0
comments

Wednesday, 22 July 2015

Gubuk Perjuangan

Setelah hari kesekian dari lebaran: pulang kembali ke rumah sendiri, cucian menggunung & debu merengek minta disapu. Momentum Idul Fitri kali ini menampakkan ironi. Sebesar-besarnya rindu yang menumpuk pada kampung halaman ternyata ada rasa rindu yang mendesak perlahan, rindu pada gubuk perjuangan. Betapa "rumah" itu bergeser: dari rumah orang tua tempat bertumbuh ke sarang sendiri yang menjadi tempat bergulat & bermesra dengan dunia.

Memahami tempat kita selayaknya "pulang" itu penting, menurutku. 
Karena dengannya ada tujuan, dan ada tempat kembali. 
Memahami mengapa sesuatu itu wajib diperjuangkan, dan tahu kapan harus berhenti. Memahami bahwa ada rindu yang pantas dikerat kuat-kuat, dan kapan harus digenggam erat lagi.

Selamat Idul Fitri, kawan.

1 comments

Friday, 17 April 2015

Yaminah

*ditulis Maret, 2015

Dalam beberapa variety show dan serial Korea yang saya tonton, ada tradisi unik saat seseorang berulang tahun. Bukan hanya ia yang berhak mendapatkan kado atau hadiah atas pergantian umur itu, tetapi juga ibunya. Sang ibu dianggap berhak mendapatkan hadiah, karena berkat ibu ia dapat tumbuh menjadi sosok yang sekarang ini.

Saya kurang tahu, apakah jabaran singkat di atas betul-betul sebuah tradisi atau hanya pemanis dalam acara televisi saja. Yang pasti, bulan ini ibu saya berulang tahun, dan saya ingin berterima kasih pada ibu beliau: nenekku.

Nenekku bernama Yaminah, wanita berperawakan mungil yang selalu saya ingat sebagai koki ulung, pemilik pipi yang selalu wangi dengan bedak Fanbo. Kadang berganti Viva Face Powder yang berkemasan zac. Saya selalu rindu mencium pipi itu, sampai sekarang tentunya.

Sehari-hari beliau selalu memakai kebaya dan kain jarik yang serasi. Keduanya ditata dengan rapi di lemari. Kain yang diberi oleh anak-anaknya hampir di tiap hari raya selalu digolong-golongkan dengan tingkat keapikannya. Yang sudah sedikit amoh dipakai sehari-hari, yang masih bagus dipakai di momen spesial. Kedatangan cucunya termasuk yang terakhir. Tidakkah saya selalu tersanjung atas hal ini?

Dibesarkan oleh ibu tiri, Yaminah dan kakak perempuannya seperti hidup dalam dongeng. Ibu tiri yang tidak memberi cukup makan, dan hal-hal menyedihkan ala Upik Abu dalam versi nyata. Sang kakak sedih bukan kepalang, mengajak Yaminah untuk bertekad membalas ibu tiri di kemudian hari. Kakak ingin menjadi kaya raya dan berganti menindas ibu tiri, biar tahu rasa. Yaminah menolak, ia memilih untuk berbuat baik sebaik-baiknya, agar di suatu hari nanti si ibu malah malu bukan kepalang karena telah berbuat buruk kepadanya. Kira-kira seperti ucapan Diana Rikasari puluhan tahun kemudian: If people hate you, Love them back. Malang tak dapat ditolak, perbincangan saudara kala kecil itu pun menjadi kenyataan. Sang kakak betul-betul menjadi kaya raya, dan Yaminah mendapat rasa malu dan hormat ibu tirinya.

Yaminah muda adalah perempuan yang terampil. Di jaman pendudukan Jepang, pemerintahnya secara terorganisir memberikan pelatihan sampai ke desa-desa untuk keterampilan dasar dan produksi untuk wanita, seperti memasak, merajut, menjahit, menyulam. Yaminah salah satu yang mengenyam pelatihan ini. Beliau dapat mengolah kapas dan memintalnya jadi benang, sampai merajutnya. Tepian-tepian taplak meja di rumah Yaminah selalu dihiasi sulaman bunga-bunga yang cantik dan rapi. Jika hari raya atau hari besar akan datang, ibu-ibu sekitar akan berduyun-duyun datang membawa telur, terigu, kelapa, serta bahan dasar lainnya untuk membuat kue-kue. Mereka akan membuat bersama di dapur Yaminah, karena ialah yang dikenal paling enak dan paham betul takaran, proses memasak kue-kue itu.

Perihal lain tentang Yaminah adalah kepandaiannya mengatur ekonomi keluarga. Ia memiliki sepetak tanah di belakang rumah. Dengan rapi dan penuh perhitungan ia bagi untuk berbagai macam sayur dan tumbuhan yang dapat memenuhi kebutuhan sayur mayur sehari-hari untuk ia, suami dan keenam anak-anaknya. Ia juga memelihara ayam dan itik yang ia ambil telur-telurnya. Telur ini tidak untuk dikonsumsi, tetapi “dijual” bersama kelapa yang tumbuh di halaman rumah, pada tengkulak yang berkeliling mencari hasil bumi di desa-desa. Telur dan kelapa ini dijual dengan cara barter, ditukar dengan bumbu dapur: bawang putih, bawang merah yang ia simpan hati-hati, digantung di langit-langit dapur. Perihal telur ini istimewa, karena dahulu telur adalah barang yang tinggi nilainya. Dalam keseharian, telur didadar dengan tambahan tepung dan air agar secara kuantitas menjadi banyak. Barulah jika ada anak yang sakit, diceplokkan satu butir telur untuk anak itu. Yang ajaib, sang anak pun percaya akan kekuatan telur. Setelah makan telur ceplok, langsung sembuh!

Yaminah dan suami juga sempat berjualan di rumah. Anak-anak mendapat giliran untuk menjaga dan melayani pembeli. Uang receh ia sisihkan di tepi, uang kertas untuk kembalian diletakkan dalam kotak. Pada anak-anak ia berujar, “Ini uang recehnya. Kalau pengen njajan es janggelan (cincau), boleh diambil, asal bilang dulu.” Pendidikan kepercayaan dan kejujuran yang diselipkan dalam hal perekonomian keluarga. Ah, Yaminah.

Jika ibu saya mendapat pujian, penghargaan atas berbagai keahliannya, saya yakin, sebagian besar harus diberikan kepada nenek saya. Beliau lah yang mendidik ibu sedemikian rupa.

Mbah Uti, maturnuwun sampun muruki ibuk kathah-kathah, 
ibuk sampun dados ibuk ingkang nyayangi kulo, mbak Maya lan mbak Ratih.
Mbah Uti, Vinka sakniki sampun kagungan Hayu, 
Mbah mesti seneng menawi mirsani, Hayu lucu mbah.

Mbah Uti, Vinka kangen. 
0
comments

Friday, 3 April 2015

Tengkurap

Hari ini, sehari sebelum engkau genap 3 bulan. 
Kau bisa membalikkan badan hingga tengkurap nak. 
Pertama kali disaksikan budhe Maya & Bapak. 
Lalu juga kau ulangi di depan Ibuk.

Sesaat ada yang mengaduk-aduk perasaan. 

Ibuk, terharu.

Sentimentil dan berlebihan di saat yang bersamaan memang. 
Tapi apalah daya, aku pun nikmat dalam perasaan yang janggal & jarang terjadi ini.

Terima kasih banyak Hayu. Selalu sehat & tumbuh optimal ya nak.
Ibu & Bapak selalu cinta.
0
comments

Thursday, 19 March 2015

Maret 2011


Tanpa aplikasi Timehop, tangan ini ndilalah nemu foto ini. Foto yang diambil di bulan yang sama,  4 tahun yang lalu. Foto yang diambil di tempat kami biasa jajan eskrim (dan tak lupa beli sousnya), di Mon Cheri – Plaza Surabaya. Tempat yang namanya juga jadi sebutan kesayangan untukmu, suamiku.

Waktu memang tidak bisa dijadikan lawan, karena kita akan selalu kalah terhadapnya. Ia selalu melaju, terus tanpa menoleh ke belakang. Tapi waktu pulalah yang melahirkan kenangan, yang dapat dijadikan pijak & pelajaran untuk sekarang dan yang akan datang.

Kesedihan akan masa depan akan merusak kebahagian di masa kini, ujar Basudewa. 
Besok engkau mungkin harus berangkat lebih pagi dari hari ini, tetapi tak perlu kau kesalkan itu sekarang sayangku. Hari yang paling melelahkan pun, kelak dapat menjadi kenangan yang kita lihat dengan senyum.

Terima kasih telah berkembang dan belajar bersama, 
termasuk membuat cinta ini selalu tumbuh & berbuah rindu di sepanjang waktu.
Semua terasa menyenangkan, karenamu.

Kekasih & istrimu,

VM
0
comments

Wednesday, 11 March 2015

[Resep] Acar Ikan Kembung

Setelah ada Hayu, urusan masak memasak jadi sedikit tricky. Harus pintar-pintar membagi dan mempersingkat waktu. Setelah beberapa lama hanya berkisar di tumis-sop-sayur asem-bening dan lauk goreng-cemplung, akhirnya saya mulai bosan juga. Mau browse resep-resep kekinian di grup masak rasanya terlampau lama. Sumber valid lain jika sudah mentok begini adalah bincang ibu-ibu, baik di tukang sayur ataupun pasar. Percayalah, saran-sarannya mantap!*meski kadang ajaib juga*

Di tukang sayur sedang bawa ikan kembung, saya tertarik mencoba. Banyak yang semangat menyarankan bumbu acar, gulai, bali, etc. Karena tetangga sebelah pohon belimbing wuluh terlihat sedang lebat (pas mau belanja, kelihatan menggoda), saya jadi kepengen yang asam-asam. Jadi deh pilih bumbu acar, lengkap dengan belimbing wuluh hasil minta tetangga. Hehe. 

Resep berikut saya dapat dari Sajiansedap.com. Dengan beberapa penyesuaian sedikit, hasilnya maknyus! Selamat mencoba..


Resep asli dari Sajian Sedap
Bahan:
5 ekor ikan kembung, dikerat-kerat
1 siung bawang putih, dihaluskan
1 sendok teh air jeruk nipis
1/2 sendok teh garam
minyak goreng untuk menggoreng

Bahan Acar:
5 butir bawang merah, dipotong 4 bagian
2 buah cabai merah besar, diiris serong
10 butir cabai rawit merah utuh (saya cuma masukkan 5)
1 cm jahe, dimemarkan
2 lembar daun jeruk, dibuang tulang daunnya, disobek-sobek
1/2 sendok teh garam
3/4 sendok teh gula pasir
1 sendok teh air jeruk nipis (saya ganti belimbing wuluh 3 buah ukuran sedang)
1 batang daun bawang, dipotong 1/2 cm
250 ml air
2 sendok makan minyak goreng untuk menumis

Bumbu Halus:
2 siung bawang putih
2 butir bawang merah
1/4 sendok teh merica bubuk
1 butir kemiri, disangrai
1 cm kunyit, dibakar

Cara membuat:
Lumuri ikan dengan bawang putih, air jeruk nipis, dan garam. Diamkan 10 menit.
Goreng dalam minyak yang sudah dipanaskan di atas api sedang sampai matang.
Acar: panaskan minyak. Tumis bumbu halus, bawang merah, cabai merah, cabai rawit merah, jahe, dan daun jeruk sampai harum.
Tambahkan air, garam, dan gula pasir. Masak sampai mendidih.
Masukkan ikan, air jeruk nipis, dan daun bawang. Aduk rata. Angkat.


0
comments

Saturday, 7 March 2015

April, Winter is Coming!

Thanks to Hayu, time really flies faster than the speed of light. I never really think that Game of Thrones (GoT) season 5 just ready to air next month!Aaaaaaaarggggghhhhhhh! Really can't wait!

Dornish people, how Lord Varys & Tyrion's adventure, then Arya, don't forget how Jon Snow and Stannis entwined together, and Dany! It will be a tough time for Daeny, how Meereen statue will collapse just like how it shown at the trailer.

Anyway, I watched this >> Game of Thrones Season 5: A Day in the Life (HBO): http://youtu.be/p9Mi17nLflY, yesterday. And I truly honor *clap my hand* to the team behind GoT. I love how the producer choose for not being stressful by the "bigness" of GoT, but doing the best as he planned. I'd like to quote:

"Don't be exaggerated by the bigness of the production, just do and prepare as everything has planned. It's just like parachuting. 
Don't be afraid about the height, how high you'll fly. 
Just make sure that the parachute works."

NICE!

0
comments

Monday, 19 January 2015

Hayu

16.01.2015 9.35pm

Apalah yang bisa kuceritakan
Dari tatap mata bulatmu
Aku hanya ingin tenggelam di dalamnya
Seperti gerimis yang lesap perlahan
di sela tanah, sore tadi.


Apalah yang bisa kubanggakan
Di depan senyum bibir mungilmu
Aku hanya bisa takluk karenanya
Seperti Amer pada Agra
atau Jalal pada Jodha.


Engkaulah guru, karib, yang selalu jadi bagianku.
Engkaulah doa, harapan, cinta yang utuh tanpa catu.
Engkau adalah kami, tapi juga dirimu sendiri.
Engkau, ya, engkau Hayu.

0
comments

Monday, 29 December 2014

Egois yang Boleh

Sejak menikah, saya merasa saya bertambah egois dalam berdoa. Doa semakin panjang, bermacam-macam dan cukup rewel. Terkadang muncul juga rasa bersalah denganNya. Bagaimana saya meminta sederet keinginan padahal ibadah belum jua sempurna? Tapi seperti syair Abunawas yang kerap dilagukan di masjid & musholla sekitar rumah, saya sadar betul bahwa saya hanya seorang manusia yang menghamba dan dengan segala keegoisan meminta Tuhan untuk tetap menyelamatkan saya, terlepas dari kesalahan & dosa yang masih dipanggul.

Salah satu pinta yang rajin saya selipkan dalam doa adalah dijauhkannya keluarga dari orang-orang yang iri & dengki, dari orang-orang yang berniat buruk kepada kami. Sungguh, senyampang berjalannya waktu semakin terasa bagaimana sebenarnya saya tidak pernah punya kuasa atas jodoh. Orang-orang yang dipertemukan dengan saya, baik yang menjadi kawan atau lawan, bagi saya ditautkan oleh benang tak kasat mata yang bernama jodoh. Entah rekan kerja, tetangga, guru, saudara, mertua, anak, tak ada yang benar-benar dapat kita pilih dan harap seperti kemauan kita.

Alhamdulillah, sampai sekarang saya merasa doa yang satu ini dijawab dengan kontan oleh Tuhan. Ia mengirimkan banyak sekali orang-orang dengan kebaikan di sekitar kami. Bahkan jika ada yang berniat buruk pun selalu tampak dengan sengaja ataupun tidak, secara langsung atau tidak. Dan saya sangat bersyukur atas semua ini, karena adalah suatu yang niscaya, hubungan antar manusia adalah hubungan yang rumit dan penuh variabel tak terduga di dalamnya.

Benar, memang banyak yang bilang jika orang yang dipertemukan dengan kita pasti punya peranan untuk membentuk pribadi atau bahkan sebagai ujian ketahanan. Tetapi, saya hanya menggunakan kesempatan sebagai seorang hamba yang diperbolehkan berdoa untuk meminta, maka saya meminta untuk dilingkupi hanya oleh orang-orang yang dapat membawa dan menjaga saya terus berada di jalanNya. Boleh kan?


=)
2
comments

Sunday, 28 December 2014

[Resep] Brownies Kukus Pisang

Siang ini saya dikunjungi sahabat-sahabat tersayang yang sudah lama sekali tak bersua. Memanfaatkan pisang yang sudah sangat-sangat matang, sejak pagi saya & suami sudah ngulik bahan di dapur. Resep ini sudah saya tandai sejak lama, tetapi agak kurang sreg dengan teknik "cemplung & aduk" yang digunakan mbak Endang, karena suami biasanya kurang suka dengan brownies yang teksturnya terlalu padat. Ditambah posisi kehabisan baking powder double acting yang bikin tambah ga pede lagi. Akhirnya saya memutuskan memakai teknik kocok telur sampai ribbon stage dan menambahkan emulsifier agar teksturnya lebih lembut, se-tipe dengan brownies kukus Amanda lah. Alhamdulillah berhasil dan teman-teman sampai minta resepnya. Berikut resep lengkap versi saya, kalau mau yang cemplung & tanpa mixer bisa langsung klik link-nya ya. =)

Brownies Kukus Pisang
Resep diadaptasikan dari Just Try and Taste

Bahan
yang di [dalam kurung] adalah merk bahan yang saya pakai


- 150 gram dark cooking chocolate/coklat hitam masak [Tulip]
- 125 gram gula pasir
- 3 sendok makan mentega/margarine/BOS suhu ruang [BOS Gold Boullion]
- ½ sendok teh rhum pasta [Moon Light] (atau 2 sendok teh vanilla extract atau 1/2 sendok teh vanili bubuk; jika menggunakan vanili bubuk, ayak bersama tepung terigu) 

- 350 gram pisang ambon/cavendish/raja (kira-kira 3 buah), haluskan dengan garpu
- 3 butir telur ayam ukuran besar, kocok lepas
- 100 gram tepung terigu serba guna [Segitiga Biru]
- 1/2 sendok teh baking powder, pastikan fresh, cek masa kedaluarsanya. [Kupu-Kupu]
- 20 gram coklat bubuk, gunakan yang berkualitas baik [Schoko]
- 1/2 sendok teh garam
- ½ sendok teh emulsifier/ovalet/SP [Quick]


Cara membuat
1. Siapkan loyang ukuran 20 x 20 cm olesi dengan mentega dan alasi bagian dasarnya dengan kertas minyak. Sisihkan.
2. Siapkan mangkuk, masukkan tepung terigu, coklat bubuk, baking powder dan garam, aduk rata. Sisihkan.
3. Siapkan mangkuk tahan panas (kaca atau alumunium), letakkan mangkuk di atas panci berisi air mendidih. Masukkan coklat blok ke mangkuk, dan panaskan dengan api kecil menggunakan teknik double-boiler (tim) hingga coklat meleleh. Angkat dari api. Aduk coklat hingga smooth, tambahkan mentega/margarine, aduk hingga halus. Jika terlalu kental panaskan sebentar di panci berisi air mendidih hingga menjadi agak lumer.
4. Kocok telur dan gula dengan kecepatan rendah hingga tercampur. Tambahkan emulsifier, lalu kocok dengan kecepatan tinggi selama 8-10 menit atau hingga adonan pucat & mengental. Tambah rhum pasta, kocok sebentar, matikan mixer.
5. Tuangkan coklat leleh ke adonan telur, aduk rata. Masukkan puree pisang ke dalamnya, aduk rata. Pastikan coklat tidak panas saat menambahkan telur agar telur tidak matang. Aduk hingga adonan tercampur rata.
6. Masukkan tepung dalam tiga tahapan, aduk perlahan dengan spatula hingga rata. Tuangkan adonan ke dalam loyang, ratakan permukaannya. Masukkan ke dalam dandang kukusan yang airnya telah mendidih, tutup permukaan dandang dengan kain bersih yang menyerap air, tutup rapat dengan penutup kukusan. Kukus kue selama 45 - 50 menit atau hingga brownies matang dan tidak lengket saat di tusuk dengan lidi. Keluarkan dari dalam dandang.


Note: Gunakan api sedang saat mengukus, kondisi dandang air terisi banyak sehingga cukup untuk mengukus selama 50 menit. Jangan membuka penutup kukusan selama kue dimasak.

Voila! Selamat mencoba! =)

 

Copyright © 2010 Life's Never Boring Beibi! | Premium Blogger Templates & Photography Logos | PSD Design by Amuki