0
comments

Thursday, 11 September 2014

[Resep] Bakpau Andalan

Tampilan bakpau (ulen tangan) sebelum dikukus

Beberapa minggu terakhir saya sedang rajin untuk membuat makanan selingan yang dapat disimpan (dibekukan/frozen). Maklum, bumil sedang suka ngemil. Yang paling sering adalah bakpau isi ayam pedas dan roti canai. Ketika saya post di media sosial, ternyata ada kawan yang penasaran dengan resepnya, maka saya buat post ini.

Resep ini sudah jadi andalan sejak saya mulai belajar memasak di awal perkawinan. Prosentase keberhasilan dijamin 100% selama mengikuti tips-tips dari mbak Endang, si empunya resep. Keterangan langkah demi langkah yang dicantumkan mbak Endang sangat membantu untuk para pemula seperti saya. Memang, setelah beberapa kali membuat resep ini ada beberapa hal yang saya dapatkan seperti bagaimana ragi bekerja, pengaruh pengulenan dan durasi dalam memeram adonan. Monggo, ini link aslinya dari blog mbak Endang. Langsung dipraktikkan ya! =)

Bakpau isi Ayam Pedas 
Resep dari blog Justtryandtaste.com

Untuk 10 buah roti kukus yang besar 

Bahan  dan bumbu isi:
- 250 gram dada ayam atau daging ayam, potong kecil, tipis panjang
- 1 butir bawang bombay, belah dua, iris tipis
- 1 sendok teh minyak wijen
- 1 sendok teh saus tiram
- 1 sendok makan kecap manis
- 1 sendok makan kecap asin
- 5 sendok makan saus sambal botolan
- 4 sendok makan saus tomat botolan (saya kadang menggunakan pure tomat kalengan)
- 1 sendok makan cabai rawit dihaluskan (jika kurang pedas)
- 1/2 sendok teh merica bubuk
- 1/2 sendok teh kaldu bubuk (optional)
- 1/2 sendok makan gula pasir
- 1 sendok makan minyak untuk menumis

Bahan roti:
Bahan starter/biang (A):
- 100 ml air hangat
- 2 1/2 sendok teh ragi instant, pastikan fresh dan cek tanggal kedaluarsa (saya menggunakan Fermipan)
- 130 gram tepung Hongkong atau tepung pau (saya menggunakan tepung terigu protein tinggi, e.g. Cakra Kembar)

Bahan untuk adonan roti (B):
- 370 gram tepung Hongkong atau tepung pau (saya pakai tepung terigu protein tinggi)
- 125 gram gula pasir
- 2 1/4 sendok teh baking powder, pastikan masih fresh
- 5 sendok teh margarine/mentega putih, bisa menggunakan margarine biasa hanya saja adonan pau anda akan berwarna sedikit kekuningan.
- 1/4 sendok teh garam
- 100 - 115 ml air (ketika menggunakan mixer untuk menguleni, saya pakai 150ml air)

Cara membuat:
Membuat isi roti kukus
Siapkan wajan, panaskan minyak. Masukkan potongan daging ayam, minyak wijen, saus tiram, kecap manis, kecap asin, aduk rata. Masak hingga daging ayam berwarna pucat dan empuk. Masukkan bawang bombay, merica, kaldu bubuk, aduk rata. Masak hingga bawang layu. Tambahkan saus tomat dan saus sambal, aduk rata dan masak hingga semua bahan matang dan ayam agak sedikit mengering. Cicipi rasanya, jika kuranga sin tambahkan sedikit garam. Angkat dan dinginkan. 

Membuat adonan roti
Starter/biang (A)
1. Siapkan mangkuk ukuran sedang, masukkan air hangat kuku dan ragi instant, aduk rata hingga ragi larut. Pastikan air jangan terlalu panas dengan mencelupkan ujung jari anda, jika air terlalu panas ragi akan mati. Masukkan tepung terigu, aduk rata & uleni sebentar. Tutup dengan kain dan biarkan selama 15 menit.  (hasil terbaik saya ketika dibiarkan 20-25 menit)

menguleni adonan dengan mixer gigi spiral
2. Siapkan mangkuk besar, masukkan tepung terigu yang telah diayak, tambahkan gula pasir, baking powder dan garam. Aduk rata. Masukkan adonan A (starter/biang saat ini terlihat mengembang dan ketika di buka adonan terlihat berongga-rongga). Tambahkan mentega putih dan air. Aduk dan uleni hingga semua bahan tercampur baik. Tambahkan air sedikit jika adonan terasa terlalu kering dan tercerai berai.

Adonan setelah didiamkan 2 jam. 
3. Uleni adonan hingga kalis dan tidak menempel di tangan. Uleni selama 20 menit. Adonan yang terbentuk halus dan lentur. Bentuk menjadi bola. Olesi permukaan mangkuk bekas adonan dengan sedikit minyak, letakkan bola adonan di mangkuk, tutup dengan kain dan istirahatkan selama 1 - 1 1/2 jam. Adonan akan mengembang lebih dari 2 kali lipat. (Hasil terbaik saya ketika dibiarkan 1.5 jam - 2 jam)


4. Kempiskan adonan, uleni sebentar untuk menghilangkan gas yang terperangkap di dalam adonan. Bagi adonan menjadi 10 bagian (berat @ 100 gram). Atau menjadi 20 bagian dengan berat masing-masing 50 gram. Bulatkan masing-masing potongan. 

5. Ambil sepotong adonan, tipiskan hingga ketebalan 1.5cm (boleh dengan penggilas kayu atau tangan saja). Jangan terlalu tipis karena nanti isian akan mudah merembes. Berikan 1 1/2 - 2 sendok makan adonan isi (porsi takaran tergantung besar kecilnya roti yang akan anda buat). Tarik bagian pinggir adonan ke tengah dan gabungkan hingga semua bagian tepi adonan berkumpul di tengah dan menutupi adonan isi. Tekan ujung adonan dengan jari agar rapat dan tidak terbuka saat dikukus. Posisi roti saat dikukus bisa dua cara: roti di balik dan bagian yang smooth di atas atau biarkan saja seperti saat ini.

6. Alasi setiap bagian adonan roti dengan kertas minyak atau kertas roti.  Lakukan hingga semua bagian adonan dan isi habis. Pastikan adonan selalu tertutup kain saat anda bekerja agar permukaan adonan selalu lembab. Tata adonan di atas meja/loyang, tutupi dengan kain bersih dan istirahatkan selama 15 menit. 

7. Panaskan dandang kukusan hingga airnya mendidih, masukkan adonan roti beserta dengan kertas minyak yang melekat di bagian bawahnya. Tata di dandang jangan sampai berdempetan. Dandang kukusan saya hanya muat 2 roti setiap kali mengukus. Tutup permukaan kukusan dengan kain putih, dan tutup dengan penutup dandang. Kukus selama 15 menit, hingga roti matang. 

8. Matikan api, biarkan bakpau di kukusan agar sedikit mengeras. Angkat dan sajikan. 

Tips

1. Jangan khawatir dengan hasil jadi isian yang terlihat sedikit. Bagi rata isian sesuai dengan jumlah bakpau yang ingin anda buat sebelum mulai menggilas adonan bakpau. Hal ini untuk mencegah "tidak adilnya" isian.
2. Saya menyarankan untuk menggunakan mixer ketika menguleni. Selain agar menghemat tenaga, menguleni 20 menit terkadang membuat orang jiper/mundur duluan dari membuat bakpau ini. Jika kurang 20 menit, tetap jadi sih bakpaunya, cuma teksturnya kurang membal dan cepat keras ketika dingin.

3. Jangan ragu dan segera buat! =D


0
comments

Monday, 25 August 2014

[Resep] Pannekoek alias Panekuk Belanda

Wah, ternyata sudah lama ya saya tidak menulis kegiatan masak-memasak. Memang kehamilan trimester pertama sempat membuat saya “musuhan” sama dapur. Terkena asap berlebih bisa berakibat mual dan muntah. Juga karena kondisi janin yang belum sepenuhnya kuat, dokter melarang saya untuk mengangkat atau melakukan pekerjaan terlampau lama. Alhamdulillah sekarang sudah jauh lebih baik dan karena gampang lapar, saya pun kembali berkawan dengan piranti masak-memasak saya.

Akhir pekan kemarin saya dan suami utak-utik di dapur, pengen bikin jajanan. Karena sempat membeli tabloid Koki sehari sebelumnya, ada resep yang nyantol di hati, dan bikin kepikiran kalau tidak dibikin. Namanya, Pannekoek atau Panekuk Belanda.


Suami memang suka sekali dengan panekuk. Resep andalan kami tentu Pancake ala chef Yuda Bustara. Tapi kali ini tergoda juga melihat tampilan cantik di lembar tabloid. Ini resepnya, sila dicoba. Jangan khawatir, mudah sekali. Bahkan suami bisa tuntas mempraktikkan resepnya, karena ya memang tinggal aduk-aduk saja. Hehehe.

Bahan
200 gr Tepung terigu protein sedang (saya pakai Segitiga Biru)
1 sdt Gula pasir
¼ sdt Garam
2 butir Telur ayam
450 ml Susu cair
1 ½ sdm Mentega, lelehkan
Selai stroberi secukupnya
Gula halus secukupnya, untuk taburan.

Cara Buat
  1. Campur tepung terigu, gula pasir, garam, telur ayam dan susu cair. Aduk hingga rata. Saring bila adonan menggumpal.
  2. Tambahkan mentega cair, aduk kembali hingga rata.
  3. Panaskan pan dadar anti lengket berdiameter 27cm, tuang 1 sendok sayur adonan. Ratakan dan masak hingga matang. Angkat.
  4. Olesi permukaan panekuk dengan selai stroberi sesuai selera. Lipat panekuk hingga berbentuk ¼ lingkaran.
  5. Letakkan panekuk dalam piring saji, taburi dengan gula halus, sajikan.
Untuk 10 buah. (yang saya buat jadi 12 buah)

Tips
  1. Jika anda memiliki susu cair dalam kemasan yang disimpan dalam lemari pendingin, keluarkan dulu dan biarkan hingga mencapai suhu ruang. Saya mencampurkannya ketika masih agak dingin dan membuat mentega lelehnya menggumpal atau nggrindil.
  2. Isian bisa disesuaikan apa yang ada di rumah dan sesuai selera. Saya mencoba dengan selai bluberi, milo dan eskrim. Suami malah suka jika dimakan hangat-hangat, hanya dengan gula halus saja.
  3. Panekuk ini memang hasilnya tidak seperti panekuk amerika. Saya menyebut teksturnya campuran antara crepes suzette dan dadar gulung. Jadi tidak usah kaget kalau hasilnya tipis dan lemas.
  4. Perhatikan pengapian, gunakan api paling kecil saja. Kalau perlu dimatikan jika sudah agak terlalu panas, karena anda akan kesulitan saat meratakan adonan jika terlampau panas. 
0
comments

Sunday, 10 August 2014

Kelahiran, Kematian & Ujian.

Siang ini baru membaca di lini masa media sosial, bahwa seorang kakak senior saat SMA kehilangan putranya di hari ia dilahirkan. Saya belum tahu apakah ada sebab yang spesifik, dan tentu tak tega untuk bertanya. Mengingat bagaimana saya mengalami momen tersengat dalam hati tiap kali ada yang bertanya "kok bisa keguguran? Penyebabnya apa?", tentu sengat itu akan lebih mendalam bagi ia dan istrinya.

Perihal bayi yang meninggal saat lahir, saya teringat pada ceramah Emha Ainun Nadjib kala mengunjungi SMA kami dalam rangka peringatan hari besar Islam yang saya lupa tepatnya apa. Beliau saat itu bertutur bagaimana reaksinya saat bayi yang dilahirkan oleh Mbak Via (Novia Kolopaking) meninggal di hari kelahiran. Beliau tertawa, bersujud syukur gembira dan meminta tiap dokter & perawat di rumah sakit untuk memberi cak Nun ucapan selamat. Beliau melarang Mbak Via untuk menangis. Beberapa orang sampai khawatir, apakah cak Nun terlampau depresi karena putranya meninggal hingga bertingkah laku seperti itu. Tapi cak Nun membantah keras:

"Kalian harus memberiku selamat. Karena anak ini (yang beliau peluk), ia sudah membuat Allah mengampuni dosa-dosa orangtuanya. Dia sudah mengundang kami, aku & Mbak Via, untuk masuk di surgaNya!"

Masya Allah..
Tiap kelahiran dan kematian sungguh adalah ujian dari Sang Pencipta. Sungguh pula saya sering terselip, menganggap yang dititipkan adalah kepemilikan.

Saya percaya, hanya orang-orang terpilih yang mendapatkan ujian seberat itu, sebagaimana cak Nun, pun juga kakak kelas & istri. Semoga mas Rangga & Mbak Olivia dilimpahi kekuatan & keikhlasan serta kesadaran, rasa syukur atas keistimewaan yang mereka dapatkan. Amin.
0
comments

Friday, 1 August 2014

Hadiah Terindah

Saya: Wah, kalo ga jadi keluar berarti hadiah ulang tahun buat Ciku ga bisa hari ini dong..
Suami : Hadiah terindah sepanjang tahun ini buatku adalah samean hamil lagi, sehat dan adik bayinya juga sehat.

=')

P.S.: I love you Ciku, as always.
0
comments

Monday, 28 July 2014

Malam Takbir

Malam idul fitri ini sendu, karena pikirku lari padamu, anakku.
Mas Al, jika engkau tumbuh sehat, maka engkau hadir di saat ramadhan ini. 

Tapi engkau tumbuh di dekatNya, di tempat terindah bersama Sang Pemilik Cinta. 
Engkau beruntung nak. Bersuka citalah.

Tapi maafkan ibumu ini, aku mendadak sangat rindu padamu.
Ibu sekarang sedang tumbuh bersama adikmu. Doakan ia tumbuh sehat ya nak. 
Doakan pula bapak & ibu bisa jadi orang tua yang mampu mendidik & membesarkan adik-adikmu dengan baik. 
Kecupkan juga rinduku pada Ia, yang Maha Cinta.
Aku selalu sayang padamu, Al.

Bertakbirlah yang keras di sana, putraku.
0
comments

Sunday, 6 July 2014

Dua Tahun

Dua tahun.
Baru dua tahun memang sayang, tapi aku sudah jadi pelupa.
Lupa bagaimana bangun pagi tanpa menyebut namamu.
Tak ingat cara tidur sendiri di malam hari.
Tidak mau jika tanpamu, kekasih.

Tahun kedua, di kota yang berbeda.
Penuh kegembiraan juga kesedihan.
Berpindah ke gubuk perjuangan, yang selalu rajin engkau siangi rumputnya & engkau ubah menjadi surga dengan petikan gitar.

Di tahun ini kita merasakan menjadi orang tua, pun kehilangan anak kita.

Dua tahun, yang jadi awal perjalanan kita.
Semoga jalan yang akan kita tempuh adalah jalan penuh ridho & barokahNya.
Jalan yang jauh dari orang yang dengki & iri, juga penuh dengan jiwa yang bersih & baik hati.

Ciku, terima kasih karena selalu ada buatku.
Terima kasih, untuk tiap genggaman erat di kunjungan dokter yang masih menakutkan bagiku.
Terima kasih, sudah berlelah letih mencarikan nafkah.
Terima kasih, untuk waktu yang disisihkan, hanya untuk mendapatkan acara televisi Korea favoritku.
Terima kasih, untuk peluk cium hangat yang tak pernah absen, bahkan saat kita berbeda pendapat.
Terima kasih, terima kasih, terima kasih, wahai suamiku tercinta, kekasih setia, sahabat tersayang, guru terseksi, rekan diskusi & bapak anak-anakku.

I love you, as always.
Von.

0
comments

Saturday, 14 June 2014

Hari Lahir : Kematian dan Harapan


Semenjak duduk di pendidikan dasar, saya yakin akan mati muda. Di periode SD hingga SMP, saya mendapat mimpi berulang, dengan berbagai sudut penceritaan, yang pada intinya menyampaikan pesan bagaimana dan kapan saya akan mati. Mimpi itu tidak membuat saya takut, alih-alih terpacu untuk mencapai & merasakan banyak hal sesegera mungkin. Itu juga alasan saya berkeras menempuh pendidikan secepat yang saya bisa. Beruntung, banyak target yang lolos dari lubang jarum.

Ketakutan akan kematian dahulu hanya muncul ketika sakit asthma saya kambuh. Tetapi mimpi kematian di masa kecil itu pula yang membantu saya berjuang untuk tetap sehat, karena saya percaya bahwa sesak napas bukanlah cara (juga waktu) yang tepat untuk mati.
Saya baru merasa takut mati setelah mengalami keguguran. Kematian itu rasanya melebihi kenyataan, karena ia melewati raga saya, tapi juga bukan nyawa saya sendiri yang tercabut. Ia membuahkan kekosongan yang sulit digambarkan. Sunyi yang hadir, memaksa kepala terus berputar & berpikir.

Dunia seakan kehilangan pesonanya. Fana, yang dulu hanya sebuah kata dengan fungsi adjektif, sekarang maujud atau mewujud menjadi dunia itu sendiri. Everything changes sublimely, and nothing really matters at the end. Not a mountain of penny, nor bunch of lovers. Not the titles behind your name, nor the beauty, the fame, the stories, the trip, the pictures you did to raise your chin up.

Yang menjadi berharga adalah bagaimana kita memberdayakan waktu itu sendiri, dengan orang-orang yang mencintai kita, menghargai perjuangan & perjalanan yang telah ditempuh.

Di titik itulah saya mulai memahami mengapa saya merasa sangat kehilangan terhadap sosok anak, yang bahkan belum sepenuhnya dititipkan. Ketika dunia terasa melelahkan, jahat, tak sesuai dengan keinginan kita, pun menyedihkan: anak menjadi harapan. Ia adalah harapan dan juga alasan untuk tiap-tiap orang tua mengusahakan dunia ini lebih baik, lebih nyaman untuk ia bertumbuh kembang. Menjadi pecut paling keras dalam bekerja, berusaha, berdakwah. Menjadi pewaris dari kebaikan dan kebajikan.

Karena perihal keturunan pula, saya untuk pertama kali memohon dengan tulus agar dipanjangkan umur ini. Saya telah mulai berharap agar mampu mendidik hingga menikahkan mereka. Itu (saja). Semoga Ia tak pernah jengah dengan perubahan hati hambaNya.

Amin.
4
comments

Friday, 11 April 2014

Anggaran & Buku

Anda pecinta buku? Apakah Anda menganggarkan pos tersendiri untuk membeli buku tiap bulannya?

Ketika saya naik ke kelas 6 SD, saat itu saya baru menyadari bahwa ada orang-orang yang menyisihkan penghasilannya untuk berbelanja buku. Kejadian ini bermula saat saya mengikuti program TeKaT Sayang dari Jawa Pos, semacam homestay antar etnis dimana saya tinggal selama 7 hari di rumah Papi Paulus & Mami Linawati di Bendul Merisi, Surabaya. Di situ pula pertama kalinya saya mengetahui ada keluarga yang begitu cinta & terus-menerus mengajarkan agar menyukai buku, melebihi keluarga saya. 

Di hari pertama saya ikut "hidup" dengan mereka, saya diajak untuk pergi ke Gramedia, toko buku yang bagai surga bagi saya yang hanya kenal toko buku pelajaran di Mojosari atau pojok kios buku bekas di Mojokerto. Tapi, surga yang satu ini bersyarat: butuh uang untuk menukar kenikmatannya. Saya berkali-kali tersenyum kecut ketika membalik buku dan mengetahui harganya. Hari itu hari pertama, saya masih sangat canggung dan hampir tak mungkin untuk meminta dibelikan buku. Saya sempat menyesal untuk tidak menyelipkan sedikit uang dari tabungan yang sudah saya siapkan sebelumnya. Karena peraturan program yang mengharuskan peserta tidak membawa sepeser pun (agar mereka meminta orang tua baru mereka untuk kebutuhan apa saja), saya benar-benar tidak punya uang untuk buku-buku yang mendebarkan hati ini, buku-buku licin mengkilat dalam kemasan. Buku dengan judul yang sejenis biasanya hanya bisa saya jumpai dalam bentuk bekas. 

Mami mungkin melihat binar mata dan senyum masam saya karena tidak lama kemudian beliau meyakinkan saya untuk mengambil buku apa saja yang saya mau, sebagaimana ia kemudian meyakinkan anak-anaknya agar mengambil buku yang dimau. Tetapi hanya buku, bukan yang lain. Yoga, putra bungsu yang berumur sekitar 3-4 tahun mulai merengek melihat mainan yang menarik baginya, tapi Mami memberi pengertian bagaimana buku lebih baik & menarik untuk dibeli. Saya kemudian memilih Jilid pertama dari Lima Sekawan: Di Pulau Harta dan ikut menumpuknya dalam tas belanja Mami. Di kasir, saya hampir melongo melihat kuantitas & angka di mesin penghitung. Di tahun tersebut, belanja "sekedar" buku dalam kisaran ratusan ribu rupiah itu gila bagi saya, hampir-hampir surreal.

Di hari kedua, saya baru mulai memahami ruangan-ruangan di rumah Bendul Merisi itu. Dan lagi-lagi saya takjub dengan kebiasaan membaca di keluarga ini. Terdapat meja nakas di dekat tempat duduk ruang keluarga yang berisi deretan beberapa surat kabar berbeda dalam edisi hari yang sama dan beberapa majalah terbaru. Di keluarga saya sendiri juga berlangganan, tapi ya hanya satu koran. Majalah yang berlangganan ya hanya Bobo saja, untuk saya. Melihat meja yang hampir menyerupai kios koran ini saya berpikir, apa sempat untuk membaca semua ini dalam satu hari? Tapi Papi terbukti selalu membaca seluruh koran sambil menyeruput 2 telur ayam kampung setengah matang sebelum bekerja.

Yang terlintas di benak pertama kali karena kebiasaan keluarga Paulus ini adalah: wah, begini ya orang kaya raya itu, tidak perlu berhemat, bisa membeli buku dan majalah sepuasnya. Tapi sekali lagi pemikiran saya terpelanting setelah menyaksikan bagaimana Mami mengajak putra-putrinya untuk makan di rumah saja dibanding membeli McD (Mami tetap membeli sedikit agar saya dapat mencicipi), bergotong royong mengemas kacang kapri hasil perkebunan yang kemudian dijual di supermarket oleh Mami, memasak bersama-sama. Ternyata ini bukan perkara berhemat atau berfoya-foya, tetapi prioritas. Mami memilih untuk meletakkan buku, majalah, koran sebagai perihal yang penting dan pantas untuk diberi anggaran lebih.

Setelah berumah tangga, saya mulai serius belajar tentang anggaran dan kawan-kawannya. Setelah bereksperimen dengan berbagai model pembagian bujet, beberapa bulan terakhir ini saya menggunakan rasio yang disarankan oleh Li Ka Shing. Artikel lengkap penjelasan beliau dapat dibaca disini.

Secara singkat beliau membagi setiap pendapatan yang masuk dalam 5 kategori yaitu Daily Life : Social+Connection : Study : Holiday : Investment dalam proporsi sebagai berikut 3:2:1,5:1:2.5. Selalu seperti itu untuk setiap pemasukan, kemudian terus berusaha menghabiskan anggaran tersebut dalam porsi yang telah ditentukan. Dalam pengaplikasian pribadi, tentu saya menyesuaikan perbandingan anggaran dengan beberapa kebutuhan yang esensial bagi saya seperti zakat & shodaqoh, dana kesehatan dan tabungan.

Saya menganggap model ini cukup sederhana dan memiliki esensi yang tidak saya temukan pada model yang lain. Misal, ada anggaran Study dimana saya (& mas Rendy) memang harus menghabiskan uang dalam pos itu untuk belajar; membeli buku setiap bulan; mengikuti kursus. Tidak banyak model anggaran yang memberikan perhatian khusus pada “pengembangan diri” segamblang ini. Saya memilih untuk menggunakannya untuk berlangganan tabloid resep masakan dan majalah atau buku merajut untuk meningkatkan kemampuan saya di 2 bidang favorit.

Mungkin tidak semua orang setuju bahwa buku adalah hal yang cukup penting untuk dianggarkan. Sah-sah saja dan tidak perlu dipermasalahkan, karena pendapat tersebut juga beralasan. Menilik masa sekarang, kita bisa mengakses informasi dan pengetahuan melalui internet dengan biaya yang minim. Tetapi saya yakin, -keyakinan yang diiringi cinta buta- bahwa masih ada permata yang terselip di balik buku dengan segala kebanalan yang ia miliki.


=)
2
comments

Saturday, 5 April 2014

Melantur & World Book Day


Siang ini saya akhirnya berhasil nangkring di c2o setelah (suami sih yang membonceng) berjuang di jalanan menghadapi keruwetan kampanye beberapa partai. Tujuan saya ke c2o adalah mengulik beberapa buku yang sudah jadi incaran karena direkomendasi kawan, lalu mencatat hal yang penting & menyusun agar jadi tulisan yang ciamik. Apa daya, saya terkena nikmat nasi padang sebungkus dengan proporsi nasi & bumbu gulai yang pemurah sekali. Di sinilah saya mulai menulis melantur dan menyerah pada buku-buku tadi. =P

Tapi mau tidak mau saya buka juga salah satunya. Barbara Hatley. Javanese Performances on an Indonesian Stage: Contesting Culture, Embracing Change. Alamak, abot nemen rasane. Mata saya mulai kabur karena membaca deretan nama universitas yang biasanya saya temui di ranking top dunia. Aduh. Buku tentang Indonesia kok malah seperti ngece karena kalimat-kalimatnya nggayuh lintang. Tinggi & tak terjangkau.

Saya buka sembari  jengkel, sampai di halaman yang ada tulisan “PERSONAL EXPERIENCE, 1970-90”. Harusnya kalau pengalaman pribadi kan ya tidak terlalu sulit to membacanya. Penulis menceritakan bagaimana ia mulai tertarik dengan Ketoprak, bagaimana ia mulai tertarik dan terikat pada ketoprak.  Sampai pada cerita bagaimana ia mulai tinggal di Yogyakarta untuk memulai penelitiannya. Ia menceritakan bagaimana melewatkan satu malam dengan menghadiri 3 pertunjukan. Hatley menggambarkan dengan detil tempat ia makan malam dengan gado-gado di depan kantor Telkom, dekat Mandala Krida. Berjalan ke Bentara Budaya dimana Jemek (Sapardi) berpantomim malam itu, dilanjutkan perjalanan dengan becak ke arah selatan, di sekitar Keraton, menghadiri jamuan malam dengan pertunjukan tari. Yang terakhir ia menikmati wayang dengan ki Anom sebagai dalangnya. Juga tak jauh dari stadion.

Penjelasan Hatley yang detil membuat memori akan Yogya terputar kembali. Menarik bagaimana  tulisan ini mendadak menjadi intim bagi saya. Bagaimana pengalaman yang ditularkan sebuah buku dapat membuat shared experience terbentuk, termediasi. Semakin membuka lembar demi lembar, saya bertambah penasaran untuk mengajak Hatley duduk bersama di sini, menceritakan besarnya kemungkinan bahwa kami menemui orang-orang yang sama, dengan jarak 12 tahun lewat. Karena ketoprak Tobong yang saya temui di Kalasan juga berasal dari binaan satuan militer di Malang, persis seperti yang diteliti Hatley.

Jika dibilang dunia tak lebih luas dari daun kelor, ya terkadang memang terasa seperti itu. Rantai yang menghubungkan antar manusia sering terasa absurd. Contoh yang tidak jauh-jauh, dari project Ketoprak Tobong misalnya, besar kemungkinan kaket buyut –atau moyang?- saya dan Risang Yuwono, saling mengenal: karena kakek buyut kami sama-sama prajurit Pangeran Diponegoro yang berpisah setelah beliau ditahan Belanda dan babat alas di Kediri untuk melanjutkan keturunan. Menarik ya?

Andai tidak ada sejarah yang dicatat, andai tak ada tulisan yang mendeskripsikan dengan baik, andai tak ada buku yang menularkan pengalaman, maka peradaban manusia pun jauh berbeda. Di bulan April ini, tepatnya di tanggal 23 diperingati World Book Day. Saya jadi ingin menghormati buku dengan menulis perihal buku di kehidupan sehari-hari. Dimulai dengan postingan ini. Hehe.

Yuk, berbagi pengalaman dengan buku! 
=)
 

Copyright © 2010 Life's Never Boring Beibi! | Premium Blogger Templates & Photography Logos | PSD Design by Amuki