finance

Sebenarnya, Kita Harus Seberapa Kaya Sih?

01:08:00

Saya baru beberapa hari mengikuti Fellexandro Ruby di Instagram. Ada satu postingan yang membuat otak saya terus-terusan berpikir.

Klik gambar untuk menuju post @fellexandro

Dalam postingan tersebut Ruby mengawali dengan data penelitian oleh Gallup di Amerika yg menanyakan seberapa sih kaya itu dan mendapatkan hasil bahwa 'kaya' adalah memiliki 2x pendapatan saat ini. Semisal sekarang memiliki pendapatan 100ribu, maka kaya adalah 200ribu. Setelah punya 200ribu, menurut mereka kaya adalah 400ribu. Begitu seterusnya. 

Menurut saya, bahasan Ruby ini benar & menarik, tapi masih ada kelanjutannya. Sebenarnya, ada ga korelasi antara pendapatan & kebahagiaan/kepuasan hidup? Dua penerima Nobel Ekonomi Danny Kahneman & Angus Deaton melakukan penelitian: What's the correlation between "Life Satisfaction" & Incomes. Yang mereka cari tidak hanya sekadar korelasi, tapi ada nilai ambang batas ga? Apa ada titik (pendapatan) dimana ketika kamu sampai di titik itu, secara umum kamu ga akan kesulitan mencapai kebahagiaan?


Ternyata ada! It's $75000/tahun. Jadi kesimpulannya kalau sudah memiliki pendapatan segitu, tingkat kebahagiaanmu itu tidak akan terpengaruh banyak dengan pertambahan duitmu. Jadi misal di awal ketika pendapatan cuma $10rb/tahun, ketika dapat pendapatan lebih, itu akan berpengaruh sekali ke tingkat kebahagiaanmu. Tapi setelah $75rb/th, pertambahan materi itu nggak begitu pengaruh lagi ke tingkat stress, seberapa kamu sedih, etc. Mengapa $75ribu? Tidak begitu jelas mengapa, tapi di penelitian tersebut mereka tahu kalau angka itu wajar karena kira-kira dg uang segitu kebutuhan apa aja sudah ter-cover di US.


Tentu nilai ini tidak bisa dikonversi mentah-mentah dalam konteks pendapatan di Indonesia. Terlalu banyak faktor & konteks yg harus dipertimbangkan untuk hal ini. Then what? Belajar dari pembahasan ini saya mendefinisikan nilai ambang batas untuk kekayaan saya adalah... mangkok dengan irisan banyak macam buah
Klik gambar untuk menuju post @vinkamaharani

Ya, ini adalah definisi kaya bagi saya: bisa belanja buah berbagai macam. Tentu ini potret sensus buah di kulkas dalam kondisi setelah belanja. Jika akhir minggu tentu beda kondisinya. Tapi tunggu, mari saya jelaskan mengapa bagi saya bisa belanja buah = kaya raya
1. Buah: think about health first and it's self-caring. "Eat the rainbow", 5 (portions) a day, adalah beberapa jargon untuk menekankan pentingnya konsumsi beragam buah & sayur. Manfaatnya nyata dan saya percaya ini bentuk self-care yg utama karena langsung berpengaruh kepada kesehatan, bahkan juga konsentrasi & performa.
2. Buah: planned consumption. Masalah besar dalam bujet dan konsumsi dalam keluarga itu kurang perhitungan. Bujet kurang, jadi masalah. Bujet oke, tapi konsumsi ga maksimal, jadi masalah di sisa makanan/waste. Butuh waktu, tapi akhirnya saya bisa mengukur seberapa banyak buah yg dibutuhkan keluarga saya. Jadi, buah itu seperti "lambang" hasil belajar saya dalam merencanakan konsumsi keluarga.
3. Buah: all needs are fulfilled. Dulu, buah itu saya golongkan kebutuhan tersier. Feeling ini masih menancap sampai sekarang. Jadi, setiap saya memandang buah yg akan saya makan, ada perasaan syukur & aman bahwa kebutuhan pokok saya sudah terpenuhi & bisa makan buah.
Itu adalah alasan saya memaknai kaya dari semangkok buah. Apalagi standar ini mudah "diakali", misal beli buah yg sedang musim atau buah lokal agar lebih murah. Meski uang yg dihabiskan lebih sedikit, tapi esensi kaya raya tetap tercapai dan tetap ayem tentrem di hati.

Tabel dari penelitian Kahneman & Deaton

Tabel dari penelitian Kahneman & Deaton
Pembicaraan ini berlanjut ketika saya berdiskusi dengan Iphip, dimana kami sama-sama penasaran bagaimana jika di Indonesia ada yang melakukan penelitian ini, pasti menarik sekali. Menurut saya nilai ambang batas ini penting karena kita bisa bilang dengan bukti nyata bahwa kita ga perlu kok keblinger mengejar harta terus-terusan, merasa "dibalap" saat tetangga punya mobil baru atau merasa bersaing tentang duit. Karena toh bisa jadi malah pusing dan turun kebahagiaannya setelah lewat angka yg lain (di tabel tersebut $160rb ya). Mending kalau sudah sampai ambang batas tersebut, tenaganya dipakai untuk hal-hal yg bikin happy ajaa.. ☺
x

korean drama

Mengapa Saya Tidak Menonton Drama Korea Saat Ini

15:34:00


Kemarin kawan saya Sheila Junniar menulis pertanyaan di Story Instagramnya: apa hal baru tentang diri kalian yang kalian ketahui setelah menjalani karantina/lockdown. Saya menjawab bahwa saya mengetahui batas "asli" dari kapabilitas dan kapasitas emosional saya. Saya menyadari bahwa ternyata saya memiliki punya batas-batas itu tidak bisa diganggu gugat. Ternyata saya sangat sensitif akhir-akhir ini. Ketika melihat video dari Boris Johnson yang baru keluar dari rumah sakit kemarin,  saya otomatis menangis. Saya dapat menyimpulkan, oh I'll hit my limit if I triggered myself to too much emotion.



Nah lalu apa hubungannya dengan drama Korea atau secara keseluruhan serial televisi? Saya tahu bahwa jika saya menonton serial televisi saya akan terkuras secara emosi. Saya merasa terhubung dan merasakan apa yang dijalani oleh tokoh-tokoh di serial tersebut. Kemudian saya sadar bahwa menonton drama Korea itu sama sekali tidak membantu di kondisi sekarang yang butuh kepala dingin, butuh suasana emosi yang stabil. Yang kedua, jika saya menonton serial televisi sebagai pelarian atau escapism, saya akan tenggelam dalam rasa bersalah setelahnya. Saya sudah pernah mengalami ini jadi saya merasa tidak ingin mengulanginya lagi. Entah bagi teman-teman, tapi rasa bersalah itu bisa "menghantui" dan malah down-spiralling my mood. Kenyataan di hari ini terasa lebih surreal dibandingkan alur cerita drama televisi. Dan saya harus mengakui bahwa saya tidak "sekuat itu", punya kapasitas untuk menonton dan mengalokasikan lebih banyak ruang dalam mental saya, untuk perasaan fluktuatif yang biasa kita dapat dari serial televisi. 



Jadi meskipun ada Clash Landing on You, Itaewon Class, The World of Marriage, Money Heist dan judul-judul lain yang melambai-lambai, saya memilih untuk skip dulu. Ada sedikit rasa sedih, mengingat menonton serial televisi sambil merajut adalah kesukaan saya. Sampai jumpa nanti ya, dear dramas. 

lesson

Bertahan di Masa Ketidakpastian

06:09:00

Sejak gonjang-ganjing perihal coronavirus mulai merebak & menyebar di tanah Britania Raya, saya serta merta tiarap. Awalnya karena kebetulan Hayu jatuh sakit lalu kemudian menulari saya dan juga Mas Rendi dan akhirnya menjadi siklus yang tak henti berputar di antara kami. Lalu bertubi-tubi dari sekolah Hayu libur, panic buying yang terjadi di supermarket di sini. Saya turut sedih melihat lansia menatap nanar rak-rak kosong tanpa mendapatkan kebutuhan pokoknya. Menyaksikan hal tersebut dengan mata kepala sendiri membuat kepala tak berhenti berpikir & membayangkan hal yang muram.



Kemudian saya memutuskan untuk menarik diri. Merawat diri dulu. Saya percaya kalau hal terbaik yang bisa kita berikan kepada orang lain harus diawali dari menjaga diri kita sendiri. Saya berhenti mengunggah dan mengonsumsi sosial media. Saya tidur jauh lebih lama antara 8 sampai 10 jam. Saya mengurangi hal-hal yang kurang penting kemudian menyesuaikan diri dengan berbagai hal yang baru di sekitar termasuk di pekerjaan juga. Dan saya merasa jauh lebih baik sekarang, meskipun apa yang ada di benak saya belum betul-betul terorganisir.

Masalah coronavirus ini sangat pelik, sulit dan membutuhkan banyak sekali usaha untuk menyelesaikannya. Saya pribadi ketika memandang dan berusaha menilai objektif, tidak pernah terbersit bahwa (ternyata) banyak hal yang bisa saya syukuri saat ini. Semakin hari semakin merasa tawakal sembari terus berusaha. Hal ini linear dengan kesadaran , sebenarnya banyak sekali hal yang bisa saya lakukan dalam menghadapi virus ini. Saya merasa tidak ditinggalkan olehNya dan bantuanNya datang bahkan di saat yang tak terduga. Misalnya ketika saya menahan diri untuk tidak panic buying meskipun di dalam kepala juga berkecamuk: bagaimana nanti kalo persediaan makanan habis? Bagaimana anak saya, mau makan apa? Manusia memiliki naluri untuk bertahan dan mempertahankan diri. Ketika saya memutuskan untuk tidak turut dalam arus panic buying, rezeki itu malah seperti tidak ada habis-habis datang dari berbagai arah dan ini bukan hal yang mudah dipahami nalar semata.

Sekarang alhamdulillah sudah cukup lega, fisik juga sudah lumayan memadai dan saya ingin pelan-pelan menata rencana untuk mungkin 3 sampai 12 bulan ke depan. Apa bisa? Apa yang bisa direncanakan di kurun waktu yang tidak menentu? Saya ingin mengutip kalimat dari Profesor Chris Witty, Chief Medical Officer UK. "And I think we should not be under any illusions that if we just do this for a couple of weeks, that is sufficient. This is going to have to be prolonged period." Saya bersyukur ia berani dan mampu menjelaskan perihal sulit ini dengan gestur yang kalem dan terukur. Di kesempatan lain ia bahkan menyebutkan bahwa dengan adanya coronavirus, pola hidup dan pola sosial kita bisa berubah di masa mendatang. Menerima kenyataan seperti ini tidak mudah, tapi bukan berarti tidak mungkin. Dengan perencanaan yang baik & matang, bersandar pada ilmu pengetahuan, mungkin sekali untuk mempersiapkan diri ini untuk melakukan dan mencapai hal yang terbaik. Peringatan ini bukan untuk menakuti, tetapi menyemangati. Yuk, sama-sama dengan lapang dada menerima perubahan dan menyiapkan apa saja yang harus kita lakukan agar tangguh, sigap untuk bangkit dari pandemi ini.

lesson

Nasihat Pernikahan: Menimbang Waktu Tepat untuk Menikah

05:53:00

“Vin, kok kamu bisa sih memutuskan untuk menikah di umur 22? Bagaimana bisa kamu yakin? Padahal dulu kukira kamu bakal lanjut sekolah atau mengejar karir dulu.”
Dulu ketika saya akan menikah, atau baru saja menikah, saya menjawab pertanyaan ini dengan penjelasan panjang lebar tentang sudah sama-sama siap, merasa sudah tidak ada yang perlu diragukan, lagi dan sebagainya. Tapi sekarang, hampir 8 tahun menikah, ada sudut pandang lain yang baru saya sadari: saya sudah bicara tentang pernikahan sejak menginjak masa remaja saat akil balig.
Barangkali orang tua saya memang tidak umum (di Indonesia). Sejak menstruasi pertama, diskusi itu dibuka oleh ibu saya, “Vinka, kamu sekarang sudah menstruasi, itu berarti kamu sudah bisa hamil & punya anak.”
Berumur 13 tahun, saya sih iya-iya aja tanpa pikir panjang maknanya apa.
Ketika kelas 3 SMP dan merencanakan SMA di mana, saya bersikeras ingin bersekolah di sekolah umum, tidak menyantri seperti kedua kakak saya. Tidak tanggung-tanggung, Jakarta! Mengejar kelas akselerasi Labschool Kebayoran ceritanya. Kami tidak punya uang, singkat dan padat kata Bopo Ibu. Tawar menawar harga pas jatuh di Surabaya. Dan saya ingat betul, sebelum bersekolah di Surabaya, beberapa kali saya “didudukkan” seusai sholat Maghrib.
“Kamu sudah besar. Akan datang saatnya kamu suka dengan seseorang. Kalau tidak kuat (menahan hasrat), lebih baik bilang jujur kemudian kami nikahkan. Tentu saja Bopo Ibu sangat ingin kamu selesai sekolah dulu, kuliah lalu bekerja agar bisa bertanggung jawab atas hidupmu. Tapi Bopo Ibu lebih baik menikahkan kamu, meski sedih, tapi kami tidak apa-apa dibanding menanggung malu (karena kehamilan di luar nikah).”
Barangkali cara orangtua saya bukan yang terbaik atau sesuai dengan anjuran pakar parenting masa kini. Pun bukan yang paling benar, tapi pesannya jelas: sekolah sampai selesai, tapi kalau memang kebacut kebelet, opsi menikah itu ada. Pembicaraan ini juga mempengaruhi pola pikir saya untuk bergegas mampu mandiri, mencari uang sendiri, bertanggung jawab atas diri ini. Menikah? Hanya boleh kalau saya dan calon pasangan mampu menerima seluruh konsekuensi, termasuk perasaan orang tua.
Karena sudah dibicarakan sejak “dini”, orang tua saya pun jadi biasa saja ketika mereka menyelipkan nasihat pernikahan di sela kegiatan sehari-hari yang banal. Misal ketika membangunkan saya, Bopo sering berbaring di sebelah saya dan memulai obrolan agar saya bisa melek.
“Kalau di agama kita disuruh mencari pasangan yang sekufu atau sepadan, itu semuanya mulai dari agama, fisik, harta dan seterusnya. Tapi pengalaman Bopo, yang paling penting itu sekufu kepintarannya. Karena kalau sudah sejalan & sepakat pikirannya, yang lain bisa mengikuti dan pernikahan jadi minim konflik. Ini kalau dari pengamatan Bopo nggih.”
Di kali lain Bopo menekankan betapa pernikahan tidak akan mengubah apa-apa dari seseorang, kecuali atas kehendaknya sendiri. “Kamu bener suka sama Rendy? Suka dengan baik dan buruknya sekarang, nggak usah berharap mengubah ia jadi ini & itu di masa depan Von. Mboten saged nak, kecuali kepingin berubah mergo karepe dewe.”
Merunut kembali nasihat-nasihat tersebut, saya mensyukuri bahwa orang tua saya memilih untuk memulai pembicaraan tersebut, karena dari situ saya merasa bahwa pernikahan bukan hal yang “jauh”, asing atau terlampau sakral. Ia adalah subjek yang biasa, boleh ditanyakan & dibahas kapan saja, serta bisa dipelajari dengan objektif & wajar. Beberapa kawan yang masih membujang, merasa enggan membicarakannya karena banyak stigma yang melekat, atau pertanyaan yang diajukan tidak mendapat jawaban yang jelas & setimpal.
“Eh, kalau udah nikah itu enak ga sih?” “Hmm, gimana ya, ya gitu itu, coba aja dulu lah, enak kok.” Kalau jawaban yang diberikan macam ini, tidak heran rasanya jika angka perceraian makin tinggi.
Mari perlakukan pernikahan sebagaimana adanya. Ia satu fase hidup yang punya banyak waktu bahagia, seimbang dengan saat sedihnya juga. Layaknya hidup, pernikahan pasti punya naik turun. Pernikahan bukan hal yang super sulit, tapi juga tidak bisa dianggap mudah. Tak perlu diromantisir berlebihan, juga tidak disepelekan. Let’s talk marriage as it is.
Maka, apa jawaban saya sekarang jika mendapat pertanyaan di awal tulisan ini? Pernikahan itu tentang pilihan. Saya memilih menikah karena pertimbangan panjang dan matang yang telah saya lakukan. I’ve been through a lot and it’ll take another story to explain you all the factors, risk analyzing on why I choose to marry. Saya memilih dan bersedia menanggung resiko apa yang saya pilih, itu saja. Happy choosing!

business

Bootstrapping is Cool!

21:17:00

Dua hari lalu kakak saya,mas Andre @miebutoijo share artikel menarik tentang bagaimana founder dari Tatcha tidak mengambil gajinya selama 9 tahun, menggunakan-memutar dana tersebut untuk mengembangkan Tatcha. Karena ia punya hutang kira-kira 1juta dollar untuk pendidikannya (student loan untuk S1 & S2), ia pernah menjalani 4 side job dalam kurun waktu yg sama untuk melunasi hutang & membiayai bisnisnya.

Iyaaa, Tatcha yg skincare premium ituuuu. Usaha untuk mengatasi masalah dengan resource yg ada ini disebut bootstrapping. Jadi tidak mengandalkan kredit, tidak mengutamakan suntikan investor. Dan saya suuukaaaa sekali prinsip ini. Karena sangat realistis, praktikal & memberi harapan bagi saya yg bukan anak sultan atau orang yg tajir melintir. Persis juga seperti apa kata @garyvee, audit pengeluaranmu, nabung, kerja tambahan untuk mewujudkan mimpimu.

Terus apa hubungannya dengan L'Oreal ini Vin? Di beberapa post yg lalu saya pernah bercerita bahwa saya memiliki riwayat kulit yg tricky, beberapa kali terkena penyakit autoimmune termasuk vitiligo. Perawatan kulit jadi kebutuhan mutlak & harus disisihkan karena, belajar dari pengalaman, kalau tidak dirawat efeknya sering langsung dramatis. Tapi ceritanya bootstrapping, skincare kan Mahal, njur pye? Banyak jalan menuju Roma, kawans. Saya termasuk rajin mengumpulkan poin dari belanja sehari-hari (dulu di Indonesia biasa di Alfamart & Shopback), lumayan bisa subsidi silang untuk skincare. L'Oreal ini harga aslinya £12, sedang diskon 50% jadi £6, dipotong poin senilai £5, jadi cuma bayar £1 atau 18ribu rupiah. Tiap bulan saya menyisihkan £5-10 untuk skincare (90-180ribu rupiah), asal disiplin pasti bisa untuk mencukupi kebutuhan.

Saya berharap semakin banyak orang yg beranggapan nabung itu keren, ngirit demi mimpi itu harus disupport, etc. Feed IG tidak penuh orang pamer barang branded, tapi bercerita & berbagi cara mencapai mimpinya. Semakin banyak yg melakukan pasti bikin semangat & jadi norma baru. Ngirit itu bukan medhit. Bootstrapping is cool, cheapskate is needed. 😉

lesson

Hanya PadaMu Aku Bersandar

04:44:00

Kadang "settingan" Gusti Allah itu hanya tepat untuk diterima, tanpa perlu dinalar, tanpa perlu dipertanyakan. Selasa lalu saya berangkat ke Birmingham. Perjalanan yang sudah direncanakan jauh hari, tiket & cuti sudah dipersiapkan. Di tengah perjalanan saya mendapat telpon, ada penghuni gedung tempat saya bekerja, meninggal dunia. Ketika pulang dan bekerja kembali, di tiap shift banyak sekali yang bertanya, apa yang terjadi, apa sebab & bagaimana bisa terjadi. Saya tidak tahu, dan kadang dalam posisi ketidak tahuan itu terasa menyesakkan. Rumor beredar, bahwa penghuni tersebut mengakhiri hidupnya sendiri. Tidak seperti di Indonesia, di sini jika polisi serta pihak berwajib yang terkait sudah memberi batas, ia meninggal maka itu saja yg perlu dan patut anda tahu.

Setelah memastikan identitas penghuni yang meninggal (bangunan ini cukup besar, meski sudah bekerja 3 bulan, saya tidak mungkin hafal semua orang), mau tak mau ada penyesalan tumbuh. Pertemuan terakhir saya dengannya ketika di atas bus seusai menjemput Hayu pulang sekolah. Matanya terpaku di layar gawai. Saya turun dulu, kemudian heran karena ia tak ikut turun. Andai saja saat itu saya menepuk pundaknya, jika saja... Kalimat ini terngiang terus menerus di kepala saya. Lalu ketika kemarin saya membaca berita bintang K-Pop, Goo Hara ditemukan meninggal, dengan dugaan bunuh diri, runtuh juga akhirnya air mata. Mengapa (harus begitu)? Kesakitan seperti apa yg ia rasakan hingga memilih jalan tersebut? Mengapa manusia bisa sangat jahat terhadap sesamanya?

Pagi itu saya menyampaikan kepada atasan, apa saja yang ada di benak saya, apakah ada yang bisa lakukan. Setelah itu rasanya sangat lega. Beban di pundak ini terangkat seketika. Beruntung di tempat saya bekerja ada wellbeingness officer, atau yang bertanggung jawab dalam dukungan mental. Ia tak hanya mendukung pelajar (yang merupakan klien kami) tapi juga karyawan. Ia memastikan & meyakinkan saya bahwa perasaan berat yang saya alami adalah wajar dan saya tidak harus menjalani semua ini sendirian. Atasan dan pihak universitas siap bertindak agar rumor dan kegelisahan di antara para penghuni dapat mereda.

Seusai itu saya sandarkan semuanya padaNya. Ia pun sudah menata semua dengan sempurna. Tiga minggu ini saya menjalani kerja tambahan di kantor pusat, jadi jadwal padat merayap. Fokus saya hanya pada memastikan selalu ada makanan yang siap disantap di rumah, bergantian dengan suami untuk antar jemput Hayu tepat waktu, juga bekerja dengan baik & tak terlambat. Pulang ke rumah saja rasanya sangat bahagia, karena mengarungi cuaca yang muram di luar sudah cukup menantang. Tidur tak lebih dari pukul setengah sebelas malam, agar stamina tetap terjaga. Betul-betul Allah Maha Baik, skenario ini jadi pelajaran untuk menerima & melepaskan diri ini sebagai makhluk. Menerima kapasitas diri ini dan tak memaksakan kehendak.

Dari sini muncul ketenangan, kejernihan berpikir. Kawan sepekerjaan kaget sekali ketika mengetahui saya masuk ke kamar mendiang untuk mengecek beberapa hal atas arahan atasan. Ia bertanya, apa kamu tidak takut? Ia merasa takut karena kesimpangsiuran penyebab kematian gadis ini. Saya hanya menjawab, apapun penyebab kematiannya ada beberapa hal yang memang harus dilakukan, maka saya lakukan saja. Jujur sempat terasa takut, atau lebih tepatnya tak nyaman. Tapi kemudian saya tersenyum sendiri, mengingat bagaimana ketika Bapak saya meninggal justru hal yang saya lakukan adalah berlama-lama berada di kamar beliau. Jika saya bisa melakukan hal itu, maka mengapa saya tidak mampu untuk sekadar masuk & melaksanakan tugas saya.

Sungguh, Allah adalah sebaik-baik pembuat rencana.

family

Cerita di Balik Podcast VIP Talks

04:16:00

Saya bikin podcast loh. Haha. Iya, saya baru saja meluncurkan podcast bersama kawan saya mbak Cahya Haniva berjudul VIP Talks (Vinka Iphip Pillow Talks). Kami berdua alumni jurusan Komunikasi FISIP di Universitas Airlangga sekaligus UKM Sinematografi UA. Sekarang mbak Iphip (panggilan akrabnya) sedang mengambil master Family Studies di University of Minnesota. Sejak dulu sebenarnya kami sudah sering berdiskusi tentang perempuan, pernikahan, relationship. Selang waktu berjalan, saya berpikir bahwa hal-hal yang kami bahas ini sebenarnya bisa bermanfaat juga untuk orang lain di luar sana. Dari situlah saya "meminang" Iphip untuk membuat podcast bersama.

Tapi, sejujurnya, saya punya cerita lain. Sorry, Phip, just tell you this in this medium, I hope you wouldn't mind. Hehe. Tepat sebelum menikah saya bekerja di restoran sebagai asisten supervisor. Di suatu hari sahabat karib saya yang berdomisili di Jakarta pulang ke Surabaya dan ia setuju untuk mampir di resto untuk berjumpa. Ia sudah berkeluarga, tetapi ketika hari itu ia datang sendirian. Saya heran, karena saya juga rindu ingin bertemu istri & anaknya. Setelah ia memesan makanan & minuman, kami pun mengobrol hingga saya menanyakan mengapa ia hanya datang sendiri. "Iya, jadi gini Von, sekarang aku & *xxxx* sudah nggak bareng lagi. Kami memutuskan berpisah." Perumpamaan bagai petir menyambar di siang bolong rasanya paling tepat untuk menggambarkan perasaan saya saat itu. I hold them dear in my heart, and the sentence simply crashed me. Saya sungguh kaget dan secara otomatis bertanya bagaimana itu bisa terjadi, mengapa tidak pernah bercerita agar saya bisa membantu dan pertanyaan "polos" lainnya. Saya menangis sejadinya, perasaan saya campur aduk. Anak buah saya waiter & waitress semua bingung melihat saya. Kejadian ini membuat saya mempertanyakan ulang kepada diri saya sendiri, apa pentingnya pernikahan, untuk apa saya menikah dan apa betul saya perlu menikah (dengan pernikahan yang sudah direncanakan beberapa bulan berikutnya). Bahkan setelahnya menjadi diskusi yang luar biasa panjang bagi saya dan mas Rendy, apa yang harus kami persiapkan, apa yang harus kami lakukan & bagaimana pernikahan kami diperjuangkan nantinya.

Topik pernikahan sering kali dibahas dengan polarisasi. Media mengemas pernikahan dengan sangat romantis, indah, penuh dengan kebahagiaan. Tapi di kutub yang lain menggambarkan histeria ketakutan atas perceraian, misal seperti coverage pemberitaan perceraian selebriti yang berlebih, nilai-nilai negatif yang disematkan pada "kegagalan pernikahan". Ada area abu-abu pernikahan yang jarang dikupas dengan wajar, secukupnya dan analitis di media massa. Padahal area abu-abu inilah yang paling banyak terjadi dalam pernikahan itu sendiri. 

Penempatan pernikahan dalam budaya juga turut punya andil. Budaya Timur menempatkan pernikahan sebagai ikatan yang sakral. Karenanya, it put marriage in pedestal. Diletakkan di panggung tertinggi penuh puja-puji. Sebagai sebuah pencapaian jika sudah menikah. Menjadi ada yang salah jika belum menikah. "Pengalaman buruk" yang terjadi dalam pernikahan kemudian ditutupi agar ia tetap sakral. Menyebutkan hal yang kurang cocok dalam pernikahan menjadi tabu. Bukankah dikotomi seperti ini tidak produktif & tidak solutif? 

Saya ingin berbagi pengalaman & pengetahuan atas pernikahan sewajarnya & sejujurnya. Bahwa pernikahan itu fluktuatif, sama seperti hidup atau pasar saham. Dimana pertanyaan dapat diajukan dengan gamblang dan tak perlu takut akan penghakiman. Bagaimana mungkin sebuah ikatan seserius ini, yang dijamin haknya oleh negara, memiliki simpul teka-teki tanya yang jawabannya sering kali bikin keki. "Ah, nanti kalau jodohnya datang juga pasti tahu..." "Nanti kalau sudah menikah pasti tahu rasanya..."

Saya membayangkan pernikahan (serta keluarga yang dibentuk) adalah tempat & wadah yang nyaman untuk siapa saja bertumbuh. Tentu untuk mewujudkannya butuh usaha. Dan jika podcast ini dapat membantu satu orang saja yang sedang berusaha memahami pernikahan, I'm paid off. 

I can't save my best friend marriage and it's okay. It's not my responsibility. Both of them are adults who have authority of their own life. Tapi saya bisa mencoba untuk membuat ruang yang aman untuk membantu orang lain mengetahui pernikahan, keluarga & perempuan dan mengambil manfaat untuk dirinya sendiri. 

Episode pertama podcast kami berjudul "Is he the one? Panduan Tak Wajib untuk Mempertimbangkan Calon Pasangan Seumur Hidup". Saya & mbak Iphip membahas bagaimana menentukan seseorang sebagai partner dalam pernikahan. Silakan klik di sini untuk mendengarkan. Jika ada uneg-uneg, kritik, saran atau apapun, I'm all ears. Langsung email di vinkamaharani@gmail.com ya. Enjoy!

lesson

Saya & Vitiligo

00:32:00



"Comfortable in your own skin" adalah kalimat yg realisasinya butuh perjalanan panjang bagi saya. Tumbuh dengan vitiligo sejak SD membuat saya selalu merasa "ada yg salah" & "ada yg kurang" dari diri ini. Meski bisa disebut "beruntung" karena vitiligo saya berada di kaki & bukan di area yg banyak terekspos tapi ya tetap saja "Vinka panu-an" & olok-olok sejenis mampir di telinga. I camouflaged my insecurities with arrogancy (Panuan ngene tapi ga bodo koyok awakmu 😀).
⠀⠀⠀⠀⠀⠀

Secara genetik, kulit saya persis seperti keluarga dari Ibu, mudah muncul flek hitam, tahi lalat dan semakin menua spot hitam itu semakin melebar, beberapa akan menjadi seperti tompel. Saat SMA, mungkin karena hormon dan belum tahu bagaimana merawat kulit, flek, milia, tahi lalat berlebih pun panen. Yg konyol adalah pengalaman "di-ospek" karena dinilai "aneh" pakai gambar tahi lalat dibentuk pola seperti bindi-nya orang India. Info ini saya dapat dari senior yg keceplosan "Lho Vin itu tahi lalat beneran? Padahal dulu kamu masuk list PENA karena dikira dandan pake bikin gambar tahi lalat itu." #eaaa⁣⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀

⁣⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Kalau ada yg bisa diambil pelajaran dari urusan kulit yg rumit & tak henti-henti ini adalah konsistensi & kegigihan selalu terbayar lunas. Tahun kemarin saya kena penyakit autoimun lagi yg membuat kulit di beberapa bagian sangat kering, gatal & patchy. It takes months to be solved, but it's done. Pengobatan vitiligo berlangsung selama kelas 3 sampai akhir SD. My parents are the truly champion, mengantarkan ke dokter sampe larut malam, nunggu obat diracik, dilakukan bertahun-tahun & tak lupa menyuntikkan rasa percaya diri kepada saya. Kadang saya pun sempat lupa mengoleskan salep & minum obat. But I won't blame myself just for a day or two skipping the medicine/skincare for now. Slow & steady wins the race.⁣⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
⁣⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Shout out of love to all family who lives with vitiligo or other skin related disease. Cheer up!⁣

daily

Decluttering You

23:19:00

Sometimes I feel my life is seasonal, and as every "real" season, it has particular theme. My nowadays season theme is decluttering. If you followed me in my personal Instagram account you'll see my post about learning zero waste, and I happily practicing what could I do. One of the goal is declutter my home, sift the real need and skip the others. 

As daily physical life, I think we also need to declutter our social life. The toxic people, the negative blabbers, the pessimistic buddies. I don't think all of them needed in my life. "Misery looks for company" is real. Sometimes some people just really annoyed if a person choose to be happy and they want to drag him/er down to be stay at unhappiness. 

At past, I'll be angry or my vision blurred to their intention. But now I'll choose to skip skip and never let them to hassle in my own life. It's simple and not wasting energy. Let use the energy to essential things and keep moving on. 

lesson

Depression

22:49:00

In the last week of May 2018, the world shocked. Kate Spade ended her life by suicide. Not too long, Anthony Bourdain did it too. I was shocked and lost by Bourdain's death. If you happened read my review in his book here, you know how I inspired by his writing and bravado. That's why I cried instantly after hearing the sad news & expressed it in my IG stories. I asked people for asking help if they suffered. Surprisingly, there's a friend who respond it in contra-view. She argued how it impossible for the one who suffered for asking help. Because she had post-partum depression and when she try to communicate the symptoms, the rifles of depressing thoughts she had the respond will be like : "Don't act it such a drama." "Everyone has the same problem, don't overreact."

The discussion between us became deeper. The biggest hunch of her depression came from the decreasing time for herself after having child. I could relate this so much because I felt the same way after had Hayu. But I'm not really upset or anxious about it too long because I had the antidote. As you know in my previous post when I met Diana Rikasari, I asked how she could juggling between works, business, motherhood, home. Interestingly, one point is she only working outside the home 2 days in a week. She maximized those 2 days with all the meetings, interviews, and another things needed to do outside home. She told me how in a day she could do until 9 meetings. It's a huge number and it shows how effective she managed her time outside home at once. I mean, we could see how her shoes brand UP grows, and now with Schmiley Mo and writing books too. It's possible. 


Then, I DM-ed Diana to say that I really hope she'll write a book with Motherhood theme, or how she does her business because I believe the book will help women especially for mother (like me) to be more productive and sharing her tips on time management etc. The conversation went along, she shared how she could handle the stress. The next day I read her post about it, it is really touche and well articulated. 


These rifle of incidents made me realize how important mental health to be discussed further and how shallow my knowledge on it. I want to learn self-love more and more. I want to connect better to myself, so I could do the same to other. To God. To my family. To you. 

daily

#RamadanMenulis : A Challenge to Grow

12:27:00

It's been 20 days since the beginning of Ramadan, I followed a challenge from IG account @muslimahsinau to write a post each day in Ramadan with a predefined theme. Many times I was late but thankfully I still manage my commitment to write everyday. The themes varied from Islam to general interest. After such a long time not committed into writing, this challenge helps me to revisited my writing ability. It shows the tenacity conquer all, hehe. It's only 20 days, with the average time between 30 minutes to 1 hour, but I've felt growing so much. Now I have the step by step skeleton to approach any theme. I have to push my own laziness and reluctance, but doing it daily made it as habit, and doing it as a habit made it easier. Something's missing if I haven't write & pour my ideas. 

Today's theme is "How do you define beauty?". Because I've transformed a lot lately into more positive light, self acceptance, self love, it made my definition of beauty also shifted. Here I write my definition. Follow my IG @vinkamaharani if you're interested into daily dose of positive thoughts. =)

How Do You Define Beauty?⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
.⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Beauty is honesty. Beauty is choosing the truth path no matter what. It knows that mask will never conceal & the righteousness is the only thing to reveal⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
.⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Beauty is kindness & empathy. It understood how to see the bright side even in the dark. It's ready to spread love as happy as Skylark.⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
.⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Beauty is acceptance. It embraces what's less and quadruple the strength. Beauty is at ease within yourself & at peace with anything else. Beauty's fuel are passion and run it by compassion.⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
.

Beauty is you.⠀⠀

bisnis

Personal Branding & Learning Curve

22:59:00

First quarter of 2018 just passed and I could said it's a time full of learning. Have you experienced when you're committed to something then universe pour you its blessing? I just feel it after made a  decision to learn harder this time. I met fabulous mentors and they taught me a lot. 

It's always hard when you admitted mistakes you made, especially when you believed it for long time. For the last 2 years I believed I built @braavosknit in right direction, separated my business with my personal life. I was so confident because I believed I've already had enough knowledge in personal branding & marketing things. Later I should admit that was wrong move and sorting all of it again, put all the pieces puzzle from beginning, starting again. Integrating my personal life/branding with my business is my goal for now. The goal's met when I don't have to say/introduce/telling stories about what I did when meeting someone who knew me. 

Vinka Maharani = Braavosknit/knit/knitting/knitwear designer/yarnshop owner. 

So if you saw me learn to write by doing #RamadanMenulis challenge in @vinkamaharani, bear with it ;D. Now I'm taking step back so I can move forwards for my future life. =)

I'm leaving while give you my recent favorite musician, 10cm, because his voice is sweet and he wears cute purple knitting sweater.