"Comfortable in your own skin" adalah kalimat yg realisasinya butuh perjalanan panjang bagi saya. Tumbuh dengan vitiligo sejak SD membuat saya selalu merasa "ada yg salah" & "ada yg kurang" dari diri ini. Meski bisa disebut "beruntung" karena vitiligo saya berada di kaki & bukan di area yg banyak terekspos tapi ya tetap saja "Vinka panu-an" & olok-olok sejenis mampir di telinga. I camouflaged my insecurities with arrogancy (Panuan ngene tapi ga bodo koyok awakmu 😀).
⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Draft telah ditulis sejak 2013, tetapi masih relevan saat ini.
"Wah, udah tinggal di sini lagi ya.. Sekarang Vinka sibuk apa?"
"Alhamdulillah, sibuk jadi ibu rumah tangga."
Lanjutan alternatif 1:
"Senangnya jadi ibu rumah tangga. Enak ya, nggak mikirin kerjaan atau kantor. Nggak lembur, nggak bingung report bulanan. Bisa ngapa-ngapain aja terserah ngatur sendiri. Haduh, kalo kayak aku rapat udah bla bla bla......."
Lanjutan alternatif 2:
"Oh iya.. Lagian kalo udah nikah kan ya emang mending ngurus rumah tangga aja. Apalagi cewek, kan ga harus ngejar karir. Di rumah aja gakpapa.."
Lanjutan alternatif 3:
"Di rumah aja ya? Iya sih, sekarang cari kerjaan susah... Lagian ntar kalo udah punya anak pasti udah ribet sendiri kan. Emang di rumah aja itu gakpapa..."
Saya tidak tahu, apakah pertanyaan & pernyataan ini sering dialami oleh teman-teman yang baru menikah dan memilih menjadi ibu rumah tangga atau tidak. Tapi untuk saya: sering sekali.
Kombinasi alternatif lanjutannya terkadang dikombinasikan satu sama lain. Tapi ketika digaris bawahi ya tiga poin di atas itu yang paling mengemuka. Agak jengah juga lama-lama. Itu sebabnya saya jadi ingin menuliskan tema ini.
Jika kamu capek dengan pekerjaanmu, tidak mau direpotkan lembur atau report bulanan, ya jangan kerja, atau jangan mau lembur. Report bulanan itu bagian dari pekerjaan, kalau tidak mau ya tinggalkan saja. Lho, terus kalo mau makan dari mana Vin duitnya? Ya kerja yang lain, yang ga usah lembur & report bulanan, bikin usaha sendiri, ojek online. Haduh, sekarang cari kerja sulit Vin. Kamu ga tahu sih betapa susahnya.. Nah, sudah bilang sendiri kalau cari kerja sulit, sekarang sudah punya kerjaan masih ngeluh terus.
Untuk lanjutan perbincangan dengan alternatif kedua, yang perlu digaris bawahi adalah perihal pilihan. Sebagaimana manusia itu sendiri, tanpa mengenal gender, kita punya hak untuk memilih: mau menjadi stay at home father or mother, berdedikasi pada karir formal, untuk terjun di dunia politik, atau apapun. Relasinya bukan lagi harus atau tidaknya seseorang dengan jenis kelamin tertentu untuk berada di rumah, menjadi caretaker atau breadwinner tetapi bagaimana sebuah opsi dipilih dengan sadar dan paham akan segala konsekuensinya.
Senada juga dengan lanjutan alternatif 3, it's not about okay or not okay, dudes. Ini juga bukan tentang sulit atau tidaknya mencari pekerjaan. Ini tentang pilihan hidup, yang pantas dihadapi dengan gagah berani dan dinikmati sepenuh hati di semua naik & turunnya.
Entah mengapa, saat ini rasanya dunia sangat mendukung pribadi "pelari". Eskapis, lari dari "yang susah-susah". Kalau sudah terasa susah, berarti halal untuk mengeluh/kompensasi lainnya. Capek mengantre, mengutuk sana-sini di sosial media. Lembur kerja, ganjarannya harus nyalon, spa, travelling, makan enak dan bentuk "pelarian" lain. Di Better than Before, Gretchen Rubin menyatakan pola perilaku ini disebut moral licensing. Gampangnya, moral licensing itu motto "Work hard, play hard(er)". Coba pikir lagi, apa kalimat ini betul? Apa betul ketika kita bekerja keras, kompensasi yang tepat adalah bermain/bersenang-senang/have fun? Parahnya, ketika pola pikir ini telah menjadi habit/kebiasaan, maka otak tidak lagi berperan mengambil keputusan. Diri ini akan menerima perilaku ini sebagai kebenaran dan melakukannya terus-menerus tanpa berpikir lagi. The worst result motto tersebut sampai pada pemikiran "Saya kerja keras, boleh dong foya-foya".
Mari meluruskan pikir. If you work hard, then you'll get a good salary, good return whether financially or quality of yourself. Then you could choose, what will you do with those credits. Play/having fun is an option, not the only one. You have the power for choosing what you'll do for yourself, your present & your future. And after took your decision, let's be brave & mature to conquer all the consequences. Don't worry, you could ask help, but please, don't nag.
Sama seperti pilihan lainnya yang patut dihormati, menjadi ibu rumah tangga juga layak ditempatkan sebagai pilihan yang diambil secara dewasa oleh pelakunya. Jika kalian ingin berkomentar atau menyampaikan pendapat atas pilihan orang tersebut, ada baiknya bertanya atau mendengarkan lebih banyak alasan di balik keputusannya. Janganlah melompat dan malah judgmental. It sucks.
"Ayo dong mbak, kasih tau po'o.."
"Aku udah kasih tahu yang kamu perlu tahu, sisanya nanti kamu tahu jawabannya sendiri kok di dalam prosesnya."
"Ayo tala mbak... Berarti kamu tahu kan apa yang bakal aku dapet nantinya, kasih tahu sekarang aja lho.. Ayo dong mbak.."
"Gini lho ya, kamu nanya ke aku, aku ga jawab karena aku tahu nanti jawabannya bisa beda kejadiannya di tiap orang. Tapi meskipun aku tahu seperti apa, kalo emang aku benar-benar ga mau jawab, terus kamu mau ngapain? Toh kamu juga ga bisa maksain. Dunia ga selalu sesuai pengharapanmu, nak. Itu yang namanya dunia nyata. Get real."
Di akhir cerita, organisasi dan kegiatannya berjalan lancar. Sukses seperti rencana.
Tetapi, hubungan saya dan "nak" yang satu ini tidak pernah kembali layaknya semula.
Baiklah, saya berhenti ingin (menjadi protagonis), sebab tampaknya saya baru mendapat setelah tak lagi ingin.
Jogja, 14 April 2013
Dear kids,
How are you? I'm sure you'll be great as always. I'm sure that you've grown up as a wonderful sun this morning: bright, but not burning; healthy and not overwhelming. How's your Dad? I'm sure he's as handsome as the day he became my groom. Not too skinny, not too chubby. Just fit, as he always is to me. I miss him anyway, today he left me. No, he's not angry, he's just find a place with a roof for us. Yes, a warmer place to ensure that all of us safe and sound. I hope he's lucky enough for not bothering uncle Asikin too long. I feel too sorry for him. Don't forget to give him a respectful greeting whenever you meet, kiddo. He's helped your parents a lot. Okay?
How's life anyway? Have you still being picky to the food? Or is there any lesson which weighed you down? Don't imitate your father for being picky, and don't followed for being too worried too much in everything, just like me. Life never cushion your blow voluntarily, you choose and made it yourself. Be brave and start wander a bit, you'll find many great things ahead. Just a bit, and remember to come home regularly. Don't ask why, silly kid. For sure, it's me waiting for you. To hug you and listening your dream. To share you how grateful I am, because you dare to step in a dignified way.
Just thinking about all of you already made me happy. I'm not sure is it your charming aura or just the melancholy mist around me. I'm really sorry anyway, I intend to write this letter because I have a glimpse in my head of leaving you before your Dad. I'm sorry, really sorry. You can ask him why do I have a thought like that, I don't want ruin this letter by explaining. At least, I try to grasp my gut on my fingers, typing a letter to you. The worst farewell is the one without saying goodbye, isn't it?
I believe, when you reading this, it's a little bit sad in a way. Just don't.
I trust you by my entire life. I put all my gold on the table, after you my dearest babies. I could mention hundreds reason for that, but I choose for not to. It's just me, simply your mother. No other reason needed.
Sometimes people say parents' love is exaggerated, a blind love. Well, Uti & Akung grew me up not like that, tho. They quite sincerely logical in loving me. Somehow, it helps me a lot in facing the world. I can't conclude yet, how is my way. In any way, I will love as much as I can. I would love you, as the best way as I could. I love you, as always.
Live well, my dearest kids.
Thousand kisses,
your Mom
P.S.: Uti always ask me nowadays, when will you arrive in her hug. Don't worry dear, I know you've already prepared a perfect timing. Not too late, not too soon. Right? =*
"Terima kasih atas perhatian kalian, tapi aku tidak bisa menerima hadiahmu. Aku yang seharusnya berterima kasih, karena kalian telah memberikan aku kesempatan untuk terus berbahagia. Tiap tahun aku bisa memandangi kalian tumbuh dan menjadi orang baik, aku jadi merasa berguna ada di dunia ini. Apabila aku menerima hadiah ini, aku akan merasa berhutang budi dan aku tidak bisa menanggung hutang di usiaku yang renta. Jika kalian betul-betul ingin berterima kasih padaku, masing-masing carilah 2 anak yang sedang meniti mimpi. Bantulah mereka sebagaimana kalian merasa terbantu karenaku. Ucapkan & lakukan hal yang sama ketika mereka ingin berterima kasih. Itu akan lebih dari cukup bagiku & bagi dunia."
| My father was sitting, second from the left. Gorgeous, isn't he? ;;) |
| How could I not falling in love to my handsome father? =) |


