Wednesday, 21 September 2016


Sembilan belas hari berselang dan lubang di hati tetap membara saat bayangan senyummu melintas & mengipas-ngipas api di dada. Tak perlu ragu lagi, aku memang rindu.

Ya Allah peluklah Bopoku dalam hangat ampunanMu.
Tempatkan ia dalam kenyamanan yang tiada bandingannya di dunia.

Ya Rasulullah, sambutlah Bopoku dengan senyum dan kerinduan atas saudara yang lama tak berjumpa.
Berilah syafaatmu kepada Bopoku, ya Rasulullah..

Amin ya robbal alamin.


Sunday, 21 August 2016

5 Recently-Watched Korean Dramas!

1. I Have a Lover
It's my friend's word that made me want to give a look at this drama. She said, "Aah, I wonder if this is how life after marriage. We have a totally different problems, aren't we? You know, I just watched a drama..." and her story lingered. Then I decided to give this 50 episodes drama a go, a really rare decision. I used to watch drama in 10-20ish length, so it's a kind of stamina drenching to watch them, even before started! *ikykwim* I already sensed makjang (exaggerated) typical scenario-tone-expression, so I put my expectations at the lowest. Surprisingly, it turns out good enough for me. The chemistry between lead characters really stole my heart. I somehow absorbed by the simple things such a gesture, diction and the character's growth.

Well, sometimes I should read recap of some episodes, when the antagonists just being true evil like s/he's not even human. But I returned to watch all of the episodes, anyway. If I should give a reason for you to watch IHAL, it must be Ji Jin Hee & Han Hyojoo's act.
Rate : 7/10

2. Reply 1988 
I'm a Reply series' fan. From the previous two, I fell in love hardly to them. But I keep my expectation to the lowest for this one, because 2 series as big hit in a row was great, then the third? *fingercrossed* Well, the writer-nim answered me right away with beautiful daily problematic stories and I went cry many times. Overall, I love Reply 1988. If there is a minus point, perhaps I should say the romantic story-line that didn't quite pulling my heart as hard as the previous. Thanks to Ra Mi Ran and Jungpal, lovely antique mom and act-cool-but-so-warm son, I could survive happily and a bit pit-a-pat through the series. Ryu Jun-yeol, love! #teamjungpal #teamjunghwan
Rate: 8/10

3. Another Miss Oh (Oh Haeyoung Again) 

Presumption; I don't like Eric as an actor. Don't ask me why. For me, he's more variety type than acting one. But I love Seo Hyunjin, so I decided to watch the early episode. 

Fact: I love the drama! Eric's act too! Well, blame my age, now I love how "adult love story" than the "shy-pit-a-pat youth love story". I love how the girl character, where she's brave, straightforward, know what she wants & what she feels and love herself. I love the characterization and the soundtracks. And the greatest part: the chemistry & the physical attraction between the leads, daebak! Give them a chance, if you like rom-com and a bit splash of mystery. 
Rate: 8/10

4. Lucky Romance
Ryu Junyeol & Hwang Jungeum for Marie Claire
I watched this definitely for Ryu Junyeol. Hehe. I like how he act as Je Sooho, the genius-programmer-CEO-tinman in love. As my experience live between the geniuses for 2 years in hi-school, I could tell you that Je Sooho is really close to the reality to the overflowed IQ owner. But because of Hwang Jungeum as the woman lead, and the background set of the workplace and also the tone, I got the feeling of "She was Pretty 2.0" from Lucky Romance. Not a bad premise, story-line and actors but the dejavu feeling just keep afloat and it bothered me. I'm just happy for Ryu Junyeol, and that's enough reason to finish the drama. 
Rate: 7/10

5. I Remember You (Hello Monster)
This underrated drama should have a spotlight and standing ovation for the plot, storyline, cast, act and chemistry! If you like Sherlock-ish series, you really should watch this. I like how the character grows, how they made a mistake and solve them maturely. I also love how the loveline built, it's honest and somehow raw, just fit as the character developed in every episode. Seo Inguk acting is spread in broad emotion spectrum, Jang Nara also portrayed the detective character perfectly. Really recommended!
Rate: 9/10

Friday, 12 August 2016

Motto of the Semester

Resilience, dear fellas!


Tuesday, 19 July 2016

These Two Years

 For last 2 years, I can’t enjoy the habit/ritual for visiting families in Eid due to my pregnancy and Hayu still too small to go to long journey. So this year I went there. I did unjung-unjung.

I think it won’t be matter, to skip 2 years in a row visiting relatives at their home. 
But I was wrong.

I felt holes in heart, seeing my uncle looks weary and tired after surgery he had. Another uncle already reduced his work in field, because of his lacking energy. My aunt nearly in tears, just because I said okay to bring her cooking to home. Everything’s change. And those 2 years just like a fast forward button that I unintendedly pushed, not knowing that I’ll missed so much and feeling lost afterward.

I feel so guilty, for being busy to grow up by myself and forget how my beloved families are getting older too.

Let’s not forgetful and let our guards down even for a while. I’ll say “I love you” so much as I can. I’ll say “I miss you” as much as I could. I’ll call them as soon as possible, not waiting the ritual, not expecting the habit. 

Because now I realize how much I’ll long them when they slip from my hands. 

Tuesday, 14 June 2016

Bapak Ibu Peri

Selama delapan tahun merantau, jauh dari orang tua dalam keseharian membuat saya kesepian dan sedih di saat-saat tertentu. Terutama saat sakit. Beruntung, dalam kurun waktu tersebut saya dipertemukan dengan kawan-kawan yang baik, ditambah orangtua mereka yang sangat baik hati. Saya menyebut orangtua spesial itu dengan Bapak Ibu Peri.

Bapak Ibu Peri ini punya kesamaan: pemurah & penyayang. Pertanyaan yang paling sering mereka tanyakan: Vinka sudah makan? Hari ini sudah makan apa? Dan saya tahu mereka tidak sedang berbasa-basi ketika bertanya seperti itu, karena seringkali setelahnya saya sudah duduk bersama, bersantap & berbincang dengan mereka. Sebagai remaja yang hobi wira-wiri berkegiatan ini itu, perut saya ini bottomless, enggak ada kenyangnya. Tawaran makan siang atau lauk untuk dibawa pulang tentu bagai kejutan surgawi, dikirim oleh peri. Nikmat tiada tara untuk anak kosan.

Tak hanya murah hati, Bapak-Ibu Peri kesemuanya adalah pendengar yang baik. Mereka menghargai cerita saya bahkan sering pula meminta pendapat, masukan dari saya. They're all ears. Saya yang jauh dari ibu-bopo ini haus akan tempat untuk bercerita. Jatah pulsa yang terbatas sering jadi batasan untuk bercerita ini itu, cerita remeh yang penting ditumpahkan saat itu juga dan tak bisa menunggu saat pulang di akhir pekan. Bapak-Ibu Peri pun mengisi ruang kosong ini. Ruang yang di kemudian hari saya pahami betul, betapa pentingnya untuk diisi. Mereka ini yang membuat saya yakin bahwa tanah rantau tak sekejam dari yang terlihat. Masih banyak kebaikan & kehangatan yang tidak dibuat-buat. 

Awal bulan ini, saya patah hati. Satu ibu peri saya dipanggil olehNya. Tante Eva namanya. Ia adalah Ibu Peri yang paling sering mendadak menelepon saya. Sekedar tanya sudah makan, atau tanya bagaimana kuliah. Hal yang beberapa kali beliau ungkapkan dulu adalah ingin sekali bikin syukuran untuk merayakan hari lahir saya & anaknya, Sheila, yang kebetulan lahir di hari yang sama. Meski tak pernah terwujud, hati saya sudah terasa hangat karena ada sosok ibu yang peduli untuk merayakan hari ulang tahun saya. Dimana hal tersebut bukan tradisi yang akrab bagi saya. 

Saya teramat kecewa & sedih karena kurang keras, mengharuskan diri saya sendiri untuk menjenguk tante Eva saat beliau sakit. Apalagi sebenarnya beliau di Sidoarjo, tempat saya tinggal sekarang. Penyesalan yang sangat besar, hingga saya memikirkan apa yang bisa saya lakukan untuk menebusnya. 

Satu hal yang saya pelajari dari Tante Eva, kehangatan & perhatiannya sungguh berkesan bagi saya. Saya adalah seorang ibu sekarang, dan saya harus belajar bagaimana memeluk teman-teman anak saya nantinya, menerima & menghargai bagaimana seutuhnya mereka. Agar tak perlu mereka mencari perhatian di tempat yang tak pantas atau tidak tepat. Agar dunia ini hangat & penuh kasih. 

Selamat jalan, Ibu Peri. Engkau tak pernah pergi, hanya pulang ke rumah terindah di surgaNya. 

I Love You, As Always



Monday, 30 May 2016

Convo #3 : An Equal Partner

Gambar dari sini
B: I finally found out why John still doing things like that.
C: Why?
B: Because his wife couldn't match to John.
C: Which part?
B: Intelligence, perhaps? Like she's not the one he would talk to on several subject. She's just not understood. 
C: If it is the problem, then it's definitely husband's duty to teach the wife, to expand her horizon, bring up to the level she's needed and not grumbling into his friend. 

If there is one thing I should declare to be grateful after marriage, everyday and every time, it's how I really thankful to have a partner that I can talk to, in every aspect of life, in every subject that I could think of. From religion to sex, from philosophy to complete rubbish. 

Thank you, Ciku. =*

Saturday, 28 May 2016

Media Sosial: Inferioritas & Menjaga Ego tetap Kenyang

Ditulis pada 9 Mei 2016

Gambar dari sini
Akhir minggu ini kita di Indonesia diganjar dengan libur yang lebih panjang dari pada biasanya. Waktu luang yang jarang didapat itu membuat saya bisa menjelajah media sosial lebih banyak, lebih lama & lebih teliti. Maklum, biasanya hanya dialokasikan untuk Instagram (akun @braavos_knit), Twitter pribadi dan Tokopedia. Eh, yang terakhir bukan medsos sih ya, tapi jualan. Hehe.

Setelah menikmati aliran linimasa, alih-alih merasa terhibur saya merasa rendah diri. Seorang yang saya tahu memuat gambar aurora yang luar biasa indah yang ia lihat di Norwegia, kawan SMA berfoto dengan kawan-kawannya usai pesta lengkap dengan limusin & latar belakang jalan dengan pantulan warna-warni lampu New York. Ada juga yang merajut di kapal layar pribadinya, atau di griya tawang yang disewa khusus untuk liburan kali ini dan tempat-tempat eksotis lain. Pemandangan yang seriously too good to be true ini bertebaran di media sosial saya, atau mungkin kalian juga. Bagian terburuknya adalah, this is real, bukan adegan di film-film. Haha. 

Bukan sih, bagian terburuknya adalah saya iri. Bagian terbaiknya adalah saya tahu & sadar betul bahwa saya sedang iri. I acknowledged myself that I was jealous, and feeling inferior. I didn't deny it, because it helped me to go through the next step, how to heal the jealousy. Karena saya paham apa yang sedang terjadi dalam benak & perasaan saya, maka saya pun mudah menemukan antidot-nya: bersyukur. Itu saja, beres sudah.

Kalau saya amati, sosial media memang jago sekali menyentuh ego manusia. Ia bahkan dapat membuat ego kenyang atau lapar seketika. Puluhan love saat mengunggah foto di Instagram tidak dapat disanggah membuat ingin mengunggah foto lain yang lebih wah, lebih oke, lebih spektakuler agar tidak hanya puluhan, tapi ratusan bahkan ribuan likes yang terpampang di akun saya. Manusiawiiii banget, karena likes itu dianggap sebagai pengakuan, seperti emblem yang berjejer di selempang kepanduan jaman saya masih Pramuka dulu. I did this, I did that. Pertanyaan selanjutnya adalah: mengapa saya melakukan ini? An sich karena pengakuan yang saya dapatkan? Kalau iya, pengakuan siapa?

Saya suka mengunggah foto hasil masakan saya, dipuji banyak orang, dan seterusnya. Tapi saya lebih suka ketika anak + suami saya suka dan makan masakan tersebut dengan lahap. Semakin jauh saya berpikir & bertanya pada diri saya sendiri, semakin saya menemukan bahwa yang paling penting malah bukan emblem/lencana/embel-embel yang terlihat atau tertera dengan jelas, cetha dan bisa dibaca setiap orang. Tinggal bagaimana saya perlu belajar terus, agar bisa semakin mahir memilah yang penting untuk dirasa dan mana yang pantas diabaikan saja.

Sosial media memang seperti titian tali licin yang harus dilewati dengan hati-hati. Mudah sekali tergelincir dan menjadikannya muspro, sia-sia. Buat apa mengikuti/menggunakan sesuatu yang hanya membuat diri ini insecure, rendah diri, iri dan perasaan negatif lainnya. Sisi positif sosial media juga bejibun kok. Untuk yang satu ini, mari bersikap pragmatis, mengeksploitasi kebaikannya & tak perlu repot dengan yang tidak baik. =)

Friday, 27 May 2016

Investasi Praktis ala IWAK

Ada yang pernah lihat berita tentang project IWAK oleh mahasiswa UGM ini di beberapa bulan terakhir? Saya baru lihat 1-2 minggu lalu di NET. Proyek yang menghubungkan orang yang ingin investasi dengan keluarga yang tidak punya penghasilan atau menengah ke bawah dengan memberi mereka pelatihan intensif untuk menjadi petani ikan air tawar. Tiap kolam butuh dana 15juta, tiap investor boleh berkontribusi mulai dari 1% alias 150ribu saja. Buat saya ini brilian & harus didukung penuh, pake duit lah kalo bisa, kalo ga bisa ya paling tidak di-share biar viral. Ga muluk, 150ribu sudah mulai investasi. Riil, praktis dan membangun. Termin-nya juga jelas, pembagian keuntungan juga jelas. Mantap banget.

Eh, tapi yang paling saya suka itu interface atau tampilan dari web-nya itu loh. Karena laporannya harian & detil, jadi kayak main game melihara ikan sendiri. Kerennya, ini melihara ikan betulan! Hehehe.
Sekarang saya lagi deg-degan penasaran soalnya dana para investor untuk 1 kolam sudah terkumpul dan kolam siap dibangun. Ga sabar pengen lihat laporan harian besok, semoga petani yang sedang diseleksi sudah terpilih. Amin!

Ini linknya: http://iwak.me/

Copyright © 2010 Life's Never Boring Beibi! | Premium Blogger Templates & Photography Logos | PSD Design by Amuki