lesson

Nasihat Pernikahan: Menimbang Waktu Tepat untuk Menikah

05:53:00

“Vin, kok kamu bisa sih memutuskan untuk menikah di umur 22? Bagaimana bisa kamu yakin? Padahal dulu kukira kamu bakal lanjut sekolah atau mengejar karir dulu.”
Dulu ketika saya akan menikah, atau baru saja menikah, saya menjawab pertanyaan ini dengan penjelasan panjang lebar tentang sudah sama-sama siap, merasa sudah tidak ada yang perlu diragukan, lagi dan sebagainya. Tapi sekarang, hampir 8 tahun menikah, ada sudut pandang lain yang baru saya sadari: saya sudah bicara tentang pernikahan sejak menginjak masa remaja saat akil balig.
Barangkali orang tua saya memang tidak umum (di Indonesia). Sejak menstruasi pertama, diskusi itu dibuka oleh ibu saya, “Vinka, kamu sekarang sudah menstruasi, itu berarti kamu sudah bisa hamil & punya anak.”
Berumur 13 tahun, saya sih iya-iya aja tanpa pikir panjang maknanya apa.
Ketika kelas 3 SMP dan merencanakan SMA di mana, saya bersikeras ingin bersekolah di sekolah umum, tidak menyantri seperti kedua kakak saya. Tidak tanggung-tanggung, Jakarta! Mengejar kelas akselerasi Labschool Kebayoran ceritanya. Kami tidak punya uang, singkat dan padat kata Bopo Ibu. Tawar menawar harga pas jatuh di Surabaya. Dan saya ingat betul, sebelum bersekolah di Surabaya, beberapa kali saya “didudukkan” seusai sholat Maghrib.
“Kamu sudah besar. Akan datang saatnya kamu suka dengan seseorang. Kalau tidak kuat (menahan hasrat), lebih baik bilang jujur kemudian kami nikahkan. Tentu saja Bopo Ibu sangat ingin kamu selesai sekolah dulu, kuliah lalu bekerja agar bisa bertanggung jawab atas hidupmu. Tapi Bopo Ibu lebih baik menikahkan kamu, meski sedih, tapi kami tidak apa-apa dibanding menanggung malu (karena kehamilan di luar nikah).”
Barangkali cara orangtua saya bukan yang terbaik atau sesuai dengan anjuran pakar parenting masa kini. Pun bukan yang paling benar, tapi pesannya jelas: sekolah sampai selesai, tapi kalau memang kebacut kebelet, opsi menikah itu ada. Pembicaraan ini juga mempengaruhi pola pikir saya untuk bergegas mampu mandiri, mencari uang sendiri, bertanggung jawab atas diri ini. Menikah? Hanya boleh kalau saya dan calon pasangan mampu menerima seluruh konsekuensi, termasuk perasaan orang tua.
Karena sudah dibicarakan sejak “dini”, orang tua saya pun jadi biasa saja ketika mereka menyelipkan nasihat pernikahan di sela kegiatan sehari-hari yang banal. Misal ketika membangunkan saya, Bopo sering berbaring di sebelah saya dan memulai obrolan agar saya bisa melek.
“Kalau di agama kita disuruh mencari pasangan yang sekufu atau sepadan, itu semuanya mulai dari agama, fisik, harta dan seterusnya. Tapi pengalaman Bopo, yang paling penting itu sekufu kepintarannya. Karena kalau sudah sejalan & sepakat pikirannya, yang lain bisa mengikuti dan pernikahan jadi minim konflik. Ini kalau dari pengamatan Bopo nggih.”
Di kali lain Bopo menekankan betapa pernikahan tidak akan mengubah apa-apa dari seseorang, kecuali atas kehendaknya sendiri. “Kamu bener suka sama Rendy? Suka dengan baik dan buruknya sekarang, nggak usah berharap mengubah ia jadi ini & itu di masa depan Von. Mboten saged nak, kecuali kepingin berubah mergo karepe dewe.”
Merunut kembali nasihat-nasihat tersebut, saya mensyukuri bahwa orang tua saya memilih untuk memulai pembicaraan tersebut, karena dari situ saya merasa bahwa pernikahan bukan hal yang “jauh”, asing atau terlampau sakral. Ia adalah subjek yang biasa, boleh ditanyakan & dibahas kapan saja, serta bisa dipelajari dengan objektif & wajar. Beberapa kawan yang masih membujang, merasa enggan membicarakannya karena banyak stigma yang melekat, atau pertanyaan yang diajukan tidak mendapat jawaban yang jelas & setimpal.
“Eh, kalau udah nikah itu enak ga sih?” “Hmm, gimana ya, ya gitu itu, coba aja dulu lah, enak kok.” Kalau jawaban yang diberikan macam ini, tidak heran rasanya jika angka perceraian makin tinggi.
Mari perlakukan pernikahan sebagaimana adanya. Ia satu fase hidup yang punya banyak waktu bahagia, seimbang dengan saat sedihnya juga. Layaknya hidup, pernikahan pasti punya naik turun. Pernikahan bukan hal yang super sulit, tapi juga tidak bisa dianggap mudah. Tak perlu diromantisir berlebihan, juga tidak disepelekan. Let’s talk marriage as it is.
Maka, apa jawaban saya sekarang jika mendapat pertanyaan di awal tulisan ini? Pernikahan itu tentang pilihan. Saya memilih menikah karena pertimbangan panjang dan matang yang telah saya lakukan. I’ve been through a lot and it’ll take another story to explain you all the factors, risk analyzing on why I choose to marry. Saya memilih dan bersedia menanggung resiko apa yang saya pilih, itu saja. Happy choosing!

podcast

VIP Talks on Apple Podcast!

17:20:00

Kadang kalau dipikir-pikir agak mustahil untuk saya bikin podcast. Karena kemampuan editing saya ya gitu-gitu aja, ditambah ketidak-konsistenan saya. Istilah orang Jawa: ndeng-ndeng ser. Tapi saya tidak menarget banyak, yang penting jalan, yang penting bikin, yang penting berkarya biar pengetahuan saya yang sedikit ini bisa bermanfaat. Alhamdulillah sekarang sudah di episode 5+1 episode spesial. Sudah dengar belum? Di episode spesial saya dan mbak Iphip diskusi tentang film Marriage Story dan Kim Ji-young Born 1982. Yang belum dengar boleh langsung cus ke anchor.fm/viptalks ya. Di bawah ini cuplikan favorit saya yang selalu bikin tersenyum kalau dengar. 

Dan kabar terakhir yang juga menyenangkan adalah, akhirnya VIP Talks ada di Apple Podcast jugaaa. Kayaknya emang paling terakhir ya bisa di kanal Apple. Monggo yang Sheeple atau Apple fanboys bisa merapat mendengarkan VIP Talks di kala senggangmu. Klik langsung di sini!

budaya

Tempat Yang Aman & Nyaman Bagi Geminian: Yorkshire

01:50:00

Berpindah ke negeri orang, tentu ada rasa takut dan was-was. Bagaimana jika lingkungannya tak ramah? Bagaimana jika saya tidak bisa beradaptasi? Bagaimana dengan Hayu? Alhamdulillah, kami pindah di tempat yg tepat. Kami pindah di mana senyum & sapaan adalah hal yg mudah ditemui, bahkan seperti timpang jika mempertimbangkan betapa individualisnya kehidupan di sini. Saya bisa berargumen bahwa Yorkshire adalah tempat yang "aman & nyaman" bagi para Geminian (dan siapapun) untuk tinggal.⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀

Panggilan yang lazim digunakan untuk menyapa orang lain (asing maupun yg sudah kenal) adalah Love, Darling, Sweetheart, Mate & Lad. Hal ini sangat umum, dipakai oleh siapa pun kepada umur berapa saja. Datanglah ke pasar, tempat-tempat umum yang dikelola oleh native, maka kalian akan mendapat sapaan hangat ini. Malah tidak jarang ditambah dengan kedipan mata. Dan iya, ini mayoritas semua orang ya gini, nggak orang jual di pasar, pak-ibu tukang pos, tukang ledeng, security, siapa saja. Kalau di Indonesia menyapa seperti ini bisa-bisa sudah dicap genit, jablay, dll.

Apa hubungannya dengan Gemini? Yah, karena beberapa kali baca bahasan zodiak misal di akun Alexander Thian @amrazing tentang Gemini yang di-bangsat-brengsek-in karena "baik & ramah sama semua orang". I know (perhaps) it's just for fun to judge people instantly by the zodiac, tapi setelah tinggal di sini selama 6 bulan, perspektif saya berubah. Bisa jadi yang salah bukan orangnya, tempat & standarnya saja yg belum pas. Para kawan dengan zodiak Gemini, menabung yang banyak terus pindah sini deh, you won't be misjudge prematurely. Haha.

Tapi, penasaran aja sih, kalau premisnya "baik sama semua orang" = bangsat; berarti yg ga bangsat = "jahat sama semua orang"? Isn't it even more twisted logic?

I don't need the answer anyway, because I will still be kind to everyone. Cheers, Love!⠀⠀⠀

business

Bootstrapping is Cool!

21:17:00

Dua hari lalu kakak saya,mas Andre @miebutoijo share artikel menarik tentang bagaimana founder dari Tatcha tidak mengambil gajinya selama 9 tahun, menggunakan-memutar dana tersebut untuk mengembangkan Tatcha. Karena ia punya hutang kira-kira 1juta dollar untuk pendidikannya (student loan untuk S1 & S2), ia pernah menjalani 4 side job dalam kurun waktu yg sama untuk melunasi hutang & membiayai bisnisnya.

Iyaaa, Tatcha yg skincare premium ituuuu. Usaha untuk mengatasi masalah dengan resource yg ada ini disebut bootstrapping. Jadi tidak mengandalkan kredit, tidak mengutamakan suntikan investor. Dan saya suuukaaaa sekali prinsip ini. Karena sangat realistis, praktikal & memberi harapan bagi saya yg bukan anak sultan atau orang yg tajir melintir. Persis juga seperti apa kata @garyvee, audit pengeluaranmu, nabung, kerja tambahan untuk mewujudkan mimpimu.

Terus apa hubungannya dengan L'Oreal ini Vin? Di beberapa post yg lalu saya pernah bercerita bahwa saya memiliki riwayat kulit yg tricky, beberapa kali terkena penyakit autoimmune termasuk vitiligo. Perawatan kulit jadi kebutuhan mutlak & harus disisihkan karena, belajar dari pengalaman, kalau tidak dirawat efeknya sering langsung dramatis. Tapi ceritanya bootstrapping, skincare kan Mahal, njur pye? Banyak jalan menuju Roma, kawans. Saya termasuk rajin mengumpulkan poin dari belanja sehari-hari (dulu di Indonesia biasa di Alfamart & Shopback), lumayan bisa subsidi silang untuk skincare. L'Oreal ini harga aslinya £12, sedang diskon 50% jadi £6, dipotong poin senilai £5, jadi cuma bayar £1 atau 18ribu rupiah. Tiap bulan saya menyisihkan £5-10 untuk skincare (90-180ribu rupiah), asal disiplin pasti bisa untuk mencukupi kebutuhan.

Saya berharap semakin banyak orang yg beranggapan nabung itu keren, ngirit demi mimpi itu harus disupport, etc. Feed IG tidak penuh orang pamer barang branded, tapi bercerita & berbagi cara mencapai mimpinya. Semakin banyak yg melakukan pasti bikin semangat & jadi norma baru. Ngirit itu bukan medhit. Bootstrapping is cool, cheapskate is needed. 😉

daily

Tantangan Menjalani Gaya Hidup Zero Waste di UK

17:06:00


Selama dua tahun terakhir, saya belajar untuk mempraktekkan #rumahnolsampah. Mengurangi penggunaan plastik, menggunakan tumbler, mengkompos sampah organik saya, membeli barang "bekas" dan bukan barang baru, dll. Ada satu tantangan untuk praktek #zerowaste di sini yang rasanya ringan sekali dilakukan di Indonesia: belanja harian atau groceries. Kalau di Indonesia, pasar itu dekat & banyak, sama penjualnya pun mudah, tinggal mau "ngeyel" atau tidak untuk menghindari plastik sekali pakai. Apalagi kalau sudah punya penjual langganan, malah lebih gampang lagi untuk bertransaksi tanpa plastik/menggunakan plastik yang saya bawa sendiri. Area sebesar desa Bluru Kidul, Sidoarjo tempat saya tinggal dulu saja punya 2 pasar. Sedangkan di Leeds, pasar "tradisional" itu cuma ada di pusat kota. Terus kalau warga sini mau belanja harian di mana? Supermarket. Di mana-mana ada kalau ini. Barang yang dibutuhkan memang semuanya ada sih di supermarket. Tapi ya namanya supermarket, kemasannya plastik & kebanyakan kemasan bahan makanan sehari-hari itu tidak dapat di-recycle. Cuma beberapa barang saja yang bisa dibeli tanpa kemasan.


Minggu lalu saya baru menemukan terobosan ini dari Morrison, salah satu supermarket chain yang paling dekat dengan tempat tinggal saya. Too Good to Waste box. Isinya macam-macam bahan makanan yang bisa diolah meski lewat dari tanggal anjuran penggunaan. Iya, jadi di UK itu di tiap-tiap kemasan bahan makanan ada tanggal anjuran penggunaan atau "use by dd/mm/yyyy". Tapi faktanya, banyak bahan yang meski sudah lewat tanggal itu masih bagus & layak konsumsi. Dalam kotak ini ada macam-macam bahan makanan yang acak isinya, hanya dipastikan berat totalnya minimal 1kg. Harga box ini 1 pound atau 18ribu rupiah. Kalau dibandingkan harga normal, sudah pasti ini murah banget. Dan yang paling penting, tidak membuang serta menyia-nyiakan makanan. 


Semoga semakin banyak terobosan yang dilakukan supermarket UK, untuk mengatasi konsumsi plastik yang masif & sulit dihindari ini.

lesson

Hanya PadaMu Aku Bersandar

04:44:00

Kadang "settingan" Gusti Allah itu hanya tepat untuk diterima, tanpa perlu dinalar, tanpa perlu dipertanyakan. Selasa lalu saya berangkat ke Birmingham. Perjalanan yang sudah direncanakan jauh hari, tiket & cuti sudah dipersiapkan. Di tengah perjalanan saya mendapat telpon, ada penghuni gedung tempat saya bekerja, meninggal dunia. Ketika pulang dan bekerja kembali, di tiap shift banyak sekali yang bertanya, apa yang terjadi, apa sebab & bagaimana bisa terjadi. Saya tidak tahu, dan kadang dalam posisi ketidak tahuan itu terasa menyesakkan. Rumor beredar, bahwa penghuni tersebut mengakhiri hidupnya sendiri. Tidak seperti di Indonesia, di sini jika polisi serta pihak berwajib yang terkait sudah memberi batas, ia meninggal maka itu saja yg perlu dan patut anda tahu.

Setelah memastikan identitas penghuni yang meninggal (bangunan ini cukup besar, meski sudah bekerja 3 bulan, saya tidak mungkin hafal semua orang), mau tak mau ada penyesalan tumbuh. Pertemuan terakhir saya dengannya ketika di atas bus seusai menjemput Hayu pulang sekolah. Matanya terpaku di layar gawai. Saya turun dulu, kemudian heran karena ia tak ikut turun. Andai saja saat itu saya menepuk pundaknya, jika saja... Kalimat ini terngiang terus menerus di kepala saya. Lalu ketika kemarin saya membaca berita bintang K-Pop, Goo Hara ditemukan meninggal, dengan dugaan bunuh diri, runtuh juga akhirnya air mata. Mengapa (harus begitu)? Kesakitan seperti apa yg ia rasakan hingga memilih jalan tersebut? Mengapa manusia bisa sangat jahat terhadap sesamanya?

Pagi itu saya menyampaikan kepada atasan, apa saja yang ada di benak saya, apakah ada yang bisa lakukan. Setelah itu rasanya sangat lega. Beban di pundak ini terangkat seketika. Beruntung di tempat saya bekerja ada wellbeingness officer, atau yang bertanggung jawab dalam dukungan mental. Ia tak hanya mendukung pelajar (yang merupakan klien kami) tapi juga karyawan. Ia memastikan & meyakinkan saya bahwa perasaan berat yang saya alami adalah wajar dan saya tidak harus menjalani semua ini sendirian. Atasan dan pihak universitas siap bertindak agar rumor dan kegelisahan di antara para penghuni dapat mereda.

Seusai itu saya sandarkan semuanya padaNya. Ia pun sudah menata semua dengan sempurna. Tiga minggu ini saya menjalani kerja tambahan di kantor pusat, jadi jadwal padat merayap. Fokus saya hanya pada memastikan selalu ada makanan yang siap disantap di rumah, bergantian dengan suami untuk antar jemput Hayu tepat waktu, juga bekerja dengan baik & tak terlambat. Pulang ke rumah saja rasanya sangat bahagia, karena mengarungi cuaca yang muram di luar sudah cukup menantang. Tidur tak lebih dari pukul setengah sebelas malam, agar stamina tetap terjaga. Betul-betul Allah Maha Baik, skenario ini jadi pelajaran untuk menerima & melepaskan diri ini sebagai makhluk. Menerima kapasitas diri ini dan tak memaksakan kehendak.

Dari sini muncul ketenangan, kejernihan berpikir. Kawan sepekerjaan kaget sekali ketika mengetahui saya masuk ke kamar mendiang untuk mengecek beberapa hal atas arahan atasan. Ia bertanya, apa kamu tidak takut? Ia merasa takut karena kesimpangsiuran penyebab kematian gadis ini. Saya hanya menjawab, apapun penyebab kematiannya ada beberapa hal yang memang harus dilakukan, maka saya lakukan saja. Jujur sempat terasa takut, atau lebih tepatnya tak nyaman. Tapi kemudian saya tersenyum sendiri, mengingat bagaimana ketika Bapak saya meninggal justru hal yang saya lakukan adalah berlama-lama berada di kamar beliau. Jika saya bisa melakukan hal itu, maka mengapa saya tidak mampu untuk sekadar masuk & melaksanakan tugas saya.

Sungguh, Allah adalah sebaik-baik pembuat rencana.

thoughts

Sick of (Overused) Empowering Word

03:58:00


Have I told you that my life is like a "season"? Like every time it has the theme, with its own ambiance and aura. So last night, I just can't sleep. I'm really annoyed of my own thoughts because of the series of incident that happened & I witnessed.


It started with the incident of my community that I really cherished. They had opportunity to work with business person and at the end of the day it turned out the business person was not really appreciating of the craft of my community. How could a person who tell everyone that they are empowering women turned out they are just exploiting and even not paying for the hard work of the craft itself? It blew my mind away. The second is what I witnessed from the Twitter fiasco between one of controversial influencer in Indonesia called out by creative person about her attitude of violating copyright by using another creative or artists' picture in her posts. It became a real catastrophe when the creative person captured the chat between them where the influencer bullying & oppressing her by threatening to bring out lawyer, suing etc. What's truly sickening was the influencer rejected and not admitting about her threatening attitude. While at the recent time she's like advocating the act of "empowering" women and not compared one woman to another. What the...

The third is when I saw this post from Michelle Elman (@scarrednotscared). She is talking about how women should be more confident about her wage. Women should be confident of her qualities and not underestimating her value. Women deserved to be paid equally or even more for her hard works.

The saddest thing about the first & second story above were all the parties are women. Do women got twisted understanding of "empowering" meaning? You can not "plead that you've empowered women" just by giving them (underpaid) money. You must treat them equally, just and fair. If you can't pay them as good as it should be, just be an honest business person by saying it upfront, make a nice & clear agreement and not using term "empowering" in your marketing package, ads & social media. Duh.

Perhaps we overused the term of empowering itself. It sounds sexy, sophisticated and selling. But the real meaning seems abstract & not really absorbed to be brought into daily behavior. How about make it simple? Just be kind, be honest, just, fair, positive and supportive to each other. I believe none misunderstood these set of characters, right? I believe if you could implement those integrity, then you've already did "empowering" and it would bring confident of people that you supported. By treating people well you humanize them, you bring out the best of them. You let them grow, you let them learn and by that you make them know their real values. And they won't underestimate their-selves like Michelle's statistic.

Be kind. Be just & fair. Be honest. Be positive & be supportive. I beg you, please.

family

Cerita di Balik Podcast VIP Talks

04:16:00

Saya bikin podcast loh. Haha. Iya, saya baru saja meluncurkan podcast bersama kawan saya mbak Cahya Haniva berjudul VIP Talks (Vinka Iphip Pillow Talks). Kami berdua alumni jurusan Komunikasi FISIP di Universitas Airlangga sekaligus UKM Sinematografi UA. Sekarang mbak Iphip (panggilan akrabnya) sedang mengambil master Family Studies di University of Minnesota. Sejak dulu sebenarnya kami sudah sering berdiskusi tentang perempuan, pernikahan, relationship. Selang waktu berjalan, saya berpikir bahwa hal-hal yang kami bahas ini sebenarnya bisa bermanfaat juga untuk orang lain di luar sana. Dari situlah saya "meminang" Iphip untuk membuat podcast bersama.

Tapi, sejujurnya, saya punya cerita lain. Sorry, Phip, just tell you this in this medium, I hope you wouldn't mind. Hehe. Tepat sebelum menikah saya bekerja di restoran sebagai asisten supervisor. Di suatu hari sahabat karib saya yang berdomisili di Jakarta pulang ke Surabaya dan ia setuju untuk mampir di resto untuk berjumpa. Ia sudah berkeluarga, tetapi ketika hari itu ia datang sendirian. Saya heran, karena saya juga rindu ingin bertemu istri & anaknya. Setelah ia memesan makanan & minuman, kami pun mengobrol hingga saya menanyakan mengapa ia hanya datang sendiri. "Iya, jadi gini Von, sekarang aku & *xxxx* sudah nggak bareng lagi. Kami memutuskan berpisah." Perumpamaan bagai petir menyambar di siang bolong rasanya paling tepat untuk menggambarkan perasaan saya saat itu. I hold them dear in my heart, and the sentence simply crashed me. Saya sungguh kaget dan secara otomatis bertanya bagaimana itu bisa terjadi, mengapa tidak pernah bercerita agar saya bisa membantu dan pertanyaan "polos" lainnya. Saya menangis sejadinya, perasaan saya campur aduk. Anak buah saya waiter & waitress semua bingung melihat saya. Kejadian ini membuat saya mempertanyakan ulang kepada diri saya sendiri, apa pentingnya pernikahan, untuk apa saya menikah dan apa betul saya perlu menikah (dengan pernikahan yang sudah direncanakan beberapa bulan berikutnya). Bahkan setelahnya menjadi diskusi yang luar biasa panjang bagi saya dan mas Rendy, apa yang harus kami persiapkan, apa yang harus kami lakukan & bagaimana pernikahan kami diperjuangkan nantinya.

Topik pernikahan sering kali dibahas dengan polarisasi. Media mengemas pernikahan dengan sangat romantis, indah, penuh dengan kebahagiaan. Tapi di kutub yang lain menggambarkan histeria ketakutan atas perceraian, misal seperti coverage pemberitaan perceraian selebriti yang berlebih, nilai-nilai negatif yang disematkan pada "kegagalan pernikahan". Ada area abu-abu pernikahan yang jarang dikupas dengan wajar, secukupnya dan analitis di media massa. Padahal area abu-abu inilah yang paling banyak terjadi dalam pernikahan itu sendiri. 

Penempatan pernikahan dalam budaya juga turut punya andil. Budaya Timur menempatkan pernikahan sebagai ikatan yang sakral. Karenanya, it put marriage in pedestal. Diletakkan di panggung tertinggi penuh puja-puji. Sebagai sebuah pencapaian jika sudah menikah. Menjadi ada yang salah jika belum menikah. "Pengalaman buruk" yang terjadi dalam pernikahan kemudian ditutupi agar ia tetap sakral. Menyebutkan hal yang kurang cocok dalam pernikahan menjadi tabu. Bukankah dikotomi seperti ini tidak produktif & tidak solutif? 

Saya ingin berbagi pengalaman & pengetahuan atas pernikahan sewajarnya & sejujurnya. Bahwa pernikahan itu fluktuatif, sama seperti hidup atau pasar saham. Dimana pertanyaan dapat diajukan dengan gamblang dan tak perlu takut akan penghakiman. Bagaimana mungkin sebuah ikatan seserius ini, yang dijamin haknya oleh negara, memiliki simpul teka-teki tanya yang jawabannya sering kali bikin keki. "Ah, nanti kalau jodohnya datang juga pasti tahu..." "Nanti kalau sudah menikah pasti tahu rasanya..."

Saya membayangkan pernikahan (serta keluarga yang dibentuk) adalah tempat & wadah yang nyaman untuk siapa saja bertumbuh. Tentu untuk mewujudkannya butuh usaha. Dan jika podcast ini dapat membantu satu orang saja yang sedang berusaha memahami pernikahan, I'm paid off

I can't save my best friend marriage and it's okay. It's not my responsibility. Both of them are adults who have authority of their own life. Tapi saya bisa mencoba untuk membuat ruang yang aman untuk membantu orang lain mengetahui pernikahan, keluarga & perempuan dan mengambil manfaat untuk dirinya sendiri. 

Episode pertama podcast kami berjudul "Is he the one? Panduan Tak Wajib untuk Mempertimbangkan Calon Pasangan Seumur Hidup". Saya & mbak Iphip membahas bagaimana menentukan seseorang sebagai partner dalam pernikahan. Silakan klik di sini untuk mendengarkan. Jika ada uneg-uneg, kritik, saran atau apapun, I'm all ears. Langsung email di vinkamaharani@gmail.com ya. Enjoy!

lesson

Saya & Vitiligo

00:32:00



"Comfortable in your own skin" adalah kalimat yg realisasinya butuh perjalanan panjang bagi saya. Tumbuh dengan vitiligo sejak SD membuat saya selalu merasa "ada yg salah" & "ada yg kurang" dari diri ini. Meski bisa disebut "beruntung" karena vitiligo saya berada di kaki & bukan di area yg banyak terekspos tapi ya tetap saja "Vinka panu-an" & olok-olok sejenis mampir di telinga. I camouflaged my insecurities with arrogancy (Panuan ngene tapi ga bodo koyok awakmu 😀).
⠀⠀⠀⠀⠀⠀

Secara genetik, kulit saya persis seperti keluarga dari Ibu, mudah muncul flek hitam, tahi lalat dan semakin menua spot hitam itu semakin melebar, beberapa akan menjadi seperti tompel. Saat SMA, mungkin karena hormon dan belum tahu bagaimana merawat kulit, flek, milia, tahi lalat berlebih pun panen. Yg konyol adalah pengalaman "di-ospek" karena dinilai "aneh" pakai gambar tahi lalat dibentuk pola seperti bindi-nya orang India. Info ini saya dapat dari senior yg keceplosan "Lho Vin itu tahi lalat beneran? Padahal dulu kamu masuk list PENA karena dikira dandan pake bikin gambar tahi lalat itu." #eaaa⁣⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀

⁣⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Kalau ada yg bisa diambil pelajaran dari urusan kulit yg rumit & tak henti-henti ini adalah konsistensi & kegigihan selalu terbayar lunas. Tahun kemarin saya kena penyakit autoimun lagi yg membuat kulit di beberapa bagian sangat kering, gatal & patchy. It takes months to be solved, but it's done. Pengobatan vitiligo berlangsung selama kelas 3 sampai akhir SD. My parents are the truly champion, mengantarkan ke dokter sampe larut malam, nunggu obat diracik, dilakukan bertahun-tahun & tak lupa menyuntikkan rasa percaya diri kepada saya. Kadang saya pun sempat lupa mengoleskan salep & minum obat. But I won't blame myself just for a day or two skipping the medicine/skincare for now. Slow & steady wins the race.⁣⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
⁣⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Shout out of love to all family who lives with vitiligo or other skin related disease. Cheer up!⁣