random

Convo #4 : I Thought You're Jealous

11:00:00

B: Just see, one day I'll tackle her down to give some lesson.
C: May I speak? You could say that you just want to give her lesson, but it sounds like jealousy to me. No, you ARE jealous. 
B: Me? I mean like she doesn't have any integrity and virtue to her own brain. She should look upon the truth and logically search the truest answer of the problem. I just show her the right way. 
C: Please, don't make any excuse. You're not a Messiah. Just admit that you're jealous because she's taking side on your opposite. It's okay. 
B: Perhaps I'm jealous, or not. But her attitude is not appropriate right?
C: It's her choice, though. Come on, let them go. Take the politic, maneuver and trick aside from your horizon. It's their problem if they wanna play dirty. If you jealous, it means you care. I believe you have higher capability, integrity, intention, et cetera. Don't let their moves take you down. Just raise your bar higher. For your own sanity and clarity. Will you?

friends

I Let You Go

22:53:00

Now I'm reading Henry Manampiring's book Alpha Girl Guide. While several ideas mentioned is not really applicable to me, there is a topic that I hope I really know before I reach adulthood: to let people go.

Parents taught us to befriend with any people, no matter about the economic status, race, color et cetera. They only forbid to befriend with "naughty" kids or evil people. But as I grow, there's so much grey area. I don't think there is much pure evil human. Many people choose to do misdemeanor on the daily life, just because. This is not the excuse, though, since I believe every deed we did is the result of consciousness and the will. But still, it's not easy to judge people is cruel and stay away from them. So how and who are the people we need to build the fence and stay away?

Om Piring, the writer's nickname, told us to let go people who toxic. They are manipulating in relationship, befriending with them force us to wear a mask and pretend to be somebody else. Later in life, I found that somehow we just not suit each other. It's not that the particular person is ill-minded or having malicious intention. We're just not meant to be for pleasing every people, vice versa. And it's okay. 

If there are relationships that I lingered too long, there was two. First, to a close relative that taught me how to set plan for brighter future in my teen age, how he always spare time in the middle of his work when in town, how to hold tight into religion anytime, yet at the end he turned to believe God in different religion he taught me. Second, to a senior in my high school who became close because I want to play cupid for him and my sister, where it lead to a close relationship with his family. I came to his weddings, his firstborn son, his parents came to my wedding, et cetera. But after a definite time he changed, choosing the different way to love our God. Bopo died and I'm waiting the condolence words, at least. Yet it never came, even after I reached out in many ways I could. I'm brokenhearted for a long time, but now I really accepted that spiritual journey is personal & the basic human right. I value their choice. Back to Om Piring's word again, relationship comes and go.

I believe some people also let me go from their life, in any reason or situation. Perhaps our path will emerge again someday, or not. To people which path differed from my life, I let you go. I hope your life will be merrier and lead to kindness. I won't hold you back and asking the reason why because I respect all of your wisdom to choose. I never wish anything but luck to anyone who consciously decide and take full responsibility of their determination. Semoga Allah merahmati.  


fave

Weekly Earworm

22:30:00

"Just stop your crying
Have the time of your life
Breaking through the atmosphere
And things are pretty good from here"
(Sign of The Times, Harry Styles)

"If you make the same mistakes
I will love you either way"
(Safe Inside, James Arthur)

"I swear that every word you sing
You wrote them for me
Like it was a private show
But I know you never saw me
When the lights come on and I'm on my own
Will you be there to sing it again
Could I be the one you talk about in all your stories"
(Can I be Him, James Arthur)

bisnis

Stretching Courage

22:45:00

I feel spoiled, somehow. It's like I'm being too comfortable at this point. So I decide to jump to my dream. Not only dipping my feet, but also dive bravely and taste the real stream that I have to face to know where I should go for realizing the dream itself.

Just like Ruth Gordon said, the courage is like a muscle. We should stretch them out. Even though it felt a bit scary and reluctant at the first step. Whatever. It's all decided, and I'm ready.

resensi

The Good Wife (2016)

01:52:00

Ini kali kedua saya merasa menemukan drama Korea yang memuaskan hati & pikiran. Yang pertama adalah Healer, sedangkan yang kedua adalah The Good Wife. Mungkin bukan kebetulan kalau keduanya memiliki tokoh yang diperankan oleh Yoo Ji Tae. Bisa jadi ini tentang kemampuan akting yang mumpuni dan perihal kecerdasan memilih skenario yang bernas sekaligus kompleks.


The Good Wife adalah drama remake dari serial Amerika Serikat yang berhasil dan tayang cukup lama selama 9 musim. Dalam versi Korea sendiri hanya ada 1 musim (sampai saat ini) dan mengikat hati pemirsa mulai dari jajaran bintang papan atas sebagai pemeran sampai ke pilihan detail kostum/wardrobe yang mengundang decak kagum. Saya sendiri merasa puas dengan serial ini karena wilayah abu-abu yang terbentang luas di masing-masing karakter. Tidak ada tokoh yang sepenuhnya benar atau betul-betul salah. Logika dan keputusan yang diambil tiap karakter dapat dipahami, bahkan ketika harus bersikap antagonis. Hal ini membuat cerita yang disampaikan humanis dan tak berjarak dengan pemikiran penonton. 


Ulasan lain mungkin akan bercerita bagaimana Jeon Do Yeon sukses mengawal tokoh Kim Hye Kyung sebagai ibu sekaligus pengacara amatir. Atau bagaimana Yoo Jitae menjadi sosok yang tak bisa ditebak, ingin kita benci tapi sekaligus mengiris hati di saat yang sama. Tapi saya betul-betul terjerat dalam hal-hal kecil yang dimunculkan dalam serial ini seperti pilihan wardrobe, setting background dalam tiap skena dan bagaimana printilan itu bermakna jauh lebih luas dari sekadar dialog yang diucapkan oleh aktor. 

Saya suka bagaimana lift dipilih sebagai tempat Hye Kyung dan Joong Won berinteraksi. Ada 3 skena utama dengan lift dimana secara gradual menunjukkan bagaimana hubungan mereka dari sekadar cinta bertepuk sebelah tangan, lalu perasaan resiprokal dengan timing yang meleset kemudian the makeout kisses. Pun juga dengan pink-fuschia stiletto dan lipstick (crayon type) yang dipakai Hye Kyung saat dalam keadaan hatinya ragu-ragu atau menghadapi kasus yang besar dan berat. Saya sangat menyukai bagaimana warna fuschia dipilih, dibandingkan merah, misalnya. Karena tone yang dibawa lebih ke start fresh & anew, menunjukkan konfidensi dan youth spirit. 

Serial ini juga membawa optimisme dalam dunia drama Korea yakni membawa trend drama yang tokohnya tidak hanya berani memilih, tetapi juga cerdik dan bukan tipe drama upik abu semata. Trend dengan variasi genre ini secara konsisten digaungkan TvN sebagai stasiun tv kabel yang menayangkan Misaeng, Reply series, Signal. Dengan deretan drama yang menyenangkan untuk diikuti ini, I'm a happy viewer!

The Country Lanes

22:17:00

The same route for going home never felt easy after the 2nd September, last year. It paints the same suffocation, the same screams, the same tears.The memories linger, not budging in any inch.

Are you safe there?
Do my prayers really meant to you?
Do my good deeds make them treat you better?

I'm scared that you hurt. I'm scared if anyone hurt you.

I don't have any choice than holding my faith tight and praying to Him to keep you warm by His love.

You're the loudest reminder that nothing last forever, dear lovely father.

lesson

Donor & Toleransi Rasa Sakit

04:27:00

Jumat pagi akhirnya saya berhasil donor darah, setelah 2 kali kunjungan gagal karena tekanan darah saya yang terlalu rendah. Saya sudah ikhlas sih, kalau memang kali ini gagal lagi, berarti mungkin belum waktunya saya untuk donor darah dan move on ke rencana bucket list after weaning saya selanjutnya yaitu puasa. Alhamdulillah, ternyata bisa juga.

Ini donor darah saya yang ketiga sejak pertama kali di tahun 2007 dulu. Kegiatan ini cukup punya banyak cerita. Misal saja, donor darah ini pernah membuat saya menyesal karena tidak bisa menjalaninya terhambat jarak. Adalah Iqbal Rais, senior saya di Sinematografi UA yang membutuhkan darah karena Leukimia yang dideritanya. Karena penyakit tersebut, donor darah harus dilakukan secara apheresis (proses pemisahan komponen darah, karena yang dibutuhkan hanya bagian tertentu seperti platelet atau trombosit) yang memakan waktu lebih lama dibanding donor darah biasa. Golongan darah kami sama, tapi saya sedang berada di Mojosari kala itu. Yang lebih sedih, beliau pulang ke pelukan Allah, tak lama setelahnya. Kejadian ini membuat saya berjanji pada diri sendiri untuk berbuat lebih dan mendukung apa saja yang berhubungan dengan kanker. 

Berikutnya di tahun 2013, saya sudah ke PMI untuk donor, tapi HB terlalu rendah. Eh ternyata positif hamil. Begitu pun di tahun 2014, terjadi lagi. Tiga bulan setelah saya keguguran, saya berniat untuk donor darah, hasil cek HB ternyata rendah lagi. Tidak disangka, ternyata hamil lagi.

Setelah hamil & melahirkan, saya merasa ambang batas saya dalam mentolerir rasa sakit meningkat pesat. Dulu, saya akan menjerit kecil ketika diambil darah untuk dicek HBnya. Sekarang saya bisa menjalaninya sambil mengobrol dan menggoda Hayu. Pun ketika jarum untuk donor masuk, dulu saya pasti menitikkan air mata sambil menahan sakit. Sekarang saya bisa melakukannya dengan memalingkan pandang saja. 

Hal ini menunjukkan betapa banyak manusia berubah, sembari tetap menjadi manusia itu sendiri. Hal yang saya takuti dulu, sekarang tidak begitu. Apa yang harus saya lalui dengan susah payah, bisa jadi mudah di kemudian hari. Kalaupun ada yang harus dipertahankan kuat-kuat, barangkali hanya kebaikan dan iman atas kebaikan itu sepenuhnya. 

#cocotkencono
=D

bisnis

Saya & Sheet Mask Korea

23:12:00

Akhir-akhir ini saya kepincut berat dengan sheet mask Korea nih. Asli. Kebanyakan nonton Jo Jung Seok kali ya, hahaha.

Alasan sebenarnya ada 2, tetapi berhubungan satu sama lain. Pertama karena dalam proses menyapih, hormon dalam tubuh tidak seimbang dan membuat daur hidup tubuh saya macam rollercoaster. Efek utamanya di siklus menstruasi. Kacau parah, sampai memutuskan ke obgyn, takut ada apa-apa. Setelah “diatur” siklusnya, sekarang sudah berangsur normal. Nah, efek dari menstruasi yang sangat acak itu berpengaruh di kulit saya, mulai dari jerawatan, mendadak sangat kering dan anomali lain yang belum pernah saya alami, bahkan di saat hamil. Jadi saya mulai mencari solusi perawatan kulit dari yang paling mudah ditemui di drugstore, salah satunya sheet mask.

Kedua, karena Hayu sudah berhasil disapih, ada rasa merdeka yang meluap-luap dan keinginan untuk merawat diri agar kembali seperti sebelum hamil. Pengen centil-centilan lah singkatnya. Tapi perawatan di salon juga tidak mendukung waktunya karena mas Rendy kesibukan mengajarnya juga sudah normal. Go-Glam ga nyampe Sidoarjo juga. Alhasil sheet mask jadi jawaban semua penantian diriku.

Pengalaman pertama pakai Garnier Sakura itu, beli di Indomaret. Ini sudah senang sekali. Setelah menidurkan Hayu dengan sesabar mungkin dan berbagai upaya tanpa nenen, sheet mask yang makcles di wajah sambil harum menenangkan itu reward yang membisikkan “life is good baby, all is well” di telinga saya. Pagi-pagi cuci muka wajah pun segar bersinar kayak ga punya hutang. What a bless in this cicilan world yah. Hihihi. Masalah sebenarnya 21.000 rupiah dikalikan keinginan hati yang tak tentu sewaktu-waktu itu membuat otak berputar untuk cari solusi yang lebih irit.  Viva la cheapskate!

Petualangan saya membawa ke dunia sheet mask Korea yang bikin saya seperti anak kecil di toko mainan, ternganga takjub soalnya banyak bingitsss yang ingin dibawa pulang dicobain satu-satu. Celebon Platinum Essence Mask ini salah satu yang saya coba setelah Garnier. Cairan essence-nya berwarna putih susu yang agak keruh gitu. Wanginya saya netral ya, ga begitu suka tapi ya ga sampe ganggu. Dengan adanya gambar personil GFriend di kemasan Celebon ini pasti bikin orang mengasosiasikan bahwa dengan pakai masker ini bisa bikin kulit wajah kinyis-kinyis sekinclong adek-adek kiyut nan imut. Saya pun begitu. Sayang ras dan DNA tidak mengijinkan. Huahaha. Kulit jadi lembab dan kenyal, tapi tidak ada instant effect yang begitu berarti. Kalau harus memilih, saya akan memilih Garnier karena saya suka wanginya yang relaxing. Tapi hal ini wajar sih kalau melihat harga Celebon yang masih di bawah Garnier (di Guardian 17k-18k, kalau di sini 15k).

Sampai detik ini saya sudah mencoba 4-5 merk berbeda. I’ll tell you a lot about the journey. Jangan heran ya nanti kalau tiba-tiba blog isinya sheet mask melulu. =D Dan karena saya mengalami kesulitan cari sheet mask yang oke dan ramah fulus, saya bertekad agar kalian tidak melalui jalan terjal berduri ini. *tsah! Jadi selain berbagi pengalaman, saya juga jualan masker dengan harga terjangkau sekaligus teruji. Hehehe. Sambil menyelam memungut mutiara nih ceritanya.. Klik di sini ya untuk yang tertarik!


Oh iya, ini lho yang namanya Jo Jung Seok… ;)