hobby

Resolusi Merajut 2016

22:24:00


Adakah dari kalian yang mencanangkan resolusi di awal tahun ini? Bagaimana perkembangannya? Saya iya, tetapi hanya untuk kegiatan merajut saja. Itu pun hanya 3 buah, tidak muluk. Takut kalau terlampau grande, malah tenggelam dalam pesimisme-ketidakmampuan mencapainya. Hehehe. 

Ini dia resolusinya:
1. Berpartisipasi dalam test-knit rancangan desainer rajut luar & dalam negeri
2. Belajar mencelup benang
3. Belajar merajut kaos kaki dewasa

Karena hanya 3 item, maka saya pun memberi batas waktu di tiap 4 bulan alias caturwulan a.k.a cawu. Sekarang sudah bulan April, waktunya rapotan! =D

Alhamdulillah saya menilai diri saya sendiri cukup berhasil untuk target test knit. Saya mengikuti 4 test-knit-call, 1 dari perancang dalam negeri dan 3 dari luar negeri. Yang pertama sekali adalah Safara, sebuah cardigan dengan lengan raglan yang polanya tersedia untuk ukuran bayi hingga balita. Cardigan ini dirancang oleh Taiga Hilliard. Yang kedua, Yemaya oleh Ambah O’Brien. Sayang sekali saya tidak bisa menepati tenggat waktu untuk shawl asimetris yang cantik ini. Berikutnya adalah Tiger Cub Hat oleh Ajeng Galih Sitoresmi. Desainer yang juga jadi salah satu inspirasi saya setelah saya ikut kelas Yubiami-nya. Psst, ia juga baru masuk dalam daftar wanita berpengaruh di Indonesia yang dimuat di majalah Tempo edisi April ini loh! Jempol deh mbak yang satu ini. Dan yang terakhir, yang masih belum diluncurkan secara resmi polanya adalah Raiin, juga oleh Taiga Hilliard. 

Cukup puas karena jadi tahu bagaimana mengoreksi pola, ragam macam sebuah pola ditulis & dideskripsikan, mencoba sekaligus mengetahui karakter benang-benang dari toko saya dalam berbagai bentuk hasil rajutan dan pastinya menambah jejaring perajut di berbagai sudut dunia. Menyenangkan dan membuat semangat lebih berkobar untuk melompat di resolusi kedua: mencelup benang.

Sampai jumpa di bulan Agustus!

daily

Happy Weekend

22:01:00

Akhir minggu ini menyenangkan & berkesan bagi saya. “baiti jannati” & love makes a house as a home jadi tema khusus dua hari ini, meski tanpa harus disepakati sebelumnya.

Sabtu pagi dimulai dengan ritual yang terlambat karena bangun kesiangan. Hayu telah terbangun pada dini hari sebelum shubuh, membuat jam biologis pun turut bergeser. Dulu, sebelum ada Hayu, kesiangan di weekend berarti lanjut bersantai-santai. Asal tidak ada tanggungan agenda, brunch pun sah-sah saja dan tidak masalah. Lain halnya sekarang, ada rasa bersalah jika tidak bersegera memulai aktivitas sehari-hari. Ditambah pula rasa takut, takut hal ini yang diingat & diteladani ia di kemudian hari.

Suami mengungkapkan keinginannya untuk memulai hobi baru, aquascape. Ide itu berawal dari air mancur kolam yang pompanya berkali-kali ngadat. Sudah beli beberapa kali, ujung-ujungnya rusak lagi. Untuk menyelamatkan ikan penghuni kolam, suami membeli aquarium kecil untuk menampung. Apa daya, ternyata ikan mas ini tidak cocok hidup dalam aquarium. Airnya akan selalu keruh, meskipun sudah diberi filter, karena memang bukan habitat untuk ikan mas. Rencananya, ikan mas akan dikembalikan ke kolam, diberi filter saja (bukan pompa air mancur seperti selama ini) dan aquarium akan dimanfaatkan untuk aquascape.  Saya kemudian menyetujui ide tersebut, dengan syarat harus mencoba memerbaiki kolam terlebih dahulu. Sayang sekali jika kolam tersebut tidak dimaksimalkan dengan air mancur, harus dirunut bersama-sama dari awal apa betul masalahnya di pompa. Bisa saja saklar, stop kontak, atau yang lain.

Suami pun setuju dan langsung memulai mengutak-utik saklar kolam. Hayu pun tak mau ketinggalan turut andil. Ia ngotot untuk berada di dekat bapak. Ujung-ujungnya malah asyik bermain tanah sampai serupa penyamaran tentara perang Vietnam. =D

Asyik ndeprok
Entah mengapa, saya tidak merasa marah sama sekali dan malah senang ketika Hayu bermain & berkotor-kotor ria. Bisa jadi saya tenang karena ini weekend & bapaknya ada di rumah, sehingga tidak khawatir apabila butuh bantuan. Bisa jadi juga karena saya senang melihat bagaimana Hayu berani dan nyaman sekali dengan alam.

Setelah membeli alat dan bahan, sepulang dari kondangan suami pun melanjutkan aktivitas reparasi. Dugaan kami benar, pangkal permasalahan ada di saklar. Alhamdulillah. Rencana belanja untuk aquascape pun disusun. Eits, tapi bukan kami bertiga yang akan berbelanja. Tetapi Suami & Hayu saja. Ya, ini kencan pertama mereka, keluar rumah tanpa saya untuk pertama kali. Suami sudah sering dan terbiasa untuk bersama Hayu saja di rumah, tapi untuk keluar rumah lain cerita.

Sebenarnya agenda kencan mereka ini disesuaikan dengan agenda belajar jahit saya. Sejak Hayu lahir, saya ingin sekali mengikuti kelas menjahit. Sayangnya, jadwal kelas sulit sekali untuk disesuaikan dengan agenda kami. Sehingga ketika minggu kemarin saya meminta suami untuk meluangkan waktu 2 jam di akhir pekan untuk meng-handle Hayu, dan saya akan belajar otodidak. Suami setuju dan begitulah awal mula kencan mereka tercipta.

Alhamdulillah, semua berjalan lancar. Meski kikuk karena harus menggendong Hayu dan mengemudikan motor (Hayu masih takut duduk di car seat, hiks), suami sukses shopping & nge-date. Saya pun ber-progress dari memotong kaos tak terpakai untuk baju Hayu, hingga menjahit sebagian pola tersebut. Dan, berkat kerja keras suami, aquascape-nya sudah berhasil tersusun… Yeayy!


Saya senang karena kami bisa memberi ruang belajar & bertumbuh untuk diri kami masing-masing. Saya juga senang karena Hayu terlibat dalam setiap aktivitas, dan ia juga sangat antusias untuk “melibatkan diri”. Semoga jika Hayu melihat & merasakan kedua orang tuanya selalu bersemangat belajar, ia pun begitu. 

=)

hobby

[Review Pattern] #KALPapiput : Neon Ski Bonnet by Lacey Volk

21:43:00

*dalam tulisan ini banyak istilah rajut-merajut. Bagi yang penasaran, boleh bertanya lho. Shoot me the question at comment! =D



Wah, senang sekali rasanya bisa menyelesaikan rajutan dalam KAL atau Knit ALong. KAL biasa diadakan oleh para perajut dimana mereka bersepakat untuk menyelesaikan satu (atau dari rangkaian karya desainer tertentu) dalam rentang waktu yang ditetapkan. Saya seringkali kurang percaya diri untuk dapat berkomitmen menyelesaikan project dalam waktu yang terbatas, padahal rentang waktunya juga tidak terlampau ketat. Tapi, karena sedang menjalankan discipline fitness, saya merasa tertantang untuk dapat bergabung dalam KAL yang diadakan oleh Papiput Shop // pemiliknya Mbak Amelia Putri. Apalagi dalam pola ini ada beberapa teknik yang ingin saya pelajari tetapi belum kesampaian. Hehe. 

Saya memulai cast on pada tanggal 20 November 2015. Kesulitan yang menguji keteguhan niat langsung datang: jarumnya nggak cocok. T_T Dalam pola, terdapat teknik magic loop yang disarankan untuk digunakan (agar lebih mudah), eh ternyata jarum circular saya yang sesuai gauge kaku banget & kurang panjang. Walhasil harus bersabar pakai DPN dan merajut pelan-pelan. Setelah ujian tentang jarum, rajutan relatif lancar. Saya memang beberapa kali mengulang proses pick-up, karena belum pernah melakukannya sebelum ini. Hitung-hitung ongkos belajar sih. 

Saya menggunakan benang DK Robin warna kuning cerah. Total habis 2 gulung untuk ukuran "Small Adult". Keuntungan pakai benang ini adalah masih oke dirajut meski sudah bongkar-pasang beberapa kali dan hasilnya lembuuuut banget. Saya menggunakan jarum DPN & circular ukuran 5.0mm, disesuaikan dengan test gauge-nya. 

Kalau diringkas, pola ini punya beberapa titik kesulitan yang bisa ditaklukkan: 
  • Teknik magic loop. Pastikan jarum circular anda cukup panjang & cukup lentur ya. 
  • Teknik cable. Untuk kenyamanan, cable needle memang membantu, tetapi pakai DPN juga bisa kok.
  • Pick up evenly, with skipping some stitch. Karena memang jumlah stitch yang tersedia dan yang akan dipick up berbeda. Ada selisih.
  • Twisting yarn untuk talinya. Awalnya agak jiper karena bahasanya agak asing untuk penjelasan bikin tali ini, tapi ternyata setelah diikuti dengan seksama, hasilnya baguus! Bisa rapi jali ala-ala tali pengikat korden. =D
Jadi, simpulannya, merajut pola ini menyenangkan. Pompom raksasa itu juga membawa kesan fluffy dan bahagia. Entah lah ya, untuk saya bikin pompom itu memang bikin hati happy. Coba deh kalau tidak percaya. Selamat berkarya!

Sebelum ditambah tali

cooking

[Resep] Bakpau Andalan

10:06:00

Tampilan bakpau (ulen tangan) sebelum dikukus

Beberapa minggu terakhir saya sedang rajin untuk membuat makanan selingan yang dapat disimpan (dibekukan/frozen). Maklum, bumil sedang suka ngemil. Yang paling sering adalah bakpau isi ayam pedas dan roti canai. Ketika saya post di media sosial, ternyata ada kawan yang penasaran dengan resepnya, maka saya buat post ini.

Resep ini sudah jadi andalan sejak saya mulai belajar memasak di awal perkawinan. Prosentase keberhasilan dijamin 100% selama mengikuti tips-tips dari mbak Endang, si empunya resep. Keterangan langkah demi langkah yang dicantumkan mbak Endang sangat membantu untuk para pemula seperti saya. Memang, setelah beberapa kali membuat resep ini ada beberapa hal yang saya dapatkan seperti bagaimana ragi bekerja, pengaruh pengulenan dan durasi dalam memeram adonan. Monggo, ini link aslinya dari blog mbak Endang. Langsung dipraktikkan ya! =)

Bakpau isi Ayam Pedas 
Resep dari blog Justtryandtaste.com

Untuk 10 buah roti kukus yang besar 

Bahan  dan bumbu isi:
- 250 gram dada ayam atau daging ayam, potong kecil, tipis panjang
- 1 butir bawang bombay, belah dua, iris tipis
- 1 sendok teh minyak wijen
- 1 sendok teh saus tiram
- 1 sendok makan kecap manis
- 1 sendok makan kecap asin
- 5 sendok makan saus sambal botolan
- 4 sendok makan saus tomat botolan (saya kadang menggunakan pure tomat kalengan)
- 1 sendok makan cabai rawit dihaluskan (jika kurang pedas)
- 1/2 sendok teh merica bubuk
- 1/2 sendok teh kaldu bubuk (optional)
- 1/2 sendok makan gula pasir
- 1 sendok makan minyak untuk menumis

Bahan roti:
Bahan starter/biang (A):
- 100 ml air hangat
- 2 1/2 sendok teh ragi instant, pastikan fresh dan cek tanggal kedaluarsa (saya menggunakan Fermipan)
- 130 gram tepung Hongkong atau tepung pau (saya menggunakan tepung terigu protein tinggi, e.g. Cakra Kembar)

Bahan untuk adonan roti (B):
- 370 gram tepung Hongkong atau tepung pau (saya pakai tepung terigu protein tinggi)
- 125 gram gula pasir
- 2 1/4 sendok teh baking powder, pastikan masih fresh
- 5 sendok teh margarine/mentega putih, bisa menggunakan margarine biasa hanya saja adonan pau anda akan berwarna sedikit kekuningan.
- 1/4 sendok teh garam
- 100 - 115 ml air (ketika menggunakan mixer untuk menguleni, saya pakai 150ml air)

Cara membuat:
Membuat isi roti kukus
Siapkan wajan, panaskan minyak. Masukkan potongan daging ayam, minyak wijen, saus tiram, kecap manis, kecap asin, aduk rata. Masak hingga daging ayam berwarna pucat dan empuk. Masukkan bawang bombay, merica, kaldu bubuk, aduk rata. Masak hingga bawang layu. Tambahkan saus tomat dan saus sambal, aduk rata dan masak hingga semua bahan matang dan ayam agak sedikit mengering. Cicipi rasanya, jika kuranga sin tambahkan sedikit garam. Angkat dan dinginkan. 

Membuat adonan roti
Starter/biang (A)
1. Siapkan mangkuk ukuran sedang, masukkan air hangat kuku dan ragi instant, aduk rata hingga ragi larut. Pastikan air jangan terlalu panas dengan mencelupkan ujung jari anda, jika air terlalu panas ragi akan mati. Masukkan tepung terigu, aduk rata & uleni sebentar. Tutup dengan kain dan biarkan selama 15 menit.  (hasil terbaik saya ketika dibiarkan 20-25 menit)

menguleni adonan dengan mixer gigi spiral
2. Siapkan mangkuk besar, masukkan tepung terigu yang telah diayak, tambahkan gula pasir, baking powder dan garam. Aduk rata. Masukkan adonan A (starter/biang saat ini terlihat mengembang dan ketika di buka adonan terlihat berongga-rongga). Tambahkan mentega putih dan air. Aduk dan uleni hingga semua bahan tercampur baik. Tambahkan air sedikit jika adonan terasa terlalu kering dan tercerai berai.

Adonan setelah didiamkan 2 jam. 
3. Uleni adonan hingga kalis dan tidak menempel di tangan. Uleni selama 20 menit. Adonan yang terbentuk halus dan lentur. Bentuk menjadi bola. Olesi permukaan mangkuk bekas adonan dengan sedikit minyak, letakkan bola adonan di mangkuk, tutup dengan kain dan istirahatkan selama 1 - 1 1/2 jam. Adonan akan mengembang lebih dari 2 kali lipat. (Hasil terbaik saya ketika dibiarkan 1.5 jam - 2 jam)


4. Kempiskan adonan, uleni sebentar untuk menghilangkan gas yang terperangkap di dalam adonan. Bagi adonan menjadi 10 bagian (berat @ 100 gram). Atau menjadi 20 bagian dengan berat masing-masing 50 gram. Bulatkan masing-masing potongan. 

5. Ambil sepotong adonan, tipiskan hingga ketebalan 1.5cm (boleh dengan penggilas kayu atau tangan saja). Jangan terlalu tipis karena nanti isian akan mudah merembes. Berikan 1 1/2 - 2 sendok makan adonan isi (porsi takaran tergantung besar kecilnya roti yang akan anda buat). Tarik bagian pinggir adonan ke tengah dan gabungkan hingga semua bagian tepi adonan berkumpul di tengah dan menutupi adonan isi. Tekan ujung adonan dengan jari agar rapat dan tidak terbuka saat dikukus. Posisi roti saat dikukus bisa dua cara: roti di balik dan bagian yang smooth di atas atau biarkan saja seperti saat ini.

6. Alasi setiap bagian adonan roti dengan kertas minyak atau kertas roti.  Lakukan hingga semua bagian adonan dan isi habis. Pastikan adonan selalu tertutup kain saat anda bekerja agar permukaan adonan selalu lembab. Tata adonan di atas meja/loyang, tutupi dengan kain bersih dan istirahatkan selama 15 menit. 

7. Panaskan dandang kukusan hingga airnya mendidih, masukkan adonan roti beserta dengan kertas minyak yang melekat di bagian bawahnya. Tata di dandang jangan sampai berdempetan. Dandang kukusan saya hanya muat 2 roti setiap kali mengukus. Tutup permukaan kukusan dengan kain putih, dan tutup dengan penutup dandang. Kukus selama 15 menit, hingga roti matang. 

8. Matikan api, biarkan bakpau di kukusan agar sedikit mengeras. Angkat dan sajikan. 

Tips

1. Jangan khawatir dengan hasil jadi isian yang terlihat sedikit. Bagi rata isian sesuai dengan jumlah bakpau yang ingin anda buat sebelum mulai menggilas adonan bakpau. Hal ini untuk mencegah "tidak adilnya" isian.
2. Saya menyarankan untuk menggunakan mixer ketika menguleni. Selain agar menghemat tenaga, menguleni 20 menit terkadang membuat orang jiper/mundur duluan dari membuat bakpau ini. Jika kurang 20 menit, tetap jadi sih bakpaunya, cuma teksturnya kurang membal dan cepat keras ketika dingin.

3. Jangan ragu dan segera buat! =D


buku

Anggaran & Buku

17:04:00

Anda pecinta buku? Apakah Anda menganggarkan pos tersendiri untuk membeli buku tiap bulannya?

Ketika saya naik ke kelas 6 SD, saat itu saya baru menyadari bahwa ada orang-orang yang menyisihkan penghasilannya untuk berbelanja buku. Kejadian ini bermula saat saya mengikuti program TeKaT Sayang dari Jawa Pos, semacam homestay antar etnis dimana saya tinggal selama 7 hari di rumah Papi Paulus & Mami Linawati di Bendul Merisi, Surabaya. Di situ pula pertama kalinya saya mengetahui ada keluarga yang begitu cinta & terus-menerus mengajarkan agar menyukai buku, melebihi keluarga saya. 

Di hari pertama saya ikut "hidup" dengan mereka, saya diajak untuk pergi ke Gramedia, toko buku yang bagai surga bagi saya yang hanya kenal toko buku pelajaran di Mojosari atau pojok kios buku bekas di Mojokerto. Tapi, surga yang satu ini bersyarat: butuh uang untuk menukar kenikmatannya. Saya berkali-kali tersenyum kecut ketika membalik buku dan mengetahui harganya. Hari itu hari pertama, saya masih sangat canggung dan hampir tak mungkin untuk meminta dibelikan buku. Saya sempat menyesal untuk tidak menyelipkan sedikit uang dari tabungan yang sudah saya siapkan sebelumnya. Karena peraturan program yang mengharuskan peserta tidak membawa sepeser pun (agar mereka meminta orang tua baru mereka untuk kebutuhan apa saja), saya benar-benar tidak punya uang untuk buku-buku yang mendebarkan hati ini, buku-buku licin mengkilat dalam kemasan. Buku dengan judul yang sejenis biasanya hanya bisa saya jumpai dalam bentuk bekas. 

Mami mungkin melihat binar mata dan senyum masam saya karena tidak lama kemudian beliau meyakinkan saya untuk mengambil buku apa saja yang saya mau, sebagaimana ia kemudian meyakinkan anak-anaknya agar mengambil buku yang dimau. Tetapi hanya buku, bukan yang lain. Yoga, putra bungsu yang berumur sekitar 3-4 tahun mulai merengek melihat mainan yang menarik baginya, tapi Mami memberi pengertian bagaimana buku lebih baik & menarik untuk dibeli. Saya kemudian memilih Jilid pertama dari Lima Sekawan: Di Pulau Harta dan ikut menumpuknya dalam tas belanja Mami. Di kasir, saya hampir melongo melihat kuantitas & angka di mesin penghitung. Di tahun tersebut, belanja "sekedar" buku dalam kisaran ratusan ribu rupiah itu gila bagi saya, hampir-hampir surreal.

Di hari kedua, saya baru mulai memahami ruangan-ruangan di rumah Bendul Merisi itu. Dan lagi-lagi saya takjub dengan kebiasaan membaca di keluarga ini. Terdapat meja nakas di dekat tempat duduk ruang keluarga yang berisi deretan beberapa surat kabar berbeda dalam edisi hari yang sama dan beberapa majalah terbaru. Di keluarga saya sendiri juga berlangganan, tapi ya hanya satu koran. Majalah yang berlangganan ya hanya Bobo saja, untuk saya. Melihat meja yang hampir menyerupai kios koran ini saya berpikir, apa sempat untuk membaca semua ini dalam satu hari? Tapi Papi terbukti selalu membaca seluruh koran sambil menyeruput 2 telur ayam kampung setengah matang sebelum bekerja.

Yang terlintas di benak pertama kali karena kebiasaan keluarga Paulus ini adalah: wah, begini ya orang kaya raya itu, tidak perlu berhemat, bisa membeli buku dan majalah sepuasnya. Tapi sekali lagi pemikiran saya terpelanting setelah menyaksikan bagaimana Mami mengajak putra-putrinya untuk makan di rumah saja dibanding membeli McD (Mami tetap membeli sedikit agar saya dapat mencicipi), bergotong royong mengemas kacang kapri hasil perkebunan yang kemudian dijual di supermarket oleh Mami, memasak bersama-sama. Ternyata ini bukan perkara berhemat atau berfoya-foya, tetapi prioritas. Mami memilih untuk meletakkan buku, majalah, koran sebagai perihal yang penting dan pantas untuk diberi anggaran lebih.

Setelah berumah tangga, saya mulai serius belajar tentang anggaran dan kawan-kawannya. Setelah bereksperimen dengan berbagai model pembagian bujet, beberapa bulan terakhir ini saya menggunakan rasio yang disarankan oleh Li Ka Shing. Artikel lengkap penjelasan beliau dapat dibaca disini.

Secara singkat beliau membagi setiap pendapatan yang masuk dalam 5 kategori yaitu Daily Life : Social+Connection : Study : Holiday : Investment dalam proporsi sebagai berikut 3:2:1,5:1:2.5. Selalu seperti itu untuk setiap pemasukan, kemudian terus berusaha menghabiskan anggaran tersebut dalam porsi yang telah ditentukan. Dalam pengaplikasian pribadi, tentu saya menyesuaikan perbandingan anggaran dengan beberapa kebutuhan yang esensial bagi saya seperti zakat & shodaqoh, dana kesehatan dan tabungan.

Saya menganggap model ini cukup sederhana dan memiliki esensi yang tidak saya temukan pada model yang lain. Misal, ada anggaran Study dimana saya (& mas Rendy) memang harus menghabiskan uang dalam pos itu untuk belajar; membeli buku setiap bulan; mengikuti kursus. Tidak banyak model anggaran yang memberikan perhatian khusus pada “pengembangan diri” segamblang ini. Saya memilih untuk menggunakannya untuk berlangganan tabloid resep masakan dan majalah atau buku merajut untuk meningkatkan kemampuan saya di 2 bidang favorit.

Mungkin tidak semua orang setuju bahwa buku adalah hal yang cukup penting untuk dianggarkan. Sah-sah saja dan tidak perlu dipermasalahkan, karena pendapat tersebut juga beralasan. Menilik masa sekarang, kita bisa mengakses informasi dan pengetahuan melalui internet dengan biaya yang minim. Tetapi saya yakin, -keyakinan yang diiringi cinta buta- bahwa masih ada permata yang terselip di balik buku dengan segala kebanalan yang ia miliki.


=)

buku

Melantur & World Book Day

15:51:00


Siang ini saya akhirnya berhasil nangkring di c2o setelah (suami sih yang membonceng) berjuang di jalanan menghadapi keruwetan kampanye beberapa partai. Tujuan saya ke c2o adalah mengulik beberapa buku yang sudah jadi incaran karena direkomendasi kawan, lalu mencatat hal yang penting & menyusun agar jadi tulisan yang ciamik. Apa daya, saya terkena nikmat nasi padang sebungkus dengan proporsi nasi & bumbu gulai yang pemurah sekali. Di sinilah saya mulai menulis melantur dan menyerah pada buku-buku tadi. =P

Tapi mau tidak mau saya buka juga salah satunya. Barbara Hatley. Javanese Performances on an Indonesian Stage: Contesting Culture, Embracing Change. Alamak, abot nemen rasane. Mata saya mulai kabur karena membaca deretan nama universitas yang biasanya saya temui di ranking top dunia. Aduh. Buku tentang Indonesia kok malah seperti ngece karena kalimat-kalimatnya nggayuh lintang. Tinggi & tak terjangkau.

Saya buka sembari  jengkel, sampai di halaman yang ada tulisan “PERSONAL EXPERIENCE, 1970-90”. Harusnya kalau pengalaman pribadi kan ya tidak terlalu sulit to membacanya. Penulis menceritakan bagaimana ia mulai tertarik dengan Ketoprak, bagaimana ia mulai tertarik dan terikat pada ketoprak.  Sampai pada cerita bagaimana ia mulai tinggal di Yogyakarta untuk memulai penelitiannya. Ia menceritakan bagaimana melewatkan satu malam dengan menghadiri 3 pertunjukan. Hatley menggambarkan dengan detil tempat ia makan malam dengan gado-gado di depan kantor Telkom, dekat Mandala Krida. Berjalan ke Bentara Budaya dimana Jemek (Sapardi) berpantomim malam itu, dilanjutkan perjalanan dengan becak ke arah selatan, di sekitar Keraton, menghadiri jamuan malam dengan pertunjukan tari. Yang terakhir ia menikmati wayang dengan ki Anom sebagai dalangnya. Juga tak jauh dari stadion.

Penjelasan Hatley yang detil membuat memori akan Yogya terputar kembali. Menarik bagaimana  tulisan ini mendadak menjadi intim bagi saya. Bagaimana pengalaman yang ditularkan sebuah buku dapat membuat shared experience terbentuk, termediasi. Semakin membuka lembar demi lembar, saya bertambah penasaran untuk mengajak Hatley duduk bersama di sini, menceritakan besarnya kemungkinan bahwa kami menemui orang-orang yang sama, dengan jarak 12 tahun lewat. Karena ketoprak Tobong yang saya temui di Kalasan juga berasal dari binaan satuan militer di Malang, persis seperti yang diteliti Hatley.

Jika dibilang dunia tak lebih luas dari daun kelor, ya terkadang memang terasa seperti itu. Rantai yang menghubungkan antar manusia sering terasa absurd. Contoh yang tidak jauh-jauh, dari project Ketoprak Tobong misalnya, besar kemungkinan kaket buyut –atau moyang?- saya dan Risang Yuwono, saling mengenal: karena kakek buyut kami sama-sama prajurit Pangeran Diponegoro yang berpisah setelah beliau ditahan Belanda dan babat alas di Kediri untuk melanjutkan keturunan. Menarik ya?

Andai tidak ada sejarah yang dicatat, andai tak ada tulisan yang mendeskripsikan dengan baik, andai tak ada buku yang menularkan pengalaman, maka peradaban manusia pun jauh berbeda. Di bulan April ini, tepatnya di tanggal 23 diperingati World Book Day. Saya jadi ingin menghormati buku dengan menulis perihal buku di kehidupan sehari-hari. Dimulai dengan postingan ini. Hehe.

Yuk, berbagi pengalaman dengan buku! 
=)

hobby

[Resep] Udang Krispi Saus Mentega

10:43:00

Langsung difoto di atas nasi. Laper!
 Kemarin lusa, ketika akan makan malam, saya kebingungan memilih menu. Bahan makanan mulai menipis, tetapi sedang ingin bikin sesuatu yang tidak biasa-biasa, tapi yang cepat pengerjaannya. Rewel ya? Haha. Setelah mencari inspirasi dengan membolak-balik halaman tabloid Koki, akhirnya berjumpa dengan resep Udang Krispi Saus Mentega. Dengan bahan sederhana yang hampir pasti tersedia di dapur, rasa yang dihasilkan identik jika dibandingkan dengan menu Udang Tepung Saus Mentega yang biasa kita beli di restoran Chinese food. Harum jahe dalam sausnya langsung memantik air liur. Ndrodos-ndrodos lah. Hehehe. Sila dicoba, berikut resepnya.

Udang Krispi Saus Mentega
Resep dari Tabloid Koki, edisi 00257 Juli 2013
Tampilan sajian di Koki

Bahan
250gr Udang ukuran sedang, kupas kulit, buang kepala dan sisakan ekor (saya sebaliknya, kepala disisakan tapi ekor dibuang. Lebih gurih & krius-krius)
100gr Tepung bumbu (saya dengan Sajiku tepung bumbu)
2 sdm Tepung beras
1 sdm Tepung terigu protein sedang (merk Segitiga)
1 butir Telur ayam, kocok lepas
½ buah Jeruk Nipis, ambil airnya
2 siung Bawang putih, cincang (halus)
1 cm    Jahe, kupas dan cincang (sangat halus)
40gr    Mentega
2 sdm  Kecap Inggris
½ sdt   Merica bubuk
Garam secukupnya
75ml  Air
Minyak Goreng untuk menggoreng (deep fried, jadi agak banyak)

Cara Membuat:
  1. Perciki udang dengan air jeruk nipis dan lumuri dengan garam. Diamkan selama kurang lebih 5 menit.
  2. Campur tepung bumbu, tepung beras dan terigu. Aduk rata. Celupkan udang ke dalam telur kocok dan gulingkan di atas campuran tepung. Ratakan.(ketuk-ketukkan udang agar tepung rontok sebelum menggoreng, karena sisa tepung akan merusak minyak goreng)
  3. Panaskan minyak, goreng udang hingga matang dan berwarna kuning kecokelatan. Angkat dan tiriskan. Sisihkan.
  4. Panaskan mentega, tumis bawang putih dan jahe hingga harum. Tambahkan kecap inggris, merica bubuk dan garam. Tuang air, aduk rata, Masak hingga mendidih dan mengental.
  5. Masukkan udang goreng krispi, aduk rata. Angkat. Sajikan.

Untuk 2 porsi.

Tips:
  1. Untuk yang suka udang tetap krispi, saus bisa disajikan terpisah.
  2. Masak menu seperti ini bisa diakali agar cepat selesai tapi tidak keteteran. Urutan yang menurut saya efektif: rendam udang >> kocok telur & aduk tepung >> tepungi semua udang >> goreng  sembari mencincang bawang & jahe >> buat saus sambil terus menggoreng. Tidak lebih dari 30 menit selesai.
  3. Jika masih ada sisa tepung, masih bisa digunakan. Saya memasak tahu dengan tepung sisa resep ini. Enak sekali. Jika ingin tahu yang lebih krispi bisa baca resep di sini.
Resep sederhana seperti ini yang cocok untuk pemula agar lebih semangat memasak. Coba juga sekali-sekali bandingkan harga 1 porsi masakan yg sama di resto, bisa 2-3 kali lipat dari biaya masak sendiri! *cheapskater* *ha!*  =D

hobby

Vest for Hubby and Its Yarn

12:15:00


Proudly present Hubby's vest by me!
 After 3 months passed, finally the vest that I knitted for my hubby was done! Yeeaaaaayyyyy! It's my longest journey in knitting project anyway [till now], so you probably could imagined how my feeling was. I smiled ear to ear when he finally wore it to go to work. I received many questions and compliments: "How long you did the vest?", "how could you keep the patience for doing big project?", "how long you learned knitting to be ready to knit the big project?", and so on. Somehow, I really want to write how you could keep the pace and curiosity in knitting, but since I am a very beginner and only learned since 4 months ago, I feel that I am not qualified to do so. Then, today, I just want to tell you how the story behind this knit project. =D


back-detail
First thing first, asking the people that you will knit what s/he want. I asked my hubby, what piece of knitting that he really want. He said, something wearable, not too difficult to me to knit and looks good on him. I've a thought for making him a sweater, like what mbak Ajeng did here, but I realized that how to seam the sleeves and other part will be a tough challenge to me. Then I chose vest and start looking some patterns and my eyes got stuck to this! It looks classic yet do-able, because I've already learned cable knitting before. My hubby also liked it directly, so we move to another step: YARN!



Yarn is quite a tricky part of knitting, in my own opinion. It's the main ingredient of your knit-project, then almost every aspect will relate to yarn. At a glance, I looked for the price of the same yarn as cited at the pattern, but then the budget will go gaga. That's why I should do a bit research for yarn-hunting. Most of the knitters who had the pattern used import yarn, I simply can't afford the same yarn with the same price in Indonesia, then I narrowed my preference to local yarn. If I talked about local yarn, then I turned my sight to Poyeng first. Perhaps you've already read my previous post about me introduced to knitting by met this cute hobby shop, since then it's hard to find the rival of the same kind shop. Poyeng had their signature yarns and the latest [at June, it just came out] was Hand-Dyed Rayon. The colors were lovely! Especially for the Vintage series, I just want to grab them all. Huhuhu. My husband let me chose the color, and after a deep thinking process, I took maroon. In several times of buying, for total I bought 10 skeins, each 100gr. The vest only took almost 7 skeins though. And in the end, I bought the Light Magenta color too, 2 hanks and 2 skeins. Please, it's simply irresistible. =P




Once I got the yarn, I made the gauge, but then I realized that the pattern wouldn't match. I had to double it up to match the gauge mentioned there. What I feel relieved was, even though I did double-ply-ing, but the Hand-dyed Rayon just keep smooth and fitted perfectly to the pattern. I was afraid it will look awkward and not good in his appearance, but the result turned out very nice. The Vintage series also had irregular pattern and color gradual, it helps showing the smooth texture of the knitting. The only thing that surprised was the dye color of the yarn faded to my bamboo needles, huhuhu. My needles turned red-ish now. It seems they need to evaluate more in that, but for the price I paid, it still made me content. =)



If you're missing your favourite colour or always left empty handed in Poyeng's yarn, it's a sign for you that you have to be keep-updated. Follow the owner's twitter account, its Facebook page and their website. A little tips anyway, try to diligently click here, my happiness shortcut for their giveaway. Hihi. They usually give knitting tidbits that always encourage us to keep knitting on.

For finishing this project, somehow it was like a milestone for my knitting journey. It challenges my resilience, patience and procrastinating habit. Knitting sometimes just like a one side-started war with myself, with the needles as a weapon, pattern as a tactic map, yarn as the battlefield. The winning comes very sweet & delightful in the end. It is the reason why I want to knit more and more.

Quoting an old Norse-Viking saying: 
"From his weapons on the open road, no man should step one pace away." 
Keep knitting fellas, and Hurrah!
 

cooking

A Sweet Fever

10:28:00

Just like a fever, it's been 3 weeks in a row, am keep baking this type of cake: Chiffon Cake. Seven pans in 3 weeks, in a type of cake, quite a record, isn't it? I've tried Greentea, Banana, Vanilla and perhaps many flavors later. It's easily became our favorite because of the particular texture when you tasted, it's really soft, a texture that everybody loved. 

The first trial went by green tea flavor, I inspired by Happy Home Baking blog post, where she made the cake beautifully. She took the recipe from Okashi Treats: Sweet Treats Made With Love by Keiko Ishida. I thought the recipe quite famous, because I've read mbak Wati from http://wati-cookery.blogspot.com/ already made it too. I copied the recipe below, for 7" pan. I personally doubled the ingredients, because the pan which my mother gave me was 10".


Green Tea Chiffon Cake

Ingredients:
(makes one 7" cake)

3 egg yolks (use large eggs)
10g caster sugar
35g vegetable oil (I used canola oil)
50g fresh milk (original recipe calls for water)
45g cake flour
6g matcha green tea powder

3 egg whites (use large eggs)
45g caster sugar
6g corn flour

Method:

  • Place egg yolks in a mixing bowl. With a manual hand whisk, whisk the yolks a little. Add in sugar and whisk to combine. Add in vegetable oil gradually, whisk to combine. Add the fresh milk, whisk to combine. Sieve over the flour and matcha powder, whisk till the flour is fully incorporated. Do not over mix. Set aside.
  • Mix the 45g caster sugar with the corn flour.
  • In a clean, dry mixing bowl, beat egg whites with a handheld electric mixer on low speed until mixture becomes frothy and foamy. Add half of the sugar and corn flour mixture and turn to high speed and beat the mixture. Continue to add in the remaining sugar mixture and beat until the egg whites reaches the soft peak stage.The soft peak stage is reached when the peaks of the whites curl over and droop slightly. The egg whites should appear smooth and glossy. (Do not over beat the whites still stiff, it is better to beat the whites still soft peaks for easy folding with the yolk batter.)
  • Add the beaten egg whites into the egg yolk batter in 3 separate additions, each time folding gently with a spatula until just blended.
  • Pour batter into a 7" chiffon tube pan(do not grease the pan). Tap the pan lightly on a table top to get rid of any trapped air bubbles in the batter.
  • Bake in pre-heated oven at 180 degC for 30 mins, or until a toothpick inserted into the centre comes out clean, when lightly pressed the cake will spring back. Invert the pan immediately and let cool completely before unmould. To remove the cake from the pan, run a thin-bladed knife around the inside of the pan and the center core. Release the cake and run the knife along the base of the pan to remove the cake.
Green Tea Chiffon Cake. =9

For the second trial and later, I choose to use cream of tartar, because I love how it could constructed the cake perfectly. From all baking, my favorite goes to banana chiffon cake. I keep using recipe from Happy Home Baking, you could check it here. Over-ripe bananas give sweet flavor and nice aroma. And it gives us happy feeling too!  =D

How the cake does anti-gravity yoga. Hehe.