Draft telah ditulis sejak 2013, tetapi masih relevan saat ini.
"Wah, udah tinggal di sini lagi ya.. Sekarang Vinka sibuk apa?"
"Alhamdulillah, sibuk jadi ibu rumah tangga."
Lanjutan alternatif 1:
"Senangnya jadi ibu rumah tangga. Enak ya, nggak mikirin kerjaan atau kantor. Nggak lembur, nggak bingung report bulanan. Bisa ngapa-ngapain aja terserah ngatur sendiri. Haduh, kalo kayak aku rapat udah bla bla bla......."
Lanjutan alternatif 2:
"Oh iya.. Lagian kalo udah nikah kan ya emang mending ngurus rumah tangga aja. Apalagi cewek, kan ga harus ngejar karir. Di rumah aja gakpapa.."
Lanjutan alternatif 3:
"Di rumah aja ya? Iya sih, sekarang cari kerjaan susah... Lagian ntar kalo udah punya anak pasti udah ribet sendiri kan. Emang di rumah aja itu gakpapa..."
Saya tidak tahu, apakah pertanyaan & pernyataan ini sering dialami oleh teman-teman yang baru menikah dan memilih menjadi ibu rumah tangga atau tidak. Tapi untuk saya: sering sekali.
Kombinasi alternatif lanjutannya terkadang dikombinasikan satu sama lain. Tapi ketika digaris bawahi ya tiga poin di atas itu yang paling mengemuka. Agak jengah juga lama-lama. Itu sebabnya saya jadi ingin menuliskan tema ini.
Jika kamu capek dengan pekerjaanmu, tidak mau direpotkan lembur atau report bulanan, ya jangan kerja, atau jangan mau lembur. Report bulanan itu bagian dari pekerjaan, kalau tidak mau ya tinggalkan saja. Lho, terus kalo mau makan dari mana Vin duitnya? Ya kerja yang lain, yang ga usah lembur & report bulanan, bikin usaha sendiri, ojek online. Haduh, sekarang cari kerja sulit Vin. Kamu ga tahu sih betapa susahnya.. Nah, sudah bilang sendiri kalau cari kerja sulit, sekarang sudah punya kerjaan masih ngeluh terus.
Untuk lanjutan perbincangan dengan alternatif kedua, yang perlu digaris bawahi adalah perihal pilihan. Sebagaimana manusia itu sendiri, tanpa mengenal gender, kita punya hak untuk memilih: mau menjadi stay at home father or mother, berdedikasi pada karir formal, untuk terjun di dunia politik, atau apapun. Relasinya bukan lagi harus atau tidaknya seseorang dengan jenis kelamin tertentu untuk berada di rumah, menjadi caretaker atau breadwinner tetapi bagaimana sebuah opsi dipilih dengan sadar dan paham akan segala konsekuensinya.
Senada juga dengan lanjutan alternatif 3, it's not about okay or not okay, dudes. Ini juga bukan tentang sulit atau tidaknya mencari pekerjaan. Ini tentang pilihan hidup, yang pantas dihadapi dengan gagah berani dan dinikmati sepenuh hati di semua naik & turunnya.
Entah mengapa, saat ini rasanya dunia sangat mendukung pribadi "pelari". Eskapis, lari dari "yang susah-susah". Kalau sudah terasa susah, berarti halal untuk mengeluh/kompensasi lainnya. Capek mengantre, mengutuk sana-sini di sosial media. Lembur kerja, ganjarannya harus nyalon, spa, travelling, makan enak dan bentuk "pelarian" lain. Di Better than Before, Gretchen Rubin menyatakan pola perilaku ini disebut moral licensing. Gampangnya, moral licensing itu motto "Work hard, play hard(er)". Coba pikir lagi, apa kalimat ini betul? Apa betul ketika kita bekerja keras, kompensasi yang tepat adalah bermain/bersenang-senang/have fun? Parahnya, ketika pola pikir ini telah menjadi habit/kebiasaan, maka otak tidak lagi berperan mengambil keputusan. Diri ini akan menerima perilaku ini sebagai kebenaran dan melakukannya terus-menerus tanpa berpikir lagi. The worst result motto tersebut sampai pada pemikiran "Saya kerja keras, boleh dong foya-foya".
Mari meluruskan pikir. If you work hard, then you'll get a good salary, good return whether financially or quality of yourself. Then you could choose, what will you do with those credits. Play/having fun is an option, not the only one. You have the power for choosing what you'll do for yourself, your present & your future. And after took your decision, let's be brave & mature to conquer all the consequences. Don't worry, you could ask help, but please, don't nag.
Sama seperti pilihan lainnya yang patut dihormati, menjadi ibu rumah tangga juga layak ditempatkan sebagai pilihan yang diambil secara dewasa oleh pelakunya. Jika kalian ingin berkomentar atau menyampaikan pendapat atas pilihan orang tersebut, ada baiknya bertanya atau mendengarkan lebih banyak alasan di balik keputusannya. Janganlah melompat dan malah judgmental. It sucks.
Draft tulisan ini tersimpan sejak setahun lalu, saya tuntaskan malam ini.
Obrolan kasur malam ini: ada kawan yg tulis status tentang haknya sebagai wanita untuk memilih kapan ia "menggunakan" rahimnya. Yang terlintas di kepala saya, andai memang semudah itu. Saat "pengen" hamil ya hamil, terus jadi, lahiran lancar, dst. Kehamilan, kelahiran di mata saya adalah hal yang ghoib, sama seperti kematian. Begitu juga rahim, yang menjadi medium. Memang betul ia dapat terlihat secara fisik, via USG misalnya. Tapi apa betul kita bisa meminta rahim untuk melar sedemikian besar agar tercipta ruang bagi penghuni baru di tubuh kita, saat ini, atau tepat 2 jam lagi. Meski dirangsang obat-obatan, diupayakan bagaimana rupa, tetap ada kemungkinan untuk gagal. Mereka punya otoritas sendiri, yang tak bisa diperintah oleh sekedar akal. Mereka transendens.
Mungkin ini ujian terberat bagi manusia, menghadapi hal yg tak bisa diatur, merasa tak lagi punya kuasa, hak memilih dan kemudian menerima bahwa ia sebenarnya lemah.
Sungguh, hanya kepadaNya semua kembali.
Sungguh, hanya kepadaNya semua kembali.
Akhir minggu ini menyenangkan & berkesan bagi saya. “baiti
jannati” & love makes a house as a home jadi tema khusus dua hari ini,
meski tanpa harus disepakati sebelumnya.
Sabtu pagi dimulai dengan ritual yang terlambat karena
bangun kesiangan. Hayu telah terbangun pada dini hari sebelum shubuh, membuat
jam biologis pun turut bergeser. Dulu, sebelum ada Hayu, kesiangan di weekend
berarti lanjut bersantai-santai. Asal tidak ada tanggungan agenda, brunch pun
sah-sah saja dan tidak masalah. Lain halnya sekarang, ada rasa bersalah jika
tidak bersegera memulai aktivitas sehari-hari. Ditambah pula rasa takut, takut
hal ini yang diingat & diteladani ia di kemudian hari.
Suami mengungkapkan keinginannya untuk memulai hobi baru,
aquascape. Ide itu berawal dari air mancur kolam yang pompanya berkali-kali
ngadat. Sudah beli beberapa kali, ujung-ujungnya rusak lagi. Untuk
menyelamatkan ikan penghuni kolam, suami membeli aquarium kecil untuk
menampung. Apa daya, ternyata ikan mas ini tidak cocok hidup dalam aquarium.
Airnya akan selalu keruh, meskipun sudah diberi filter, karena memang bukan
habitat untuk ikan mas. Rencananya, ikan mas akan dikembalikan ke kolam, diberi
filter saja (bukan pompa air mancur seperti selama ini) dan aquarium akan
dimanfaatkan untuk aquascape. Saya
kemudian menyetujui ide tersebut, dengan syarat harus mencoba memerbaiki kolam
terlebih dahulu. Sayang sekali jika kolam tersebut tidak dimaksimalkan dengan
air mancur, harus dirunut bersama-sama dari awal apa betul masalahnya di pompa.
Bisa saja saklar, stop kontak, atau yang lain.
Suami pun setuju dan langsung memulai mengutak-utik saklar
kolam. Hayu pun tak mau ketinggalan turut andil. Ia ngotot untuk berada di
dekat bapak. Ujung-ujungnya malah asyik bermain tanah sampai serupa penyamaran
tentara perang Vietnam. =D
![]() |
Asyik ndeprok |
Setelah membeli alat dan bahan, sepulang dari kondangan
suami pun melanjutkan aktivitas reparasi. Dugaan kami benar, pangkal permasalahan
ada di saklar. Alhamdulillah. Rencana belanja untuk aquascape pun disusun.
Eits, tapi bukan kami bertiga yang akan berbelanja. Tetapi Suami & Hayu
saja. Ya, ini kencan pertama mereka, keluar rumah tanpa saya untuk pertama
kali. Suami sudah sering dan terbiasa untuk bersama Hayu saja di rumah, tapi
untuk keluar rumah lain cerita.
Sebenarnya agenda kencan mereka ini disesuaikan dengan
agenda belajar jahit saya. Sejak Hayu lahir, saya ingin sekali mengikuti kelas
menjahit. Sayangnya, jadwal kelas sulit sekali untuk disesuaikan dengan agenda
kami. Sehingga ketika minggu kemarin saya meminta suami untuk meluangkan waktu
2 jam di akhir pekan untuk meng-handle Hayu, dan saya akan belajar otodidak. Suami
setuju dan begitulah awal mula kencan mereka tercipta.
Alhamdulillah, semua berjalan lancar. Meski kikuk karena
harus menggendong Hayu dan mengemudikan motor (Hayu masih takut duduk di car
seat, hiks), suami sukses shopping & nge-date. Saya pun ber-progress dari
memotong kaos tak terpakai untuk baju Hayu, hingga menjahit sebagian pola
tersebut. Dan, berkat kerja keras suami, aquascape-nya sudah berhasil tersusun…
Yeayy!
Saya senang karena kami bisa memberi ruang belajar &
bertumbuh untuk diri kami masing-masing. Saya juga senang karena Hayu terlibat
dalam setiap aktivitas, dan ia juga sangat antusias untuk “melibatkan diri”.
Semoga jika Hayu melihat & merasakan kedua orang tuanya selalu bersemangat
belajar, ia pun begitu.
=)