0
comments

Monday, 25 August 2014

[Resep] Pannekoek alias Panekuk Belanda

Wah, ternyata sudah lama ya saya tidak menulis kegiatan masak-memasak. Memang kehamilan trimester pertama sempat membuat saya “musuhan” sama dapur. Terkena asap berlebih bisa berakibat mual dan muntah. Juga karena kondisi janin yang belum sepenuhnya kuat, dokter melarang saya untuk mengangkat atau melakukan pekerjaan terlampau lama. Alhamdulillah sekarang sudah jauh lebih baik dan karena gampang lapar, saya pun kembali berkawan dengan piranti masak-memasak saya.

Akhir pekan kemarin saya dan suami utak-utik di dapur, pengen bikin jajanan. Karena sempat membeli tabloid Koki sehari sebelumnya, ada resep yang nyantol di hati, dan bikin kepikiran kalau tidak dibikin. Namanya, Pannekoek atau Panekuk Belanda.


Suami memang suka sekali dengan panekuk. Resep andalan kami tentu Pancake ala chef Yuda Bustara. Tapi kali ini tergoda juga melihat tampilan cantik di lembar tabloid. Ini resepnya, sila dicoba. Jangan khawatir, mudah sekali. Bahkan suami bisa tuntas mempraktikkan resepnya, karena ya memang tinggal aduk-aduk saja. Hehehe.

Bahan
200 gr Tepung terigu protein sedang (saya pakai Segitiga Biru)
1 sdt Gula pasir
¼ sdt Garam
2 butir Telur ayam
450 ml Susu cair
1 ½ sdm Mentega, lelehkan
Selai stroberi secukupnya
Gula halus secukupnya, untuk taburan.

Cara Buat
  1. Campur tepung terigu, gula pasir, garam, telur ayam dan susu cair. Aduk hingga rata. Saring bila adonan menggumpal.
  2. Tambahkan mentega cair, aduk kembali hingga rata.
  3. Panaskan pan dadar anti lengket berdiameter 27cm, tuang 1 sendok sayur adonan. Ratakan dan masak hingga matang. Angkat.
  4. Olesi permukaan panekuk dengan selai stroberi sesuai selera. Lipat panekuk hingga berbentuk ¼ lingkaran.
  5. Letakkan panekuk dalam piring saji, taburi dengan gula halus, sajikan.
Untuk 10 buah. (yang saya buat jadi 12 buah)

Tips
  1. Jika anda memiliki susu cair dalam kemasan yang disimpan dalam lemari pendingin, keluarkan dulu dan biarkan hingga mencapai suhu ruang. Saya mencampurkannya ketika masih agak dingin dan membuat mentega lelehnya menggumpal atau nggrindil.
  2. Isian bisa disesuaikan apa yang ada di rumah dan sesuai selera. Saya mencoba dengan selai bluberi, milo dan eskrim. Suami malah suka jika dimakan hangat-hangat, hanya dengan gula halus saja.
  3. Panekuk ini memang hasilnya tidak seperti panekuk amerika. Saya menyebut teksturnya campuran antara crepes suzette dan dadar gulung. Jadi tidak usah kaget kalau hasilnya tipis dan lemas.
  4. Perhatikan pengapian, gunakan api paling kecil saja. Kalau perlu dimatikan jika sudah agak terlalu panas, karena anda akan kesulitan saat meratakan adonan jika terlampau panas. 
0
comments

Sunday, 10 August 2014

Kelahiran, Kematian & Ujian.

Siang ini baru membaca di lini masa media sosial, bahwa seorang kakak senior saat SMA kehilangan putranya di hari ia dilahirkan. Saya belum tahu apakah ada sebab yang spesifik, dan tentu tak tega untuk bertanya. Mengingat bagaimana saya mengalami momen tersengat dalam hati tiap kali ada yang bertanya "kok bisa keguguran? Penyebabnya apa?", tentu sengat itu akan lebih mendalam bagi ia dan istrinya.

Perihal bayi yang meninggal saat lahir, saya teringat pada ceramah Emha Ainun Nadjib kala mengunjungi SMA kami dalam rangka peringatan hari besar Islam yang saya lupa tepatnya apa. Beliau saat itu bertutur bagaimana reaksinya saat bayi yang dilahirkan oleh Mbak Via (Novia Kolopaking) meninggal di hari kelahiran. Beliau tertawa, bersujud syukur gembira dan meminta tiap dokter & perawat di rumah sakit untuk memberi cak Nun ucapan selamat. Beliau melarang Mbak Via untuk menangis. Beberapa orang sampai khawatir, apakah cak Nun terlampau depresi karena putranya meninggal hingga bertingkah laku seperti itu. Tapi cak Nun membantah keras:

"Kalian harus memberiku selamat. Karena anak ini (yang beliau peluk), ia sudah membuat Allah mengampuni dosa-dosa orangtuanya. Dia sudah mengundang kami, aku & Mbak Via, untuk masuk di surgaNya!"

Masya Allah..
Tiap kelahiran dan kematian sungguh adalah ujian dari Sang Pencipta. Sungguh pula saya sering terselip, menganggap yang dititipkan adalah kepemilikan.

Saya percaya, hanya orang-orang terpilih yang mendapatkan ujian seberat itu, sebagaimana cak Nun, pun juga kakak kelas & istri. Semoga mas Rangga & Mbak Olivia dilimpahi kekuatan & keikhlasan serta kesadaran, rasa syukur atas keistimewaan yang mereka dapatkan. Amin.
0
comments

Friday, 1 August 2014

Hadiah Terindah

Saya: Wah, kalo ga jadi keluar berarti hadiah ulang tahun buat Ciku ga bisa hari ini dong..
Suami : Hadiah terindah sepanjang tahun ini buatku adalah samean hamil lagi, sehat dan adik bayinya juga sehat.

=')

P.S.: I love you Ciku, as always.
0
comments

Monday, 28 July 2014

Malam Takbir

Malam idul fitri ini sendu, karena pikirku lari padamu, anakku.
Mas Al, jika engkau tumbuh sehat, maka engkau hadir di saat ramadhan ini. 

Tapi engkau tumbuh di dekatNya, di tempat terindah bersama Sang Pemilik Cinta. 
Engkau beruntung nak. Bersuka citalah.

Tapi maafkan ibumu ini, aku mendadak sangat rindu padamu.
Ibu sekarang sedang tumbuh bersama adikmu. Doakan ia tumbuh sehat ya nak. 
Doakan pula bapak & ibu bisa jadi orang tua yang mampu mendidik & membesarkan adik-adikmu dengan baik. 
Kecupkan juga rinduku pada Ia, yang Maha Cinta.
Aku selalu sayang padamu, Al.

Bertakbirlah yang keras di sana, putraku.
0
comments

Sunday, 6 July 2014

Dua Tahun

Dua tahun.
Baru dua tahun memang sayang, tapi aku sudah jadi pelupa.
Lupa bagaimana bangun pagi tanpa menyebut namamu.
Tak ingat cara tidur sendiri di malam hari.
Tidak mau jika tanpamu, kekasih.

Tahun kedua, di kota yang berbeda.
Penuh kegembiraan juga kesedihan.
Berpindah ke gubuk perjuangan, yang selalu rajin engkau siangi rumputnya & engkau ubah menjadi surga dengan petikan gitar.

Di tahun ini kita merasakan menjadi orang tua, pun kehilangan anak kita.

Dua tahun, yang jadi awal perjalanan kita.
Semoga jalan yang akan kita tempuh adalah jalan penuh ridho & barokahNya.
Jalan yang jauh dari orang yang dengki & iri, juga penuh dengan jiwa yang bersih & baik hati.

Ciku, terima kasih karena selalu ada buatku.
Terima kasih, untuk tiap genggaman erat di kunjungan dokter yang masih menakutkan bagiku.
Terima kasih, sudah berlelah letih mencarikan nafkah.
Terima kasih, untuk waktu yang disisihkan, hanya untuk mendapatkan acara televisi Korea favoritku.
Terima kasih, untuk peluk cium hangat yang tak pernah absen, bahkan saat kita berbeda pendapat.
Terima kasih, terima kasih, terima kasih, wahai suamiku tercinta, kekasih setia, sahabat tersayang, guru terseksi, rekan diskusi & bapak anak-anakku.

I love you, as always.
Von.

0
comments

Saturday, 14 June 2014

Hari Lahir : Kematian dan Harapan


Semenjak duduk di pendidikan dasar, saya yakin akan mati muda. Di periode SD hingga SMP, saya mendapat mimpi berulang, dengan berbagai sudut penceritaan, yang pada intinya menyampaikan pesan bagaimana dan kapan saya akan mati. Mimpi itu tidak membuat saya takut, alih-alih terpacu untuk mencapai & merasakan banyak hal sesegera mungkin. Itu juga alasan saya berkeras menempuh pendidikan secepat yang saya bisa. Beruntung, banyak target yang lolos dari lubang jarum.

Ketakutan akan kematian dahulu hanya muncul ketika sakit asthma saya kambuh. Tetapi mimpi kematian di masa kecil itu pula yang membantu saya berjuang untuk tetap sehat, karena saya percaya bahwa sesak napas bukanlah cara (juga waktu) yang tepat untuk mati.
Saya baru merasa takut mati setelah mengalami keguguran. Kematian itu rasanya melebihi kenyataan, karena ia melewati raga saya, tapi juga bukan nyawa saya sendiri yang tercabut. Ia membuahkan kekosongan yang sulit digambarkan. Sunyi yang hadir, memaksa kepala terus berputar & berpikir.

Dunia seakan kehilangan pesonanya. Fana, yang dulu hanya sebuah kata dengan fungsi adjektif, sekarang maujud atau mewujud menjadi dunia itu sendiri. Everything changes sublimely, and nothing really matters at the end. Not a mountain of penny, nor bunch of lovers. Not the titles behind your name, nor the beauty, the fame, the stories, the trip, the pictures you did to raise your chin up.

Yang menjadi berharga adalah bagaimana kita memberdayakan waktu itu sendiri, dengan orang-orang yang mencintai kita, menghargai perjuangan & perjalanan yang telah ditempuh.

Di titik itulah saya mulai memahami mengapa saya merasa sangat kehilangan terhadap sosok anak, yang bahkan belum sepenuhnya dititipkan. Ketika dunia terasa melelahkan, jahat, tak sesuai dengan keinginan kita, pun menyedihkan: anak menjadi harapan. Ia adalah harapan dan juga alasan untuk tiap-tiap orang tua mengusahakan dunia ini lebih baik, lebih nyaman untuk ia bertumbuh kembang. Menjadi pecut paling keras dalam bekerja, berusaha, berdakwah. Menjadi pewaris dari kebaikan dan kebajikan.

Karena perihal keturunan pula, saya untuk pertama kali memohon dengan tulus agar dipanjangkan umur ini. Saya telah mulai berharap agar mampu mendidik hingga menikahkan mereka. Itu (saja). Semoga Ia tak pernah jengah dengan perubahan hati hambaNya.

Amin.
4
comments

Friday, 11 April 2014

Anggaran & Buku

Anda pecinta buku? Apakah Anda menganggarkan pos tersendiri untuk membeli buku tiap bulannya?

Ketika saya naik ke kelas 6 SD, saat itu saya baru menyadari bahwa ada orang-orang yang menyisihkan penghasilannya untuk berbelanja buku. Kejadian ini bermula saat saya mengikuti program TeKaT Sayang dari Jawa Pos, semacam homestay antar etnis dimana saya tinggal selama 7 hari di rumah Papi Paulus & Mami Linawati di Bendul Merisi, Surabaya. Di situ pula pertama kalinya saya mengetahui ada keluarga yang begitu cinta & terus-menerus mengajarkan agar menyukai buku, melebihi keluarga saya. 

Di hari pertama saya ikut "hidup" dengan mereka, saya diajak untuk pergi ke Gramedia, toko buku yang bagai surga bagi saya yang hanya kenal toko buku pelajaran di Mojosari atau pojok kios buku bekas di Mojokerto. Tapi, surga yang satu ini bersyarat: butuh uang untuk menukar kenikmatannya. Saya berkali-kali tersenyum kecut ketika membalik buku dan mengetahui harganya. Hari itu hari pertama, saya masih sangat canggung dan hampir tak mungkin untuk meminta dibelikan buku. Saya sempat menyesal untuk tidak menyelipkan sedikit uang dari tabungan yang sudah saya siapkan sebelumnya. Karena peraturan program yang mengharuskan peserta tidak membawa sepeser pun (agar mereka meminta orang tua baru mereka untuk kebutuhan apa saja), saya benar-benar tidak punya uang untuk buku-buku yang mendebarkan hati ini, buku-buku licin mengkilat dalam kemasan. Buku dengan judul yang sejenis biasanya hanya bisa saya jumpai dalam bentuk bekas. 

Mami mungkin melihat binar mata dan senyum masam saya karena tidak lama kemudian beliau meyakinkan saya untuk mengambil buku apa saja yang saya mau, sebagaimana ia kemudian meyakinkan anak-anaknya agar mengambil buku yang dimau. Tetapi hanya buku, bukan yang lain. Yoga, putra bungsu yang berumur sekitar 3-4 tahun mulai merengek melihat mainan yang menarik baginya, tapi Mami memberi pengertian bagaimana buku lebih baik & menarik untuk dibeli. Saya kemudian memilih Jilid pertama dari Lima Sekawan: Di Pulau Harta dan ikut menumpuknya dalam tas belanja Mami. Di kasir, saya hampir melongo melihat kuantitas & angka di mesin penghitung. Di tahun tersebut, belanja "sekedar" buku dalam kisaran ratusan ribu rupiah itu gila bagi saya, hampir-hampir surreal.

Di hari kedua, saya baru mulai memahami ruangan-ruangan di rumah Bendul Merisi itu. Dan lagi-lagi saya takjub dengan kebiasaan membaca di keluarga ini. Terdapat meja nakas di dekat tempat duduk ruang keluarga yang berisi deretan beberapa surat kabar berbeda dalam edisi hari yang sama dan beberapa majalah terbaru. Di keluarga saya sendiri juga berlangganan, tapi ya hanya satu koran. Majalah yang berlangganan ya hanya Bobo saja, untuk saya. Melihat meja yang hampir menyerupai kios koran ini saya berpikir, apa sempat untuk membaca semua ini dalam satu hari? Tapi Papi terbukti selalu membaca seluruh koran sambil menyeruput 2 telur ayam kampung setengah matang sebelum bekerja.

Yang terlintas di benak pertama kali karena kebiasaan keluarga Paulus ini adalah: wah, begini ya orang kaya raya itu, tidak perlu berhemat, bisa membeli buku dan majalah sepuasnya. Tapi sekali lagi pemikiran saya terpelanting setelah menyaksikan bagaimana Mami mengajak putra-putrinya untuk makan di rumah saja dibanding membeli McD (Mami tetap membeli sedikit agar saya dapat mencicipi), bergotong royong mengemas kacang kapri hasil perkebunan yang kemudian dijual di supermarket oleh Mami, memasak bersama-sama. Ternyata ini bukan perkara berhemat atau berfoya-foya, tetapi prioritas. Mami memilih untuk meletakkan buku, majalah, koran sebagai perihal yang penting dan pantas untuk diberi anggaran lebih.

Setelah berumah tangga, saya mulai serius belajar tentang anggaran dan kawan-kawannya. Setelah bereksperimen dengan berbagai model pembagian bujet, beberapa bulan terakhir ini saya menggunakan rasio yang disarankan oleh Li Ka Shing. Artikel lengkap penjelasan beliau dapat dibaca disini.

Secara singkat beliau membagi setiap pendapatan yang masuk dalam 5 kategori yaitu Daily Life : Social+Connection : Study : Holiday : Investment dalam proporsi sebagai berikut 3:2:1,5:1:2.5. Selalu seperti itu untuk setiap pemasukan, kemudian terus berusaha menghabiskan anggaran tersebut dalam porsi yang telah ditentukan. Dalam pengaplikasian pribadi, tentu saya menyesuaikan perbandingan anggaran dengan beberapa kebutuhan yang esensial bagi saya seperti zakat & shodaqoh, dana kesehatan dan tabungan.

Saya menganggap model ini cukup sederhana dan memiliki esensi yang tidak saya temukan pada model yang lain. Misal, ada anggaran Study dimana saya (& mas Rendy) memang harus menghabiskan uang dalam pos itu untuk belajar; membeli buku setiap bulan; mengikuti kursus. Tidak banyak model anggaran yang memberikan perhatian khusus pada “pengembangan diri” segamblang ini. Saya memilih untuk menggunakannya untuk berlangganan tabloid resep masakan dan majalah atau buku merajut untuk meningkatkan kemampuan saya di 2 bidang favorit.

Mungkin tidak semua orang setuju bahwa buku adalah hal yang cukup penting untuk dianggarkan. Sah-sah saja dan tidak perlu dipermasalahkan, karena pendapat tersebut juga beralasan. Menilik masa sekarang, kita bisa mengakses informasi dan pengetahuan melalui internet dengan biaya yang minim. Tetapi saya yakin, -keyakinan yang diiringi cinta buta- bahwa masih ada permata yang terselip di balik buku dengan segala kebanalan yang ia miliki.


=)
2
comments

Saturday, 5 April 2014

Melantur & World Book Day


Siang ini saya akhirnya berhasil nangkring di c2o setelah (suami sih yang membonceng) berjuang di jalanan menghadapi keruwetan kampanye beberapa partai. Tujuan saya ke c2o adalah mengulik beberapa buku yang sudah jadi incaran karena direkomendasi kawan, lalu mencatat hal yang penting & menyusun agar jadi tulisan yang ciamik. Apa daya, saya terkena nikmat nasi padang sebungkus dengan proporsi nasi & bumbu gulai yang pemurah sekali. Di sinilah saya mulai menulis melantur dan menyerah pada buku-buku tadi. =P

Tapi mau tidak mau saya buka juga salah satunya. Barbara Hatley. Javanese Performances on an Indonesian Stage: Contesting Culture, Embracing Change. Alamak, abot nemen rasane. Mata saya mulai kabur karena membaca deretan nama universitas yang biasanya saya temui di ranking top dunia. Aduh. Buku tentang Indonesia kok malah seperti ngece karena kalimat-kalimatnya nggayuh lintang. Tinggi & tak terjangkau.

Saya buka sembari  jengkel, sampai di halaman yang ada tulisan “PERSONAL EXPERIENCE, 1970-90”. Harusnya kalau pengalaman pribadi kan ya tidak terlalu sulit to membacanya. Penulis menceritakan bagaimana ia mulai tertarik dengan Ketoprak, bagaimana ia mulai tertarik dan terikat pada ketoprak.  Sampai pada cerita bagaimana ia mulai tinggal di Yogyakarta untuk memulai penelitiannya. Ia menceritakan bagaimana melewatkan satu malam dengan menghadiri 3 pertunjukan. Hatley menggambarkan dengan detil tempat ia makan malam dengan gado-gado di depan kantor Telkom, dekat Mandala Krida. Berjalan ke Bentara Budaya dimana Jemek (Sapardi) berpantomim malam itu, dilanjutkan perjalanan dengan becak ke arah selatan, di sekitar Keraton, menghadiri jamuan malam dengan pertunjukan tari. Yang terakhir ia menikmati wayang dengan ki Anom sebagai dalangnya. Juga tak jauh dari stadion.

Penjelasan Hatley yang detil membuat memori akan Yogya terputar kembali. Menarik bagaimana  tulisan ini mendadak menjadi intim bagi saya. Bagaimana pengalaman yang ditularkan sebuah buku dapat membuat shared experience terbentuk, termediasi. Semakin membuka lembar demi lembar, saya bertambah penasaran untuk mengajak Hatley duduk bersama di sini, menceritakan besarnya kemungkinan bahwa kami menemui orang-orang yang sama, dengan jarak 12 tahun lewat. Karena ketoprak Tobong yang saya temui di Kalasan juga berasal dari binaan satuan militer di Malang, persis seperti yang diteliti Hatley.

Jika dibilang dunia tak lebih luas dari daun kelor, ya terkadang memang terasa seperti itu. Rantai yang menghubungkan antar manusia sering terasa absurd. Contoh yang tidak jauh-jauh, dari project Ketoprak Tobong misalnya, besar kemungkinan kaket buyut –atau moyang?- saya dan Risang Yuwono, saling mengenal: karena kakek buyut kami sama-sama prajurit Pangeran Diponegoro yang berpisah setelah beliau ditahan Belanda dan babat alas di Kediri untuk melanjutkan keturunan. Menarik ya?

Andai tidak ada sejarah yang dicatat, andai tak ada tulisan yang mendeskripsikan dengan baik, andai tak ada buku yang menularkan pengalaman, maka peradaban manusia pun jauh berbeda. Di bulan April ini, tepatnya di tanggal 23 diperingati World Book Day. Saya jadi ingin menghormati buku dengan menulis perihal buku di kehidupan sehari-hari. Dimulai dengan postingan ini. Hehe.

Yuk, berbagi pengalaman dengan buku! 
=)
0
comments

Friday, 4 April 2014

[Resep] Udang Krispi Saus Mentega

Langsung difoto di atas nasi. Laper!
 Kemarin lusa, ketika akan makan malam, saya kebingungan memilih menu. Bahan makanan mulai menipis, tetapi sedang ingin bikin sesuatu yang tidak biasa-biasa, tapi yang cepat pengerjaannya. Rewel ya? Haha. Setelah mencari inspirasi dengan membolak-balik halaman tabloid Koki, akhirnya berjumpa dengan resep Udang Krispi Saus Mentega. Dengan bahan sederhana yang hampir pasti tersedia di dapur, rasa yang dihasilkan identik jika dibandingkan dengan menu Udang Tepung Saus Mentega yang biasa kita beli di restoran Chinese food. Harum jahe dalam sausnya langsung memantik air liur. Ndrodos-ndrodos lah. Hehehe. Sila dicoba, berikut resepnya.

Udang Krispi Saus Mentega
Resep dari Tabloid Koki, edisi 00257 Juli 2013
Tampilan sajian di Koki

Bahan
250gr Udang ukuran sedang, kupas kulit, buang kepala dan sisakan ekor (saya sebaliknya, kepala disisakan tapi ekor dibuang. Lebih gurih & krius-krius)
100gr Tepung bumbu (saya dengan Sajiku tepung bumbu)
2 sdm Tepung beras
1 sdm Tepung terigu protein sedang (merk Segitiga)
1 butir Telur ayam, kocok lepas
½ buah Jeruk Nipis, ambil airnya
2 siung Bawang putih, cincang (halus)
1 cm    Jahe, kupas dan cincang (sangat halus)
40gr    Mentega
2 sdm  Kecap Inggris
½ sdt   Merica bubuk
Garam secukupnya
75ml  Air
Minyak Goreng untuk menggoreng (deep fried, jadi agak banyak)

Cara Membuat:
  1. Perciki udang dengan air jeruk nipis dan lumuri dengan garam. Diamkan selama kurang lebih 5 menit.
  2. Campur tepung bumbu, tepung beras dan terigu. Aduk rata. Celupkan udang ke dalam telur kocok dan gulingkan di atas campuran tepung. Ratakan.(ketuk-ketukkan udang agar tepung rontok sebelum menggoreng, karena sisa tepung akan merusak minyak goreng)
  3. Panaskan minyak, goreng udang hingga matang dan berwarna kuning kecokelatan. Angkat dan tiriskan. Sisihkan.
  4. Panaskan mentega, tumis bawang putih dan jahe hingga harum. Tambahkan kecap inggris, merica bubuk dan garam. Tuang air, aduk rata, Masak hingga mendidih dan mengental.
  5. Masukkan udang goreng krispi, aduk rata. Angkat. Sajikan.

Untuk 2 porsi.

Tips:
  1. Untuk yang suka udang tetap krispi, saus bisa disajikan terpisah.
  2. Masak menu seperti ini bisa diakali agar cepat selesai tapi tidak keteteran. Urutan yang menurut saya efektif: rendam udang >> kocok telur & aduk tepung >> tepungi semua udang >> goreng  sembari mencincang bawang & jahe >> buat saus sambil terus menggoreng. Tidak lebih dari 30 menit selesai.
  3. Jika masih ada sisa tepung, masih bisa digunakan. Saya memasak tahu dengan tepung sisa resep ini. Enak sekali. Jika ingin tahu yang lebih krispi bisa baca resep di sini.
Resep sederhana seperti ini yang cocok untuk pemula agar lebih semangat memasak. Coba juga sekali-sekali bandingkan harga 1 porsi masakan yg sama di resto, bisa 2-3 kali lipat dari biaya masak sendiri! *cheapskater* *ha!*  =D
 

Copyright © 2010 Life's Never Boring Beibi! | Premium Blogger Templates & Photography Logos | PSD Design by Amuki