bisnis

Saya & Sheet Mask Korea

23:12:00

Akhir-akhir ini saya kepincut berat dengan sheet mask Korea nih. Asli. Kebanyakan nonton Jo Jung Seok kali ya, hahaha.

Alasan sebenarnya ada 2, tetapi berhubungan satu sama lain. Pertama karena dalam proses menyapih, hormon dalam tubuh tidak seimbang dan membuat daur hidup tubuh saya macam rollercoaster. Efek utamanya di siklus menstruasi. Kacau parah, sampai memutuskan ke obgyn, takut ada apa-apa. Setelah “diatur” siklusnya, sekarang sudah berangsur normal. Nah, efek dari menstruasi yang sangat acak itu berpengaruh di kulit saya, mulai dari jerawatan, mendadak sangat kering dan anomali lain yang belum pernah saya alami, bahkan di saat hamil. Jadi saya mulai mencari solusi perawatan kulit dari yang paling mudah ditemui di drugstore, salah satunya sheet mask.

Kedua, karena Hayu sudah berhasil disapih, ada rasa merdeka yang meluap-luap dan keinginan untuk merawat diri agar kembali seperti sebelum hamil. Pengen centil-centilan lah singkatnya. Tapi perawatan di salon juga tidak mendukung waktunya karena mas Rendy kesibukan mengajarnya juga sudah normal. Go-Glam ga nyampe Sidoarjo juga. Alhasil sheet mask jadi jawaban semua penantian diriku.

Pengalaman pertama pakai Garnier Sakura itu, beli di Indomaret. Ini sudah senang sekali. Setelah menidurkan Hayu dengan sesabar mungkin dan berbagai upaya tanpa nenen, sheet mask yang makcles di wajah sambil harum menenangkan itu reward yang membisikkan “life is good baby, all is well” di telinga saya. Pagi-pagi cuci muka wajah pun segar bersinar kayak ga punya hutang. What a bless in this cicilan world yah. Hihihi. Masalah sebenarnya 21.000 rupiah dikalikan keinginan hati yang tak tentu sewaktu-waktu itu membuat otak berputar untuk cari solusi yang lebih irit.  Viva la cheapskate!

Petualangan saya membawa ke dunia sheet mask Korea yang bikin saya seperti anak kecil di toko mainan, ternganga takjub soalnya banyak bingitsss yang ingin dibawa pulang dicobain satu-satu. Celebon Platinum Essence Mask ini salah satu yang saya coba setelah Garnier. Cairan essence-nya berwarna putih susu yang agak keruh gitu. Wanginya saya netral ya, ga begitu suka tapi ya ga sampe ganggu. Dengan adanya gambar personil GFriend di kemasan Celebon ini pasti bikin orang mengasosiasikan bahwa dengan pakai masker ini bisa bikin kulit wajah kinyis-kinyis sekinclong adek-adek kiyut nan imut. Saya pun begitu. Sayang ras dan DNA tidak mengijinkan. Huahaha. Kulit jadi lembab dan kenyal, tapi tidak ada instant effect yang begitu berarti. Kalau harus memilih, saya akan memilih Garnier karena saya suka wanginya yang relaxing. Tapi hal ini wajar sih kalau melihat harga Celebon yang masih di bawah Garnier (di Guardian 17k-18k, kalau di sini 15k).

Sampai detik ini saya sudah mencoba 4-5 merk berbeda. I’ll tell you a lot about the journey. Jangan heran ya nanti kalau tiba-tiba blog isinya sheet mask melulu. =D Dan karena saya mengalami kesulitan cari sheet mask yang oke dan ramah fulus, saya bertekad agar kalian tidak melalui jalan terjal berduri ini. *tsah! Jadi selain berbagi pengalaman, saya juga jualan masker dengan harga terjangkau sekaligus teruji. Hehehe. Sambil menyelam memungut mutiara nih ceritanya.. Klik di sini ya untuk yang tertarik!


Oh iya, ini lho yang namanya Jo Jung Seok… ;)


life

Convo #4: Let's Live Our Dream

23:20:00

Dawn, window opened and the fog just melt.

C: I’ve been thinking a lot, and on, and more, and for a long time.
B: About?
C: About us, about you. Do you know when you’re really attractive & cool to me?
B: When?
C: When you’re doing things that you love, passionately.
B: *smirk
C: So, this accident saddened me a lot not because of your physical wound. I mean, yes it hurts you so it hurt me too but it’s not as hurt as I saw you stare blankly from time to time. I hate that when you answered nothing to my “what’s on your mind now” question. Obviously you’ve been full of thought and not sharing ‘em just made me sad and scared at the same time.
B: Well…
C: So, my point is, perhaps, this series of low time are the exact time where we should think over our purpose. Not only the career or academic stuff like last time, but our life in general. Perhaps you should really ask again, what’s your truest dream. What’s the thing that burning all the time, you’d love them no matter what, through thick & thin? Making the school, the boxing, and the chess? I’ve been so in love selling things since I was elementary school and the knitting stuff made the love doubled. I want you to do something as passionately as I am. I believe you won’t make me and our daughter starved, until any time. That’s why, even I’m not suggesting you to quit your job or back to square one, I want you to know as if you think you have to do them, let’s do that. I’m okay & ready with it. Let’s live our dream, together as ever.


Notes: Thinking to say the last 3 sentences just so scary AF. 
But after it’s been said, I feel free. Love is truly liberating, though. 

cheri

The Subject of My Curiosity

23:23:00


“Semoga dengan (ke)jujur(an) ini, tidak mengurangi rasa cintamu kepadaku.”
“Jelas tidak lah. Malah dari kejujuran ini ada hikmah yang bisa dibagi.”

Sometimes I wonder how you could make me curious every day. 
I often ask to myself, what was hidden in the folds of your brain. 
I am trying to count, 
how many books you read to make the smooth logical thinking works in any situation. 
How many boxing fights and chess rounds that you analyze? 
How those eyes staring clearly in the hazy political career? 
How could you flop and turning back in the same road twice or even third times? 
How could you peel me by layers through the time, 
while I’ve already thought I was transparent since the beginning?

It’s because there’s so much I don’t know, that I’m here……….
"The subject of my curiosity forever." I like that. 
I will be curious about you and love you forever. 
I will be curious about you and live with you forever.
But just don’t drive me crazy.”
(Lee Hwa Shin, Jealousy Incarnate)

bisnis

Halo 2017!

23:26:00

Tahun 2016 akhir kemarin betul-betul mengubah saya. Bopo pulang ke pelukan Allah di 2 September 2016, Jumat pagi dihantarkan rengkuh hangat ibuku. Saya kehilangan beliau, seperti ada bagian tubuh saya yang dipotong tanpa kehendak saya. Amputasi. Sampai saya kemudian sadar, bahkan tubuh ini bukan milik saya sendiri. 

Di sisi lain, karena Bopo pula saya memilih untuk bangkit dan menghidupkan kembali mimpi-mimpi saya. Karena saya yakin, jika saya dapat bermanfaat dan berguna untuk sesama, maka saya dapat menjadi amalan Bopo yang tak terputus. Dengan membuang keraguan satu persatu, saya menapaki rencana-rencana yang sudah saya ketahui betul arah tujuannya sejak dulu, tapi hanya saya pendam dalam benak saja.

Saya bertemu dengan inspirasi saya (yang juga subjek penelitian buat skripsi, hehe) Diana Rikasari di acara yang diselenggarakan oleh Sunsilk di Surabaya, Oktober lalu. I definitely know I'll love her more after vis a vis. Diana energinya positif sekali, dia tidak menolak bahkan ketika ketemu pertama kali saya langsung bilang, May I hug you? Jawabannya, "Boleh banget, baik banget sih..." Padahal harusnya saya yang berterima kasih ya. =)

Diana persis seperti yang saya baca selama ini, tapi ternyata ada satu yang baru saya tahu di pertemuan kemarin, ia dapat memberikan materi dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar plus tidak elo-gue! Percayalah, ini nilai yang plus plus plus yang membuat saya tambah kagum. Penggunaan bahasa itu penting, karena itu berarti ia dapat menyesuaikan dimana ia berada dan itu juga bentuk respek yang tak usah diproklamirkan keras-keras pakai corong suara. Eh, saya juga dapat bonus, menang tantangannya. Lumayan, buat modal jualan. Hehehe.


Mencanangkan resolusi tahun ini, sembari menyimak lagi resolusi tahun kemarin yang belum tercapai. Untuk tahun lalu, saya memang hanya membuat 3 poin resolusi dalam hal rajut-merajut. Tahun ini saya memberanikan diri untuk memiliki beberapa resolusi terkait hobi, bisnis, motherhood & diri saya pribadi. Sekarang saya percaya bahwa untuk dapat menjalani bisnis/cita-cita/impian bukanlah dengan memisahkannya dengan kehidupan personal, melainkan memeluk dan menerima mereka semua secara utuh. Salah satu contohnya adalah merasa baik-baik saja meski baru menulis tentang resolusi di bulan kedua, haha. Bulan Januari sudah ada prioritas keluarga, investasi, liburan & sakit. Bulan Februari membetulkan rumah, Hayu opname & suami kecelakaan. Diri saya yang dulu mungkin merasa tulisan ini sudah basi, tidak layak ditulis dan dimuat di blog dan feel disappointed toward myself for not completing a target by the time. Bisa dibilang cara pandang saya yang baru adalah lebih realistis, tapi tidak pernah berhenti. Kalau kata Jennifer Kem, business coach yang saya ikuti di banyak media sosial, shift-pivot-perform. Kalau ada hal yang membuat kita tidak dapat mengikuti rencana, ya yang fleksibel, cari jalan keluar dan lakukan hal yang sudah seharusnya dilakukan.

Perspektif ini dengan sukses menaikkan pendapatan bisnis saya hampir 3x lipat di 30 hari pertama, di rentang November-Desember tahun lalu. Mau tidak mau saya merombak ulang pemikiran-pemikiran saya selama ini. Hal ini juga menjadikan saya percaya diri untuk mendaftar mimpi-mimpi yang selama ini cuma lari-lari di sebatas imajinasi. Targetnya lumayan loh, tahun ini! =D


  • Membangun sistem untuk Braavos Knit. Entah kecil atau besar, sistem dalam usaha itu perlu. Biar bisa tetap berjalan walau anak sakit atau harus melancong ke tempat yang jauh. I'll work to solve this. 
  • Belajar lagi tentang mencelup benang. Setelah mencoba sekali-dua, ternyata mencelup benang itu asyiiiiiikkk sekali! Saya ingin bisa mencelup benang lokal dengan pewarna yang ramah lingkungan, kalau bisa pewarna alami lebih bagus lagi.  
  • Mengajar beberapa kelas yang berhubungan dengan merajut & mencelup benang. Selama ini baru mengajar privat, one on one/two. Kepingin merasakan mengajar yang 5-10 orang gitu.. Hehe. 
  • Bermain dengan Hayu minimal 1 jam per hari berdasarkan Montessori atau teknik apa saja yang berdasarkan studi & penelitian. Selama ini ya bermain aja, kurang informasi mendalam mengapa permainan ini penting untuk dia. Meski setelah belajar & baca, ternyata banyak kegiatan sehari-hari yang dipraktikkan itu sudah memenuhi kriteria kebutuhan belajar di umurnya. Intinya, belajar lagi untuk Hayu, biar ia pun senang belajar sampai dewasa kelak. =) 
  • Menata rumah agar jadi tempat ternyaman sedunia. Selama ini saya berlindung di balik "Ya namanya juga ada anak kecil di rumah, berantakan tidak apa-apa". Saya harus mengakui kalau itu alasan semata. Melaksanakan baiti jannati deh untuk resolusi ini. 
  • #wajahbodiparipurna2017. No explanation needed, right? Hahaha. 
Di postingan terdahulu saya tidak menceritakan apa yang digenggam/isi kantong Rabbi Simcha Bunem yang lain, padahal ini perihal "Two Pockets". Sebelumnya saya hanya menyitir bahwa beliau menyimpan kertas bertuliskan V’anokhi afar v’efer”—“I am but dust and ashes.” Di kantong yang lain, beliau juga menyimpan Bishvili nivra ha-olam—“for my sake the world was created.” 

Di titik ini saya baru merasa mampu untuk menerima, bahwa sebagai manusia saya bukan siapa siapa sekaligus saya dapat mencapai apa pun yang saya usahakan dengan ridhoNya. Yuk, lanjut berkarya! 


Hayu

Belajar Untuk Berhenti

21:05:00

Hayu biasanya cemburu kalau saya pegang hape terlampau lama. Saya paham dan menghindari hal itu terjadi. Masalah dimulai ketika saya sedang kesal atas tingkah laku Hayu seperti tidak memperhatikan atau mengulur-ulur hal yang seharusnya dilakukan segera. Untuk menghibur diri, biasanya saya mengambil dan melihat-lihat hape. Lalu Hayu menjadi marah, clingy, kekesalan saya bertambah, semakin tidak ingin memerhatikan Hayu lalu Hayu semakin cari perhatian, berteriak dan intensitas masing-masing kami pun semakin negatif dan semakin parah. Berputar seperti lingkaran setan. 

Maka di situ saya belajar untuk berhenti. Belajar untuk menutup mulut, menghela nafas, duduk dan memeluk Hayu. Belajar bahwa saya-lah yang sudah sempurna perkembangan otak dan jiwanya, sehingga saya berkewajiban untuk memutus rantai siklus yang tidak benar ini. Belajar bahwa saya sudah mampu menalar dan punya kerangka logika, maka saya wajib meredakan dulu kejadian ini, lalu mengajarinya lagi dan lagi, hingga ia mengerti. Belajar untuk mengendalikan ego, dan menanamkan pada benak saya sendiri "bukan yang paling keras, atau suara siapa yang terakhir berucap-lah yang benar; karena kebenaran tak ada sangkut pautnya dengan lantang-ngotot-tidaknya suara atau urutan bicara". 

Bopo

Lubang

19:27:00

Sembilan belas hari berselang dan lubang di hati tetap membara saat bayangan senyummu melintas & mengipas-ngipas api di dada. Tak perlu ragu lagi, aku memang rindu.

Ya Allah peluklah Bopoku dalam hangat ampunanMu.
Tempatkan ia dalam kenyamanan yang tiada bandingannya di dunia.

Ya Rasulullah, sambutlah Bopoku dengan senyum dan kerinduan atas saudara yang lama tak berjumpa.
Berilah syafaatmu kepada Bopoku, ya Rasulullah..

Amin ya robbal alamin.

resensi

5 Recently-Watched Korean Dramas!

23:03:00

1. I Have a Lover
It's my friend's word that made me want to give a look at this drama. She said, "Aah, I wonder if this is how life after marriage. We have a totally different problems, aren't we? You know, I just watched a drama..." and her story lingered. Then I decided to give this 50 episodes drama a go, a really rare decision. I used to watch drama in 10-20ish length, so it's a kind of stamina drenching to watch them, even before started! *ikykwim* I already sensed makjang (exaggerated) typical scenario-tone-expression, so I put my expectations at the lowest. Surprisingly, it turns out good enough for me. The chemistry between lead characters really stole my heart. I somehow absorbed by the simple things such a gesture, diction and the character's growth.

Well, sometimes I should read recap of some episodes, when the antagonists just being true evil like s/he's not even human. But I returned to watch all of the episodes, anyway. If I should give a reason for you to watch IHAL, it must be Ji Jin Hee & Han Hyojoo's act.
Rate : 7/10

2. Reply 1988 
I'm a Reply series' fan. From the previous two, I fell in love hardly to them. But I keep my expectation to the lowest for this one, because 2 series as big hit in a row was great, then the third? *fingercrossed* Well, the writer-nim answered me right away with beautiful daily problematic stories and I went cry many times. Overall, I love Reply 1988. If there is a minus point, perhaps I should say the romantic story-line that didn't quite pulling my heart as hard as the previous. Thanks to Ra Mi Ran and Jungpal, lovely antique mom and act-cool-but-so-warm son, I could survive happily and a bit pit-a-pat through the series. Ryu Jun-yeol, love! #teamjungpal #teamjunghwan
Rate: 8/10

3. Another Miss Oh (Oh Haeyoung Again) 

Presumption; I don't like Eric as an actor. Don't ask me why. For me, he's more variety type than acting one. But I love Seo Hyunjin, so I decided to watch the early episode. 

Fact: I love the drama! Eric's act too! Well, blame my age, now I love how "adult love story" than the "shy-pit-a-pat youth love story". I love how the girl character, where she's brave, straightforward, know what she wants & what she feels and love herself. I love the characterization and the soundtracks. And the greatest part: the chemistry & the physical attraction between the leads, daebak! Give them a chance, if you like rom-com and a bit splash of mystery. 
Rate: 8/10

4. Lucky Romance
Ryu Junyeol & Hwang Jungeum for Marie Claire
I watched this definitely for Ryu Junyeol. Hehe. I like how he act as Je Sooho, the genius-programmer-CEO-tinman in love. As my experience live between the geniuses for 2 years in hi-school, I could tell you that Je Sooho is really close to the reality to the overflowed IQ owner. But because of Hwang Jungeum as the woman lead, and the background set of the workplace and also the tone, I got the feeling of "She was Pretty 2.0" from Lucky Romance. Not a bad premise, story-line and actors but the dejavu feeling just keep afloat and it bothered me. I'm just happy for Ryu Junyeol, and that's enough reason to finish the drama. 
Rate: 7/10

5. I Remember You (Hello Monster)
This underrated drama should have a spotlight and standing ovation for the plot, storyline, cast, act and chemistry! If you like Sherlock-ish series, you really should watch this. I like how the character grows, how they made a mistake and solve them maturely. I also love how the loveline built, it's honest and somehow raw, just fit as the character developed in every episode. Seo Inguk acting is spread in broad emotion spectrum, Jang Nara also portrayed the detective character perfectly. Really recommended!
Rate: 9/10

family

These Two Years

04:23:00

 For last 2 years, I can’t enjoy the habit/ritual for visiting families in Eid due to my pregnancy and Hayu still too small to go to long journey. So this year I went there. I did unjung-unjung.

I think it won’t be matter, to skip 2 years in a row visiting relatives at their home. 
But I was wrong.

I felt holes in heart, seeing my uncle looks weary and tired after surgery he had. Another uncle already reduced his work in field, because of his lacking energy. My aunt nearly in tears, just because I said okay to bring her cooking to home. Everything’s change. And those 2 years just like a fast forward button that I unintendedly pushed, not knowing that I’ll missed so much and feeling lost afterward.

I feel so guilty, for being busy to grow up by myself and forget how my beloved families are getting older too.


Let’s not forgetful and let our guards down even for a while. I’ll say “I love you” so much as I can. I’ll say “I miss you” as much as I could. I’ll call them as soon as possible, not waiting the ritual, not expecting the habit. 

Because now I realize how much I’ll long them when they slip from my hands.