0
comments

Monday, 28 July 2014

Malam Takbir

Malam idul fitri ini sendu, karena pikirku lari padamu, anakku.
Mas Al, jika engkau tumbuh sehat, maka engkau hadir di saat ramadhan ini. Tapi engkau tumbuh di dekatNya, di tempat terindah bersama Sang Pemilik Cinta. Engkau beruntung nak. Bersuka citalah.

Tapi maafkan ibumu ini, aku mendadak sangat rindu padamu.

Ibu sekarang sedang tumbuh bersama adikmu. Doakan ia tumbuh sehat ya nak. Doakan pula bapak & ibu bisa jadi orang tua yang mampu mendidik & membesarkan adik-adikmu dengan baik. Kecupkan juga rinduku pada Ia, yang Maha Cinta.

Aku selalu sayang padamu, Al.

Bertakbirlah yang keras di sana, putraku.

0
comments

Sunday, 6 July 2014

Dua Tahun

Dua tahun.
Baru dua tahun memang sayang, tapi aku sudah jadi pelupa.
Lupa bagaimana bangun pagi tanpa menyebut namamu.
Tak ingat cara tidur sendiri di malam hari.
Tidak mau jika tanpamu, kekasih.

Tahun kedua, di kota yang berbeda.
Penuh kegembiraan juga kesedihan.
Berpindah ke gubuk perjuangan, yang selalu rajin engkau siangi rumputnya & engkau ubah menjadi surga dengan petikan gitar.

Di tahun ini kita merasakan menjadi orang tua, pun kehilangan anak kita.

Dua tahun, yang jadi awal perjalanan kita.
Semoga jalan yang akan kita tempuh adalah jalan penuh ridho & barokahNya.
Jalan yang jauh dari orang yang dengki & iri, juga penuh dengan jiwa yang bersih & baik hati.

Ciku, terima kasih karena selalu ada buatku.
Terima kasih, untuk tiap genggaman erat di kunjungan dokter yang masih menakutkan bagiku.
Terima kasih, sudah berlelah letih mencarikan nafkah.
Terima kasih, untuk waktu yang disisihkan, hanya untuk mendapatkan acara televisi Korea favoritku.
Terima kasih, untuk peluk cium hangat yang tak pernah absen, bahkan saat kita berbeda pendapat.
Terima kasih, terima kasih, terima kasih, wahai suamiku tercinta, kekasih setia, sahabat tersayang, guru terseksi, rekan diskusi & bapak anak-anakku.

I love you, as always.
Von.

0
comments

Saturday, 14 June 2014

Hari Lahir : Kematian dan Harapan


Semenjak duduk di pendidikan dasar, saya yakin akan mati muda. Di periode SD hingga SMP, saya mendapat mimpi berulang, dengan berbagai sudut penceritaan, yang pada intinya menyampaikan pesan bagaimana dan kapan saya akan mati. Mimpi itu tidak membuat saya takut, alih-alih terpacu untuk mencapai & merasakan banyak hal sesegera mungkin. Itu juga alasan saya berkeras menempuh pendidikan secepat yang saya bisa. Beruntung, banyak target yang lolos dari lubang jarum.

Ketakutan akan kematian dahulu hanya muncul ketika sakit asthma saya kambuh. Tetapi mimpi kematian di masa kecil itu pula yang membantu saya berjuang untuk tetap sehat, karena saya percaya bahwa sesak napas bukanlah cara (juga waktu) yang tepat untuk mati.
Saya baru merasa takut mati setelah mengalami keguguran. Kematian itu rasanya melebihi kenyataan, karena ia melewati raga saya, tapi juga bukan nyawa saya sendiri yang tercabut. Ia membuahkan kekosongan yang sulit digambarkan. Sunyi yang hadir, memaksa kepala terus berputar & berpikir.

Dunia seakan kehilangan pesonanya. Fana, yang dulu hanya sebuah kata dengan fungsi adjektif, sekarang maujud atau mewujud menjadi dunia itu sendiri. Everything changes sublimely, and nothing really matters at the end. Not a mountain of penny, nor bunch of lovers. Not the titles behind your name, nor the beauty, the fame, the stories, the trip, the pictures you did to raise your chin up.

Yang menjadi berharga adalah bagaimana kita memberdayakan waktu itu sendiri, dengan orang-orang yang mencintai kita, menghargai perjuangan & perjalanan yang telah ditempuh.

Di titik itulah saya mulai memahami mengapa saya merasa sangat kehilangan terhadap sosok anak, yang bahkan belum sepenuhnya dititipkan. Ketika dunia terasa melelahkan, jahat, tak sesuai dengan keinginan kita, pun menyedihkan: anak menjadi harapan. Ia adalah harapan dan juga alasan untuk tiap-tiap orang tua mengusahakan dunia ini lebih baik, lebih nyaman untuk ia bertumbuh kembang. Menjadi pecut paling keras dalam bekerja, berusaha, berdakwah. Menjadi pewaris dari kebaikan dan kebajikan.

Karena perihal keturunan pula, saya untuk pertama kali memohon dengan tulus agar dipanjangkan umur ini. Saya telah mulai berharap agar mampu mendidik hingga menikahkan mereka. Itu (saja). Semoga Ia tak pernah jengah dengan perubahan hati hambaNya.

Amin.
4
comments

Friday, 11 April 2014

Anggaran & Buku

Anda pecinta buku? Apakah Anda menganggarkan pos tersendiri untuk membeli buku tiap bulannya?

Ketika saya naik ke kelas 6 SD, saat itu saya baru menyadari bahwa ada orang-orang yang menyisihkan penghasilannya untuk berbelanja buku. Kejadian ini bermula saat saya mengikuti program TeKaT Sayang dari Jawa Pos, semacam homestay antar etnis dimana saya tinggal selama 7 hari di rumah Papi Paulus & Mami Linawati di Bendul Merisi, Surabaya. Di situ pula pertama kalinya saya mengetahui ada keluarga yang begitu cinta & terus-menerus mengajarkan agar menyukai buku, melebihi keluarga saya. 

Di hari pertama saya ikut "hidup" dengan mereka, saya diajak untuk pergi ke Gramedia, toko buku yang bagai surga bagi saya yang hanya kenal toko buku pelajaran di Mojosari atau pojok kios buku bekas di Mojokerto. Tapi, surga yang satu ini bersyarat: butuh uang untuk menukar kenikmatannya. Saya berkali-kali tersenyum kecut ketika membalik buku dan mengetahui harganya. Hari itu hari pertama, saya masih sangat canggung dan hampir tak mungkin untuk meminta dibelikan buku. Saya sempat menyesal untuk tidak menyelipkan sedikit uang dari tabungan yang sudah saya siapkan sebelumnya. Karena peraturan program yang mengharuskan peserta tidak membawa sepeser pun (agar mereka meminta orang tua baru mereka untuk kebutuhan apa saja), saya benar-benar tidak punya uang untuk buku-buku yang mendebarkan hati ini, buku-buku licin mengkilat dalam kemasan. Buku dengan judul yang sejenis biasanya hanya bisa saya jumpai dalam bentuk bekas. 

Mami mungkin melihat binar mata dan senyum masam saya karena tidak lama kemudian beliau meyakinkan saya untuk mengambil buku apa saja yang saya mau, sebagaimana ia kemudian meyakinkan anak-anaknya agar mengambil buku yang dimau. Tetapi hanya buku, bukan yang lain. Yoga, putra bungsu yang berumur sekitar 3-4 tahun mulai merengek melihat mainan yang menarik baginya, tapi Mami memberi pengertian bagaimana buku lebih baik & menarik untuk dibeli. Saya kemudian memilih Jilid pertama dari Lima Sekawan: Di Pulau Harta dan ikut menumpuknya dalam tas belanja Mami. Di kasir, saya hampir melongo melihat kuantitas & angka di mesin penghitung. Di tahun tersebut, belanja "sekedar" buku dalam kisaran ratusan ribu rupiah itu gila bagi saya, hampir-hampir surreal.

Di hari kedua, saya baru mulai memahami ruangan-ruangan di rumah Bendul Merisi itu. Dan lagi-lagi saya takjub dengan kebiasaan membaca di keluarga ini. Terdapat meja nakas di dekat tempat duduk ruang keluarga yang berisi deretan beberapa surat kabar berbeda dalam edisi hari yang sama dan beberapa majalah terbaru. Di keluarga saya sendiri juga berlangganan, tapi ya hanya satu koran. Majalah yang berlangganan ya hanya Bobo saja, untuk saya. Melihat meja yang hampir menyerupai kios koran ini saya berpikir, apa sempat untuk membaca semua ini dalam satu hari? Tapi Papi terbukti selalu membaca seluruh koran sambil menyeruput 2 telur ayam kampung setengah matang sebelum bekerja.

Yang terlintas di benak pertama kali karena kebiasaan keluarga Paulus ini adalah: wah, begini ya orang kaya raya itu, tidak perlu berhemat, bisa membeli buku dan majalah sepuasnya. Tapi sekali lagi pemikiran saya terpelanting setelah menyaksikan bagaimana Mami mengajak putra-putrinya untuk makan di rumah saja dibanding membeli McD (Mami tetap membeli sedikit agar saya dapat mencicipi), bergotong royong mengemas kacang kapri hasil perkebunan yang kemudian dijual di supermarket oleh Mami, memasak bersama-sama. Ternyata ini bukan perkara berhemat atau berfoya-foya, tetapi prioritas. Mami memilih untuk meletakkan buku, majalah, koran sebagai perihal yang penting dan pantas untuk diberi anggaran lebih.

Setelah berumah tangga, saya mulai serius belajar tentang anggaran dan kawan-kawannya. Setelah bereksperimen dengan berbagai model pembagian bujet, beberapa bulan terakhir ini saya menggunakan rasio yang disarankan oleh Li Ka Shing. Artikel lengkap penjelasan beliau dapat dibaca disini.

Secara singkat beliau membagi setiap pendapatan yang masuk dalam 5 kategori yaitu Daily Life : Social+Connection : Study : Holiday : Investment dalam proporsi sebagai berikut 3:2:1,5:1:2.5. Selalu seperti itu untuk setiap pemasukan, kemudian terus berusaha menghabiskan anggaran tersebut dalam porsi yang telah ditentukan. Dalam pengaplikasian pribadi, tentu saya menyesuaikan perbandingan anggaran dengan beberapa kebutuhan yang esensial bagi saya seperti zakat & shodaqoh, dana kesehatan dan tabungan.

Saya menganggap model ini cukup sederhana dan memiliki esensi yang tidak saya temukan pada model yang lain. Misal, ada anggaran Study dimana saya (& mas Rendy) memang harus menghabiskan uang dalam pos itu untuk belajar; membeli buku setiap bulan; mengikuti kursus. Tidak banyak model anggaran yang memberikan perhatian khusus pada “pengembangan diri” segamblang ini. Saya memilih untuk menggunakannya untuk berlangganan tabloid resep masakan dan majalah atau buku merajut untuk meningkatkan kemampuan saya di 2 bidang favorit.

Mungkin tidak semua orang setuju bahwa buku adalah hal yang cukup penting untuk dianggarkan. Sah-sah saja dan tidak perlu dipermasalahkan, karena pendapat tersebut juga beralasan. Menilik masa sekarang, kita bisa mengakses informasi dan pengetahuan melalui internet dengan biaya yang minim. Tetapi saya yakin, -keyakinan yang diiringi cinta buta- bahwa masih ada permata yang terselip di balik buku dengan segala kebanalan yang ia miliki.


=)
2
comments

Saturday, 5 April 2014

Melantur & World Book Day


Siang ini saya akhirnya berhasil nangkring di c2o setelah (suami sih yang membonceng) berjuang di jalanan menghadapi keruwetan kampanye beberapa partai. Tujuan saya ke c2o adalah mengulik beberapa buku yang sudah jadi incaran karena direkomendasi kawan, lalu mencatat hal yang penting & menyusun agar jadi tulisan yang ciamik. Apa daya, saya terkena nikmat nasi padang sebungkus dengan proporsi nasi & bumbu gulai yang pemurah sekali. Di sinilah saya mulai menulis melantur dan menyerah pada buku-buku tadi. =P

Tapi mau tidak mau saya buka juga salah satunya. Barbara Hatley. Javanese Performances on an Indonesian Stage: Contesting Culture, Embracing Change. Alamak, abot nemen rasane. Mata saya mulai kabur karena membaca deretan nama universitas yang biasanya saya temui di ranking top dunia. Aduh. Buku tentang Indonesia kok malah seperti ngece karena kalimat-kalimatnya nggayuh lintang. Tinggi & tak terjangkau.

Saya buka sembari  jengkel, sampai di halaman yang ada tulisan “PERSONAL EXPERIENCE, 1970-90”. Harusnya kalau pengalaman pribadi kan ya tidak terlalu sulit to membacanya. Penulis menceritakan bagaimana ia mulai tertarik dengan Ketoprak, bagaimana ia mulai tertarik dan terikat pada ketoprak.  Sampai pada cerita bagaimana ia mulai tinggal di Yogyakarta untuk memulai penelitiannya. Ia menceritakan bagaimana melewatkan satu malam dengan menghadiri 3 pertunjukan. Hatley menggambarkan dengan detil tempat ia makan malam dengan gado-gado di depan kantor Telkom, dekat Mandala Krida. Berjalan ke Bentara Budaya dimana Jemek (Sapardi) berpantomim malam itu, dilanjutkan perjalanan dengan becak ke arah selatan, di sekitar Keraton, menghadiri jamuan malam dengan pertunjukan tari. Yang terakhir ia menikmati wayang dengan ki Anom sebagai dalangnya. Juga tak jauh dari stadion.

Penjelasan Hatley yang detil membuat memori akan Yogya terputar kembali. Menarik bagaimana  tulisan ini mendadak menjadi intim bagi saya. Bagaimana pengalaman yang ditularkan sebuah buku dapat membuat shared experience terbentuk, termediasi. Semakin membuka lembar demi lembar, saya bertambah penasaran untuk mengajak Hatley duduk bersama di sini, menceritakan besarnya kemungkinan bahwa kami menemui orang-orang yang sama, dengan jarak 12 tahun lewat. Karena ketoprak Tobong yang saya temui di Kalasan juga berasal dari binaan satuan militer di Malang, persis seperti yang diteliti Hatley.

Jika dibilang dunia tak lebih luas dari daun kelor, ya terkadang memang terasa seperti itu. Rantai yang menghubungkan antar manusia sering terasa absurd. Contoh yang tidak jauh-jauh, dari project Ketoprak Tobong misalnya, besar kemungkinan kaket buyut –atau moyang?- saya dan Risang Yuwono, saling mengenal: karena kakek buyut kami sama-sama prajurit Pangeran Diponegoro yang berpisah setelah beliau ditahan Belanda dan babat alas di Kediri untuk melanjutkan keturunan. Menarik ya?

Andai tidak ada sejarah yang dicatat, andai tak ada tulisan yang mendeskripsikan dengan baik, andai tak ada buku yang menularkan pengalaman, maka peradaban manusia pun jauh berbeda. Di bulan April ini, tepatnya di tanggal 23 diperingati World Book Day. Saya jadi ingin menghormati buku dengan menulis perihal buku di kehidupan sehari-hari. Dimulai dengan postingan ini. Hehe.

Yuk, berbagi pengalaman dengan buku! 
=)
0
comments

Friday, 4 April 2014

[Resep] Udang Krispi Saus Mentega

Langsung difoto di atas nasi. Laper!
 Kemarin lusa, ketika akan makan malam, saya kebingungan memilih menu. Bahan makanan mulai menipis, tetapi sedang ingin bikin sesuatu yang tidak biasa-biasa, tapi yang cepat pengerjaannya. Rewel ya? Haha. Setelah mencari inspirasi dengan membolak-balik halaman tabloid Koki, akhirnya berjumpa dengan resep Udang Krispi Saus Mentega. Dengan bahan sederhana yang hampir pasti tersedia di dapur, rasa yang dihasilkan identik jika dibandingkan dengan menu Udang Tepung Saus Mentega yang biasa kita beli di restoran Chinese food. Harum jahe dalam sausnya langsung memantik air liur. Ndrodos-ndrodos lah. Hehehe. Sila dicoba, berikut resepnya.

Udang Krispi Saus Mentega
Resep dari Tabloid Koki, edisi 00257 Juli 2013
Tampilan sajian di Koki

Bahan
250gr Udang ukuran sedang, kupas kulit, buang kepala dan sisakan ekor (saya sebaliknya, kepala disisakan tapi ekor dibuang. Lebih gurih & krius-krius)
100gr Tepung bumbu (saya dengan Sajiku tepung bumbu)
2 sdm Tepung beras
1 sdm Tepung terigu protein sedang (merk Segitiga)
1 butir Telur ayam, kocok lepas
½ buah Jeruk Nipis, ambil airnya
2 siung Bawang putih, cincang (halus)
1 cm    Jahe, kupas dan cincang (sangat halus)
40gr    Mentega
2 sdm  Kecap Inggris
½ sdt   Merica bubuk
Garam secukupnya
75ml  Air
Minyak Goreng untuk menggoreng (deep fried, jadi agak banyak)

Cara Membuat:
  1. Perciki udang dengan air jeruk nipis dan lumuri dengan garam. Diamkan selama kurang lebih 5 menit.
  2. Campur tepung bumbu, tepung beras dan terigu. Aduk rata. Celupkan udang ke dalam telur kocok dan gulingkan di atas campuran tepung. Ratakan.(ketuk-ketukkan udang agar tepung rontok sebelum menggoreng, karena sisa tepung akan merusak minyak goreng)
  3. Panaskan minyak, goreng udang hingga matang dan berwarna kuning kecokelatan. Angkat dan tiriskan. Sisihkan.
  4. Panaskan mentega, tumis bawang putih dan jahe hingga harum. Tambahkan kecap inggris, merica bubuk dan garam. Tuang air, aduk rata, Masak hingga mendidih dan mengental.
  5. Masukkan udang goreng krispi, aduk rata. Angkat. Sajikan.

Untuk 2 porsi.

Tips:
  1. Untuk yang suka udang tetap krispi, saus bisa disajikan terpisah.
  2. Masak menu seperti ini bisa diakali agar cepat selesai tapi tidak keteteran. Urutan yang menurut saya efektif: rendam udang >> kocok telur & aduk tepung >> tepungi semua udang >> goreng  sembari mencincang bawang & jahe >> buat saus sambil terus menggoreng. Tidak lebih dari 30 menit selesai.
  3. Jika masih ada sisa tepung, masih bisa digunakan. Saya memasak tahu dengan tepung sisa resep ini. Enak sekali. Jika ingin tahu yang lebih krispi bisa baca resep di sini.
Resep sederhana seperti ini yang cocok untuk pemula agar lebih semangat memasak. Coba juga sekali-sekali bandingkan harga 1 porsi masakan yg sama di resto, bisa 2-3 kali lipat dari biaya masak sendiri! *cheapskater* *ha!*  =D
3
comments

Wednesday, 26 March 2014

Saya Suka Membawa Bekal!


Saya suka sekali dengan bekal/bontotan/bento/lunchbox. Mengapa? Hmm. Untuk perihal ini saya harus menuliskan sebuah cerita agar alasannya terjabarkan dengan baik.


Mari sejenak kita sisihkan fakta bahwa bekal adalah trik ngirit yang paling efektif (sampai kapan pun). Ini juga bisa jadi sebuah alasan, tapi tidak untuk saya. Tanpa berusaha dramatis, saya ingin mengutip lagu “Glitter in The Air” yang dinyanyikan Pink:
“Have you ever touched so gently, you had to cry (?)”
Saya pernah, dan itu karena bekal.


Tidak lebih dari 2 tahun yang lalu, saya berkunjung ke perpustakaan c2o. Saya memang sering berkunjung ke situ, selain karena bekerja sama titip jual kaos juga karena suasana yang menyenangkan. Saat itu saya sedang bekerja di restoran, dan kesempatan mengunjungi c2o menjadi langka. Hari itu saya beruntung untuk datang di siang bolong, saat mbak Yuli membuka kotak bekalnya.

Mbak Yuli adalah pustakawan yang bekerja di c2o. Ia pribadi yang ramah, mau belajar dan seringkali naïf. Kami selalu bergelak tawa ketika bertemu. Setiap hari, ia membawa bekal untuk makan siang & malam, kecuali ketika malas memasak.

Siang itu, ia membawa kotak bekal yang besar. Terlihat dari sisi kotak yang semi transparan, bongkahan nasi yang berlebih untuk porsi satu orang. Ketika saya spontan menanyakan mengapa, ia menjawab bahwa telah berjanji pada Tinta untuk membawakannya makan siang. Ia juga secara spontan mengajak saya untuk ikut bergabung menikmati bekal tersebut.

Saya awalnya menolak, karena jujur, saya merasa kasihan kepada mbak Yuli. Saya tahu betul tentang pendapatan & apa saja yang harus dikeluarkan untuk kebutuhan rumah tangganya. Saya berpikir, sudahlah, jangan nyusahin orang susah. Tetapi kemudian, Tinta juga memaksa. Baiklah, monggo dimulai dulu, saya menyusul, ujar saya.

Ketika mendekati mereka, saya baru melihat apa menu di dalam bekal tersebut. Lodeh rebung. Dan nasi. Saya sempat mencari-cari lauk lainnya, yang ternyata tidak ada. Tidak dengan kerupuk atau makanan sampingan apa pun. Saya tidak bisa mundur untuk berkata tidak mau makan, maka saya pun menyuapkan nasi dengan kuah dan rebung secukupnya. Dan saya terdiam sejenak, mengunyah pelan-pelan dan saya sangat terkejut bagaimana mungkin masakan sederhana ini bisa terasa SANGAT ENAK. Lodeh rebung terenak yang pernah saya rasakan. Andai bisa menggambarkan secara komikal pasti saya saat itu mulut saya menganga keheranan dan ada sinar dari langit yang menerangi kerongkongan saya.

Tetapi semua itu tidak terjadi, yang ada hanyalah mata yang mendadak berkaca-kaca. Saya berpura-pura mendesis karena pedas agar tidak terlihat aneh. Di saat yang sama mbak Yuli meminta maaf dengan riang karena hanya bisa memasakkan sayur tanpa lauk, karena tidak membeli lauk saat di pasar. Saya menolak permintaan maafnya, ini sudah lebih dari cukup.

Banyak orang bilang ketika kita makan bersama-sama, rasanya lebih nikmat. Saya tidak tahu apakah rasa nikmat atas lodeh rebung mbak Yuli tersebab proses makan bersama. Saya hanya tahu bahwa pikiran saya terbelah-belah menjadi banyak bagian karenanya. Sebagian besar memikirkan betapa malunya saya, karena telah arogan dengan berpikiran bahwa mbak Yuli adalah orang susah. Saya-lah yang susah. Saya beruntung untuk bisa makan 3 kali dengan memilih apa yang saya ingin makan, tetapi tidak mencoba untuk berbuat lebih atas hal tersebut. Saya malu dengan pemikiran saya saat itu, “I worked then I deserved”. Karena telah bekerja keras siang malam maka saya juga boleh menggunakannya sesuka hati. Saya teringat tumpukan piring warna-warni di depan saya saat menghabiskan waktu di sushi bar, loyang besar pizza & mangkuk pasta, gelas-gelas plastik minuman dengan butir mutiara ubi, stik kentang goreng yang kerap saya tinggal.

Bagian yang lain mengingat bagaimana nenek saya pernah berkata usai memberi makanan pada orang asing, beliau tak pernah menolak orang yang meminta makan dengan harapan agar anak cucunya tidak akan kelaparan di mana pun berada. Dan sebagian terakhir bertanya-tanya, apakah kenikmatan bekal ini berasal dari masakan yang dimasak dengan tulus, dengan niatan kasih sayang dan bukan niat bekerja para tukang masak & koki di restoran(?). Atau karena kelapangan hati mbak Yuli sebagai pemberi(?).

Tidak semua pertanyaan saya terjawab atau memiliki solusi pada akhirnya. Yang saya tahu, sejak saat itu saya sangat menikmati saat makan siang bersama waiter/waitress di tempat makan karyawan, berjongkok makan nasi bungkus di gang sempit antara gedung dan punggung mall, menyeruput santai es teh yang gelasnya beraroma sabun colek warna biru itu. Dan tentu, saya semakin sering membawa bekal dengan jumlah cukup banyak, agar bisa berbagi.

Foto di atas diambil minggu lalu, ketika saya berkunjung di c2o dan makan siang bersama dengan mbak Yuli, putrinya Silvi dan mas Andriew. Bekal yang saya & Mbak Yuli bawa dibagi untuk kami berempat. Rasanya nikmat & sangat menyenangkan. =)

Salam sayang untuk semua pembawa bekal di dunia!
0
comments

Wednesday, 26 February 2014

Hard-Boiled Wonderland and The End of The World

After I look over my blog, several last post looked pathetic. So let's restart with something neutral. Here is my book review, as published on c20-library.net. Enjoy!
The first thing caught after you opened Hard-Boiled Wonderland and the End of the World book is a map: The End of the World map. It brought questions to the mind and made the readers put some expectations: Will it be a challenging journey through the places described in the map? Is it medieval era? And other map-related questions that popped will be crushed to the 1st chapter detailing description. It’s just like Murakami said greeting warmly to the readers, “Welcome to my surreal (book) world.”

Tips: Try to get patient and keep the pace until 5th chapter in one go. Then I bet you can’t stop slurping the story even you’re not completely sure about the vocabulary.

The superb storyline illustration comes from here. Click the picture to enjoy.
In this book, Murakami brought us into an absurd and adventurous storyline. The feeling of thriller and detective stories twisted with a lot of science explanations in every chapter’s corner. We could feel like having musical scene by the rifle of songs’ line here and there, but at the next flip we started the absolute silence; the indefinite solitude. Even the protagonist had polarized character: easygoing but a loner, dreamer yet realistic.

After all of the detail and complicated story that bring awe to the readers, somehow Hard-Boiled feels quite Hollywood-ish. The Western culture which Murakami attached was like foamy milk part in a cup of cappuccino; it dissolved, blended and felt in every sip. The ending was quite easy to guess and the heroic tale seems fulfilled the story gauge. Hard-Boiled Wonderland and the End of the World was the exact previous work of Norwegian Wood, the notable mega-bestseller of Haruki Murakami, among Japan and other countries. Perhaps, Hard-Boiled didn’t have as much exposure as its kohai* but the Tanizaki Prize (received in 1985) could show how the books had a respected value in Japanese literary.

This is my first Murakami’s. I chose the title based on the date of first edition printed. It’s the oldest in c2o library’s collection. It’s my bad for thinking too deep in each word that made me lost the bigger picture till the 5th chapter. After trying to re-read again in once sitting, I got my nerves back and the thrills began.

Best part for reading this was know that the author participate in translating & adapting the book in English. It made every open-dico-and-thesaurus-regularly paid off, yet understand how the native language disparity vanished in every un-rhyme sentences which linked beautifully.

*kohai : junior

2
comments

Thursday, 13 February 2014

Cherry on Cherry


Cherry on cherry
To have you was beyond happy.

It's been 8 weeks from my curette procedure. I lost my baby, anyway. 
Just in case you haven't know.

My eyes still cloudy when I try to tell the story. My head still pounding when remembering how it happened. My heart still shiver when I watched any medical apparatus for surgery. And my lips still drawing a smile when I thought of my baby.

Having him and losing him were the heaviest experience till now. It's pulling all of the emotion I had. From being happy, sad, angry, until the hysterical moment I can't described. It's also made many episode in my last 4 months such as piles of scene with genres I couldn't count to be happened in my life. I never believed horror movies, or slasher or any type of films with too many bloods would be. But then, nothing is impossible. Perhaps, later, I would coolly said "I've been on that place" in a scene with the broken-pregnant-woman-full of blood-in her feet and clothes.

I really wish I could.

Because nonstop and too much crying just so exhausting. There was a moment where I could cry 5-6 times a day, hated praying times because I just can't help crying after shalat. Peoples' words sometimes not too helpful. They tried to cheer me up, but ended by easily judging and/or blaming. I became oversensitive and made distance to the world. I felt insecured and my own home is the only shelter I known, where I could share those desperados with hubby.

I did my ascetic life in home for a month. I reflected to myself over and over. The crying(s) which painful became its own salvation. My mind purified by the silence that the wind offered, the dust brought and the sprout grown. I realized how the micromicron-me-that-placed-in-universe has the specific meaning. I could honestly read myself, why I did and done some foolish act, why I could specifically hated someone, I acknowledged all the past, peacefully accepts the present and now put the effort for the future. 

Reflectively, I admit that in the process of marriage, I have a slightest doubt about how my husband will love me. Our relationship started in a very short time after he broke up with his last girlfriend, and he broke up after 4 years in that relationship. A long duration that
I can't ignored easily, considering how she treated my hubby in post-break-up phase.
Me and hubby started the steps such as engagement to wedding in quite short term. Unsurprising, the utmost question came from people around was: why such in a rush? Are you sure? Both of you are stubborn, how would you handle it? 
I, myself, have questions that I didn't know the answers.

 But it's different after I lost my baby. Now I know why God gave me such confidence to tie the knot with him. If it wasn't him, I might be blacked out in the corner of bathroom, overwhelmed by my own bloods. I don't have any doubt, for now and later. 
My questions been answered, fulfilled perfectly.

Dear hubby, you are cherry on cherry.
Thank you for being there, even in the saddest story.
 

Copyright © 2010 Life's Never Boring Beibi! | Premium Blogger Templates & Photography Logos | PSD Design by Amuki