernah mengarang cerita pendek yang mengisahkan tentang Bapak yang membiayai 2 anak tidak mampu. Kedua anak tersebut dibiayai sesuai dengan mimpi mereka. Yang satu ingin meneruskan pendidikannya hingga menjadi akuntan. Seperti harapannya, ia pun menjadi akuntan yang berkecukupan. Anak yang lain ingin menjadi musisi yang hebat, maka dipenuhi segala kebutuhan untuk bermusik. Di kemudian hari ia menjadi komposer yang kondang, diakui seluruh negeri. Si akuntan merasa resah, karena ia iri kepada sang komposer. Ia merasa tidak bisa membanggakan Bapak yang telah membiayainya. 

Sekali setahun, Bapak ini meminta bertemu di restoran untuk makan siang bersama 2 anak asuhnya. Kali itu, Komposer membawakan anggur yang mahal untuk diberikan kepada Bapak sebagai ucapan terima kasih, sedang si akuntan membawakan kue buatan istrinya. Alih-alih menerima hadiah dari kedua orang tersebut, Bapak menolak dengan halus. Saya ingat kata-katanya kurang lebih seperti ini:
"Terima kasih atas perhatian kalian, tapi aku tidak bisa menerima hadiahmu. Aku yang seharusnya berterima kasih, karena kalian telah memberikan aku kesempatan untuk terus berbahagia. Tiap tahun aku bisa memandangi kalian tumbuh dan menjadi orang baik, aku jadi merasa berguna ada di dunia ini. Apabila aku menerima hadiah ini, aku akan merasa berhutang budi dan aku tidak bisa menanggung hutang di usiaku yang renta. Jika kalian betul-betul ingin berterima kasih padaku, masing-masing carilah 2 anak yang sedang meniti mimpi. Bantulah mereka sebagaimana kalian merasa terbantu karenaku. Ucapkan & lakukan hal yang sama ketika mereka ingin berterima kasih. Itu akan lebih dari cukup bagiku & bagi dunia."

Apa yang diceritakan cerpen ini membekas bagi saya, sehingga ketika tidak bisa membantu seseorang yang menjalani mimpi, rasanya betul-betul merugi. Semoga saya masih mendapatkan kesempatan untuk tidak lagi gagal #MembeliKebahagiaan. Semoga. 

family

Gattuso & Bopo

12:32:00

Sabtu malam, di depan televisi yang menayangkan pertandingan Tottenham Hotspur melawan Newcastle United.

Saya sedang sewot dengan suami saya yang berteriak terlalu kencang ketika Gareth Bale gagal memanfaatkan peluang. Saya jengkel berat karena saat itu saya sudah terpejam. Separuh perjalanan menuju tidur.

Tak disangka, setelah beberapa menit kemudian ternyata ia berhasil menjebol gawang lawan. Saya pun tertarik ingin melihat tayangan ulang proses tersebut. Sejurus kemudian, komentator menyinggung permainan Scott Parker yang mengingatkannya pada Gennaro Gattuso. Lalu, terjadilah perbincangan ini. 

Suami (Sm) : ... dulu itu Yang, pernah ada pemain di AC Milan yang namanya Gennaro 
                Gattuso. Dia itu kokoh sekali.
Saya (Sa) : Iya, aku tahu kok Gattuso. 
Sm: Gattuso itu punya peran penting lo Yang. Dia ini yang mencarikan bola, tackling sana 
       sini. Posisinya adalah posisi yang paling tidak diingini, karena tidak pernah menonjol 
       padahal ia harus terus bekerja keras sepanjang permainan. Karena itu sampai dijuluki 
       sebagai tukang angkut air. 
Sa: Iya, aku tahu kok tukang angkut air. Apa coba bahasa Inggrisnya?
Sm: Nggak tahu. 
Sa: Hoo... yayaya..
Sm: Loh, itu kasih tebakan apa gimana to? 
Sa: Lha aku juga ga tahu kok.. Hahaha.. 
Sm: Wuoo.. kirain kasih tebakan..
Sa: Hahaha.. The water carrier
Sm: Apa?
Sa: Ya itu, tukang angkut air itu the water carrier. Dulu ada juga yang pake kacamata yang 
     nempel itu sapa? Aku lupa namanya. 
Sm: Edgar David! Iya, itu juga termasuk tukang angkut air, tapi posisinya gelandang serang. 
     Kalo si Gattuso itu gelandang bertahan. 
Sa: Dulu waktu Gattuso masih main, aku suka. 
Sm: Sama, aku juga suka. Saking kokoh dan kuatnya dia, sampe dijuluki Banteng!
Sa: Bukannya Badak?
Sm: Ga tahu sih, Banteng atau Badak*. Kalau posisi sekarang yang sudah jarang banget itu 
      playmaker. 
Sa: Loh, bukannya ada itu Pirlo. Di Spanyol juga ada kan?
Sm: Iya, kayak Pirlo itu. Kalo yang lain itu Xabi Alonso. Tapi generasi setelah itu sudah 
      tidak ada lagi. Kalo dulu Yang, ada yang namanya Veron. 
Sa: Juan Sebastian Veron. 
Sm: Iya.
Sa: Aku lumayan paham sama bola kok Yang, tapi yang dulu-dulu. Pemain favoritku itu 
     Totti. 
Sm: Ah, aku ga suka Totti. Bagaimana media membesar-besarkan peran Totti itu tidak 
      sebanding dengan permainan dia. Kalo misal dibandingkan dengan Messi atau Ronaldo 
      kan memang permainan mereka enak. Kalo Totti itu pragmatis mainnya. 
Sa: Kadang yang pragmatis itu bisa berarti mampu menempatkan diri lho. Aku suka Totti 
     juga karena wajahnya mirip Hercules. Wajahnya kayak dipahat, mirip bentuk wajah 
     (mitos) Yunani. Kalo pemain yang terakhir aku suka karena tampang sih Aquilani. 
Sm: Wah, cedera terus itu Von.
Sa: He'eh. Waktu di Liverpool tuh apalagi, cedera terus. Dulu inget ga, waktu kita sekitar 
     SD, ada pertandingan Euro** yang final Itali yang kalah? Pas itu aku nangis mewek Yang..
Sm: Hahaha.. Iya ada pertandingan itu. 
Sa: Dulu aku memang ngikuti bola Yang, karena Bopo ketika di rumah sukanya selalu 
     berbaring sambil nonton bola. Aku seneng ikutan, tapi kalo diem-diem aja kan 
     suasananya ga enak. Makanya aku mulai baca koran yang bagian Olahraga, ngikutin 
     berita bola, ngapalin nama-nama pemainnya, biar bisa ngobrol enak sama Bopo..


Apa kalimat terakhir terdengar menyedihkan? 
Please, don't. Saya tidak sedih. Alih-alih, saya  jadi tersenyum. Ini mungkin pertama kalinya saya mengungkapkan atau menemukan alasan sebenarnya atas apa yang saya lakukan di masa kecil. Saya sudah melakukan kompromi, untuk menyukai hal yang mungkin tidak betul-betul saya minati. Tapi betapa ini penting, karena hal ini disukai oleh Bopo. 

Dulu, Bopo memang tidak memiliki banyak waktu, karena pekerjaan beliau sebagai staf bagian pengolahan di Pabrik Gula yang harus siap sedia, apalagi di musim giling tebu. Bopo bekerja dengan shift, yang seringkali dilanjut lembur karena permasalahan mesin yang belum usai dalam satu kali shift. Dari sini pula saya belajar memanfaatkan setiap senggang yang ada dengan Bopo. Saya akan bersandar di kakinya ketika beliau merokok seusai makan. Karena kebiasaan ini, saya bisa mengidentifikasi bau khas Bentoel Biru & Sampoerna A Mild Merah meski hanya sepintas lewat. Saya akan nonton bola, begadang nonton wayang, membantu mengelap sepatu, apa saja yang bisa membuat saya memeluk beliau lebih lama. 

Menarik, bahwa sejak kecil sesungguhnya saya, sebagai manusia (atau anak), telah melakukan berbagai usaha agar dapat menghabiskan waktu dengan cinta lawan jenis saya yang pertama: Bopo. 

"A father is his daughters first love and his sons first hero."

My father was sitting, second from the left. Gorgeous, isn't he? ;;)
How could I not falling in love to my handsome father? =)

 *Gattuso memiliki beberapa sebutan Rino (dari nama kecil), Rhino (badak) dan Rhingio (menggeram, growl en.)
**Italia dikalahkan Prancis di final Euro 2000 dengan skor 2-1. 

fave

Setahun Kemarin

23:00:00

Pekerjaan & tanggung jawab yang berkumpul di akhir 2012 sampai awal 2013 ini membuat saya belum menulis sedikit pun tentang peralihan tahun. Rasanya sudah mengganjal, sampai akhirnya harus tumpah malam ini. Memaksakan diri memang, karena sesungguhnya masih ada setumpuk nama pekerja seni dunia yang harus diselidiki alamat surelnya. Tapi sudahlah, daripada ubun-ubun saya pecah menahan gejolak hasrat menulis yang tak reda. Haha. *modus*

Mari melihat sejenak ke tahun kemarin yang penuh dengan pucuk-pucuk momentum di hidup saya. Hmmm...

22 Januari 2012 & 28 Februari 2012
Tanggal yang pertama adalah hari dimana Rendy datang bersama keluarga untuk "meminta" saya menjadi istrinya. Tanggal berikutnya adalah saat dimana saya dan keluarga berkunjung untuk menjawab "permintaan" tersebut. Dag-dig-dug, khawatir, cemas, semua campur aduk karena ini adalah langkah awal kami menuju tahap yang lebih serius. Alhamdulillah, lancar selayaknya jalan tol waktu tengah malam. Wuzzzz!

23 Maret 2012
Saya meninggalkan pekerjaan sebagai asisten supervisor di restoran Qua-Li pada tanggal ini. Pengalaman yang luar biasa, karena dengan bekerja di sini mata saya dibelalakkan oleh kenyataan-kenyataan yang tidak bisa saya lihat di lingkungan pekerjaan sebelumnya. Saya jadi tahu betul, bukan hanya mengamati dari menara gading, tapi juga merasakan diinjak & mencoba bertahan bersama rumput-rumput yang lain. Ada getir yang tak mungkin bisa dipahami oleh orang-orang yang kesehariannya mengecap madu. Di lain pihak, saya dilatih untuk selalu berlimpah tawa, bergembira dengan apa-apa yang ada & berpikir sederhana. =)

7 Juli 2012
Menikah! Impian saya tentang pernikahan seluruhnya terkabul: Bopo lah yang menikahkan saya, dan saya menikah dengan pria yang saya pilih, serta telah memilih saya di antara seluruh wanita di dunia. Saya tidak mungkin memilih dilahirkan jadi anak siapa, atau melahirkan anak yang mana. Tetapi saya memaksimalkan hak pilih yang diberikan Tuhan untuk yang satu ini: suami. 

13 Juli 2012
Hanya selang seminggu dari pernikahan, saya hijrah ke Jogja. Berbekal doa dan niat untuk mendampingi suami, petualangan di tempat yang benar-benar baru ini dimulai. Tanpa pekerjaan, tanpa jaringan, saya merasa "telanjang tak bersenjata" menghadapi Jogja. Resiko jadi orang yang terbiasa dengan rencana ya begini, ketika harus improvisasi total, selalu terbersit ketidakberdayaan. Beruntung, kota yang dipimpin Sultan ini luar biasa ramah dan menyenangkan. Betah!

12 November 2012
Saya senang sekali hari itu, karena saya baru pulang dari Surabaya sendirian dan akhirnya berjumpa lagi dengan suami setelah beberapa hari berpisah. Tetapi yang membuatnya lebih spesial adalah telepon dari mas Antariksa agar saya datang ke iCan, apabila masih tertarik untuk menjadi asisten seniman. Mengagetkan, karena memang seharusnya pengumuman/keputusan pekerjaan ini dikabarkan 4 hari sebelumnya. Saya sudah tidak menaruh harapan. Ternyata, alur cerita berkata lain, di hari itu pula saya bertemu Helen dan mulai bergabung di Project Tobong. Saya bertemu Risang keesokan harinya, dan berlanjut berjumpa dengan teman-teman dari Ketoprak Kelana Bhakti Budaya. Tak ada yang istimewa pada awalnya, kecuali ketertarikan saya pada Tobong yang membuat saya bernostalgia mengingat Tobong Ludruk di Surabaya. Hanya itu. Tetapi waktu kemudian membawa kehangatan persahabatan dan kenyamanan sebuah keluarga. Saya lambat laun sadar, proyek ini akan menjadi bab yang tidak akan mudah dilenakan dari hidup saya. Bahkan, bisa jadi merupakan awal sebuah cerita yang premisnya belum saya punyai, sekarang. 


Sekarang sudah Januari, bulan dan musim pun berulang. Tak sabar untuk menjadikan rencana-rencana indah dalam bentuk nyata. Semoga rentang waktu melapangkan usahaku menuju mimpi yang telah ditata rapi. Amin. 
Ayo, semangaaaaat! =D

daily

Quickie!

23:36:00


It's already 11pm, but I have a bunch random things in my head. Need to write it up or I'll be a perfect insomniac while waiting the sahur time: super exhausting. =|

1. Want to make a Paypal account for having a Pro-Toshl, but my debit card lost so I should wait until the new in my hand. 
You know, as a newly wed, one thing I should learn more and more is about financial plan. I do really interested in Toshl, a well designed and friendly-user application to help me do that. Salivating immediately for make this application as mine, in Pro edition off course. =3

2. Directly addicted to www.instructables.com
I don't think I should explain this. Just try to click and if you're not inspired, I doubt you as a human. Perhaps an alien or droid. =P

3. What should I do with the broccoli? 
I have broccoli in my fridge. When I bought it, I want to blanch then deep-frying this green veggie. But I don't know why, I'm losing my appetite to do so. Ottoke?

4. Bringing back the fit & active me!
Only 8 days in Jogja, except the beginning 2 days and I spent my days suffering many sickness in the rest. Phew. I guess it's all about the weather. Jogja is quite chill. And I've already used to the hot Surabaya. Influenza, cough, asthma, fever, sprue. I should adapt to the cycle of fasting month too. Lalala. I miss falling asleep because I'm tired after many activities, not because of sick. I will try as hard as possible to be healthy. Fighting!

5. I am a hubby's newbie assistant. Ha!
Lately, my hubby has a project which took many energies to be completed. I'm glad he's tried to make me involved. Perhaps by helping him write-copy things in formal writing, I could gather my confidence in writing a piece or two. =) *crossed my finger*

6. Library, bibliotheque, book-club. I miss 'em...
Books are my guilty pleasure, best friend and endless source for my life. I will start to find my oase in this town. Already googled-it-up and found that Jogja has many. But finding the comfortable one is always another thing. Wish me luck! 

warmest regards from Jogja,
Vinka Maharani