0
comments

Tuesday, 14 June 2016

Bapak Ibu Peri

Selama delapan tahun merantau, jauh dari orang tua dalam keseharian membuat saya kesepian dan sedih di saat-saat tertentu. Terutama saat sakit. Beruntung, dalam kurun waktu tersebut saya dipertemukan dengan kawan-kawan yang baik, ditambah orangtua mereka yang sangat baik hati. Saya menyebut orangtua spesial itu dengan Bapak Ibu Peri.

Bapak Ibu Peri ini punya kesamaan: pemurah & penyayang. Pertanyaan yang paling sering mereka tanyakan: Vinka sudah makan? Hari ini sudah makan apa? Dan saya tahu mereka tidak sedang berbasa-basi ketika bertanya seperti itu, karena seringkali setelahnya saya sudah duduk bersama, bersantap & berbincang dengan mereka. Sebagai remaja yang hobi wira-wiri berkegiatan ini itu, perut saya ini bottomless, enggak ada kenyangnya. Tawaran makan siang atau lauk untuk dibawa pulang tentu bagai kejutan surgawi, dikirim oleh peri. Nikmat tiada tara untuk anak kosan.

Tak hanya murah hati, Bapak-Ibu Peri kesemuanya adalah pendengar yang baik. Mereka menghargai cerita saya bahkan sering pula meminta pendapat, masukan dari saya. They're all ears. Saya yang jauh dari ibu-bopo ini haus akan tempat untuk bercerita. Jatah pulsa yang terbatas sering jadi batasan untuk bercerita ini itu, cerita remeh yang penting ditumpahkan saat itu juga dan tak bisa menunggu saat pulang di akhir pekan. Bapak-Ibu Peri pun mengisi ruang kosong ini. Ruang yang di kemudian hari saya pahami betul, betapa pentingnya untuk diisi. Mereka ini yang membuat saya yakin bahwa tanah rantau tak sekejam dari yang terlihat. Masih banyak kebaikan & kehangatan yang tidak dibuat-buat. 

Awal bulan ini, saya patah hati. Satu ibu peri saya dipanggil olehNya. Tante Eva namanya. Ia adalah Ibu Peri yang paling sering mendadak menelepon saya. Sekedar tanya sudah makan, atau tanya bagaimana kuliah. Hal yang beberapa kali beliau ungkapkan dulu adalah ingin sekali bikin syukuran untuk merayakan hari lahir saya & anaknya, Sheila, yang kebetulan lahir di hari yang sama. Meski tak pernah terwujud, hati saya sudah terasa hangat karena ada sosok ibu yang peduli untuk merayakan hari ulang tahun saya. Dimana hal tersebut bukan tradisi yang akrab bagi saya. 

Saya teramat kecewa & sedih karena kurang keras, mengharuskan diri saya sendiri untuk menjenguk tante Eva saat beliau sakit. Apalagi sebenarnya beliau di Sidoarjo, tempat saya tinggal sekarang. Penyesalan yang sangat besar, hingga saya memikirkan apa yang bisa saya lakukan untuk menebusnya. 

Satu hal yang saya pelajari dari Tante Eva, kehangatan & perhatiannya sungguh berkesan bagi saya. Saya adalah seorang ibu sekarang, dan saya harus belajar bagaimana memeluk teman-teman anak saya nantinya, menerima & menghargai bagaimana seutuhnya mereka. Agar tak perlu mereka mencari perhatian di tempat yang tak pantas atau tidak tepat. Agar dunia ini hangat & penuh kasih. 

Selamat jalan, Ibu Peri. Engkau tak pernah pergi, hanya pulang ke rumah terindah di surgaNya. 
0
comments

I Love You, As Always

=)

0
comments

Monday, 30 May 2016

Convo #3 : An Equal Partner

Gambar dari sini
B: I finally found out why John still doing things like that.
C: Why?
B: Because his wife couldn't match to John.
C: Which part?
B: Intelligence, perhaps? Like she's not the one he would talk to on several subject. She's just not understood. 
C: If it is the problem, then it's definitely husband's duty to teach the wife, to expand her horizon, bring up to the level she's needed and not grumbling into his friend. 

If there is one thing I should declare to be grateful after marriage, everyday and every time, it's how I really thankful to have a partner that I can talk to, in every aspect of life, in every subject that I could think of. From religion to sex, from philosophy to complete rubbish. 

Thank you, Ciku. =*
3
comments

Saturday, 28 May 2016

Media Sosial: Inferioritas & Menjaga Ego tetap Kenyang

Ditulis pada 9 Mei 2016

Gambar dari sini
Akhir minggu ini kita di Indonesia diganjar dengan libur yang lebih panjang dari pada biasanya. Waktu luang yang jarang didapat itu membuat saya bisa menjelajah media sosial lebih banyak, lebih lama & lebih teliti. Maklum, biasanya hanya dialokasikan untuk Instagram (akun @braavos_knit), Twitter pribadi dan Tokopedia. Eh, yang terakhir bukan medsos sih ya, tapi jualan. Hehe.

Setelah menikmati aliran linimasa, alih-alih merasa terhibur saya merasa rendah diri. Seorang yang saya tahu memuat gambar aurora yang luar biasa indah yang ia lihat di Norwegia, kawan SMA berfoto dengan kawan-kawannya usai pesta lengkap dengan limusin & latar belakang jalan dengan pantulan warna-warni lampu New York. Ada juga yang merajut di kapal layar pribadinya, atau di griya tawang yang disewa khusus untuk liburan kali ini dan tempat-tempat eksotis lain. Pemandangan yang seriously too good to be true ini bertebaran di media sosial saya, atau mungkin kalian juga. Bagian terburuknya adalah, this is real, bukan adegan di film-film. Haha. 

Bukan sih, bagian terburuknya adalah saya iri. Bagian terbaiknya adalah saya tahu & sadar betul bahwa saya sedang iri. I acknowledged myself that I was jealous, and feeling inferior. I didn't deny it, because it helped me to go through the next step, how to heal the jealousy. Karena saya paham apa yang sedang terjadi dalam benak & perasaan saya, maka saya pun mudah menemukan antidot-nya: bersyukur. Itu saja, beres sudah.


Kalau saya amati, sosial media memang jago sekali menyentuh ego manusia. Ia bahkan dapat membuat ego kenyang atau lapar seketika. Puluhan love saat mengunggah foto di Instagram tidak dapat disanggah membuat ingin mengunggah foto lain yang lebih wah, lebih oke, lebih spektakuler agar tidak hanya puluhan, tapi ratusan bahkan ribuan likes yang terpampang di akun saya. Manusiawiiii banget, karena likes itu dianggap sebagai pengakuan, seperti emblem yang berjejer di selempang kepanduan jaman saya masih Pramuka dulu. I did this, I did that. Pertanyaan selanjutnya adalah: mengapa saya melakukan ini? An sich karena pengakuan yang saya dapatkan? Kalau iya, pengakuan siapa?

Saya suka mengunggah foto hasil masakan saya, dipuji banyak orang, dan seterusnya. Tapi saya lebih suka ketika anak + suami saya suka dan makan masakan tersebut dengan lahap. Semakin jauh saya berpikir & bertanya pada diri saya sendiri, semakin saya menemukan bahwa yang paling penting malah bukan emblem/lencana/embel-embel yang terlihat atau tertera dengan jelas, cetha dan bisa dibaca setiap orang. Tinggal bagaimana saya perlu belajar terus, agar bisa semakin mahir memilah yang penting untuk dirasa dan mana yang pantas diabaikan saja.


Sosial media memang seperti titian tali licin yang harus dilewati dengan hati-hati. Mudah sekali tergelincir dan menjadikannya muspro, sia-sia. Buat apa mengikuti/menggunakan sesuatu yang hanya membuat diri ini insecure, rendah diri, iri dan perasaan negatif lainnya. Sisi positif sosial media juga bejibun kok. Untuk yang satu ini, mari bersikap pragmatis, mengeksploitasi kebaikannya & tak perlu repot dengan yang tidak baik. =)
0
comments

Friday, 27 May 2016

Investasi Praktis ala IWAK

Ada yang pernah lihat berita tentang project IWAK oleh mahasiswa UGM ini di beberapa bulan terakhir? Saya baru lihat 1-2 minggu lalu di NET. Proyek yang menghubungkan orang yang ingin investasi dengan keluarga yang tidak punya penghasilan atau menengah ke bawah dengan memberi mereka pelatihan intensif untuk menjadi petani ikan air tawar. Tiap kolam butuh dana 15juta, tiap investor boleh berkontribusi mulai dari 1% alias 150ribu saja. Buat saya ini brilian & harus didukung penuh, pake duit lah kalo bisa, kalo ga bisa ya paling tidak di-share biar viral. Ga muluk, 150ribu sudah mulai investasi. Riil, praktis dan membangun. Termin-nya juga jelas, pembagian keuntungan juga jelas. Mantap banget.

Eh, tapi yang paling saya suka itu interface atau tampilan dari web-nya itu loh. Karena laporannya harian & detil, jadi kayak main game melihara ikan sendiri. Kerennya, ini melihara ikan betulan! Hehehe.
Sekarang saya lagi deg-degan penasaran soalnya dana para investor untuk 1 kolam sudah terkumpul dan kolam siap dibangun. Ga sabar pengen lihat laporan harian besok, semoga petani yang sedang diseleksi sudah terpilih. Amin!

Ini linknya: http://iwak.me/
0
comments

Wednesday, 18 May 2016

Naik Uber di Surabaya - Sidoarjo

 Apa kalian sudah pernah mencoba layanan Uber? Saya sudah dan ingin berbagi cerita + tips untuk kalian yang tertarik untuk menggunakan jasa transportasi tumpangan ini. Saya sudah beberapa kali naik Uber di daerah Surabaya – Sidoarjo. Pertama kali mencoba ketika mbak Yuli bercerita tentang kawan-kawan yang sering memanfaatkan Uber karena tarif yang bersaing dan mobil yang nyaman. Saya kurang yakin dan agak malas untuk mengunduh apps-nya. Akhirnya via akun mas Andriew pun saya mencoba Uber dengan rute dr. Cipto – Manyar Adi yang ternyata Cuma bayar di bawah 20ribu (saya lupa nominal tepatnya).

Kesan pertama yang menyenangkan membuat saya tertarik untuk menggunakan Uber lagi. Saya donlod aplikasinya dan memasukkan kode promo dari kawan agar mendapat Free Ride sebesar 50ribu. Kalian juga bisa mendapatkannya dengan memasukkan kode qbmjn5jeue Dengan rute dari Raya Lingkar Timur – Sidoarjo hingga Karang Menur – Surabaya, di hari Sabtu siang, Cuma habis 70ribu saja loh. Lumayaaann.. banget! Setelahnya, saya mengajak Tiwi, teman saya untuk juga donlod dan memanfaatkan promo Free Ride. Ia memasukkan kode qbmjn5jeue dari saya dan otomatis langsung mendapatkan Free Ride sebesar 50ribu. Kemudian, setelah ia menggunakan Free Ride tersebut untuk perjalanan pertamanya/First Trip, saya pun mendapat keuntungan yang sama. Such a win-win happiness!

Tapi, bukan berarti tidak ada pengalaman tidak menyenangkan ya dengan Uber. Ada beberapa hal yang perlu dicermati & hati-hati dalam menggunakan Uber. Uber menerapkan cancellation fee atau biaya pembatalan sebesar 30 ribu rupiah, jika kalian membatalkan pesanan setelah 5 menit. Saya pernah order, saya SMS drivernya untuk alamat lengkap & perkiraan letak rumah, dan kemudian karena harus menyiapkan beberapa hal saya tidak mengecek lagi gerak unit mobil di layar handphone saya. Setelah beberapa waktu berlalu, baru saya cek dan ternyata mobil yang mengambil order saya tidak bergerak dari tempat. Saya telpon ternyata driver tersebut mengatakan mobilnya sedang di bengkel, dan dia tetap mengambil order saya karena takut terkena denda oleh Uber. Dia meyakinkan saya agar membatalkan pesanan, dan meski saya berargumen bahwa sudah lebih dari 5 menit, dia bersikeras bahwa tidak akan kena cancellation fee karena belum 5 menit. Which is so not true, saya akhirnya tetap kena cancellation fee dan dibayarkan ketika saya mengorder perjalanan selanjutnya.

Untuk itu, di bawah ini adalah tips untuk menggunakan layanan Uber dengan nyaman:
  1. Download/unduh apps Uber di iOs atau Google Playstore
  2. Setelah terpasang, isi data diri kemudian masukkan kode qbmjn5jeue untuk mendapatkan Free Ride untuk perjalanan pertama senilai 50ribu (kalau ternyata lebih dari 50ribu, kalian cukup membayar sisa selisihnya saja)
  3. Untuk mengecek apakah promo tersebut sudah masuk/berlaku, cukup cek opsi menu “PROMO”, di sana akan tertera nilai free ride dan masa berlakunya
  4. Ketika order, setelah mendapatkan driver beserta nomor teleponnya, langsung SMS alamat dan perkiraan letak rumah/tempat penjemputan. Jika setelah 3 menit tidak ada respon, bisa langsung ditelpon untuk konfirmasi. Driver yang proaktif untuk menelpon/SMS lebih dulu juga banyak, tetapi tidak semua.
  5. Jika tidak ada respon, segera batalkan order. Tunggu beberapa menit untuk melihat driver/mobil lain yang tersedia di dekat kalian. Uber ini sistemnya siapa driver yang paling dekat adalah yang mendapatkan order klien, jadi tidak rebutan. Jika langsung order lagi setelah cancel yang sebelumnya, besar kemungkinan akan “nyantol” di driver yang sama.
  6. Dari 5 kali perjalanan terakhir dengan Uber, rata-rata pengalamannya menyenangkan, sopirnya sopan dan saya nyaman bahkan untuk menyusui Hayu. Jadi, silakan coba juga ya. Jangan lupa kodenya qbmjn5jeue untuk free ride gratis
*diulang-ulang biar hapal. Hahaha*
0
comments

Saturday, 23 April 2016

Resolusi Merajut 2016


Adakah dari kalian yang mencanangkan resolusi di awal tahun ini? Bagaimana perkembangannya? Saya iya, tetapi hanya untuk kegiatan merajut saja. Itu pun hanya 3 buah, tidak muluk. Takut kalau terlampau grande, malah tenggelam dalam pesimisme-ketidakmampuan mencapainya. Hehehe. 

Ini dia resolusinya:
1. Berpartisipasi dalam test-knit rancangan desainer rajut luar & dalam negeri
2. Belajar mencelup benang
3. Belajar merajut kaos kaki dewasa

Karena hanya 3 item, maka saya pun memberi batas waktu di tiap 4 bulan alias caturwulan a.k.a cawu. Sekarang sudah bulan April, waktunya rapotan! =D

Alhamdulillah saya menilai diri saya sendiri cukup berhasil untuk target test knit. Saya mengikuti 4 test-knit-call, 1 dari perancang dalam negeri dan 3 dari luar negeri. Yang pertama sekali adalah Safara, sebuah cardigan dengan lengan raglan yang polanya tersedia untuk ukuran bayi hingga balita. Cardigan ini dirancang oleh Taiga Hilliard. Yang kedua, Yemaya oleh Ambah O’Brien. Sayang sekali saya tidak bisa menepati tenggat waktu untuk shawl asimetris yang cantik ini. Berikutnya adalah Tiger Cub Hat oleh Ajeng Galih Sitoresmi. Desainer yang juga jadi salah satu inspirasi saya setelah saya ikut kelas Yubiami-nya. Psst, ia juga baru masuk dalam daftar wanita berpengaruh di Indonesia yang dimuat di majalah Tempo edisi April ini loh! Jempol deh mbak yang satu ini. Dan yang terakhir, yang masih belum diluncurkan secara resmi polanya adalah Raiin, juga oleh Taiga Hilliard. 

Cukup puas karena jadi tahu bagaimana mengoreksi pola, ragam macam sebuah pola ditulis & dideskripsikan, mencoba sekaligus mengetahui karakter benang-benang dari toko saya dalam berbagai bentuk hasil rajutan dan pastinya menambah jejaring perajut di berbagai sudut dunia. Menyenangkan dan membuat semangat lebih berkobar untuk melompat di resolusi kedua: mencelup benang.

Sampai jumpa di bulan Agustus!

0
comments

Convo #2 : Tiktok on the Clock

Maria:  "Wow. How many sunsets has a person seen in a lifetime I wonder? Quite a few, I imagine."
Scott Briggs:  "No, the deal is, how many are left?"

(Wild Horses, 2015)
0
comments

Saturday, 16 April 2016

Convo #1

B: "Lately I paid attention to the gangs, and I finally got each specific 'weird' things that geniuses do. John won't be able to answer or response to anything once he focused on one thing. And George will..
C:"And how about you?"
B: "George will wander around non stop."
C: "No, this is important question to be answered. It's important to me, considered as a closest person to you. Ain't I?"
B: "I don't know."
C: "Try to answer it."
B: "I don't know." (shrug)
C: "Those hurtful words?"
B: "... Perhaps."

C: "No surprise then."
B: "Gina just told me that I am definitely too much when I said Hera's core problem is her intelligence."
C: "Why do you think Hera had that problem?"
B: "Her eyes when staring at me when we argued. Just a reflection of stupidity."
C: "Well.."

* a conversation between a person who love Carla Bruni's songs & a person who believe that the other person was only love Bruni's bikini body line, not the works.
 

Copyright © 2010 Life's Never Boring Beibi! | Premium Blogger Templates & Photography Logos | PSD Design by Amuki