0
comments

Thursday, 19 March 2015

Maret 2011


Tanpa aplikasi Timehop, tangan ini ndilalah nemu foto ini. Foto yang diambil di bulan yang sama,  4 tahun yang lalu. Foto yang diambil di tempat kami biasa jajan eskrim (dan tak lupa beli sousnya), di Mon Cheri – Plaza Surabaya. Tempat yang namanya juga jadi sebutan kesayangan untukmu, suamiku.

Waktu memang tidak bisa dijadikan lawan, karena kita akan selalu kalah terhadapnya. Ia selalu melaju, terus tanpa menoleh ke belakang. Tapi waktu pulalah yang melahirkan kenangan, yang dapat dijadikan pijak & pelajaran untuk sekarang dan yang akan datang.

Kesedihan akan masa depan akan merusak kebahagian di masa kini, ujar Basudewa. 
Besok engkau mungkin harus berangkat lebih pagi dari hari ini, tetapi tak perlu kau kesalkan itu sekarang sayangku. Hari yang paling melelahkan pun, kelak dapat menjadi kenangan yang kita lihat dengan senyum.

Terima kasih telah berkembang dan belajar bersama, 
termasuk membuat cinta ini selalu tumbuh & berbuah rindu di sepanjang waktu.
Semua terasa menyenangkan, karenamu.

Kekasih & istrimu,

VM
0
comments

Wednesday, 11 March 2015

[Resep] Acar Ikan Kembung

Setelah ada Hayu, urusan masak memasak jadi sedikit tricky. Harus pintar-pintar membagi dan mempersingkat waktu. Setelah beberapa lama hanya berkisar di tumis-sop-sayur asem-bening dan lauk goreng-cemplung, akhirnya saya mulai bosan juga. Mau browse resep-resep kekinian di grup masak rasanya terlampau lama. Sumber valid lain jika sudah mentok begini adalah bincang ibu-ibu, baik di tukang sayur ataupun pasar. Percayalah, saran-sarannya mantap!*meski kadang ajaib juga*

Di tukang sayur sedang bawa ikan kembung, saya tertarik mencoba. Banyak yang semangat menyarankan bumbu acar, gulai, bali, etc. Karena tetangga sebelah pohon belimbing wuluh terlihat sedang lebat (pas mau belanja, kelihatan menggoda), saya jadi kepengen yang asam-asam. Jadi deh pilih bumbu acar, lengkap dengan belimbing wuluh hasil minta tetangga. Hehe. 

Resep berikut saya dapat dari Sajiansedap.com. Dengan beberapa penyesuaian sedikit, hasilnya maknyus! Selamat mencoba..


Resep asli dari Sajian Sedap
Bahan:
5 ekor ikan kembung, dikerat-kerat
1 siung bawang putih, dihaluskan
1 sendok teh air jeruk nipis
1/2 sendok teh garam
minyak goreng untuk menggoreng

Bahan Acar:
5 butir bawang merah, dipotong 4 bagian
2 buah cabai merah besar, diiris serong
10 butir cabai rawit merah utuh (saya cuma masukkan 5)
1 cm jahe, dimemarkan
2 lembar daun jeruk, dibuang tulang daunnya, disobek-sobek
1/2 sendok teh garam
3/4 sendok teh gula pasir
1 sendok teh air jeruk nipis (saya ganti belimbing wuluh 3 buah ukuran sedang)
1 batang daun bawang, dipotong 1/2 cm
250 ml air
2 sendok makan minyak goreng untuk menumis

Bumbu Halus:
2 siung bawang putih
2 butir bawang merah
1/4 sendok teh merica bubuk
1 butir kemiri, disangrai
1 cm kunyit, dibakar

Cara membuat:
Lumuri ikan dengan bawang putih, air jeruk nipis, dan garam. Diamkan 10 menit.
Goreng dalam minyak yang sudah dipanaskan di atas api sedang sampai matang.
Acar: panaskan minyak. Tumis bumbu halus, bawang merah, cabai merah, cabai rawit merah, jahe, dan daun jeruk sampai harum.
Tambahkan air, garam, dan gula pasir. Masak sampai mendidih.
Masukkan ikan, air jeruk nipis, dan daun bawang. Aduk rata. Angkat.


0
comments

Saturday, 7 March 2015

April, Winter is Coming!

Thanks to Hayu, time really flies faster than the speed of light. I never really think that Game of Thrones (GoT) season 5 just ready to air next month!Aaaaaaaarggggghhhhhhh! Really can't wait!

Dornish people, how Lord Varys & Tyrion's adventure, then Arya, don't forget how Jon Snow and Stannis entwined together, and Dany! It will be a tough time for Daeny, how Meereen statue will collapse just like how it shown at the trailer.

Anyway, I watched this >> Game of Thrones Season 5: A Day in the Life (HBO): http://youtu.be/p9Mi17nLflY, yesterday. And I truly honor *clap my hand* to the team behind GoT. I love how the producer choose for not being stressful by the "bigness" of GoT, but doing the best as he planned. I'd like to quote:

"Don't be exaggerated by the bigness of the production, just do and prepare as everything has planned. It's just like parachuting. 
Don't be afraid about the height, how high you'll fly. 
Just make sure that the parachute works."

NICE!

0
comments

Monday, 19 January 2015

Hayu

16.01.2015 9.35pm

Apalah yang bisa kuceritakan
Dari tatap mata bulatmu
Aku hanya ingin tenggelam di dalamnya
Seperti gerimis yang lesap perlahan
di sela tanah, sore tadi.


Apalah yang bisa kubanggakan
Di depan senyum bibir mungilmu
Aku hanya bisa takluk karenanya
Seperti Amer pada Agra
atau Jalal pada Jodha.


Engkaulah guru, karib, yang selalu jadi bagianku.
Engkaulah doa, harapan, cinta yang utuh tanpa catu.
Engkau adalah kami, tapi juga dirimu sendiri.
Engkau, ya, engkau Hayu.

0
comments

Monday, 29 December 2014

Egois yang Boleh

Sejak menikah, saya merasa saya bertambah egois dalam berdoa. Doa semakin panjang, bermacam-macam dan cukup rewel. Terkadang muncul juga rasa bersalah denganNya. Bagaimana saya meminta sederet keinginan padahal ibadah belum jua sempurna? Tapi seperti syair Abunawas yang kerap dilagukan di masjid & musholla sekitar rumah, saya sadar betul bahwa saya hanya seorang manusia yang menghamba dan dengan segala keegoisan meminta Tuhan untuk tetap menyelamatkan saya, terlepas dari kesalahan & dosa yang masih dipanggul.

Salah satu pinta yang rajin saya selipkan dalam doa adalah dijauhkannya keluarga dari orang-orang yang iri & dengki, dari orang-orang yang berniat buruk kepada kami. Sungguh, senyampang berjalannya waktu semakin terasa bagaimana sebenarnya saya tidak pernah punya kuasa atas jodoh. Orang-orang yang dipertemukan dengan saya, baik yang menjadi kawan atau lawan, bagi saya ditautkan oleh benang tak kasat mata yang bernama jodoh. Entah rekan kerja, tetangga, guru, saudara, mertua, anak, tak ada yang benar-benar dapat kita pilih dan harap seperti kemauan kita.

Alhamdulillah, sampai sekarang saya merasa doa yang satu ini dijawab dengan kontan oleh Tuhan. Ia mengirimkan banyak sekali orang-orang dengan kebaikan di sekitar kami. Bahkan jika ada yang berniat buruk pun selalu tampak dengan sengaja ataupun tidak, secara langsung atau tidak. Dan saya sangat bersyukur atas semua ini, karena adalah suatu yang niscaya, hubungan antar manusia adalah hubungan yang rumit dan penuh variabel tak terduga di dalamnya.

Benar, memang banyak yang bilang jika orang yang dipertemukan dengan kita pasti punya peranan untuk membentuk pribadi atau bahkan sebagai ujian ketahanan. Tetapi, saya hanya menggunakan kesempatan sebagai seorang hamba yang diperbolehkan berdoa untuk meminta, maka saya meminta untuk dilingkupi hanya oleh orang-orang yang dapat membawa dan menjaga saya terus berada di jalanNya. Boleh kan?


=)
2
comments

Sunday, 28 December 2014

[Resep] Brownies Kukus Pisang

Siang ini saya dikunjungi sahabat-sahabat tersayang yang sudah lama sekali tak bersua. Memanfaatkan pisang yang sudah sangat-sangat matang, sejak pagi saya & suami sudah ngulik bahan di dapur. Resep ini sudah saya tandai sejak lama, tetapi agak kurang sreg dengan teknik "cemplung & aduk" yang digunakan mbak Endang, karena suami biasanya kurang suka dengan brownies yang teksturnya terlalu padat. Ditambah posisi kehabisan baking powder double acting yang bikin tambah ga pede lagi. Akhirnya saya memutuskan memakai teknik kocok telur sampai ribbon stage dan menambahkan emulsifier agar teksturnya lebih lembut, se-tipe dengan brownies kukus Amanda lah. Alhamdulillah berhasil dan teman-teman sampai minta resepnya. Berikut resep lengkap versi saya, kalau mau yang cemplung & tanpa mixer bisa langsung klik link-nya ya. =)

Brownies Kukus Pisang
Resep diadaptasikan dari Just Try and Taste

Bahan
yang di [dalam kurung] adalah merk bahan yang saya pakai


- 150 gram dark cooking chocolate/coklat hitam masak [Tulip]
- 125 gram gula pasir
- 3 sendok makan mentega/margarine/BOS suhu ruang [BOS Gold Boullion]
- ½ sendok teh rhum pasta [Moon Light] (atau 2 sendok teh vanilla extract atau 1/2 sendok teh vanili bubuk; jika menggunakan vanili bubuk, ayak bersama tepung terigu) 

- 350 gram pisang ambon/cavendish/raja (kira-kira 3 buah), haluskan dengan garpu
- 3 butir telur ayam ukuran besar, kocok lepas
- 100 gram tepung terigu serba guna [Segitiga Biru]
- 1/2 sendok teh baking powder, pastikan fresh, cek masa kedaluarsanya. [Kupu-Kupu]
- 20 gram coklat bubuk, gunakan yang berkualitas baik [Schoko]
- 1/2 sendok teh garam
- ½ sendok teh emulsifier/ovalet/SP [Quick]


Cara membuat
1. Siapkan loyang ukuran 20 x 20 cm olesi dengan mentega dan alasi bagian dasarnya dengan kertas minyak. Sisihkan.
2. Siapkan mangkuk, masukkan tepung terigu, coklat bubuk, baking powder dan garam, aduk rata. Sisihkan.
3. Siapkan mangkuk tahan panas (kaca atau alumunium), letakkan mangkuk di atas panci berisi air mendidih. Masukkan coklat blok ke mangkuk, dan panaskan dengan api kecil menggunakan teknik double-boiler (tim) hingga coklat meleleh. Angkat dari api. Aduk coklat hingga smooth, tambahkan mentega/margarine, aduk hingga halus. Jika terlalu kental panaskan sebentar di panci berisi air mendidih hingga menjadi agak lumer.
4. Kocok telur dan gula dengan kecepatan rendah hingga tercampur. Tambahkan emulsifier, lalu kocok dengan kecepatan tinggi selama 8-10 menit atau hingga adonan pucat & mengental. Tambah rhum pasta, kocok sebentar, matikan mixer.
5. Tuangkan coklat leleh ke adonan telur, aduk rata. Masukkan puree pisang ke dalamnya, aduk rata. Pastikan coklat tidak panas saat menambahkan telur agar telur tidak matang. Aduk hingga adonan tercampur rata.
6. Masukkan tepung dalam tiga tahapan, aduk perlahan dengan spatula hingga rata. Tuangkan adonan ke dalam loyang, ratakan permukaannya. Masukkan ke dalam dandang kukusan yang airnya telah mendidih, tutup permukaan dandang dengan kain bersih yang menyerap air, tutup rapat dengan penutup kukusan. Kukus kue selama 45 - 50 menit atau hingga brownies matang dan tidak lengket saat di tusuk dengan lidi. Keluarkan dari dalam dandang.


Note: Gunakan api sedang saat mengukus, kondisi dandang air terisi banyak sehingga cukup untuk mengukus selama 50 menit. Jangan membuka penutup kukusan selama kue dimasak.

Voila! Selamat mencoba! =)

0
comments

Monday, 27 October 2014

Beliau yang Ngudud

Di suatu hari di 6 tahun yg lalu saya mendapat hadiah dari kuis di radio: tiket seminar setara 300 ribu rupiah. Mayan lah, kalau mahal gini biasanya goodie bagnya bagus. Anak kos macam saya cukup lemah pada barang gratisan. Tapi ternyata yg lebih bagus adalah pengalaman saya usai seminar. Dulu, saya sering sengaja tidak langsung pulang saat seminar, nyanggong pembicara. Bukan untuk foto, tapi berbincang & mengajukan beberapa pertanyaan. Kalau masih sempat foto yaa bonus lah. Haha.

Pembicara yg satu ini sedang asyik ngudud ketika saya mendekat. Ia sontak mematikan rokoknya ketika saya terbatuk kecil & menjelaskan bahwa saya punya asthma. Menarik. Tidak semua perokok se-baik hati ini. Toh, saya yg mendekat, bukan sebaliknya.

Hanya satu hal penting yg saya tanyakan pada beliau: bagaimana sih caranya menahan diri agar tidak serakah, karena manusia kan selalu tidak puas atas yg dimilikinya? Sambil tertawa beliau menjawab: lihat saja tubuhmu. Dalam sehari, kamu mampu makan berapa kali sih. Ambillah steak paling mahal, apa bisa sekali makan lebih dari dua piring? Bisa, tapi jadi sakit perut kan. Rokok, paling banyak 2-3 pak. Minum, anggaplah wine paling enak, sebotol bisa kamu habiskan sendiri tanpa pusing atau hangover? Kalau kamu paham tubuhmu, batasmu & kemampuanmu, kamu tidak akan serakah atau dikuasai nafsu. Kamu bisa tahu apa yg harus kamu lakukan untuk dirimu sendiri & orang lain sesuai kemampuanmu.

Beberapa hari ini, beliau - orang yang sama- sedang jadi buah bibir seantero negeri karena jadi menteri. Semua kagum, dengan banyak catatan: sayang sekali ia wanita, ngudud, bertato dan DO dari SMA.

Apa daya, saya terlanjur mengingatnya sebagai orang yg baik hati, yang pernah memberi saya nasihat yg lugas & mengena. Saya terlanjur percaya padanya karena pengalaman interpersonal, dan bukan ulasan media.

Selamat bekerja bu Susi, semoga Allah merahmati.


0
comments

Friday, 24 October 2014

Malam 1 Suro

Malam 1 Suro, saat kecil dulu berarti karnaval, jalan-jalan keliling desa sambil sholawatan, bawa obor yg bau minyak tanahnya susah hilang meski dicuci sabun berkali-kali. Berpindah ke Surabaya, blas, ga ada kesannya. Dua tahun lalu, di Yogya, malam 1 Suro bertepatan dg hari pertama kerja saya di Project Tobong. Saya melihat beberapa baris orang sedang laku bisu mengelilingi area Kraton.

Dari yg hingar bingar, atau yg sunyi, budaya memiliki cara tersendiri untuk memaknai & menyikapi momentum, bahkan yg terkait atau disuratkan oleh agama. Tak heran mengapa budaya selalu dikaitkan dengan arif, atau kearifan. Karena ia dapat menjadi pengingat yg luwes, lentur & mudah meresap. Itulah mengapa saya sedih jika ada yg membenturkan budaya & agama dg serta merta, mentah-mentah
Mungkin, sekali-kali "kacamata"nya perlu diganti.
0
comments

Tuesday, 7 October 2014

QoTD: Been There, Done That (and Got the Love of My Life)

You have to be content with a dream that’s close.
If you chase after one that’s far away, your heart will hurt and
your insides will burn. A futile passion only leaves heartache.
That’s why life’s stupidest thing is a one-sided love.

But the reason that stupid one-sided love is worth trying is…
that passion can sometimes make miracles happen…
sometimes go the long way around to help you fulfill a dream…
and even if it doesn’t allow you to realize that dream, it allows you to linger near it and find happiness.

~ Tae Woong oppa, Reply 1997.

 

Copyright © 2010 Life's Never Boring Beibi! | Premium Blogger Templates & Photography Logos | PSD Design by Amuki