0
comments

Friday, 27 November 2015

#dupeyarn

Pernah dengar dupe yarn, benang yang serupa tapi tak sama?

Kalau teman-teman penggemar atau pemerhati perkembangan tata rias, pasti lumayan akrab dengan istilah dupe dalam perkosmetikan jaman sekarang. Utamanya dengan merek-merek impor dari luar Indonesia. Sebut saja untuk lipstick, kita bisa cek instagram @dupethat atau website-nya yang melampirkan puluhan (bahkan ratusan) warna lipstick yang dioles, dicoba, dibandingkan satu sama lain untuk mengetahui apabila ada kemiripan, kekurangan dan karakteristik yang membuat lipstick tersebut layak dibeli.

Bagaimana dengan benang? Selama ini kalau benang impor, kita terbantu dengan yarnsub misalnya yang membandingkan dengan teliti dan rinci (system checklist point & prosentasenya itu membuat saya kagum, aduh enak betul ya, tak ada merek yang A ya B aja, wong ga beda jauh!), bahkan sebelum kita pernah memegang benang-benang tersebut. Penjualan & pembelian via online tentu sangat terbantu dengan situs semacam ini, karena ada ulasan serta penjelasan yang detail sehingga mempermudah keputusan pembeli atau informasi yang diberikan penjual juga semakin lengkap.

Itu benang impor, kalau benang lokal? Nah, ini yang bikin gemas-gemas jengkel. Sejauh pengalaman saya yang cekak dalam merajut dan merenda, benang lokal seringkali “gundulan”, tanpa label tentang komposisi penyusun benang, berat/klas benang, gauge/tension, jarum yang disarankan dan lot pewarnaan seperti layaknya label benang impor pada umumnya. Ada sih yang cukup lengkap seperti benang signature dari Poyenghobby, tapi ya sejauh ini cuma Poyeng saja. Belum nemu contoh yang lain. :’D

Dari kegelisahan & keresahan (tsah!) itulah saya pengen memulai untuk bikin review benang yang telah saya bikin swatch-nya. Jadi paling tidak ada bayangan atau hitungan kasar untuk disesuaikan dengan proyek-proyek yang ingin dimulai oleh teman-teman. Saya juga ingin teman-teman mengalami perasaan yang sama seperti ketika saya mencoba dan dapat jackpot: benang lokal yang ternyata “rasanya” persis kayak benang impor. Saya beberapa kali sudah menemui benang yang “Loh, ini kan persis benang impor X!”. Atau ada juga benang impor dari negara berbeda, dengan bahan penyusun yang beda, harga juga beda, tapi hasil ketika dirajut bisa miriiiiip banget.

Saya ingin mencoba benang sebanyak yang saya bisa, tapiii… karena belum jadi milyuner, daya beli yang terbatas ini juga bisa jadi kendala. Itulah sebabnya saya juga menjual benang-benang yang saya temukan dupe-nya. Tapi jual benang memang tidak seperti jual beras. Tidak semua orang butuh benang & satu orang tidak mungkin beli benang sehari 3 kali, ya kan? Jadi niatan saya ini masih sangat membutuhkan bantuan dari teman-teman. Kalau ada yang berminat untuk urun rembug, urun benang, yarn swap, atau provide yarn test, boleeeeeeh banget lhoo.

Urun rembug kayak apa? Bisa dengan kasih info saya: eh Vin, aku pernah coba benang A, beli di Z, kayaknya mirip dengan benang D yang beli G, coba gih. Info seperti ini bisa membantu saya untuk bikin watch-list, jadi kalau duit sudah ngumpul ga bingung mau coba benang yang mana.

Bisa juga yang jualan benang, kalau males bikin swatch, bisa saya bikinkan. Yarn test yang di-provide oleh penjual tertentu pasti akan mencantumkan si penjual/provider dengan jelas.

Lho, katanya kamu juga jualan dari benang yang kamu tes Vin? Terus gimana dong posisi penjual yang benangnya kamu tes tadi? Ya gakpapa, penjual tetap dicantumkan, saya juga bisa jual benang yang sama, teman-teman perajut bisa pilih beli di mana. Lumayan, jadi ada pilihan untuk beli di tempat yang terdekat dari teman-teman (bisa hemat ongkir kalau dekat! =D). Toh, paling-paling saya juga kulakan di penjual tersebut. Hehehe. No worries, rejeki ga bakal ketuker. ;)

Kalau yarn swap gimana? Ya tuker-tukeran benang: Vin aku punya benang A, kayaknya belum pernah kamu swatch, mau ga? Tuker benang yang menarik/oke buat topi atau blablabla dong. Kita bisa ngobrol biar dapet best deal buat kedua belah pihak yaa.

Aduh, ga usah ribet. Nih aku punya benang sekeranjang nganggur, sok atuh di-swatch semua! Naaaaaaaaaaaaaaahhh, ya ini yang ditunggu-tunggu. Hehehe. Untuk teman perajut yang berjauhan dari domisili saya, apalagi yang nyumbang gini, saya mau banget tanggung ongkos kirimnya. =D

Di postingan selanjutnya, saya akan cerita benang yang sudah saya swatch. Yang pengen urun rembug atau dukungan yang lain bisa komen di bawah atau email di vinkamaharani@gmail.com. Happy knitting & crocheting, fellas!


Disclaimer: Tentu setiap orang memiliki gaya & tarikan tertentu dalam merajut, yang mempengaruhi hasil rajutan. Saya berusaha untuk memberikan info rerata atas benang tersebut yang bersifat umum untuk mempermudah kalkulasi serta kesesuaian benang untuk proyek yang ingin dimulai. Saya, seperti halnya anjuran yang tertera di tiap-tiap pola rajutan, menyarankan: take time to check gauge. Terima kasih. =)
0
comments

Monday, 23 November 2015

Percakapan Kami

Istri    : Aku ga saged kentut. =(
Suami : Opo'o? Masuk angin ta?
Istri    : Ga ngerti. Kudu mencri sisan ketok e.
Suami : Enek mules e?
Istri    : Sithik, tapi dereng kudu (pup). Saiki ya, pertanyaan e "Wis pup dereng?" Lek biyen lak         SMS "Km lg apa?" "Udh maem blm?" Hahaha.
Suami : Saiki kode-ne bedho. "Buk, rubudku ga enak." Hahaha.


=P
0
comments

Monday, 16 November 2015

Doa untuk Mereka

Emak:...kalau sekarang sudah waktunya minta didoakan anak saja. Aku samean dongakne terus nggih..
Saya: Nggih mak, mesti takdongakne. Dongaku tiap mantun sholat kuwi Ya Allah, sayangilah bopo ibu & mama papa melebihi bagaimana mereka menyayangiku. Berikanlah mereka kesehatan, panjang umur, umur yang barokah serta rezeki yang barokah..
Emak: Amin..
Saya: Wonten sing kirang tah Mak? Mboten nopo-nopo (disampaikan) mangke taktambahi.
Emak: Mboten, ga kurang Nak.

Beliau memejamkan mata sejenak.

Emak: Oh tulung ditambahi.
Saya: Nopo Mak?
Emak: Jika Kau ambil, Ambillah dengan khusnul khotimah ya Allah.
Saya: *menghela nafas* Amin ya robbal 'alamin.

Lalu air mata beliau meleleh.

0
comments

Thursday, 5 November 2015

[Review Pattern] #KALPapiput : Neon Ski Bonnet by Lacey Volk

*dalam tulisan ini banyak istilah rajut-merajut. Bagi yang penasaran, boleh bertanya lho. Shoot me the question at comment! =D



Wah, senang sekali rasanya bisa menyelesaikan rajutan dalam KAL atau Knit ALong. KAL biasa diadakan oleh para perajut dimana mereka bersepakat untuk menyelesaikan satu (atau dari rangkaian karya desainer tertentu) dalam rentang waktu yang ditetapkan. Saya seringkali kurang percaya diri untuk dapat berkomitmen menyelesaikan project dalam waktu yang terbatas, padahal rentang waktunya juga tidak terlampau ketat. Tapi, karena sedang menjalankan discipline fitness, saya merasa tertantang untuk dapat bergabung dalam KAL yang diadakan oleh Papiput Shop // pemiliknya Mbak Amelia Putri. Apalagi dalam pola ini ada beberapa teknik yang ingin saya pelajari tetapi belum kesampaian. Hehe. 

Saya memulai cast on pada tanggal 20 November 2015. Kesulitan yang menguji keteguhan niat langsung datang: jarumnya nggak cocok. T_T Dalam pola, terdapat teknik magic loop yang disarankan untuk digunakan (agar lebih mudah), eh ternyata jarum circular saya yang sesuai gauge kaku banget & kurang panjang. Walhasil harus bersabar pakai DPN dan merajut pelan-pelan. Setelah ujian tentang jarum, rajutan relatif lancar. Saya memang beberapa kali mengulang proses pick-up, karena belum pernah melakukannya sebelum ini. Hitung-hitung ongkos belajar sih. 

Saya menggunakan benang DK Robin warna kuning cerah. Total habis 2 gulung untuk ukuran "Small Adult". Keuntungan pakai benang ini adalah masih oke dirajut meski sudah bongkar-pasang beberapa kali dan hasilnya lembuuuut banget. Saya menggunakan jarum DPN & circular ukuran 5.0mm, disesuaikan dengan test gauge-nya. 

Kalau diringkas, pola ini punya beberapa titik kesulitan yang bisa ditaklukkan: 
  • Teknik magic loop. Pastikan jarum circular anda cukup panjang & cukup lentur ya. 
  • Teknik cable. Untuk kenyamanan, cable needle memang membantu, tetapi pakai DPN juga bisa kok.
  • Pick up evenly, with skipping some stitch. Karena memang jumlah stitch yang tersedia dan yang akan dipick up berbeda. Ada selisih.
  • Twisting yarn untuk talinya. Awalnya agak jiper karena bahasanya agak asing untuk penjelasan bikin tali ini, tapi ternyata setelah diikuti dengan seksama, hasilnya baguus! Bisa rapi jali ala-ala tali pengikat korden. =D
Jadi, simpulannya, merajut pola ini menyenangkan. Pompom raksasa itu juga membawa kesan fluffy dan bahagia. Entah lah ya, untuk saya bikin pompom itu memang bikin hati happy. Coba deh kalau tidak percaya. Selamat berkarya!

Sebelum ditambah tali
0
comments

Wednesday, 4 November 2015

The Fitness of Discipline

Yang saya maksud pada judul di atas adalah "kebugaran" dari kedisiplinan diri sendiri. Ia adalah tahap lanjutan setelah kita lulus melatih disiplin, dapat konsisten & tekun untuk selalu disiplin serta bertanggung jawab atas tindak disiplin tersebut. Yang dimaksud "kebugaran" ya selayaknya bugar pada tubuh: apakah kedisiplinan itu membuat lebih "sehat", apakah punya ketahanan sekaligus meningkatkan performa atau malah jadi kaku-kaku lalu menghilangkan fleksibilitas?

Saya orang yang pemalas, bahasa gawulnya procrastinating. Setelah menikah dan tidak bekerja kantoran, mendisiplinkan diri adalah tantangan pertama dalam berkarya. Tapi waktu yang tersedia masih sangat berlebih jika dibandingkan sesudah Hayu lahir. Perbandingan waktu:energi:niat harus diiris tipis-tipis agar bisa tertata dan terselip rapi dalam 24 jam. Apalagi setelah membaca artikel tentang relasi procrastinating dan kesehatan mental, maka jawabannya cuma satu: kadar disiplin perlu dibenahi. Dilema yang umum adalah niatnya sudah menggunung (pengen menulis, merajut, masak, bikin bekal, ngepel rumah, menonton variety show, bikin kue) tapi Hayu ingin terus belajar berdiri dengan berpegangan pada ibuk, sedangkan lutut baru saja keseleo. Dilema-dilema yang berderet harus disikapi dengan tegas & trengginas. 

Biasanya yang disarankan untuk kelebihan muatan kegiatan adalah sistem prioritas dan eliminasi berdasarkan tingkat urgensi yang paling lemah. Tapi untuk beberapa alasan, sistem ini tidak lagi cocok untuk saya. Membersihkan popok memang perlu disegerakan, tetapi jika dilakukan tiap malam, maka punggung saya akan nyeri. Menyempatkan menyicil mengupas bawang putih atau merah sebelum tidur tentu sangat membantu saya untuk menyingkat waktu memasak di keesokan hari, tapi hal itu menghilangkan waktu saya untuk merajut. Merajut tidak urgen, tetapi jika saya terlalu sering melewatkan rajutan saya, maka kecepatan & kemampuan merajut pun turun drastis. Grothal-grathul lagi, kembali ke awal. 

Di sini pun saya menyadari bahwa harus membuat klasifikasi yang berbeda: ada hal-hal yang tidak urgen, tetapi harus diberi ruang waktu; ada hal yang urgen, tapi bisa dikurangi kuantitasnya; dan beberapa klasifikasi lain. Teknik Pomodoro yang biasa saya terapkan pun harus disingkirkan karena tak lagi relevan. That's fine, the only thing that is constant is change, seperti kata Heraclitus. 

Saat upaya untuk membagi waktu ini dimulai, saya menemukan foto di feed Instagram saya dengan tajuk menarik: "Make time. Start small. Don't stop." Foto ini diunggah oleh seorang kawan sekaligus seniman berjari lincah, mbak Icha Dechapoe. Jangan hitung keahlian dan kemampuannya, nanti jiper, hehe. Lukisannya selalu indah & memiliki tingkat imajinasi yang menakjubkan. Belum lagi komposisi-komposisi otentik karyanya yang dimainkan lewat tuts piano dan juga desain-desain web yang ciamso. Ciamik soro!

Tajuk itu seakan jadi mantra: 
tidak masalah untuk menjadi kecil, 
asal terus berusaha dan tak berhenti. 

Disiplin, braay!
=)
ikuti karya & feed menarik mbak icha di IG: @dechapoe
0
comments

Monday, 2 November 2015

QoTD: As Human Can Be

Kita (atau saya) bisa apa sih, 
kecuali Bismillah doang. 
=)

Atau seperti salah satu kertas yang terselip di kantong Rabbi Simcha Bunem of Pershyscha: V’anokhi afar v’efer”—“I am but dust and ashes.”*


*: dibaca dalam Choose the Life You Want, oleh Tal Ben Shahar
0
comments

Wednesday, 21 October 2015

QoTD: Oh, well...

"But if you paid close attention to what he was saying or what he had written, 
you knew that his words lacked consistency. 
They reflected no single worldview based on profound conviction. 
His was a world that he had fabricated by combining 
several one-dimensional systems of thought. 
He could rearrange the combination in an instant, as needed. 
These were ingenious - even artistic - intellectual permutations and combinations. 
But to me they amounted to nothing more than a game."
~ Murakami, The Wind - Up Bird Chronicle.
0
comments

Wednesday, 22 July 2015

Gubuk Perjuangan

Setelah hari kesekian dari lebaran: pulang kembali ke rumah sendiri, cucian menggunung & debu merengek minta disapu. Momentum Idul Fitri kali ini menampakkan ironi. Sebesar-besarnya rindu yang menumpuk pada kampung halaman ternyata ada rasa rindu yang mendesak perlahan, rindu pada gubuk perjuangan. Betapa "rumah" itu bergeser: dari rumah orang tua tempat bertumbuh ke sarang sendiri yang menjadi tempat bergulat & bermesra dengan dunia.

Memahami tempat kita selayaknya "pulang" itu penting, menurutku. 
Karena dengannya ada tujuan, dan ada tempat kembali. 
Memahami mengapa sesuatu itu wajib diperjuangkan, dan tahu kapan harus berhenti. Memahami bahwa ada rindu yang pantas dikerat kuat-kuat, dan kapan harus digenggam erat lagi.

Selamat Idul Fitri, kawan.

1 comments

Friday, 17 April 2015

Yaminah

*ditulis Maret, 2015

Dalam beberapa variety show dan serial Korea yang saya tonton, ada tradisi unik saat seseorang berulang tahun. Bukan hanya ia yang berhak mendapatkan kado atau hadiah atas pergantian umur itu, tetapi juga ibunya. Sang ibu dianggap berhak mendapatkan hadiah, karena berkat ibu ia dapat tumbuh menjadi sosok yang sekarang ini.

Saya kurang tahu, apakah jabaran singkat di atas betul-betul sebuah tradisi atau hanya pemanis dalam acara televisi saja. Yang pasti, bulan ini ibu saya berulang tahun, dan saya ingin berterima kasih pada ibu beliau: nenekku.

Nenekku bernama Yaminah, wanita berperawakan mungil yang selalu saya ingat sebagai koki ulung, pemilik pipi yang selalu wangi dengan bedak Fanbo. Kadang berganti Viva Face Powder yang berkemasan zac. Saya selalu rindu mencium pipi itu, sampai sekarang tentunya.

Sehari-hari beliau selalu memakai kebaya dan kain jarik yang serasi. Keduanya ditata dengan rapi di lemari. Kain yang diberi oleh anak-anaknya hampir di tiap hari raya selalu digolong-golongkan dengan tingkat keapikannya. Yang sudah sedikit amoh dipakai sehari-hari, yang masih bagus dipakai di momen spesial. Kedatangan cucunya termasuk yang terakhir. Tidakkah saya selalu tersanjung atas hal ini?

Dibesarkan oleh ibu tiri, Yaminah dan kakak perempuannya seperti hidup dalam dongeng. Ibu tiri yang tidak memberi cukup makan, dan hal-hal menyedihkan ala Upik Abu dalam versi nyata. Sang kakak sedih bukan kepalang, mengajak Yaminah untuk bertekad membalas ibu tiri di kemudian hari. Kakak ingin menjadi kaya raya dan berganti menindas ibu tiri, biar tahu rasa. Yaminah menolak, ia memilih untuk berbuat baik sebaik-baiknya, agar di suatu hari nanti si ibu malah malu bukan kepalang karena telah berbuat buruk kepadanya. Kira-kira seperti ucapan Diana Rikasari puluhan tahun kemudian: If people hate you, Love them back. Malang tak dapat ditolak, perbincangan saudara kala kecil itu pun menjadi kenyataan. Sang kakak betul-betul menjadi kaya raya, dan Yaminah mendapat rasa malu dan hormat ibu tirinya.

Yaminah muda adalah perempuan yang terampil. Di jaman pendudukan Jepang, pemerintahnya secara terorganisir memberikan pelatihan sampai ke desa-desa untuk keterampilan dasar dan produksi untuk wanita, seperti memasak, merajut, menjahit, menyulam. Yaminah salah satu yang mengenyam pelatihan ini. Beliau dapat mengolah kapas dan memintalnya jadi benang, sampai merajutnya. Tepian-tepian taplak meja di rumah Yaminah selalu dihiasi sulaman bunga-bunga yang cantik dan rapi. Jika hari raya atau hari besar akan datang, ibu-ibu sekitar akan berduyun-duyun datang membawa telur, terigu, kelapa, serta bahan dasar lainnya untuk membuat kue-kue. Mereka akan membuat bersama di dapur Yaminah, karena ialah yang dikenal paling enak dan paham betul takaran, proses memasak kue-kue itu.

Perihal lain tentang Yaminah adalah kepandaiannya mengatur ekonomi keluarga. Ia memiliki sepetak tanah di belakang rumah. Dengan rapi dan penuh perhitungan ia bagi untuk berbagai macam sayur dan tumbuhan yang dapat memenuhi kebutuhan sayur mayur sehari-hari untuk ia, suami dan keenam anak-anaknya. Ia juga memelihara ayam dan itik yang ia ambil telur-telurnya. Telur ini tidak untuk dikonsumsi, tetapi “dijual” bersama kelapa yang tumbuh di halaman rumah, pada tengkulak yang berkeliling mencari hasil bumi di desa-desa. Telur dan kelapa ini dijual dengan cara barter, ditukar dengan bumbu dapur: bawang putih, bawang merah yang ia simpan hati-hati, digantung di langit-langit dapur. Perihal telur ini istimewa, karena dahulu telur adalah barang yang tinggi nilainya. Dalam keseharian, telur didadar dengan tambahan tepung dan air agar secara kuantitas menjadi banyak. Barulah jika ada anak yang sakit, diceplokkan satu butir telur untuk anak itu. Yang ajaib, sang anak pun percaya akan kekuatan telur. Setelah makan telur ceplok, langsung sembuh!

Yaminah dan suami juga sempat berjualan di rumah. Anak-anak mendapat giliran untuk menjaga dan melayani pembeli. Uang receh ia sisihkan di tepi, uang kertas untuk kembalian diletakkan dalam kotak. Pada anak-anak ia berujar, “Ini uang recehnya. Kalau pengen njajan es janggelan (cincau), boleh diambil, asal bilang dulu.” Pendidikan kepercayaan dan kejujuran yang diselipkan dalam hal perekonomian keluarga. Ah, Yaminah.

Jika ibu saya mendapat pujian, penghargaan atas berbagai keahliannya, saya yakin, sebagian besar harus diberikan kepada nenek saya. Beliau lah yang mendidik ibu sedemikian rupa.

Mbah Uti, maturnuwun sampun muruki ibuk kathah-kathah, 
ibuk sampun dados ibuk ingkang nyayangi kulo, mbak Maya lan mbak Ratih.
Mbah Uti, Vinka sakniki sampun kagungan Hayu, 
Mbah mesti seneng menawi mirsani, Hayu lucu mbah.

Mbah Uti, Vinka kangen. 
 

Copyright © 2010 Life's Never Boring Beibi! | Premium Blogger Templates & Photography Logos | PSD Design by Amuki