lesson

Saya & Vitiligo

00:32:00



"Comfortable in your own skin" adalah kalimat yg realisasinya butuh perjalanan panjang bagi saya. Tumbuh dengan vitiligo sejak SD membuat saya selalu merasa "ada yg salah" & "ada yg kurang" dari diri ini. Meski bisa disebut "beruntung" karena vitiligo saya berada di kaki & bukan di area yg banyak terekspos tapi ya tetap saja "Vinka panu-an" & olok-olok sejenis mampir di telinga. I camouflaged my insecurities with arrogancy (Panuan ngene tapi ga bodo koyok awakmu 😀).
⠀⠀⠀⠀⠀⠀

Secara genetik, kulit saya persis seperti keluarga dari Ibu, mudah muncul flek hitam, tahi lalat dan semakin menua spot hitam itu semakin melebar, beberapa akan menjadi seperti tompel. Saat SMA, mungkin karena hormon dan belum tahu bagaimana merawat kulit, flek, milia, tahi lalat berlebih pun panen. Yg konyol adalah pengalaman "di-ospek" karena dinilai "aneh" pakai gambar tahi lalat dibentuk pola seperti bindi-nya orang India. Info ini saya dapat dari senior yg keceplosan "Lho Vin itu tahi lalat beneran? Padahal dulu kamu masuk list PENA karena dikira dandan pake bikin gambar tahi lalat itu." #eaaa⁣⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀

⁣⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Kalau ada yg bisa diambil pelajaran dari urusan kulit yg rumit & tak henti-henti ini adalah konsistensi & kegigihan selalu terbayar lunas. Tahun kemarin saya kena penyakit autoimun lagi yg membuat kulit di beberapa bagian sangat kering, gatal & patchy. It takes months to be solved, but it's done. Pengobatan vitiligo berlangsung selama kelas 3 sampai akhir SD. My parents are the truly champion, mengantarkan ke dokter sampe larut malam, nunggu obat diracik, dilakukan bertahun-tahun & tak lupa menyuntikkan rasa percaya diri kepada saya. Kadang saya pun sempat lupa mengoleskan salep & minum obat. But I won't blame myself just for a day or two skipping the medicine/skincare for now. Slow & steady wins the race.⁣⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
⁣⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Shout out of love to all family who lives with vitiligo or other skin related disease. Cheer up!⁣

journey

Mengurus Visa UK Tier 4 Student (General), Dependant Partner & Child 2019

17:11:00

Saya mengurus visa Tier 4 suami sekaligus saya dan anak di pertengahan April & Mei 2019. Ada berbagai tipe dari visa Tier 4, untuk suami adalah Tier 4 Student-General (karena sebagai pelajar). Untuk saya tipe visanya adalah Tier 4 Dependant Partner, sedangkan untuk Hayu adalah Tier 4 Dependant Child. Sebelumnya saya membaca beberapa “tutorial” atau sharing pengalaman yang sudah-sudah dari blog-blog di bawah ini:

UK Tier 4 (General) Student Visa by PPI Leeds

Tips Anti Gagal - Membuat VISA UK Tipe Tier 4 (General) Dependant Partner by Gustina Buchu

Mengurus Visa Student (Dependant) UK by Annisa Wibi

Ada perbedaan mendasar antara ulasan blog di atas dengan yang saya alami, yaitu karena per 8 April 2019 situs dan sistem yang digunakan untuk mendaftar visa berbeda. Perbedaan sistem yang paling mencolok adalah jika dahulu aplikasi keluarga/dependant dimasukkan bersama-sama (pengisian formnya), sekarang dilakukan secara individual. Kemudian besar bilangan untuk asuransi kesehatan per orang naik 100% dibandingkan periode sebelumnya (sebelum 8 April 2019). Untuk lebih lengkapnya saya rinci di bawah ya.

Langkah pertama yang kami lakukan dulu adalah riset, apa saja syarat-syarat yang diperlukan untuk apply visa Tier 4. Kalau saya merinci dalam bagan di bawah ini untuk lebih mudah checklistnya. 


No
Dokumen
Biaya
Skala Prioritas
1
Dokumen akademis
(LoA, CAS, University confirmation for family)
LoG dari pemberi beasiswa
0
1
2
Dokumen Keimigrasian
Paspor
Terjemah dokumen
Visa Application
Health Insurance
Biometric
Deposit
Tes TBC

IDR 355.000 (x3)
IDR 60.000 (x6)
GBP 348 (x3)
USD 1428 (x3)
USD 55 (x3)
GBP 470x9 bulan (x2)
USD 80 (x2) + USD 40 (x1)

2
5
5
3
6
2
5
3
Tempat tinggal
Unipol Flat for Family
Deposit Fee
2x Monthly Rent


GBP 420
GBP 628 x 2 bulan


4
4

Dari tabel di atas, teman-teman bisa membaca bahwa prioritas kami setelah paspor  dan dokumen akademis adalah untuk memenuhi biaya yang paling besar dulu, hehe. Untuk paspor jelas karena paspor adalah identitas utama untuk mengurus hal-hal lain di luar negeri atau keimigrasian. 

Baik, mari kita bedah satu persatu ya. Untuk dokumen akademis yang perlu diurus dengan Universitas tempat kalian mendaftar (main applicant/pendaftar utama) adalah LoA (Letter of Acceptance), CAS, Surat konfirmasi/pernyataan dari Universitas bahwa mengijinkan keluarga untuk ikut. Dokumen ini karena bersifat tergantung dengan bagian administrasi Universitas, jadi ada baiknya diurus terlebih dahulu. Karena kita tidak tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan. Biasanya dokumen akademis ini saling dibutuhkan dengan penyedia dokumen penting lainnya. Misal, untuk mendapatkan Letter of Acceptance maka harus sudah mendapatkan persetujuan supervisor untuk membimbing disertasi (sesuai pengalaman kami, ini untuk tingkat PhD). Kemudian setelah mendapatkan LoA, surat ini bisa diajukan ke pemberi beasiswa untuk mendapatkan LoG, dan seterusnya. Konfirmasikan betul kepada pihak administrasi kampus & pemberi beasiswa masing-masing agar dapat menentukan alur prioritas, surat mana yang harus dipenuhi persyaratannya terlebih dahulu.

Deposit di poin nomor 2 adalah sejumlah uang yang harus ada di dalam rekening pendaftar/pendaftar utama ketika mendaftar visa, untuk menjamin biaya hidup dependant selama di Inggris. Jumlahnya berbeda untuk London atau di luar London. Leeds ada di luar London jadi jumlah yang harus dipenuhi adalah GBP 695 (biaya hidup minimal per bulan per individu) dikali 9 bulan (jumlah maksimal deposit untuk yang akan tinggal lebih dari 1 tahun, untuk kurang dari 1 tahun dikalikan 3 bulan saja). Untuk penerima beasiswa LPDP terdapat Family Allowance yang tertera di dalam LoG (Letter of Guarantee) sebesar 25% dari Living Allowance (GBP 1050) yang berarti sebesar GBP 255. Itulah sebabnya dalam tabel saya tuliskan GBP 470, karena itu jumlah yang tidak ditanggung oleh pemberi beasiswa (LPDP). Jadi total deposit yang harus berada dalam rekening utama adalah GBP 470 x 9 bulan x 2 orang (saya & Hayu). Mengapa Pak Rendy tidak harus ada deposit? Karena telah dijamin Living Allowance oleh LPDP dan jumlahnya sudah melebihi dari standar biaya hidup di Leeds.

Jumlah deposit ini adalah pos pengeluaran biaya terbesar. Mengikuti tips “pendahulu” yang lain, deposit ini bisa juga dicapai dengan pinjaman, ke keluarga misalnya, ketika sudah sampai di UK bisa langsung dikembalikan. Tips lain untuk screening keuangan ini adalah dengan mengumpulkan semua “harta kekayaan” di satu rekening saja dari pasangan suami istri, dalam hal ini kami menyatukan di rekening pak Rendy. Tips berikutnya adalah meski record rekening tabungan yang diminta adalah 28 hari terakhir dari pengajuan visa, tapi ada baiknya dana untuk deposit mulai dimasukkan bertahap dari 2-3 bulan sebelum mendaftar visa. Hal ini bertujuan agar tidak melonjak drastis di sebulan terakhir dan bisa menimbulkan pertanyaan di keimigrasian (dari mana dana tersebut berasal, apakah uang itu bisa digunakan oleh pendaftar visa, dst).

Lanjut di prioritas 3 di tabel kami yaitu Health Insurance. Mulai dari setahun sebelumnya kami sudah browse persyaratan apa saja dan biaya sebesar apa yang harus disiapkan. Seperti saya ungkapkan di atas, kenaikan biaya asuransi kesehatan 100% per 8 April 2019 (kira-kira 2 minggu sebelum kami mengajukan visa) ini bikin “panas” otak saya dan pak suami. Campur mbribik juga karena selisih 20juta yang seharusnya jadi “bantal pengaman” kami ketika tinggal di Leeds harus direlakan agar dapat membayar Health Insurance saya dan Hayu. Jumlah USD 1428 per orang itu muncul dari pengisian form di link ini, yaitu untuk asuransi kesehatan selama 3 tahun kami tinggal. Kalian bisa mengisi sesuai dengan rencana lama tinggal di UK dan keterangan dasar lainnya.

Prioritas 4 bagi kami adalah tempat tinggal (awal) bagi kami. Sebelumnya kami sudah melakukan riset untuk menyewa apartemen/rumah secara mandiri. Ternyata untuk menyewa mensyaratkan kami untuk melihat langsung (viewing) kemudian memiliki riwayat tinggal/sewa sebelumnya atau memiliki penjamin yang merupakan warga negara UK (guarantor). Dari proses viewing hingga deal antara penyewa dan landlord bisa memakan waktu beberapa hari. Jika kami tinggal di hotel dulu tentu menguras kantong, begitupun dengan B&B masih sangat besar biayanya. Akhirnya kami berusaha untuk menghubungi Unipol, penyedia akomodasi yang dimiliki oleh kampus University of Leeds. Biasanya antrean untuk mendapatkan flat di Unipol cukup panjang, tapi Alhamdulillah hanya dalam waktu 2 minggu kami sudah bisa mendapatkan unit di sini. Jika dibandingkan dengan harga sewa property di Leeds, harga di Unipol cukup tinggi. Tapi banyak kemudahan-kemudahan dalam “seal the deal” seperti uang deposit fee yang bisa ditransfer dulu, kemudian tidak butuh guarantor atau riwayat sewa sebelumnya. Rata-rata universitas di sini memiliki akomodasi masing-masing, bisa ditanyakan terlebih dahulu karena proses sewa yang pasti lebih mudah dibandingkan menyewa mandiri. Hal ini penting agar kalian tidak bingung untuk tinggal di mana ketika sampai di UK. Oh ya, di tabel tertera kalau kami harus membayar 2x sewa bulanan. Ini persyaratan tentatif, jadi tiap penyedia akomodasi pasti punya persyaratan masing-masing. Sila dicek dan ditanyakan dengan detil agar tidak ada biaya yang terlewat untuk disiapkan.

Prioritas berikut adalah “gong-nya”, pendaftaran visa. Inilah perjuangan sebenarnya karena di sini nasib kami bisa tinggal bersama untuk 3 tahun berikutnya ditentukan. Kalau teman-teman melihat lagi di tabel, ada 2 hal lain yang saya tulis dengan nomer prioritas yang sama yaitu terjemah dokumen dan tes TBC. Dokumen yang perlu diterjemahkan ini adalah dokumen legal persyaratan yang belum ada terjemah bahasa Inggris di dalamnya, seperti: Surat Nikah, Kartu Keluarga, Akte Kelahiran. Terjemahan harus melalui penerjemah tersumpah dimana hasilnya adalah hasil terjemahan dengan kop surat & tanda tangan dari penerjemah. Terdapat list penerjemah mana saja yang diakui oleh UKVI dan dapat kalian lihat di sini. Untuk tes TBC yang diakui oleh UKVI adalah cabang RS Premier yang dikelola oleh Ramsay Healthcare Management. Untuk tes TBC ini hanya memiliki waktu berlaku 6 bulan saja, jadi sila diperhitungkan dengan baik jarak waktu antara tes TBC dan applying visa. Biayanya berbeda untuk orang dewasa & anak-anak karena untuk anak tidak diperlukan X-ray. Biayanya juga fluktuatif tergantung kurs, jadi lebih baik langsung telpon ke masing-masing RS berapa besarannya yang terkini.

Ketika mendaftar visa via online, seperti saya kemukakan di awal post, bahwa pengisian form untuk main applicant & dependant dilakukan secara individual atau terpisah. Saran kami adalah main applicant dulu yang didaftarkan, karena dari situ akan mendapatkan GWF number, semacam nomor registrasi, yang nanti akan diminta ketika mendaftar visa untuk dependant. Kalian tidak harus menyelesaikan seluruh form dalam sekali waktu, jadi bisa disimpan dan dilanjutkan kemudian. Untuk mengecek apakah kalian eligible atau layak mendaftar visa, ada juga semacam tes singkat untuk mengetahui visa tipe apa yang berlaku untuk kalian, bisa langsung klik di sini. Untuk mengecek berapa biaya visa kalian (berbeda tergantung tipe visa yang kalian apply) bisa klik di sini. Sedangkan untuk mendaftar visa, kalian bisa klik di sini.

Setelah form visa komplit dan submitted, kalian akan mendapatkan email otomatis dari UKVI yang menyatakan pembayaran & pendaftaran formulir visa kalian telah diterima. Setelah itu akan ada poin-poin yang harus dipenuhi yaitu tes TBC, mengatur tanggal untuk perekaman data biometri (Biometric ) sekaligus penyerahan/scan dokumen. Hasil tes TBC nanti adalah salah satu dokumen yang wajib diserahkan saat rekam biometri.  Setelah tanggal perekaman biometri diatur, kalian akan mendapatkan email resmi undangan untuk perjanjian rekam biometri. Jamnya spesifik & ketat ya, jadi usahakan datang 15-30 menit sebelum jam yang tertera. Oh iya, ada tawaran layanan SMS untuk progress visa sebesar 30ribu rupiah di web VFS (ketika teman-teman daftar appointment). Saya dan suami mendaftar & membayar untuk layanan ini, tapi tidak pernah mendapatkan SMS. Jadi teman-teman sebaiknya skip saja.

Kalau teman-teman memperhatikan tabel di atas, untuk poin biometri saya menuliskan biaya sebesar USD 55. Hal ini dikarenakan saya & keluarga berdomisili di Sidoarjo, maka kami memilih tempat rekam biometri di Surabaya (kantor VFS cabang Surabaya). Jika di Jakarta, kalian tidak dikenakan biaya ini. Di Indonesia sendiri terdapat 3 tempat rekam biometri yang bisa dipilih yaitu Jakarta, Surabaya dan Bali.
Oh ya, ada celah keuntungan dalam perubahan sistem pendaftaran baru yang dilakukan secara individual ini yang kami manfaatkan yaitu “memutar uang”. Jadi setelah visa pak Rendy disetujui, kami segera mengajukan reimburse ke LPDP, baru kemudian digunakan untuk membayar & mendaftar visa untuk saya & Hayu. Jika lancar, sebenarnya proses visa tidak makan waktu lama, standarnya 15 hari kerja setelah rekam biometri sudah mendapat keputusan. Untuk visa pak Rendy tepat 15 hari kerja setelah rekam biometri, visa sudah sampai di rumah Sidoarjo. Hanya saja untuk saya & Hayu, karena berbarengan dengan libur lebaran & juga peak season untuk liburan wisatawan dari Indonesia maka hasil visa mundur sampai lebih dari 2 minggu (cerita lengkapnya ada di sini).

Semoga penjelasan ini sedikit membantu teman-teman yang tengah menyiapkan pendaftaran visa ya. Jika ada yang ingin ditanyakan, monggo langsung comment saja. Selalu semangat!

journey

Pertanyaan-Pertanyaan tentang Kepindahan Kami

15:25:00

Beberapa hari lalu ada yang bertanya, mengapa kami harus berpindah ke Leeds? Apakah karena pak Rendy sekolah lagi? Hehe, ya, saya tidak menjelaskan ini di postingan sebelumnya. Betul, pak Rendy sedang menempuh studi lanjutan di sini. Mengapa harus ikut semua? Mengapa tidak Bapaknya saja yang berangkat? Butuh biaya banyak kah? Apakah tidak takut? Bagaimana dengan sekolah Hayu? Apa tidak kasihan dengan Hayu yang harus beradaptasi? Kira-kira itulah pertanyaan-pertanyaan yang paling banyak saya dapatkan dari kawan & kerabat ketika mengetahui rencana kami untuk berpindah ke Leeds. 

Pertanyaan awal adalah yang paling mudah dijawab: Mengapa harus ikut semua & tidak hanya Bapaknya saja yang berangkat? Karena kesepakatan. Haha. Sebelum saya menjalin komitmen dengan suami, kami sudah ngomong ngalor-ngidul jauh sekali ke depan yang menghasilkan beberapa kesepakatan mendasar di antara kami berdua. Salah satunya adalah no living apart/long distance marriage. Itulah mengapa dulu sejak awal, tepat seusai pernikahan saya langsung ikut ke Jogja, ketika pak suami mengambil master. Tentu setiap pilihan ada konsekuensinya. Misal, saya tidak memilih karir yang mengharuskan ikatan kedinasan, mempersiapkan tabungan lebih karena harus siap ongkos hidup yang lebih tinggi, dst. Menurut kami, konsekuensi ini sebanding dengan rasa damai & ayem ketika kami bersama-sama setiap harinya. 

Apakah butuh biaya banyak? Jujur, iya, hehe. Meski banyak versi kami belum tentu sama ya dengan versi teman-teman pembaca. Jawaban ini sepertinya akan saya bahas di postingan lain karena kebetulan ada kawan yang meminta informasi rinci, sebab berencana untuk membawa keluarga juga ketika lanjut studi.  

Apakah tidak takut? Takut, sedikit. Was-was, tak berhenti kepikiran tapi di saat yang sama juga senang dan tertantang. Bagaimana dengan sekolah Hayu? Hayu tentu akan bersekolah di sini, bukan suatu masalah. Apa tidak kasihan dengan Hayu yang harus beradaptasi? Hm, saya yakin bahwa proses adaptasi ada tantangan masing-masing, tidak hanya untuk Hayu tapi juga saya & suami. Saya percaya kami bisa mengatasinya, termasuk tentang adaptasi sekolah Hayu. 

Tentang sekolah Hayu, ada yang menarik karena di saat yang bersamaan di tanah air sedang cukup riuh protes pendaftaran sekolah dengan cara zonasi. Di sini, kami pun mengalami hal yang sama karena usia Hayu 4 tahun sehingga masuk di tingkat Reception dan pendaftarannya pun tersentralisasi diatur langsung oleh City Council atau Dewan Kota. Apa tidak ada sekolah favorit? Ada, ada ranking penilaian masing-masing sekolah yang jelas terpampang & bisa diakses publik kriterianya apa saja. Tapi apa tidak rebutan? Ya tentu ada persaingan ketat rasio pendaftaran di sekolah “unggulan”, tapi sekolah juga sudah memiliki kebijakan atas indikator prioritas apa yang digunakan untuk menerima siswa. Saat ini kami masih dalam tahap menunggu “penawaran” resmi dari sekolah, jadi saya ingin menyelesaikan seluruh proses dulu sebelum bercerita selengkapnya tentang pendaftaran sekolah Hayu. Semoga nanti bisa menjadi sudut pandang yang segar dan gagasan alternatif sehingga pembaca tidak semata-mata ngotot di pro atau kontra atas sistem zonasi. 

Semoga bisa menjawab pertanyaan di benak kalian. Cheers!